
...Pergilah! Aku hanya ingin CINTA bukan DERITA. ...
...🥀MBMB🥀...
Di Taman Rumah Sakit
Arisa menghela napas panjang saat Lista menceritakan semuanya. Tapi mau bagaimana lagi? Arisa juga memiliki rumah tangga sendiri dan bahkan posisi Miera sama dengan dirinya. Dan itu membuat Arisa tak ingin ikut campur.
"Jika saja aku tidak memiliki masalah ku sendiri, aku pasti membantu kak Miera." Ucap Arisa.
"Aku mengerti perasaanmu, disini yang salah adalah kakakku... Aku janji, kak Miera pasti akan mendapatkan cinta dari kakakku." Jawab Lista membuat Arisa tersenyum tipis.
"Jangan menyerah... Mungkin memang kak Alan batu yang sangat sulit di ukir, tapi jika terus bersabar... Aku yakin batu itu akan menjadi mudah di ukir dengan sendirinya." Ucap Lista memberikan semangat pada sahabatnya.
"Terima kasih Lis." Ucap Arisa kemudian memeluk sahabatnya itu.
Tetep semangat Arisa, aku selalu mendukungmu. Batin Lista.
"Arisa." Panggil Niranda.
"Ibu, ibu sama ayah kok ada disini??" Tanya Arisa sembari mendekati ibu mertuanya.
"Ibu kesini untuk kontrol kesehatan sekalian menjenguk anak Machel dan Serly." Jawab Niranda sembari menghusap puncak kepala Arisa.
"Wah... Arisa ikut ya bu, boleh??" Tanya Arisa.
"Tentu saja sayang." Jawab Niranda.
Kenapa Arisa sendirian?? Apa anak itu... Astaga Emilio, kau didik seperti apa putraku itu? Batin Zain.
"Lis, aku ikut ibu ya... Tolong bilang ke kakak." Ucap Arisa.
"Oke!" Jawab Lista sembari mengacungkan jempolnya.
Arisa bersama ayah dan ibu mertuanya pun menuju ke ruangan dimana Serly dirawat. Dan bertepatan dengan itu, Alan baru keluar darisana. Jelas terkejut, karena Zain dan Niranda bersama Arisa sedangkan dirinya sendirian.
"Ayah... Ibu." Ucap Alan.
"Dasar anak nakal! (Menjewer telinga Alan.) Kau meninggalkan istrimu sendiri?? Suami macam apa kamu??" Omel Niranda dan seperti biasa Alan hanya diam menunduk. Dan itu peristiwa langka yang tentu membuat Arisa sedikit terkejut.
"Ayo sayang, biarkan suamimu itu merenung." Ucap Niranda kemudian mengajak Arisa masuk kedalam ruangan.
"Avindra mau bicara denganmu??" Tanya Zain.
"Menatap ku saja tidak, apalagi berbicara denganku." Jawab Alan.
"Menjauhi Arisa... Membuatnya menderita... Itu sama seperti kamu menjauhkan diri dari sahabat sahabatmu, dan kau pasti merasa asing saat Avindra... Pria yang lebih mencintai dan perhatian padamu lebih dari ayah telah menjauhimu." Ucap Zain kemudian ikut masuk kedalam ruangan.
Arti mencintai yang Zain maksud adalah sebagai saudara, sahabat dan kerabat. Karena memang, Avindra lebih perhatian kepada Alan dan bahkan seperti ayah baginya karena setiap Alan melakukan sesuatu. Avindra selalu memberikan perincian mengenai yang harus dilakukan. Tak ingin sang ayah ikut menjauhinya, Alan ikut masuk kedalam ruangan lagi.
"Wah dia sangat tampan... Sepertimu kak." Puji Arisa pada sang bayi mungil itu.
"Oh jelas dong Arisa... Lihat dulu siapa ayahnya." Ucap Machel percaya diri. Membuat lainnya menggelengkan kepalanya pelan dengan sikap Machel.
"Nggak bisa... Arisa sib—"
"Mereka akan honeymoon ke Italia... Bukan begitu Alan??" Ucap Niranda menyela dan menatap Alan.
"Iya." Jawab Alan singkat.
Apalagi ini... Batin Arisa sembari menghela napas panjang.
"Bravo! Jangan lupa, keponakan menyusul... Bukan begitu Selly??" Ucap Machel pada putrinya yang tengah berada digendongannya.
"Baby uncle Alan nanti pacti cangat tampan!" Ucap Selly dengan mata berbinar. Dan tentu membuat Arisa merona sembari tetap menghusap kening bayi mungil Serly.
...Brakkk!! ...
"Uncle tampan!!!" Ucap Ardika kemudian berhamburan memeluk Alan.
"Aldika lindu uncle." Ucap Ardika.
"Benarkah?? Ingin bermain di rumah uncle??" Ucap Alan sembari menghusap puncak kepala Ardika.
"Apakah boleh??" Tanya Ardika.
"Tentu saja... Disana ada taman bermain luas dan kita bisa bermain bersama." Jawab Alan.
"Holee!! Uncle yang telbaik... Selly mau ikut?? Kita belmain belsama." Ucap Ardika.
"Tidak mau, Celly mau cama dedek aja." Jawab Selly. Ardika hanya menganggukan kepalanya pelan dan itu terlihat sangat lucu.
"Ardika kita pulang sekarang!" Ucap Avindra kemudian menggendong Ardika.
"Tapi Aldika mau..." Ucap Ardika menggantung saat Avindra menatapnya tajam.
"Kakak." Ucap Arisa sembari memegang lengan sang kakak. Yang mana membuat Avindra menatap sayu adiknya.
"Biarkan, Ardika bersama mas Alan... Dia ingin bermain bersamanya." Ucap Arisa dengan mata memohon yang jelas tidak akan ditolak oleh Avindra.
Mas? Batin Alan.
"Baiklah... Akan aku jemput nanti malam." Ucap Avindra yang mana membuat Ardika tersenyum dan beralih ke gendongan sang aunty.
"Ayo kita bermain." Ucap Arisa kemudian menciumi pipi Ardika.
"Ayah, ibu... Avindra kami pulang dulu." Ucap Alan.
"Baiklah, hati hati dijalan." Jawab Niranda. Arisa Alan dan Ardika pun pergi. Sedangkan Avindra hanya menatap adik kesayangannya penuh khawatir. Khawatir Arisa akan tersakiti oleh pria yang sama.
...🥀🥀🥀...
Spoiler bab selanjutnya:
“Kakak jangan hanya berpikir jika hanya kakak saja yang merasa terpaksa dan tertekan... Arisa juga kak! SANGAT TERTEKAN!!! Untuk apa makna pernikahan, jika kakak saja tidak mau berusaha mencintaiku??? Kontrak berakhir! Besok kita ke pengadilan untuk mengurus surat perceraian kita.” Ucap Arisa tegas.