
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
Di Cerlan Grop
Andian masih berkutat dengan leptopnya. Sampai dia melihat ke arloji yang melingkar ditangannya. Menujukan sudah hampir waktunya jam makan siang.
Masih 5 menit lagi Gian akan datang, aku akan beristirahat sebentar. Batin Andian sembari meregangkan otot ototnya.
Memang setiap jam makan siang Gian selalu membawakan makan siang untuk Andian. Namun ketika Andian ingin pulang cepat tentu Gian akan menyiapkan makan siang di Vila.
Andian duduk bersenderan dan memejamkan matanya. *Tok!! Tok!! Tok!!* Terdengar suara ketukan pintu dimana Andian langsung bangun dari duduknya dan mendekati pintu. Perlahan Andian membuka pintunya.
"Gian kamu datang tepat wak—" Ucap Andian terjeda.
"Kenapa kamu yang mengantarnya?? Dimana Gian?" Tanya Andian tak suka.
Benar, yang mengantar makan siang Andian bukan Gian melainkan istrinya Arila. Tanpa menghiraukan Andian, Arila langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Hey kau belum menjawab pertanyaanku." Ucap Andian mengikuti Arila.
"Gian di Vila menyiapkan makan siang untuk Antia... Dan yang menyuruh ku mengantarnya Antia." Jawab Arila sembari meletakan kotak makanan di atas meja.
"Kenapa kau tidak menolak?? Apa kau mencari perhatian padaku??"
"Aku tidak bisa menolak karena jika aku menolak adikmu akan menangis dan jika hal itu terjadi kamu akan memarahiku atau bahkan memukulku. (Arila berdiri dari duduknya.) Aku sudah mengantarnya dan aku akan pulang sekarang."
"Tunggu...(Arila berhenti.) Aku belum menyuruhmu pergi. Duduk dan makan siang disini." Ucap Andian.
"Aku tidak lapar." Jawab Arila.
Tiba tiba *Kruyuk!!!* perut Arila berbunyi menandakan saat nya diisi. Wajah Arila merona menahan malu kala Andian mendengar suara perut nya.
Mamalukan sekali, kenapa perut ini tidak bisa diajak kompromi... Malas sekali aku harus makan siang dengannya berdua pula. Batin Arila.
"Aku tidak butuh jawaban dari mulutmu... (Menyondorkan makanan pada mulut Arila.) Buka mulutmu... Aku tidak mau kau kurus dan membuatku malu mengira aku tidak memberimu makan... Cepat buka mulutmu atau aku akan menghukum mu." Ucap Andian mengancam.
Dengan wajah terpaksa Arila membuka mulut nya dan menerima suapan dari Andian. Setelah itu Andian langsung mengambil makanan dengan sendok yang sama untuk menyuapi Arila. Membuat Arila memandang Andian tak percaya.
Apa ini bisa dibilang ciuman tidak langsung?? Apa yang kau pikirkan Arila. Batin Arila.
Saat Andian akan menyuapi Arila, Arila menceghat dimana membuat Andian mengerutkan keningnya.
"Aku bisa sendiri." Ucap Arila.
"Kau makan terlalu lama... Tugasmu hanya membuka mulutmu... Jangan membantah. Buka mulutmu." Ucap Andian.
Arila dengan wajah cemberut membuka mulut nya dan menerima suapan dari Andian. Wajah Arila sungguh imut saat itu. Tanpa Arila sadari Andian menyingung senyuman dibibirnya sekilas.
Benar benar kekanak kanakan. Batin Andian.
Tameng es ini aneh, kadang jahat seperti iblis dan kadang baik seperti malaikat. Dia punya pribadi ganda ya?? Batin Arila.
Beberapa saat kemudian makanan yang Arila bawa habis tanpa sisa. Tanpa mereka sadari sejak adegan suap suapan itu ada orang lain yang mengabadikan moment itu.
Arila menata kotak makanan dan bersiap siap untuk pulang. Begitu pun Andian yang tengah menata berkas berkasnya. Arila memandang Andian yang sedang menata barkas barkasnya.
Seperti nya suasana hatinya sedang baik, mungkin ini saat yang tepat aku meminta izin. Batin Arila.
"Em... Andian." Panggil Arila dimana membuat Andian memandangnya.
"Ada apa??" Tanya Andian.
"Ada yang ingin aku katakan...(Andian mengagguk.) Bo...bolehkah aku kembali bekerja??" Ucap Arila sembari menunduk.
"Tidak." Jawab Andian singkat.
"Kenapa??"
"Jika kau bekerja Antia akan memarahiku... Memang untuk apa kau bekerja?? Apa kau menganggap aku tidak mampu menghidupi mu??" Ucap Andian dingin.
"Bu...bukan begitu... Aku hanya bosan di rumah." Jawab Arila masih menunduk.
"Jika kau bosan mulai besok kau memasakan makan siang untukku dan bawa kemari. Bagaimana??"
"Ba...baiklah." Jawab Arila.
Setidaknya bisa mengurangi kebosananku. Batin Arila.
"Ayo pulang sekarang." Ucap Andian. Dan diangguki oleh Arila.
Mereka berdua pun keluar dari ruangan dan berjalan menuju lift. Saat itu langkah mereka terhenti begitu Naira keluar dari lift.
"Kak senior Arila." Ucap Naira menyapa.
"Iya kak ini aku Naira." Ucap Naira sembari tersenyum.
"Senang bisa bertemu denganmu... Kau bekerja disini??" Tanya Arila.
"Dia sekertarisku." Jawab Andian tiba tiba.
"Sekertaris." Lirih Arila.
"Ah saya pamit dulu mari kak... Presdir." Pamit Naira kemudian pergi meninggalkan Arila dan Andian.
Kini Arila dan Andian pun memasuki lift. Arila memandang wajah dingin dan datar Andian seperti biasanya. Sedangkan Arila tampak mencemaskan sesuatu.
Kenapa tameng es ini biasa biasa saja saat bertemu Naira? Apa dia lupa dengan kejadian 3 tahun yang lalu. Batin Arila.
*Ting!!* Lift terbuka. Arila dan Andian pun keluar dan menuju ke parkiran. Tampak beberapa karyawan memandang mereka tak percaya. Karena baru pertama bagi mereka melihat sang presdir begitu dekat dengan wanita. Sesampainya diparkiran.
"Kenapa mereka menatap ku begitu??" Lirih Arila.
"Karena kau jelek... Tidak cook berdampingan denganku." Ucap Andian.
"Aku juga tidak ingin dicocok cocokan denganmu." Jawab Arila.
"Diam!! Cepat masuk." Ucap Andian sedikit membentak Arila.
Dengan patuh Arila pun masuk kedalam mobil dengan wajah cemberut. Saat Andian akan melajukan mobilnya dia mendekati Arila dimana membuat Arila terkejut.
"Apa yang akan kau lakukan??" Ucap Arila.
Namun tanpa menghiraukan Arila, Andian justru semakin mendekat ke arah Arila. Kini jarak Arila dan Andian semakin tipis. Arila memejamkan matanya namun tiba tiba.
*Cklek!!* Arila langsung membuka matanya dan rupanya Andian memasangkan sabuk pengaman pada Arila. Membuat Arila merona malu karena berpikiran yang tidak tidak.
Ya Ampun, ini kedua kalinya aku mempermalukan diriku didepan tameng es ini. Batin Arila.
"Kenapa kau memejamkan matamu?? Apa kau berpikir tidak tidak tentangku." Ucap Andian.
"Bukan begitu... Aku pikir kamu akan menjambak rambut ku seperti semalam." Jawab Arila menghindar.
Dimana ucapan Arila tanpa sengaja menyingung Andian. Tanpa bicara lagi Andian melajukan mobilnya meninggalkan area perusahaan.
Di Vila Raka
Setelah menghabiskan waktu bersama. Raka duduk diatas ranjang sembari bersenderan sedangkan Antika menyenderkan kepalanya pada dada bidang Raka. Sesekali Raka mengelus tangan mulus Antika.
"Kenapa kamu tidak kerja?? Sudah dua minggu kamu izin apa kamu tidak kasihan pada Andian dan aku??" Tanya Antika.
"Kau dan Andian maksud nya??" Jawab Raka balik bertanya.
"Iya, Andian pasti kesusahan selama dua minggu ini mengerjakan pekerjaannya. Dan aku, kamu terus menyerangku selama dua minggu itu." Jawab Antika.
"Tapi kamu suka kan???(Antika merona.) Andian tidak akan kesusahan, dia selalu bisa melakukan apapun jauh dari yang kita pikirkan." Ucap Raka.
"Pantas dia selalu menjadi peringkat pertama di jurusan ekonomi." Puji Antika.
"Kau...(Raka memandang Antika.) Kau tau mengenai Andian??" Tanya Raka.
"Tentu saja, bukankah dia sangat terkenal di kampus karena ketampanan dan kepandaiannya." Jawab Antika.
"Jika kau tau mengenai Andian, maka kamu juga tau tentangku??"
"Iya, kau sangat suka buat onar di kampus
... Dan playboy tingkat akut." Jawab Antika.
"Berarti kamu satu kampus denganku?? Tapi kenapa aku tidak ingat?"
"Iya aku Aline dan Arila satu kampus denganmu dan Andian. Tentu saja kau tidak ingat karena yang kau ingat hanya pacar pacarmu." Ucap Antika cemberut.
Dimana membuat Raka gemas dan mencium bibir Antika sekilas.
"Ternyata jodoh nggak kemana... Seingatku dulu diantara Arila dan Realine kau lah yang paling cerewet. Tapi kenapa begitu menikah denganku cerewetmu hilang?"
"Itu kan 3 tahun yang lalu... Memang aku tau jika pada akhirnya aku menikahi peria playboy sepertimu."
"Playboy begini tapi suka kan??? Setiap malam dan tadi kamu selalu memanggil namaku dengan sangat bernada. (Antika merona.) Tuh kan istriku merona."
"Apaan sih... Sudahlah aku mau mandi."
"Mau aku mandikan??" Goda Raka.
"Tidak!!!" Teriak Antika sembari menutup pintu kamar mandi.
Huftt... Jodoh memang tidak kemana... Dulu aku hanya mengenal Antika sekilas... Sampai saat bertemu kembali dia berhasil menarik perhatian ku dengan sifat nya yang dulu. Batin Raka.