Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 37



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Terima Kasih dan selamat membaca semua💕


"Huft... Syukur lah kami berhasil mengeluarkan 3 peluru di bagian dadanya tuan Arion baik baik saja tapi saat ini dia masih kritis... Tenang kemungkinan besar Tuan Arion akan baik baik saja." Ucap sang dokter bernapas lega.


"Apa aku bisa menemuinya?" Tanya Antia.


"Bisa nona tapi hanya 1 atau 2 orang yang bisa menemaninya. Sebelum itu biarkan kami pindahkan pasien ke ruang rawat." Jawab dokter.


Semua pun mengagguk setuju. Akhirnya semua orang bisa bernapas lega. Setelah Arion di pindahkan ke ruang rawat VIP Antia dengan segera menemui Arion. Tampak wajah tampan Arion pucat.


Antia meraih tangan Arion yang terinfus. Sedangkan Andian berdiri disamping Antia. Antia meneteskan air matanya dan menghusap tangan Arion perlahan.


"Kak Arion...kau memang bodoh." Ucap Antia kemudian mencium punggung tangan Arion.


"Arion berusahalah seperti saat kau berusaha memperjuangkan Antia. Kami menunggumu." Ucap Andian.


"Kak kapan kak Arion sadar??" Tanya Antia memandang Andian.


"Aku sadar....Gadisku." Jawab seseorang yang membuat Andian dan Antia terkejut.


"Kak Arion....(Antia tersenyum bahagia.) Apa aku mimpi." Ucap Antia masih tak percaya.


Iya, karena Arion sudah sadar. Dimana seharusnya Arion masih menghadapi masa kritis. Keajaiban Tuhan siapa yang tau. Arion tersenyum dan perlahan menghusap pipi Antia.


"Tidak ada yang bermimpi sayang... (Memandang Andian.) Kau cengeng sekali Andian."


"Diam kau." Ucap Andian. Andian menekan tombol dan memanggil dokter.


"Berhenti menangis... Kau mau aku dijuluki peria br*ngs*k yang hanya membuat gadis nya menangis??? Berhentilah menangis kak Arion mu sudah sadar." Ucap Arion.


"Baiklah tapi kakak berjanji akan sembuh ya."


"Tentu saja." Ucap Arion.


Tak berapa lama dokter dan beberapa perawat datang. Antia dan Andian pun menyingkir membiarkan sang dokter memeriksa. Beberapa saat kemudian.


"Syukurlah keadaan tuan Arion cukup membaik... Tapi tuan Arion harus di rawat selama 1 bulan baru tuan Arion sembuh total." Ucap sang dokter.


"Tapi—" Ucap Arion terpotong.


"Baik dok terima kasih sarannya." Ucap Antia memotong ucapan Arion.


"Kalau begitu saya permisi." Pamit sang dokter. Andian dan Antia pun mengagguk.


"Sayang aku tidak mau di rawat... 1 bulan lusa depan pernikahan Andian dan mulai pekan depan kau harus ujian." Keluh Arion.


"Jika kakak tidak mau di rawat aku tidak mau menemui kakak." Ancaman halus Antia.


"Baiklah sayang... Kau fokus lah pada ujian mu... Dan kau Andian apa masih mau menikahi putri Reno Vanect setelah kau tau kebenarnya??"


"Karena ini pilihan kak Glan maka aku akan tetap menikahi nya... Kau tidak perlu memikirkan hal itu pikirkan tentang kesembuhanmu."


"Tentu. Aku titip Antia padamu... Sayang jaga dirimu baik baik dan belajarlah yang rajin."


"Baik kak laksanakan." Ucap Antia.


Lama berbincang Antia pun pamit untuk membersihkan diri sedangkan Andian harus bersiap siap untuk pernikahannya yang tinggal hitungan hari.


Setelah semua orang pergi Kean pun menghampiri tuannya. Berkali kali Kean membodoh bodohkan dirinya merasa tidak pantas menjadi tangan kanan Arion.


"Kean...hahaha aku suka kesetiaanmu padaku." Ucap Arion tersenyum.


"Kenapa tuan tidak memerintahkanku menangis saat itu juga."


"Baiklah Kean Arjuna Pratama aku perintahkan kau menangis sekarang."


"Anda jahat tuan...disaat seperti ini masih bercanda...anda tidak tau beberapa saat yang lalu aku hampir ingin mati tuan... Hanya tuan yang saya punya... Tuan adalah majikan, sahabat, dan saudara ku jika tuan meninggalkan ku tadi aku bagaimana??" Ucap Kean dengan meneteskan air matanya.


"Aku tidak akan meninggalkan siapa pun sebelum aku dan kau bahagia. Aku bangga dengan kesetiaanmu Kean."


"Terima kasih tuan." Jawab Kean sembari menghapus air matanya.


Arion pun tersenyum melihat kesetiaan Kean. Kean selalu setia mendampingi tuannya yang masih terbaring.


3 Hari Kemudian.


Arila memandang dirinya dari pancaran cermin. Tampak wajah cantik Arila bertambah saat menggunakan make up. Tidak seperti biasanya yang polos tanpa make up.


Hari ini aku akan menikah... Aku harap ini pernikahan pertama dan terakhir dalam hidup ku. Batin Arila.


"Kakak....(Sista duduk disamping Arila.) Wah kakak sangat cantik... Ayo kak calon suami kakak menunggu kakak saat ini. Apa kakak tau calon kakak ipar sangat tampan." Ucap Sista begitu mendekati Arila.


"Aku tidak yakin." Ucap Arila.


"Aduh kakak ini." Ucap Sista sembari menepuk keningnya.


"Arila sayang...(Memandang Sista.) Sista bukankah ibu menyuruh mu memanggil kakakmu kalian malah bercerita begini." Ucap Tarti mendekati kedua putrinya.


"Ayolah bu, kakak bilang calon kakak ipar tidak tampan...coba ibu yang bilang ke kakak." Ucap Sista cemberut.


"Andian memang peria tampan... Bahkan saat ini dia seperti pangeran dongeng...(Arila merona.) Arila sebentar lagi kamu akan ikut suamimu... Kamu ingat kan nasihat ibu ke kamu??"


"Iya bu... Nasihat ibu akan selalu aku ingat." Ucap Arila tersenyum.


"Ayo kita turun sayang." Ajak Tarti.


Arila pun mengagguk dan mereka pun menuju ke tempat dimana Ijab Qobul akan dilaksanakan. Tampak keluarga Andian sudah berkumpul. Arila memandang Andian yang tampak tampan dengan jas yang dia kenakan.


Arila pun duduk disebelah Andian dan memandang sekitar. Tampak Antia dan Sista mengacungkan kedua jari jempolnya sedangkan Antika tersenyum dengan tangan menggandeng tangan Raka.


"Baiklah bisa kita mulai... Saudara Andian jabat tangan saya... Saya nikahkan engkau dengan Arila Loviana Maharani binti Reno Vanect dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap sang penghulu.


"Saya terima nikahnya Arila Loviana Maharani binti Reno Vanect dengan maskawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi sah??"


"Sah!!!" Ucap mereka serentak.


Andian menyematkan cincin pada jari tengah Arila begitu pun sebaliknya. Seusai itu, Arila pun menyalami tangan Andian dan mencium punggung tangannya tanpa penolakan. Sungguh peristiwa yang sangat romantis.


Akhirnya Ijab Qobul selesai. Keluarga Andian pun membawa Arila bersamanya. Namun sebelum itu Arila memeluk Tarti dan Sista.


"Kakak aku akan sangat merindukanmu." Ucap Sista berkaca kaca.


"Aku juga akan merindukan sifat bawelmu itu. Ibu Ayah dan kau Sista... Aku pamit ya jaga diri kalian baik baik."


"Tentu... Andian ibu titip Arila ya." Ucap Tarti memandang Andian.


"Pasti, ibu jangan khawatir." Jawab Andian.


Arila pun memasuki mobil Andian dan perlahan mobil itu menjauhi Kediamannya. Lyin Gio dan Bima juga pamit pulang. Sedangkan Gian membawakan koper dan barang barang Arila. Di dalam mobil.


"Kak berhenti di rumah sakit dulu." Ucap Antia.


"Memang siapa yang sakit An?" Tanya Arila.


"Kak Arion... Kakak dan kakak ipar langsung saja pulang aku akan menginap disana." Ucap Antia.


"Aku ingin menjenguknya. Apa boleh??" Pinta Arila.


"Untuk apa kau menjenguknya??" Tanya Andian.


"Aku hanya ingin tau keadaannya saja." Jawab Arila sembari menunduk.


"Tidak perlu, dia baik baik saja ada Antia Kean dan Renzo disana." Ucap Andian sedikit tak suka.


Arila pun terdiam seketika. Sedangkan Antia menahan tawa melihat sikap Andian. Suasana hening tidak ada percakapan diantara mereka lagi.


Aku rasa yang di katakan kak Arion benar, hehehe ingin sekali aku pasang kamera disini dan melihat apa saja yang mereka lakukan. Batin Antia sembari tersenyum.


Beberapa saat mereka pun sampai di rumah sakit. Mobil milik Andian pun terparkir di halaman depan rumah sakit.


"Kak...kakak ipar aku pergi dulu ya." Pamit Antia hendak membuka pintu mobil.


"Iya hati hati...(Mencium kening Antia.) Kabari aku jika terjadi sesuatu." Ucap Andian.


"Baik kak...aku pergi dulu." Ucap Antia dan keluar dari dalam mobil.


Ternyata benar, tameng es ini sangat menyayangi adiknya. Batin Arila sembari memandang punggung Antia yang menjauh.


"Hey aku bukan supirmu duduk didepan." Ucap Andian.


"Aku sudah nyaman disini." Jawab Arila cuek.


"Duduk didepan!"


"Tidak mau!"


Tampak Andian melepas sabuk pengamannya. Arila masih diam ditempat mengira jika Andian akan masuk kedalam rumah sakit.


Namun, berbanding terbalik dengan yang dia pikirkan. Andian justru mendekati Arila membuat Arila bingung.


"Turun dan duduk didepan." Titan Andian.


"Aku bilang tidak mau ya tidak mau." Jawab Arila kesal.


Andian tampak menghela napas panjang. Andian mendekati Arila membuat Arila sedikit takut. Dan tiba tiba.


"Hey turunkan aku!!! Apa yang kau lakukan?!!!" Ucap Arila saat Andian menggendong nya.


"Diam atau aku meninggalkan mu disini." Ancam Andian.


Arila pun memilih diam meskipun dalam hatinya mengumpat berkali kali. Andian pun mendudukan Arila dibangku depan saat Andian akan memasangkan sabuk pengaman, Arila menceghat.


"Aku bisa sendiri." Ucap Arila.


"Baguslah." Jawab Andian.


Andian pun menutup pintu mobilnya dan duduk dibangku stir. Andian pun melajukan mobilnya dan perlahan mobil itu pun menjauhi rumah sakit.


Sedangkan dengan Antia. Antia pun memasuki ruang rawat inap dimana Arion di rawat. Tampak Arion tengah duduk dibibir ranjang dan berbincang dengan Kean juga Renzo.


"Kenapa kau datang?? Bagaimana acaranya??" Tanya Arion.


"Karena aku akan menginap disini... Kau... Kau... Pulang sana." Ucap Antia menujuk ke arah Renzo dan Kean secara bergantian.


"Kami??" Ucap Renzo dan Kean bersamaan.


"Iya kalian... (Renzo dan Kean hendak pergi.) Tunggu....apa kak Arion sudah meminum obatnya??" Tanya Antia menatap Renzo.


Karena Antia tau jika bertanya pada Kean, maka Kean tidak akan mengatakan kebenarannya. Antia menatap tajam Renzo sedangkan Arion dari belakang mengode ngode agar Renzo tidak memberitau kebenarannya.


Namun, Renzo tak berani berkutip lantaran Antia tidak membiarkan mata Renzo melirik ke arah Arion. Renzo pun menghela napas panjang dan menatap Antia.