Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 17



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Terima Kasih dan selamat membaca semua💕


Arion tampak bahagia. Ini pertama kalinya mengajak gadis kecilnya berkencan layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Kini Arion tengah mengikuti kemauan Antia yang ingin ke taman bermain. Terlebih Antia memaksa Arion agar tidak memboking tempatnya.


"Yey sudah sampai ayo kak." Ajak Antia sambil merangkul lengan kekar Arion.


Antia memandang sekitar dan melihat para wanita memandang ke arahnya. Saat sadar rupanya mereka memandang Arion. Sadar Antia memandang Arion pun menatap Antia.


"Kenapa kamu menatapku sayang?" Tanya Arion.


"Kenapa kakak sangat tampan. (Arion tersenyum.) Jangan tersenyum tidak lucu." Jawab Antia.


Arion hanya menggelengkan kepalanya. Antia memalingkan wajahnya dan menatap kicir ria. Senyumnya terbit dan langsung meraih tangan Antia.


"Kak ayo naik kicir ria." Ajak Antia sambil menarik tangan Arion.


"Iya, Ya ayo." Jawab Arion membuat Antia senang.


Kini mereka berdua sudah dalam kincir ria yang perlahan meninggi dan memberikan pemandangan taman bermain secara menyeluruh.


"Kak lihat bukankah itu sangat indah?"


"Iya sangat indah sepertimu." Ucap Arion sambil memeluk Antia dari belakang.


"Antia, bisakah kau berjanji satu hal padaku?"


"Janji apa kak?"


"Percayalah apapun kondisinya juga tantangannya aku tetap mencintaimu seorang...dan berjanjilah padaku agar kau tetap mempercayaiku."


Antia tersenyum melepas pelukan Arion perlahan. Dia pun berbalik dan menatap wajah tampan Arion.


"Aku berjanji."


Jawaban Antia mampu membuat Arion bahagia dan memeluknya. Tepat saat di puncak tertinggi Arion memanatap dalam mata lentik Antia begitu pun sebaliknya.


Perlahan Arion mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Antia. Antia yang terbawa suasana pun merangkul kedua tangannya pada leher kekar Arion.


Sedangkan tangan Arion menarik tengkuk Antia agar memperdalam ciumannya. Suasana romantis mereka semakin bertambah dengan adanya kembang api yang menyala di awan malam saat itu.


Antia, Percayalah aku memintamu berjanji hal ini karena satu tujuan... Ketika ujian cinta kita datang kau dapat mempercayaiku dalam hatimu sebagai kekasihmu seorang... Dan perlu kau tau hanya kaulah yang aku cintai seumur hidupku Antia. Batin Arion disela sela ciumannya.


Aku tidak tau apa maksud dan tujuan kakak memintaku berjanji hal itu. Tapi, aku berharap hanya akulah yang kakak cintai, kakak pikirkan, dan kakak perjuangkan... Percayalah kak saat ini hatiku hanya terukir jelas namamu yang sangat kucintai... Colvis Arion Anvert. Batin Antia disela sela ciuman mereka.


Selesai menikmati kencan pertama yang penuh dengan kenangan indah. Saat ini Antia tengah tertidur di lengan kekar Arion.


Mungkin karena lelah seharian ini dia pergi kesana kemari. Arion berniat membawa Antia ke Vilanya. Namun, niatnya dia urungkan karena dia harus mengurus suatu hal.


Mobil hitam mengkilat memasuki halaman Vila Andian. Kean membukakan pintu dan tampak Arion keluar dengan menggendong Antia.


Arion memasuki Vila disambut Andian dan Raka yang sedang menonton televisi. Raka berdiri dan mendekati Arion yang masih menggendong Antia.


"Arion apa yang kamu lakukan pada Antia?" Tanya Raka tak suka.


"Diamlah jika Antia bangun kau akan aku bunuh, Kenapa kamu disini bukankah lusa kamu akan menikah? Atau kau berencana akan kabur?"


"Tentu saja tidak, aku kemari hanya ingin menjenguk Antia...Melihat dia baik baik saja aku lega...Baiklah aku pamit lebih dulu. Jangan lupa lusa kau datang."


Arion hanya mengagguk dan membawa Antia kedalam kamarnya.


"Setelah ke atas datanglah ke ruang baca ku ada hal yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Andian.


"Baiklah." Jawab Arion singkat kemudian membawa Antia ke kamarnya.


Sesampainya di kamarnya Arion menidurkan Antia perlahan. Dia pun menarik selimut menyelimuti gadis kecilnya. Arion pun mencium kening Antia dengan penuh kasih sayang.


Setelah itu, Arion pun menuju ke ruang baca seperti yang Andian minta. Sesampainya disana dia melihat Andian tengah duduk sambil menyenderkan kepala pada kedua tangannya.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Arion sambil duduk berhadapan dengan Andian.


"Kau berpura pura tidak tau masalahnya?"


"Huff....(Arion menghela napas panjang.) Baiklah aku tadi hanya bercanda...Apa Antia tau soal perjodohanmu?"


"Tentu saja tidak...Dia gadis yang mudah cemas, aku tidak mau dia mencemaskan ku sedangkan tidak dengan dirinya."


"Kak Glan adalah peria yang jenius...aku rasa ada alasan dibalik dia menjodohkanmu dengan anak dari Reno Vanect."


"Dan aku tidak tau alasan itu...yang aku pikirkan adalah demi keamanan Antia."


Arion berdiri dan berjalan mendekati balkon. Dia memandang pemandangan malam hari dari sana sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.


"Apa maksudmu?!! Jika dia tau sama saja Antia menghadapi kematian dan bahaya."


"Karena itu daripada kita melindungi dan menjaganya...akan lebih aman jika dia berjalan bersama kita."


Andian tampak menatap punggung Arion. Kemudian tampak Andian berpikir. Lama berpikir akhirnya Andian berdiri dan berjalan mendekati Arion.


"Kau benar...dia tidak sepenuhnya dalam perlindungan kita...Dia juga gadis yang dewasa dimana dia harus tau apa itu kehidupan sebenarnya."


"Besok aku akan sibuk jadi jaga Antia baik baik...lusa pernikahan Raka aku rasa akan terjadi sesuatu yang sangat langka."


Andian mengagguk dan mereka pun menatap keindahan kota dimalam hari melalui balkon kamarnya.


{}Keesokan Harinya


Antia terbangun dari tidurnya terganggu oleh suara kicauan burung dan silau sinar mentari pagi. Antia pun duduk dibibir ranjang mengumpulkan kesadaran. Saat sadar apa yang terjadi semalam Antia tampak melihat ke sampingnya.


"Kak Arion? Aku di kamarku lalu dimana kak Arion?" Lirih Antia.


Dia pun menuju ke kamar mandi membersihkan diri. Dengan membasuh tubuhnya dia memikirkan kemana perginya Arion.


Selesai membersihkan diri, Antia pun menuruni tangga dan melihat Andian sedang menikmati kopinya dengan menonton televisi.


"Selamat pagi kak."


"Pagi, Kau sudah bangun?"


"Hehehe maaf kak aku kesiangan." Ucap Antia sembari tersenyum dan duduk disamping Andian.


"Makanya jangan terlalu memimpikan Kak Arion mu itu." Ucap Andian tanpa ekspresi membuat Antia merona malu.


"Em...dimana kak Arion?"


"Dia sibuk mengurus perusahaan selama ditinggal berkacang denganmu."


"Berkencan kakakku....Em apa ini? (Antia mengambil sebuah undangan.) Wah ini undangan kak Raka ya?"


"Iya, sebenarnya aku malas datang tapi...dia raja konyol sangat mustahil jika kita tidak hadir di pernikahannya."


"Benar, Kak Raka akan marah jika aku tidak datang."


"Kau masih libur sekolah?"


"Iya kak lusa depan aku akan berangkat sekolah lagi...Guru bilang dipercepat untuk persiapan ujian."


"Belajarlah yang rajin...dan melebihi Arion."


"Kenapa kak Arion lagi sih kak?"


"Saat kami di SMA dulu, kak Arion mu mengikuti Olimpiade Internasional Matematika mewakili Indonesia. Dan apa kau tau dia juara pertama tanpa kesalahan jawaban satu angka pun."


"Wah...dia sangat pandai...Pantas saja dengan mudah kak Arion menjadi seperti saat ini."


"Sudahlah, aku mandi dulu jangan keluar Vila mengerti kamu?"


"Oke kak, Aku ke kamar memilih baju yang harus ku kenakan besok."


Andian mengagguk kemudian meninggalkan Antia. Antia sendiri menuju ke kamarnya mencari pakaian yang harus dia kenakan untuk besok.


"Lusa depan sekolah dan sebentar lagi aku akan lulus SMA. Tinggal lanjutkan kuliah dan menggapai impianku menjadi sarjana." Lirih Antia.


Antia terus memilih pakaian yang ada di lemarinya sampai dia tertarik dengan sebuah gaun bewarna silver cerah.


"Wah ini indah, aku akan menggunakan ini saja." Ucap Antia sambil mengambil gaun tersebut.


Antia pun mencoba gaun bewarna silver cerah tersebut. Dan memandang dirinya pada pancaran cermin. Gaunnya pas di tubuhnya. Membuat Antia tersenyum puas.


Berbeda dengan Andian. Wajah tampannya dihujani air shower menambah ketampanannya. Andian memejamkan matanya.


Dia masih memikirkan akankah Antia akan aman jika dia bersama sama melewati semua ujian yang akan datang? Andian menghusap wajahnya kasar.


Sejak kecil Antia merupakan segalanya buatku. Dan aku selalu memberikannya kesan terbaik dengan membawanya kemari bersamaku. Tapi, dia sudah dewasa... Arion benar akan lebih aman dia berjalan bersama ku daripada aku harus melindunginya karena tidak sepenuhnya aku berada disampingnya. Batin Andian.


Andian pun mengambil handuk dan menyelempangkannya dipinggang. Memamerkan tubuh kekar dan sixpack miliknya.


Dia memandang ke arah cermin. Wajah dinginnya kemudian memerah menahan amarah. Tangannya mengepal erat ingin sekali menghancurkan benda apapun yang didepannya.


"Reno Vanect, Kau membuat kehidupanku dan adikku diambang kematian...Maka aku pun akan membuatmu berada dipangkuan maut." Lirih Andian.


Andian benar benar merasa marah. Marah dengan alur kehidupan yang dia alami saat ini. Marah dengan kenyataan jika dia harus menikahi seseorang demi adik kesayangannya.


Dan pada akhirnya Cavan Andian Anza. Tetaplah dia, peria berdarah dingin yang tidak akan tunduk pada masalah sepele seperti itu. Apapun demi kebahagiaan adiknya akan dia lakukan, adakah kakak sepertinya didunia ini?