Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 8



"Antia setuju ma." Ucap Antia mampu membuat Lyin tersenyum bahagia.


 


"Syukurlah sayang mama bahagia mendengarnya." Jawab Lyin sambil memeluk Antia. Antia melepas pelukannya perlahan.


"Tapi ma Antia baru 17 tahun dan baru naik kelas 3 SMA...Antia juga masih pengen kuliah ma." Ucap Antia dengan nada lirih. Lyin menghusap puncak kepalanya.


"Sayang dia hanya ingin lebih dekat denganmu dan jika dia merasa kamu sudah nyaman dengannya mungkin dia akan menikahimu...Kau bersiap siaplah dia sebentar lagi akan datang." Ucap Lyin lembut. Antia mengagguk dan beranjak pergi.


Di ruang tamu


Gio Raka dan Lyin tampak berbincang bincang sedangkan Andian memilih menyendiri di balkon kamarnya. Hingga sebuah mobil hitam mengkilap datang Andian langsung menuruni tangga menyambut Arion. Keluarlah peria muda tampan memakai jas hitam rapi dan sekertaris yang selalu setia dengannya. Arion disambut baik oleh mereka dan mereka pun duduk di ruang tamu.


"Jadi paman kau masih tidak menyetujuinya?" Tanya Arion tiba tiba dengan nada datar dan sedikit dingin.


"Ke...keputusan ada pada Antia." Jawab Gio terbata bata. Gian datang membawakan kopi. Suasana hening menyelimuti sampai Antia datang. Arion melirik pada gadis kecilnya. Antia duduk hanya menundukan wajahnya dia masih sedikit canggung.


"Antia dia sehabat kakak sejak kecil namanya Colvis Arion Anvert, Kamu bisa memanggilnya Arion." Ucap Andian memperkenalkan.


Kakak benar, Kak Arion tampan sekali tapi... Tidak Antia sekarang bukan itu yang harus kamu pikirkan. Batin Antia.


Gadis kecilku tidakah kau menyapa calon suamimu Batin Arion berharap.


"Hallo kak Arion salam kenal ya." Sapa Antia yang merasa sedikit canggung namun berusaha tersenyum.


Arion sangat senang mendengar sapaan dari gadis kecilnya. Arion membisikan sesuatu pada Kean. Dan dia pun berdiri dari duduknya.


"Baiklah, Keputusan ada padamu Gadis kecilku...kami pamit." Pamit Arion. Kean masih berdiri dan setelah tuannya masuk kedalam mobil Kean berbalik.


"Nona Antia besok tuan muda mengajak anda makan siang, saya akan menjemput anda bersama tuan muda." Ucap Kean. Antia menatap Andian dan Andian mengagguk.


"Baiklah aku mau." Jawab Antia singkat. Kean menunduk hormat dan pergi.


Andian langsung berdiri dan hendak pergi. Mengingat dia sangat tidak suka walau hanya duduk satu keluarga dengan Ayahnya Gio. Gio juga berdiri dan langsung keluar tanpa pamit.


"Sayang mama dan papa pulang dulu ya kamu jaga diri baik baik disini." Pamit Lyin. Antia mengagguk dan sebelum pergi Lyin mencium kening putrinya.


Antia pun bergegas masuk kedalam kamarnya. Merilekskan tubuh yang sedari tadi tegang dan canggung. Antia merebahkan dirinya diatas ranjang dan berkali kali mengingat wajah Arion. Antia akui Arion memang lebih tampan dari kakaknya.


"Pertemuan apaan baru juga nyapa main pergi aja...Memang ya jika bersehabat dengan kakak pasti parasnya dingin kayak balok es."


Gerutu Antia yang entah mengapa merasa kesal.


"Jadi bagaimana menurutmu Antia?" Tanya Andian yang sedari tadi di depan pintu dan tentu mendengar gerutuan Antia. Antia pun bangun dan duduk dibibir ranjang.


"Kakak sejak kapan kau disitu?" Tanya balik Antia. Andian mendekat dan duduk disamping Antia.


"Sejak adikku menggerutu menyebut Arion sebagai balok es." Jawab Andian. Membuat Antia malu.


"Hehehe...kakak aku hanya bercanda." Ucap Antia sambil tersenyum. Andian menghusap puncak kepala Antia.


"Kau tau orang yang mencium keningmu saat di aula? Dialah Arion yang baru kembali dari Amerika dan langsung menemuimu benar benar nekat kan?" Ucap Andian dengan tangan masih mengelus puncak kepala adiknya.


"Jadi dia kak? Kenapa kakak tidak memarahinya." Kesal Antia karena saat sehabat laki lakinya hanya menyentuh tangannya Andian langsung memarahinya tanpa ampun. Andian berhenti dari kegiatan mengelus puncak kepala Antia.


"Karena cepat atau lambat kamu akan menjadi miliknya... Kakak hanya menjagamu selama 17 tahun bahkan 18 tahun... 2 minggu lagi kau ulang tahun kan?" Jawab Andian kemudian bertanya.


"Tapi kenapa dia harus memilih gadis sepertiku...Kak Arion kan tampan juga sekarang sangat kaya bisa dengan mudah kak Arion mendapatkan gadis mana pun tidak harus aku...Kak memang berapa umur kak Arion?" Ucap Antia kemudian bertanya pada Andian.


"Karena kau Arion bisa tersenyum...dan apa kau tau untuk siapa semua perjuangannya itu hanya untukmu...(Antia merona karena malu.) Dan umurnya tidak jauh dari kakak seminggu yang lalu dia tepat 25 tahun." Jawab Andian menjelaskan.


"25 tahun kak?! Aku pikir dia sebaya denganku...kak bukankah dia lebih pantas menjadi kakakku." Sungut Antia.


"Karena dia terlalu tampan...(Andian berdiri dan beranjak pergi) Dia lebih pantas menjadi pendampingmu bukan kakakmu." Ucap Andian kemudian meninggalkan adiknya.


Antia diam ditempat dengan pikiran kemana mana. Disatu sisi Arion memang tipe yang selama ini Antia idamkan dan disisi lain Arion merupakan peria berpengaruh membuat Antia takut jika ada yang akan mencelakakannya. Yang dikatakan Andian tidaklah salah memang Arion terlihat jelas menyayanginya sepenuh hati. Lama berdiam diri Antia merebahkan diri di ranjang dan terlelap dalam tidurnya.


Antia bangun sebelum mentari pagi memancarkan cahayanya. Antia mandi dan mempersiapkan diri untuk jogging. Seperti runitas pagi biasanya. Antia menuruni tangga dan suasana sepi hanya ada Gian yang hendak memasak. Antia berpikir jika Andian sudah berangkat jogging. Antia pun keluar vila dan mulai jogging dengan rute yang sama.


Kakak tidak jogging ya kenapa disini sepi sekali tidak biasanya Batin Antia merasa sedikit takut.


Disisi lain Andian baru bangun dari tidurnya. Dia sedikit terlambat karena semalaman menyelsaikan tugas kantornya di ruang bacanya sampai pukul 1 pagi. Andian duduk di sofa ruang keluarga dan menyalakan televisinya. Melihat tuannya sedang menonton televisi Gian mendekat.


 


"Tuan anda ternyata baru bangun, Saya pikir anda berjogging dengan nona muda." Ucap Gian seketika membuat Andian berdiri dan memasang wajah cemas.


"Gian maksud kamu Antia pergi jogging sendiri?" Tanya Andian cemas.


"Iya tuan muda." Jawab Gian takala cemas.


"Sialan! Antia dalam bahaya." Ucap Andian langsung mengambil kunci mobilnya. Dan melajukannya dengan kecepatan penuh. Andian bahkan masih menggunakan sandal rumah karena saking cemasnya tidak sempat menggantinya.


Kembali pada Antia dia merasa ketakutan sampai dia merasa tersesat. Dia merasa ada seseorang mengikutinya. Saat Antia berbalik Antia melihat 5 orang peria berbadan kekar. Peria itu tersenyum mendapati wajah takut Antia. Peria itu mendekat membuat Antia mundur sampai akhirnya terjatuh.


"Aw" Rintih Antia dan melihat telapak tangannya mengeluarkan darah akibat tergores batu.


"Gadis manis kamu cukup berani ya datang ke kawasan ini sendirian." Ucap Peria A.


"Bos bukankah dia adik dari Andian? Setiap pagi dia jogging bersamanya." Sahut peria B.


"Benar bos karena kakaknya panglima lumpuh." Ucap peria C. Antia semakin ketakutan begitu kelima peria berbadan kekar mengepung.


"Jadi kamu adiknya... Sebelum disiksa bagaimana kita mencicipinya lebih dahulu." Ucap peria A sambil mendekat. Antia mundur dengan posisi masih terduduk.


"Ku mohon jangan mendekat!!! Tolong!!! Tolong!!!" Teriak Antia. Namun yang ada hanya kelima peria itu mentertawainya. Peria A yang tidak lain bosnya pun menarik tangan Antia memaksanya berdiri.


"Teriaklah gadis manis tidak akan ada orang yang mendengarmu disini." Ucap peria A sembari mendekat hendak mencium Antia. Antia memejamkan matanya tak bisa memberontak. Namun tiba tiba.


*Bugh!! Bugh!! Bugh!!* Suara pukulan membuat peria A berbalik dan mendapati keempat anak buahnya tersungkur.


Dia melihat satu orang peria didepan dan 8 orang lainnya dibelakang. Seketika tubuhnya tertunduk melepas cengkramannya. Antia hanya menangis sambil memegangi tangannya. Membuat peria yang tidak lain Arion merasa sakit dalam dadanya. Arion mendekat dan meraih Antia kemudian memeluknya. Antia menangis dan hanya membenamkan wajahnya pada dada bidang Arion. Wajah Arion semakin marah mendapati pergelangan tangan Antia memerah dan telapak tangannya berdarah.


"Kean!!! Bawa seluruh gengnya ke markas." Titah Arion dengan membentak.


"Baik tuan muda." Jawab mutlak dari seorang Kean.


"Tuan Arion... ampuni kami... kami tidak tau jika dia wanitamu...Tuan!!!!" Teriak para peria itu yang diseret dengan paksa oleh pengawal Arion.


Arion menggendong Antia dan Antia hanya menurut. Antia masih menangis dalam gendongan Arion. Yang dimana membuat Arion geram dan ingin membunuh orang yang berani melukai gadis kecilnya.


Geng Cobra kalian memang memiliki nyali berani beraninya membuat gadisku menangis aku akan menguliti kalian hidup hidup Batin Arion geram. Arion menatap Antia yang menangis dalam gendongannya.


Jika aku tidak kemari apa yang akan terjadi padamu gadis kecilku. Batin Arion.


Beberapa saat sebelum kejadian


Arion memerintahkan beberapa pengawal mengawasi Vila yang dihuni Antia. Arion saat itu hendak makam ayah ibu dan kakaknya. Namun niatnya di urungkan begitu mendengar Antia keluar sendiri dari vila.


"Kean putar balik." Titah Arion yang mulai cemas.


"Baik tuan muda." Jawab Kean.


Sesampainya disebuah gang Arion mendengar teriakan Antia yang dimana membuatnya semakin cemas. Matanya terbelak melihat gadisnya yang hendak dilecehkan oleh peria. Dan tanpa memerintah dengan tangannya sendiri Arion langsung memukuli mereka.


 


*Bugh!!! Bugh!!! Bugh!!!* Suara pukulan mampu membuat keempat peria itu tersungkur. Membuat peria A tertunduk pada Arion.


Seusai Kejadian.