
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
Mendengar jawaban dingin dari Lyara membuat Renzo terdiam. Renzo menatap punggung Lyara yang keluar dari kamarnya. Renzo kembali merebahkan dirinya diatas ranjang.
Dia benar benar marah... Apa yang harus aku lakukan?? Batin Renzo.
Beberapa saat kemudian tampak seorang dokter menghampiri. Tentu dengan Lyara disampingnya. Dokter itu pun memeriksa Renzo.
"Bagaimana dok??" Tanya Lyara.
"Nona tidak perlu khawatir, suami anda tinggal perlu istirahat yang cukup... Saya akan memberikan obat penurun panas, diminum sebelum tidur ya." Jawab sang dokter. Setelah memberikan obat, sang dokter pun pamit.
Setelah dokter pergi, tampak Lyara juga pergi. Membuat Renzo dengan sekuat tenaga bangkit dari posisinya. Dia pun mengikuti Lyara yang sedang berkutat didapur. Saat Lyara sedang memotong beberapa sayuran tampak Renzo memeluknya dari belakang. Tentu membuat Lyara terkejut. Renzo menyembunyikan wajahnya pada curuk leher Lyara membuat Lyara geli.
"Maafkan aku... Aku mohon jangan bersikap dingin lagi padaku." Ucap Renzo.
Lyara tak merespon memilih mematikan kompor dan kembali memotong sayurannya. Melihat Lyara tak merespon membuat Renzo kesal. Dia pun mendekat kan wajahnya pada daun telinga Lyara.
"Lyara... Sayang kau masih marah?? (Menggigit kecil daun telinga Lyara.) Lyara sayang." Ucap Renzo dengan nada menggoda. Wajah Lyara memerah begitu mendapatkan perilaku Renzo.
"Lepasin nggak... (Berusaha melepaskan pelukannya.) Renzo!!" Ucap Lyara dengan nada tinggi.
"Kau berteriak pada suamimu sendiri??" Ucap Renzo tidak memperdulikan protes dari Lyara.
"Kau juga membentakku... Lepasin, gimana aku masak kalo begini??" Kesal Lyara. Mendengar hal itu membuat Renzo tersenyum.
"Aduh... Lyara kepalaku pusing." Ucap Renzo sembari melepaskan pelukannya. Melihat hal itu Lyara berbalik dan memapah Renzo.
"Kau tidak apa apa?? (Renzo terduduk dilantai membuat Lyara berjongkok.) Renzo mana yang sak—" Ucapan Lyara terjeda lantaran Renzo menarik tengkuk Lyara dan mencium bibirnya.
Tentu hal itu membuat Lyara terkejut. Dia hendak mendorong tubuh Renzo tapi tenaganya kalah telak. Beberapa saat kemudian Renzo melepaskan ciumannya dan menarik Lyara kedekapannya.
"Jangan marah lagi ya... Aku sudah menghapus semua fotonya... Aku tidak bisa kamu bersikap dingin padaku... Ayo kita pulang." Ucap Renzo. Tampak Lyara terdiam.
"Nggak aku masih ingin disini... Kamu pulang saja sendiri." Jawab Lyara.
Saat Lyara hendak bangkit dari posisinya, Renzo menarik tangan Lyara dan membuat Lyara duduk dipangkuannya. Renzo melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Lyara.
"Kamu mau ngapain sih?!! Lepasin!!" Kesal Lyara sembari berusaha memberontak.
"Aku akan pulang jika istriku juga pulang." Ucap Renzo.
"Terserah... Lepasin ih!!" Ucap Lyara masih berusaha lepas.
"Tidak, sebelum kamu memaafkan ku dan tidak bersikap dingin lagi padaku." Jawab Renzo.
"Iya aku sudah memaafkanmu... Aku janji nggak bakalan bersikap dingin lagi padamu puas?? (Renzo mengagguk dan melepaskan pelukannya.) Udah bangun ngapain duduk disitu??" Ucap Lyara.
Renzo pun tersenyum dan mengulurkan tangannya. Dengan malas Lyara pun menarik tangan Renzo membantunya berdiri. Lyara merasa kesal karena Renzo tak kunjung mau bangun dari posisinya.
"Bangun berat tau." Kesal Lyara.
Melihat wajah kesal sang istri, Renzo pun bangkit dari posisinya. Tampak Lyara mengibas ibaskan tangannya dengan wajah kesal. Melihat hal itu membuat Renzo gemas dan mencubit pipi Lyara membuat Lyara menatap Renzo kesal.
"Jangan kesel gitu dong sayang... Nanti cantiknya ilang." Goda Renzo membuat Lyara merona.
"Udah sana balik ke kamar aku mau masak buat nanti siang." Ucap Lyara.
"Ayolah sayang aku sudah sembuh kok... Gimana aku bantuin kamu masak?" Usul Renzo. Mendengar hal itu membuat Lyara tertawa kecil.
"Hahaha... Emang kamu bisa masak??" Tanya Lyara meremehkan.
"Kau meremehkan aku??" Ucap Renzo kesal.
"Bukan begitu... Sedikit tidak percaya secara kan kamu anak manja." Ucap Lyara.
Mendengar hal itu membuat Renzo kesal. Dia pun memojokan Lyara membuat Lyara tersentak. Tampak Renzo membelai wajah Lyara lembut.
"Jadi, jika aku membuatmu lelah setiap malam... (Mendekat ke daun telinga Lyara.) Bisa disebut anak manja??" Goda Renzo. Lyara pun mendorong tubuh Renzo.
"Baiklah baiklah kau bukan anak manja." Ucap Lyara.
Tampak Renzo tersenyum kemenangan. Pada akhirnya Renzo membantu Lyara memasak. Saat Renzo fokus memasak sejenak Lyara menyinggung senyumanya.
Di Rumah Sakit
Arila merasa kesal karena Andian menolak setiap suapan untuknya. Membuat Arila meletakan mangkuknya diatas nakas.
"Kamu bilang mau sembuh, tapi kenapa nggak mau makan?? Bagaimana mau sembuh???" Kesal Arila.
"Aku sudah sembuh lihatlah... Jadi jangan paksa aku lagi untuk memakan itu aku tidak suka." Jawab Andian.
"Tapi—" Ucap Arila terjeda.
"Belum... Aku belum lapar." Jawab Arila.
Mendengar hal itu membuat Andian mengambil mangkuk yang ada diatas nakas dan hendak menyuapi Arila.
"Buka mulut kamu... Kalau kamu telat makan bagaimana nanti keadaan anak anak kita?" Ucap Andian. Tampak Arila tersenyum dan menerima suapan dari suaminya.
"Oh iya kamu tau... Anak Raka laki laki." Ucap Arila setelah menelan suapan dari Andian.
"Memang sudah lahir??" Tanya Andian bingung.
"Belum... Baru 5 bulan, itu hanya perkiraan saat USG kemarin malam." Jawab Arila.
"Aku kira sudah lahir... Menurut tebakanku sifat Raka pasti akan menurun pada anaknya." Ucap Andian sembari menyuapi kembali Arila.
Arila menerima suapan dari Andian. Setelah itu tampak Arila mengeluarkan hasil pertama USGnya. Arila mengambil mangkuk dari tangan Andian dan meletakannya kembali diatas nakas. Tampak Andian melihat hasil USGnya.
"Kau lihat dua bulatan ini?? Mereka calon anak kita." Ucap Arila sembari tersenyum. Andian menatap Arila dan kemudian mencium keningnya.
"Terima kasih karena telah memberikanku kenahagiaan sebesar ini Arila... Aku janji akan menjadi suami dan ayah yang baik. Kita simpan ini baik baik." Ucap Andian. Saat itu Raka Antika dan Lyin datang.
"Sayang bagaimana keadaanmu sekarang??" Tanya Lyin pada putranya.
"Aku sudah membaik... Mama kenapa kemari nggak istirahat saja?? Ada Arila yang menemaniku disini." Jawab Andian. Mendengar jawaban dari putranya membuat Lyin tersenyum. Tampak Lyin tersenyum dan menggegam tangan putranya.
"Sebentar lagi kamu dan Raka akan merasakan seperti apa menjadi orang tua... Kamu pasti akan merasa cemas sama seperti mama sekarang sayang." Ucap Lyin. Mendengar hal itu Andian menatap Arila dan tampak Arila tersenyum.
"Aku mengerti ma." Jawab Andian.
"Syukurlah kau sadar, Aku pikir istrimu akan mejanda." Ucap Raka bercanda. Tampak Andian menyikut lengan Raka.
"Sialan kau... Kau mendoakan aku untuk mati." Ucap Andian. Lyin pun tertawa kecil.
"Tentu saja tidak... Aku hanya bercanda ayolah." Ucap Raka. Lyin dan Andian pun tertawa. Melihat Andian tertawa membuat Raka tercengang.
"Kau tertawa?? Sejak kapan kau bisa tertawa, jangan jangan kamu reikenrasi dari roh malaikat." Ucap Raka.
"Dasar idi*t... Itu hanya cerita fiksi saja. Memang aneh jika manusia tertawa??" Ucap Andian. Tampak Raka merangkul leher Andian.
"Hahaha... Ini baru saudaraku." Ucap Raka. Sedangkan Arila dan Antika tampak berbincang berdua sembari duduk disofa.
"Tik apa yang kamu rasakan sekarang??" Tanya Arila sembari menghusap perut Antika.
"Em... Tidak hanya saja sulit bergerak bebas seperti biasanya... Dan seperti yang kau lihat sedikit berat. Ini baru anak satu loh Arila, apalagi nanti kamu yang dua sekaligus." Jawab Antika. Mereka berdua pun tertawa kecil.
"Ada apa ini sayang?? Kalian terlihat bahagia??" Tanya Raka sembari duduk disamping Antika.
"Tidak ada... Hanya urusan wanita bukan begitu Arila." Jawab Antika. Arila mengagguk dan membuat Raka kesal dengan jawaban Antika.
Di Kampus
Masih dengan wajah kesal, Antia mengemasi buku bukunya dan bersiap untuk pulang. Melihat wajah sahabatnya kesal membuat Sista heran.
"Tia kamu kenapa?? Daritadi kamu kelihatan kesal... Bilang aja cemburu kan gara gara suami tampanmu itu didekati banyak wanita." Ucap Sista. Namun Antia tidak merespon ucapan Sista dan pergi keluar dari kelasnya dengan wajah kesal.
"Loh kok ditinggal... Antia." Panggil Sista sembari menyusul Antia.
Tampak Antia langsung masuk kedalam mobil. Membuat Sista menggeleng kepala pelan melihat sikap Antia yang tidak mau mengaku kecemburuannya. Didalam mobil tampak Kean memperhatikan wajah kesal nona mudanya. Namun, Kean tidak berani untuk bertanya. Saat itu tampak handphone milik Kean berbunyi. Kean pun menjawabnya melalui earphone.
📞
"Hallo tuan muda." Ucap Kean memulai.
"Kau sedang membawa Antia kembali??" Tanya Arion diseberang sana.
"Iya tuan kami masih dalam perjalanan." Jawab Kean.
"Baguslah... Oh iya Kean, setelah mengantar istriku pulang kau ajak sekertaris Naira memilih gaun... Nanti malam kau dan dia menjadi perwakilan dari perusahaan untuk hadir ke acara ulang tahun tuan Hordwad." Ucap Arion diseberang sana.
"Kenapa harus saya tuan??" Tanya Kean.
"Karena aku akan menghabiskan waktu dengan istriku... Kenapa kau tidak mau?? Ya sudah kalau begitu." Jawab Arion diseberang sana.
"Tidak tuan... Saya akan melakukan perintah anda." Ucap Kean.
"Ini baru Kean Arjuna... Baiklah hati hati dijalan aku tutup telefonnya." Jawab Arion. *Tut.* Terdengar Arion memutuskan sambungan telefonnya.
"Siapa Kean??" Tanya Antia.
"Tuan muda nona." Jawab Kean.
"Kean antar aku ke rumah sakit saja... Aku ingin melihat keadaan kakakku." Ucap Antia.
"Baik nona." Jawab Kean.
Kenapa tuan muda selalu membuat ku bersama wanita kelaian itu??? Batin Kean merasa kesal dengan perlakuan tuan mudanya.