Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 41



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Terima Kasih dan selamat membaca semua💕


Di Cerlan Grop


Andian dengan wajah datar dan dinginnya memasuki ruangannya. Setelah itu Andian duduk di kursi berputarnya dan menyenderkan punggungnya.


"Menyebalkan sekali, jika tidak ada Antia aku pasti sudah menyiksanya pagi tadi. Kenapa aku merasa kesal sekali. Ah!!!" Lirih Andian kemudian membuka leptopnya.


Saat itulah terdengar suara ketukan pintu. Dengan malas Andian menekan tombol dan pintu terbuka secara otomatis. Tampaklah seseorang mendekatinya.


"Maaf mengganggu anda tuan." Ucap orang itu.


"Langsung ke intinya." Ucap Andian masih fokus pada leptopnya.


"Kami menemukan sekertaris baru untuk anda tuan." Ucap orang itu.


Orang itu tidak lain Ray yang diperintahkan Andian untuk mencari sekertaris baru untuknya.


"Baguslah... Suruh dia masuk." Ucap Andian.


"Baik tuan... Silahkan masuk." Ucap Ray.


Tampak seorang wanita cantik namun sederhana memasuki ruangannya. Andian pun menutup leptopnya dan menadang wanita itu.


"Tinggal kan kami." Ucap Andian.


Ray membungkuk hormat dan pergi. Andian pun menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


"Siapa namamu?" Tanya Andian.


"Naira Amanira tuan... Anda bisa memanggil saya Naira." Jawab wanita itu yang bernama Naira.


"Ambil ini...(Naira mengambil lembaran kertas yang Andian berikan.) Pahami itu... Itu aturan dan kewajibanmu sebagai sekertaris ku." Ucap Andian.


"Baik saya mengerti tuan." Jawab Naira.


"Kau temuilah Ray... Peria yang membawamu kemari... Dia akan menujukan dimana ruanganmu. Sekarang kamu bisa pergi." Ucap Andian.


"Baik tuan saya permisi." Pamit Naira kemudian pergi.


"Ray sepertinya mengenalku dengan baik... Wanita itu tidak genit dan mencari perhatian seperti karyawan wanita lainnya." Ucap Andian lirih.


*Tring!!* Suara handphone Andian berbunyi menandakan ada pesan atau telefon masuk. Andian pun membuka dan ternyata ada sebuah pesan.


New number, Kakak ini nomor kakak ipar dan yang mengirim pesan ini aku Antia, jadi simpan nomornya baik baik ya.


"Antia memegang handphone wanita itu?? Dia pasti usil lagi...(Memijit pelipisnya.) Sudahlah." Ucap Andian yang pada akhirnya menyimpan nomornya.


Saat akan mematikan handphone nya, Andian mengurungkan niatnya begitu melihat foto profile Arila. Andian pun menatap seksama Arila yang berfoto diantara dua wanita.


"Bukankah ini istri Raka, Antika... Dan sebelahnya lagi jika tidak salah nona muda Wismajaya. Jadi mereka masih bersahabat sampai saat ini? Sama halnya Antia aku akan menyadap nomornya." Ucap Andian sembari memandang foto itu.


Setelah berhasil menyadap nomor Arila Andian kembali fokus bekerja.


Di Vila Andian.


Antia tersenyum geli melihat Andian langsung membaca pesan darinya. Antia menghapus pesan yang baru dia kirim kemudian menamai kontak Andian


*Suamiku tampan.* Setelah itu Antia langsung menyimpan nomor Andian di handphone Arila.


"Ini kakak ipar... Terima kasih sudah meminjamkannya untukku." Ucap Antia sembari menyondorkan handphone Arila.


"Sama sama... Jika butuh bantuan semampu ku aku bisa bantu." Jawab Arila tersenyum.


"Tentu kak.... Ada satu apa kakak mau membantu ku??" Tanya Antia memastikan.


"Em...katakan jika aku mampu aku pasti membantumu." Jawab Arila.


Di Vila Raka.


Antika dengan dipapah oleh Raka menuruni tangga. Mereka pun mendekati Randy Laura dan Renia juga Anzo yang sedang berbincang di ruang keluarga.


"Bibi...paman kenalin ini istriku Antika... Antika ini ayah dan ibu kakak Renzo." Jelas Raka memperkenalkan.


Tampak Renia mendekat dan duduk diantara Raka dan Antika. Membuat semua orang terheran heran.


"Kamu toh istrinya Raka... (Antika mengagguk.) Cantiknya... Pantes Raka tergila gila sama kamu sayang... Oh iya ada yang pengen bibi omongin ke kamu." Ucap Renia sembari tersenyum.


"Em...apa yang pengen bibi omongin??" Tanya Antika ingin tau.


"Kemari...(Antika mendekat pada Renia sedangkan Raka mencuri dengar.) Kan dikeluarga kami kamu dan Raka yang menikah pertama...jadi bibi minta cepet cepet ya naikan pangkat jadi nenek. Ya??" Ucap Renia membuat Antika merona.


"Em...iy...iya bibi." Jawab Antika dimana membuat Raka tersenyum penuh arti.


"Lihat Raka dan Antika dijodohkan tapi mereka bahagia... Kamu nggak malu adik adik kamu udah nikah kamu masih lajang??" Sindir Renia pada putranya Renzo.


"Mom...Mommy kan Renzo pengen cari orang sesuai kriteria Renzo. Kalo dulu aku dijodohin sama Antika pasti maulah." Ucap Renzo memancing Raka.


"Diam kau!! Dasar adik sepupu tidak berbakti." Ucap Renzo kesal.


"Pokoknya mommy nggak mau tau... Mommy kasih waktu 3 bulan... Kalo sampe 3 bulan itu kamu belum memperkenalkan gadis ke mommy, maka kamu harus menikah dengan gadis pilihan mommy dan daddy." Ucap Renia serius.


Randy dan Laura hanya diam tidak berani ikut campur mengingat kecerewetan Renia. Bahkan Anzo sebagai suaminya tidak berani melerainya. Tampak Renzo sedang berpikir.


"Baiklah kalo mommy memaksa. Renzo pastiin dalam 3 bulan bisa kenalin gadis pilihan Renzo." Jawab Renzo.


"Baik mommy tunggu...Dad ayo kita kerumah kakak." Ucap Renia.


"Mom nggak istirahat dulu... Daddy juga capek mom... Baru sampe dibandara mommy langsung minta kemari. Kita pulang yuk mom." Ucap Anzo memelas.


"Oh gitu...ya udah mommy sendiri saja nanti jika kakak ipar tanya kenapa datang sendiri bilang aja kamu sibuk selingkuh." Ancam Renia.


"Jangan dong sayang... Ayo kita ke sana sekarang ya... Jangan marah lagi." Ucap Anzo.


"Gitu dong... Randy Laura kami pamit ya terima kasih sarapan paginya. Dan kamu Renzo ikut mommy." Ucap Renia mewakili.


"Iya mommy." Jawab Renzo pasrah.


"Iya kak, kakak hati hati dijalan. Ayo kita antar sampai kedepan." Ucap Randy dan Laura mengikuti Renzo Anza dan Renia. Saat Antika akan berdiri Renia menceghat.


"Antika sayang...(Mendudukan kembali Antika.) Kamu masih lemas jadi istirahatlah." Ucap Renia dan diangguki oleh Antika.


Kini hanya ada Antika dan Raka di ruang keluarga. Antika tertawa kecil mengingat reaksi Anzo saat diancam oleh Renia. Membuat Raka duduk mendekati Antika.


"Sayang kenapa kamu tertawa??" Tanya Raka.


"Paman Anzo dan bibi Renia sangat lucu... Apa mereka sering begitu ya??" Jawab Antika kembali bertanya sambil memalingkan wajahnya menatap Raka.


Tanpa Antika sengaja dia mencium bibir Raka sekilas lantaran jarak Raka dan Antika sangat dekat. Membuat Antika hendak menjauhi Raka namun, Raka lebih dulu melingkarkan tangan kekarnya pada pinggang Antika dan menarik Antika agar lebih dekat dengannya.


"Apa kamu ingat apa yang diomongin bibi Renia padamu??" Tanya Raka menggoda.


"M..maksud kamu...ap...apa??" Ucap Antika berusaha menjauh.


"Kau lupa atau pura pura lupa sayang??(Raka mendekati daun telinga Antika.) Bibi bilang naikan pangkat menjadi nenek bukan? Jadi, ayo kita bekerja sama menaikan pangkat bibi menjadi nenek." Goda Raka sembari menciumi pipi Antika.


"Kenapa kamu terus mendorongku??" Tanya Raka tak suka.


"Bu...bukan begitu... Disini ruang terbuka." Jawab Antika terbata bata.


"Kalau begitu...(Menggendong Antika.) Kita diruangan tertutup dan kedap suara seperti kamar kita." Ucap Raka.


"Ak...aku masih sakit." Ucap Antika lirih.


"Kamu sudah tidak mual dan demammu sudah reda... (Raka mengunci pintu dan merebahkan tubuh Antika diatas ranjang.)Jadi jangan menolak keinginan suamimu atau kamu berdosa sayang." Goda Raka dimana membuat Antika pasrah.


Kini mereka menghabiskan waktu bersama


di dalam kamar. Dua seloji itu tidak peduli akan pagi siang maupun malam. Yang mereka pedulikan adalah keromantisan antara mereka.


Di Rumah Sakit


Arion tengah duduk dibibir ranjang sembari menatap tangannya yang terinfus. Ingin sekali rasanya Arion melepas infus itu dan menemui gadis kecilnya.


"Kean aku sangat bosan, kapan aku boleh keluar dari sini?" Keluh Arion.


"Baru beberapa pekan tuan, anda harus menunggu lagi. Anda harus meminum obatnya tuan." Jelas Kean sambil menyondorkan obat namun di tolak oleh Arion.


"Aku sudah sehat Kean, ayolah ini hanya luka kecil. Aku tidak mau meminum obatnya." Ucap Arion menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan memalingkan wajahnya.


Sungguh berlagak seperti anak kecil yang tidak mau minum obat. Tampak Kean sedang berpikir bagaimana cara agar tuan mudanya mau meminum obatnya.


"Jika anda tidak mau saya akan memberitau pada nona Antia." Ucap Kean santai namun mengancam bagi Arion.


"Kean kau mengancam ku?? Kau membantahku??" Ucap Arion.


"Hanya kali ini tuan, ini demi kesehatan anda." Jawab Kean.


"Kau memang patuh padaku tapi begitu mengancam kau seolah mengantarku pada malaikat maut." Ucap Arion kesal.


"Terserah anda tuan...saya akan hubungi nona Antia sekarang-"


"JANGAN!!! Baik...baiklah aku akan meminumnya."


"Anda sangat kekanak kanakan tuan. Anda begitu patuh jika mengenai nona Antia."


"Apa kau bilang?? Dasar jomblo karatan!! Aku pastikan sikap mu berubah oleh seorang gadis." Ucap Arion sambil menujuk Kean.


"Sikap, prinsip dan intergritasku tidak ada yang bisa merubahnya tuan bahkan anda sekaligus."


"Sudah aku tidak mau berdebat denganmu. Ambil kan air untukku cepat." Titah Arion dan Kean langsung pergi meninggalkanya.


Tuhan, dimana jodoh sekertaris ku cepat lah pertemukan mereka aku bisa bisa gila karena sikap dia semakin hari semakin gila. Batin Arion.