
Sedangkan disisi lain.
Seorang peria tua berumur sekitar 40 tahunan tampak turun dari mobilnya. Peria itu berdampingan dengan seorang wanita yang tidak lain istrinya. Keduanya pun memasuki rumahnya yang sudah lama ditinggal. Hingga tampaklah dua gadis yang tidak lain kedua putrinya.
"Ayah ibu kalian sudah pulang?" Ucap kedua gadis itu dengan girang kemudian memeluk keduanya secara bergantian.
"Arila Sista ibu kangen banget sama kalian. Bagaimana kalian baik baik saja kan?" Tanya wanita tua itu yang tidak lain Tarti Maharani ibu tiri dari Arila dan Sista.
"Iya ma Sista baik kok, Kak Arila ngurus Sista dengan sangat baik." Jawab Sista.
"Ayah nggak dikangenin nih?" Tanya peria tua itu yang tidak lain Reno Vanect ayah dari Sista dan Arila.
"Kangen lah Yah, Udah yuk Ayah masuk dulu pasti kalian capek kan?" Ajak Arila.
"Iya ayo kita masuk." Sahut Reno.
Tarti menggandeng kedua putrinya sedangkan Reno berjalan pelan dibelakang mereka. Tampak Reno menatap Arila yang tengah tersenyum bahagia.
Ayah harap kamu bahagia dengan peria pilihan ayah... Ayah tidak pernah bermaksud mengancam keluarga mereka yang jelas jelas Ayah tau ada seorang yang sangat berbahaya menjadi perisai mereka. Tapi, demi kebahagiaan kedua belah pihak Ayah akan lakukan...Terlebih Ayah sangat beruntung bisa bertemu dengan peria bermarga Anvert itu. Batin Reno sambil mengingat kejadian beberapa hari lalu.
[Sebenarnya Di Hari Arion dari Markas.]
Reno sedang menunggu seseorang di sebuah cafe ternama di kota tersebut. Tampaklah peria muda tampan dengan seorang peria mengikuti dibelakangnya. Peria itu tidak lain Arion dengan sekertarisnya Kean. Arion pun duduk berhadapan dengan Reno yang sudah lama menunggu.
"Presdir Arion apa yang ingin anda bicarakan pada saya?"
"Karena aku tidak suka membuang waktu aku akan katakan langsung ke intinya...Amara Slay istri pertama anda bukan?"
"Bagaimana anda bisa tau hal itu?"
"Tentu saja tau, gadis kecil yang istrimu selamatkan adalah calon istriku...Dan bukankah anda sahabat masa kecil Gio Anza?"
"Iya, Gio adalah sahabat masa kecilku...Lalu?"
"6 tahun yang lalu seorang peria berumur 21 tahun menawarkan perjodohan kepada putri sulung anda bukan? Dia adalah putra sulung Gio dan Lyin...Namanya Glan...Aku perlu bantuan anda demi menguntungkan kedua belah pihak."
"Apa yang bisa ku bantu?"
"Pertama aku meminta kau agar tetap menyetujui perjodohan putri sulung mu dengan putra kedua Gio dan Lyin...Kedua rahasiakan hal ini katakan pada calon menantumu alasan kau menjodohkannya dengan putra kedua Gio dan Lyin adalah perjodohan dari kakaknya Glan...Ketiga aku perlu bantuanmu mengungkap siapa dalang dari pembunuhan berencana yang ditunjukan untuku justru terjadi pada kak Glan."
"Jadi, Putra pertama Gio meninggal karena pembunuhan? bukankah ada berita mengatakan jika dia meninggal karena kecelakaan."
"Itu hanya berita palsu...aku mencurigai seseorang dan karena kebetulan kau menjalin kerja sama dengan orang itu maka aku langsung meminta bantuanmu demi keselamatan orang yang sangat penting bagiku."
"Orang yang menjalin kerjasama denganku? Maksud anda? (Arion mengagguk.) Lalu apa yang perlu ku lakukan."
Arion pun memberitahu dengan detail yang perlu dilakukan oleh Reno Vanect.
[Seusai Kejadian itu.]
Reno tampak tersenyum dan memasuki rumahnya. Di ruang keluarga Reno tampak menikmati teh buatan putri sulungnya.
"Bagaimana rasanya ayah?"
"Buatan putriku adalah yang terenak."
Tampak Arila merenung sejenak. Sedangkan Reno Tarti dan Sista tampak menunggu jawaban dari Arila. Arila pun menghela napas panjang dan menatap Reno.
"Ayah...Arila bersedia jika memang ini takdir Arila hanya bisa menjawab iya."
Mendengar jawaban dari Arila, Reno tersenyum bahagia begitupun Sista dan Tarti. Reno mencium kening putrinya dengan kasih sayang.
"Besok sepupu calon suamimu menikah...jadi bersiaplah besok kita akan menghadiri acara pernikahannya."
"Baiklah ayah, Em...ada satu hal yang ingin Arila tanyakan...(Reno mengagguk.) Seperti apa peria yang akan menikah denganku? Apa ayah bisa memberitahukan padaku?"
"Yang ayah tau, dia peria berdarah dingin tampan dan sangat cerdas...dia juga sangat pandai dalam segala hal. Dan ayah yakin kamu akan bahagia dengannya sayang."
"Baiklah ayah, jika menurut ayah itu baik untukku maka aku akan dengan senang hati menyetujuinya...(Arila berdiri.) Arila ke kamar dulu ya mau istirahat."
Reno Tarti dan Sista mengaggukan kepala. Arila pun menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar Arila mengunci pintu dan membaringkan tubuhnya pada ranjang empuknya.
Tak terasa air matanya mengalir. Dia tidak tau harus berbuat apa tapi keinginan dia adalah melihat ayah dan ibunya bahagia. Arila merasa ini tidak adil. Bukan ayahnya yang dia salahkan tapi takdirnya.
Takdir sangat tidak adil. Kenapa harus secepat ini aku menikah... Aku ingin menikmati masa mudaku dan mencari peria sesuai kriteria ku... Tapi apa boleh buat hal ini bisa membuat ayah bahagia maka akan aku lakukan. Aku harap ini pernikahan pertama dan terakhir untukku. Batin Arila.
Tanpa Arila sadari ada juga seseorang yang tengah bersedih merasa dipermainkan oleh takdir.
Di Kediaman Raka.
Tampak Antika dengan wajah lesu mencoba bermacam macam gaun pengantin yang akan dia kenakan esok hari. Antika masih merasa sakit begitu mengingat Raka yang memarahinya saat dia berbelanja dengan Antia. Padahal Antika ingat betul Antia memberitau pada ayah ibunya Raka sebelum pergi.
Besok hari dimana aku akan menikahi peria yang sama sekali tidak mencintaiku... Terlebih dia sangat membenciku, Apa yang harus aku lakukan? Batin Antika sendu.
"Hai sayang kenapa kamu tidak tersenyum bahagia?" Ucap seseorang yang dimana membuat Antika terkejut. Siapa lagi jika bukan Raka.
Antika hanya memalingkan wajahnya begitu Raka mendekatinya. Raka pun tersenyum remeh dan menarik dagu Antika kasar memaksanya untuk menatapnya.
"Wajah apa yang kau tunjukan sayang?? (Mencubit dagu Antika.) Bukankah kau sangat bahagia karena besok kau akan menikahi peria sesempurna diriku. Ayo jawab???(Antika memalingkan wajahnya enggan menjawab.) Masih enggan menjawab juga ternyata...Baiklah."
Antika membelakan matanya begitu Raka dengan kasar mencium bibirnya. Terlebih dia memaksa Antika membuka mulutnya agar Raka dapat menikmati setiap inci dalam mulut mungil Antika.
Sial, Kenapa rasa gadis ini sangat manis?? Tidak Raka , Kau tidak boleh sampai lengah. Berikan dia penderitaan dan bukan kebahagiaan. Batin Raka disela sela ciumannya.
Aku hanya bisa pasrah diperlakukan seperti ini... Ciuman pertamaku diambil paksa olehnya bahkan dengan kasar... Tapi aku tidak bisa mengadu pada Mama dan papa atau mereka akan mengkhawatirkan ku. Tuhan, Aku harap kelak Raka akan menerimaku. Batin Antika sembari meneteskan air matanya.
Melihat hal itu membuat Raka melepaskan ciumannya dan memandang wajah Antika. Antika menangis membuat Raka menghusap wajahnya kasar.
"Berhentilah menangis, Lebih baik kamu istirahat sana...Dan jangan pikir jika aku akan membiarkanmu bebas begitu saja Paham kamu!!" Ucap Raka mengancam kemudian pergi.
Antika menghusap air matanya. Dia pun menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Juga berkumur kumur karena merasa jijik atas adegan yang dia alami tadi.
Segitukah kau membenciku?? Padahal Antia baik baik saja dan kau masih saja menyiksaku dengan ancaman akan membuat keluargaku menderita. Batin Antika sendu.
Dia pun mengunci pintu kamarnya dan merebahkan dirinya diatas ranjang. Perlahan mata lentiknya menutup dan membawanya ke alam mimpi.
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕