
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
...🥀MBMB🥀...
Di Rumah Sakit
Antia membantu Niranda untuk duduk dikursi roda. Sesuai saran dokter, Niranda memerlukan refreshing agar tidak tertekan karena terus mencium bau obat obatan. Sedangkan Arion tengah mengangkat telefon dari Zain.
"Maaf merepotkanmu Antia." Ucap Niranda.
"Tidak sama sekali, cepatlah sembuh itu sudah cukup." Jawab Antia sembari mendorong kursi rodanya.
"Baru 1 minggu aku dirawat, rasanya seperti 1 tahun." Ucap Niranda.
"Hahaha... Lusa kakak sudah bisa kembali." Ucap Antia dan direspon anggukan oleh Niranda. Sampai, mata Niranda menangkap sosok pria yang seumuran dengannya.
"Halo Nira, lama tak berjumpa." Sapanya. Niranda memasang wajah dinginnya enggan menatap pria itu.
"Aku membawa—"
"Kenapa kau belum mati?" Ucap Niranda dingin.
"Interpol masih memberikanku kesempatan untuk menemuimu." Jawabnya.
"Jangan menemuiku lagi jika tidak bisa... Memgembalikan Anazo!" Ucap Niranda sedikit meninggi.
"Niranda aku—"
"Pergi Emilio!!! Jangan menemuiku lagi!!" Bentak Niranda.
"Antia, bawa aku pergi." Ucap Niranda. Antia menganggukan kepalanya dan membawa Niranda pergi. Emilio tersenyum nanar melihat mata kebencian Niranda. Setelah Niranda benar benar pergi. Tiba tiba...
Bugh!!! Bugh!!!
"Sudah ku katakan jangan usik ibuku selagi dia di rumah sakit!" Ucap pria muda yang memukul Emilio.
"Huh! Segitu bencinya kau padaku, Alan." Ucap Emilio sembari menatap pria muda yang tidak lain Alan.
"Tidak sepenuhnya... Lebih baik kau kembali dan jangan usik ibuku lagi." Ucap Alan hendak pergi.
"Tenang saja, setelah Niranda keluar dari rumah sakit... Aku akan mengatakan yang sebenarnya." Ucap Emilio. Sejenak Alan terdiam, namun dia kembali menyusul Niranda takut dia kenapa kenapa.
"Jadi kau Emilio Rachman." Ucap Arion yang sedari tadi menguping. Emilio terkekeh. Dia menerima uluran tangan Arion.
"Cucu Anvert?? Astaga, akhirnya bisa bertemu denganmu... Anvert berjasa besar bagi RC." Ucap Emilio.
"Haha, kita berbincang di taman saja." Ucap Arion dan diangguki setuju oleh Emilio.
"Maaf, tadi suara ku meninggi." Ucap Niranda saat mereka sampai di taman belakang rumah sakit yang sepi.
"Tidak apa apa kak, tapi... Dia siapa?? Kenapa kakak begitu membencinya??" Tanya Antia hati hati. Tampak Niranda terdiam sejenak.
"Karena dia... Anak pertamaku, Anazo... Dia meninggal." Jawab Niranda sembari meneteskan air matanya. Namun dengan cepat dia menghapus air matanya.
"Aku membencinya, aku bisa saja memaafkannya jika dia bisa mengembalikan putraku." Ucap Niranda.
Sepertinya aku harus mengalihkan pembicaraan, kak Zain pernah bilang jika kak Nira memiliki trauma dalam mengenai ini. Batin Antia.
"Sayang!" Panggil Arion. Yang mana membuat Antia dan Niranda menoleh.
"Mas kamu dari mana, loh Alan kok—"
"Aku yang manggil Alan kesini... Nira, kamu jalan jalan sama Alan nggak apa apa kan?? Aku dan Antia harus mengurus surat suratmu ke dokter." Ucap Arion.
"Begitu ya, tidak masalah." Jawab Niranda sembari tersenyum ke arah Alan.
"Alan jaga dia baik baik ya." Ucap Arion.
"Aku mengerti paman." Jawab Alan mengambil alih kursi roda Niranda dan mendorongnya membawa Niranda pergi.
"Mas kok—"
"Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya padamu ok??" Ucap Arion.
"Maaf merepotkanmu." Ucap Niranda merasa tidak enak dengan Alan.
"Tidak masalah nyonya." Jawab Alan.
"Astaga, jangan memanggilku begitu... Itu terdengar seperti majikan dan bawahannya... Panggil aku tante saja itu lebih akrab." Ucap Niranda.
"Baik tante." Jawab Alan. Dia pun memberhentikan kursi roda Niranda dengan menghadapkan Niranda pada pemandangan kolam ikan yang indah.
"Disini sangat segar... Rasanya aku ingin berlari." Ucap Niranda. Alan hanya diam, dia memegangi kursi roda Niranda kuat.
"Aku merindukan putraku." Ucap Niranda yang mana membuat Alan tersentak.
"Rian dan tuan Zain akan kembali nanti... Tante—"
"Aku tau Alan... Tapi apa kau tau?? Seharusnya aku berdampingan dengan suami dan kedua putraku saat ini." Ucap Niranda. Alan menarik napasnya dan membuangnya perlahan.
"Lalu dimana putra tante satunya??" Tanya Alan.
"Dia... Dia meninggal... (Niranda meneteskan air matanya.) Tapi, aku yakin dia tidak akan meninggalkan aku... Selama 24 tahun, aku masih menyangkal kebenaran itu... Karena aku sendiri tidak melihat seperti apa jasad putraku.... Aku yakin dia disuatu tempat dan tumbuh menjadi pria tampan." Ucap Niranda sembari meneteskan air matanya.
Rasanya sakit, dia harus kehilangan putranya di saat dia memiliki kemungkinan kecil untuk hamil lagi. Dan kehadiran Rian, setidaknya bisa menghilangkan sedikit luka dihatinya. Sama halnya Niranda, Alan juga menahan tangisannya.
"Dia... Dia pasti tumbuh menjadi pria tampan dan akan kembali membanggakanmu." Ucap Alan.
Tes.
Satu tetes air mata Alan jatuh. Dengan cepat Alan menghusapnya sebelum Niranda menyadarinya.
"Jika dia tidak mau mengakuiku... Tidak masalah, karena ini kesalahan ku... Aku ingin sekali memanggilnya... Anazo, ibu datang... Peluklah ibu... Ibu sangat merindukanmu." Lagi lagi Niranda menceritakan semua beban hatinya. Tidak ingin terlihat lemah, Niranda menghapus air matanya.
"Tante ingin kembali sekarang??" Tanya Alan. Niranda menganggukan kepalanya. Alan pun mendorong Niranda kembali ke ruangannya.
Baru Niranda terbaring, tiga orang pria datang. Dia tidak lain Rian Zain dan Emilio.
"Mau apa kau kesini?!! Aku sudah bilang agar kau jangan menemui ku lagi!!" Bentak Niranda.
"Sayang dengarkan aku... Emilio akan memberitau siapa putra kita... Anazo, dia masih hidup." Ucap Zain menenangkan.
"Anazo?? Dimana?!! EMILIO JAWAB AKU!!!!" Ucap Niranda.
"Tenang Nira, aku akan menjawab dimana putramu setelah menjelaskan semuanya padamu... 24 tahun lalu, aku mengatakan sebuah kebohongan padamu... Sebenarnya, racun itu tidak menyebar keseluruh tubuh Anazo... Tapi hanya sebagian dan untuk menebus kesalahanku... Aku menyelamatkannya dan membesarkannya sampai menjadi pria yang tangguh... Dan mungkin ini saatnya, aku mengembalikan putramu... Putra yang selama ini kau tangisi dan berharap bertemu sekarang aku pertemukanmu dengannya kembali... Masuklah Anazo!" Ucap Emilio.
Tak! Tak!! Tak!!!
"Kak Alan??" Lirih Rian sembari membelakan matanya.
"Ayah, Ibu... Aku kembali." Ucap Alan. Dan tanpa babibu, Zain memeluk Alan.
"A... Anazo.... Anazo putraku." Ucap Zain sembari menangis. Alan membalas pelukan Zain. Antia tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. Dia ikut bahagia dengan apa yang Niranda dan Zain rasakan.
"A... Ap, apa ini... Apa ini benar benar putraku?? Anazo ku!!!" Ucap Niranda sembari memeluk Alan erat.
"Aku tumbuh menjadi pria tampan dan membanggakanmu seperti yang ibu katakan tadi." Ucap Alan yang mana membuat Niranda lebih mengeratkan pelukannya.
"Ka... Kak Alan." Ucap Rian. Alan mendekat ke arah Rian dan mengacak acak rambut Rian. Dan Rian langsung memeluk Alan.
"Aku senang, akhirnya aku memiliki kakak berbakat sepertimu." Ucap Rian. Zain dan Niranda tersenyum melihat kedua putranya bisa kembali akrab.
"Maaf mengganggu, ayah pesawat sudah siap." Ucap Machel begitu datang.
"Emilio, kau akan pergi??" Tanya Zain.
"Ayolah Zain, aku sudah tua... Mungkin umurku tidak lama lagi... Aku ingin dikubur dimana Cecilia dikuburkan di Milan... Ar.c seringlah berkunjung ke Roma, ingat makam Javas ada disana." Ucap Emilio. Dia pun pergi bersama dengan Machel.
Tring!!! Tring!!!
Ponsel milik Antia berbunyi. Tanpa menatap siapa penelefonnya, Antia mengangkat telefonnya.
📞
“BUNDA!!!!!!!” Suara melengking Arisa membuat Zain Niranda Alan dan Rian menoleh.
“Ya Allah, Arisa... Jangan berteriak, ini rumah sakit... ada apa??” Tanya Antia.
"Rumah sakit?? Bunda sakit?? Atau ayah?? Tidak terjadi apa apakan?? Bunda jawab Arisa."
“Bunda menjenguk tante Nira, jangan khawatir ok?? Bunda ayah dan kakakmu semuanya sehat.” Ucap Antia.
“Syukurlah, aku pikir kenapa napa... Bunda apa kau tau?? Arisa lulus test dan berada di kelas unggulan.... Huwaaa Arisa seneng banget.”
“Benarkah?? Selamat untukmu sayang.” Ucap Antia ikut bahagia dengan kebahagiaan Arisa.
Entah kebetulan atau tidak, tapi Alan dan Arisa sama sama mendapatkan kebahagiaannya dihari yang sama. Batin Arion.
“Terima kasih bunda, Arisa tutup telefonnya... Arisa mau pamer ke kakak, kalo Arisa gak manja dan bisa dapet gelar MBA... Bay bunda, Arisa sayang bunda.”
Tut.
Bunda juga sangat menyayangimu sayang. Batin Antia.
"Tante... Itu dari Arisa??" Tanya Rian ingin tau.
"Iya, dia sangat bahagia sekarang... Impiannya masuk di kelas unggul terkabul." Jawab Antia.
"Haha, putra dan putrimu semuanya berbakat Arion." Ucap Niranda.
"Tapi, kenapa Arisa tiba tiba kuliah di luar?? Bukankah dia sangat menentang itu??" Tanya Zain.
"Yah soal itu aku tidak tau, dia bilang ingin mandiri... Padahal aku suka putriku yang manja, kau tau?? Raka menangis saat Arisa pergi... Astaga dia sepertinya sangat menyayangi Arisa." Ucap Arion. Yang mana membuat Alan dan Rian terdiam.
"Zain kami pamit dulu, aku harus mengganggu Avindra dan istrinya." Ucap Arion.
"Mas! Kau ini!!" Ucap Antia sembari memukul kecil lengan suaminya.
"Haha, hati hati di jalan... Dan terima kasih karena sudah menjaga istriku." Ucap Zain.
"Sama sama... Kami pergi, Assalamualaikum." Pamit Arion.
"Walaikumsalam." Jawab keempatnya.
"Arisa memang sangat menggemaskan... Kenapa kau tidak menikah dengannya Rian? Atau kau tidak melamarnya??" Tanya Niranda penuh selidiki.
"Aku akan melamarnya saat Arisa kembali, ibu jangan khawatir ok?" Jawab Rian.
"Ibu kenapa terus mengelus kakak?? Dia sudah besar, kenapa harus di elus kepalanya." Kesal Rian sembari mengecurutkan bibirnya.
"Tenang son, ada ayah disini." Ucap Zain. Ketiganya pun tertawa lepas sedangkan Alan hanya tersenyum. Sedikit. Sangat sedikit.
Jadi, seperti ini rasanya bersama dengan keluarga. Batin Alan.
...🥀🥀🥀...
NEXT PART\=>