Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 70



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Di Cerlan Grop


Kean dan Naira tampak sibuk dengan beberapa file yang harus mereka urus. Sesekali Naira menatap Kean yang fokus pada leptopnya. Naira kagum dengan keuletan Kean dan tidak heran dia menjadi tangan kanan dari seorang Arion.


*Tring!* Handphone Naira berdering. Sejenak Kean menatap Naira seolah mengisyaratkan untuk melihat handphone miliknya. Naira yang mengerti pun langsung membuka handphonenya. Tampak sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.


New Number, Hallo Naira sayang... Apa kau merindukanku??


Melihat pesan itu pun membuat Naira mengerutkan keningnya. Segeralah dia membalas pesannya.


Naira, Ini siapa ya?


Begitu pesan yang Naira kirim. Pesan itu langsung di baca dan tampak dia sedang mengetik.


New Number, Calon suamimu Fandi Fermansyah.


Seketika tangan Naira bergetar. Naira langsung memblokir nomornya dan meletakan handphonenya. Setelah itu Naira kembali fokus pada pekerjaannya. Melihat sikap aneh dari Naira membuat Kean sedikit melirik.


Wanita aneh apa dia punya kelainan?? Batin Kean.


Setelah pekerjaannya selesai, Naira langsung izin untuk ke kamar mandi. Tampak Naira terduduk dengan tubuh bergetar. Membaca pesan tadi membuat Naira takut dan kembali mengingat kejadian yang menimpanya beberapa tahun lalu.


Dia kembali... Aku harus bagaimana... Ibu tolong Naira... Hiks... Hiks... Batin Naira sembari menangis.


Setelah merasa dirinya sedikit membaik, Naira pun kembali ke ruangannya. Tampak Kean sedang menata beberapa barkasnya.


"Saya akan kembali ke perusahaan... Jadi sampai tuan Raka datang kau harus menghandle semua mettingnya." Ucap Kean tanpa menatapnya.


"Baik tuan." Jawab Naira dengan nada lirih.


"Aku pergi dulu." Ucap Kean kemudian meninggalkan Naira sendirian.


Naira hanya menghela napas panjang dan berusaha melupakan kehawatirannya. Yang dia pikirkan saat ini adalah tugas tugasnya. Naira pun duduk dikursi dan kembali mengerjakan beberapa file yang masih belum dikerjakan.


Di Rumah Sakit


Perlahan Arila membuka matanya. Tampak langit langit ruangan bewarna putih yang pertama dia pandang. Setelah itu Arila menatap Antia dan Arion disebelah kanannya sedangkan disebelah kiri tampak Lyin Gio dan seorang dokter yang tengah memeriksanya.


"Kakak ipar kau sudah sadar... Apa kau baik baik saja??" Tanya Antia cemas.


"Aku tidak apa apa hanya sedikit pusing... Tapi apa yang terjadi?" Jawab Arila kemudian kembali bertanya.


"Kakak tadi pinsan jadi kak Arion membawa kakak kesini." Jelas Antia.


"Dokter bagaimana?? Apa ada yang serius??" Tanya Lyin. Tampak sang dokter tersenyum memamerkan lesung pipinya.


"Nona tidak apa apa... Dia pinsan karena kelelahan dan mungkin bawaan dari ibu hamil." Jawab sang dokter.


"Maksud dokter?? Kakakku hamil??" Tanya Antia tampak bahagia.


"Iya dek... Saat ini usia kehamilannya memasuki minggu ketujuh, jadi Nona saya sarankan agar anda tidak terlalu stres atau kelelahan berlebihan karena itu bisa mempengaruhi kandungan anda." Jawab sang dokter.


Semua orang pun bahagia. Antia yang sangat bahagia pun memeluk Arila yang masih membatu.


"Kakak selamat... (Melepas pelukannya perlahan.) Sebentar lagi kakak akan menjadi seorang ibu... Aku ikut bahagia." Ucap Antia.


Arila hanya meresponnya dengan anggukan kepala dan tersenyum. Lyin pun takala bahagianya. Dia pun mencium kening Arila dan menghusap puncak kepalanya. Begitu pula Gio yang merasa penantiannya sudah terwujud.


"Dokter apa kakakku bisa melakukan USG sekarang?? Aku ingin melihat keponakanku." Ucap Antia.


"Sabar dong sayang." Ucap Arion sembari mengacak acak rambut istrinya.


"Bisa... Saya akan menyiapkan perlatannya ya." Ucap sang dokter.


Setelah mendapat persetujuan sang dokter pun meninggalkan mereka. Melihat wajah Arila yang tampak sedih membuat Lyin tau apa yang dia pikirkan.


"Kakak... Kakak kenapa terlihat sedih?? Harusnya kakak bahagia karena sebentar lagi kakak akan menjadi seorang ibu." Ucap Antia.


"Aku bahagia tapi... Aku ingin melihat reaksi Andian saat mendengar kabar ini... Apa dia akan bahagia sampai tertawa lepas atau biasa biasa saja... Aku ingin melihatnya." Ucap Arila sembari meneteskan air matanya.


Lyin pun menghusap air mata Arila dengan kedua ibu jarinya. Setelah itu, Lyin menangkup wajah Arila dengan kedua tangannya.


"Dia pasti sangat bahagia sayang... Tapi, saat ini kamu harusnya jangan bersedih ingat ada cucu mama yang juga merasakan kesedihan mu... Mama yakin dengan anak mama, dia akan sadar dan melihat anaknya." Ucap Lyin. Arila pun memeluk Lyin dengan erat.


"Sekarang bukan saatnya sedih kak... Daripada sedih mending kita lihat keponakanku apa dia tampan seperti kak Andian atau cantik seperti kakak." Ucap Antia mampu membuat Arila tertawa kecil.


"Sayang kita belum bisa tau dia laki laki atau perempuan, kita harus menunggu sampai umur 4 bulan." Jawab Arion sembari mencubit pipi Antia.


"Yah masih lama... Oh iya bukankah kak Antika sudah memasuki bulan ke 5 itu artinya kita bisa lihat dia laki laki atau perempuan??" Ucap Antia.


"Tentu saja bisa sayang... Lalu kapan kita menyusul sayang??" Goda Arion membuat Antia merona dan semuanya tertawa kecil.


Saat itu tampak dokter membawa perlengkapan yang akan digunakan untuk USG. Kini semuanya pun fokus pada gambar janinnya. Semua mengira hanya ada satu janin, nyatanya ada dua bulatan kecil yang artinya ada dua janin.


"Dokter bulatan kecil itu ada dua apa itu artinya ada dua bayi disana??" Tanya Antia.


"Benar... Perkiraan ada dua bayi disana.... Janinnya bertumbuh sangat baik... Jadi nona harus banyak makan makanan yang bergizi dan kurangi stres... Saya akan memberikan beberapa vitamin untuk anda dan minum teratur ya." Jawab sang dokter.


"Baik dok." Jawab Arila singkat.


Dokter pun menyiapkan beberapa vitamin agar menjaga stamina Arila dan kedua bayinya. Setelah itu, mereka pun keluar ruangan dan hendak menuju ke ruang inap Andian. Baru keluar tampak Raka dan Antika mendekat.


"Eh paman bibi... Kalian sedang menjenguk Andian ya?? Bagaimana keadaan Andian??" Tanya Raka.


"Masih seperti sebelumnya... Oh iya Raka apa kamu tau bentar lagi bibi bakalan jadi nenek loh." Jawab Lyin sembari tersenyum.


"Maksudnya bi??" Tanya Raka.


"Maksudnya kakak ipar sedang mengandung, Ada dua lagi." Sela Antia dengan wajah bahagia.


"Wah benarkah... Arila selamat ya, jadi ada temen deh." Ucap Antika sembari memeluk Arila.


"Iya tik." Jawab Arila singkat.


"Lalu kau kemari juga ingin menjenguk Andian atau periksa kandungan istrimu." Ucap Arion.


"Periksa kandungan setelah itu baru menjenguk Andian... Aku ingin tau anak ku laki laki atau perempuan." Jawab Raka.


"Oh begitu, ya sudah bibi dan yang lainnya tunggu diruangan Andian ya... Antika sayang jaga diri kamu baik baik." Ucap Lyin.


"Pasti bibi." Jawab Antika.


Antika dan Raka pun menuju ke ruangan dokter kandungan sedangkan Arion Antia dan lainnya ke ruang inap Andian. Sesampainya disana Antika pun mengikuti arahan dari sang dokter. Antika pun membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan didampingi Raka disampingnya.


"Tuan dan Nona perkiraan anak anda laki laki... Jadi diusia kandungan yang semakin tua anda juga harus lebih banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi ya Nona... Juga jangan terlalu sering mengemil makan yang pedas pedas." Jelas sang dokter.


"Anak kita laki laki sayang." Ucap Antika sembari mengelus perutnya.


"Iya sayang dia pasti akan setampan diriku... (Antika dan dokter tersenyum.) Denger kan apa yang dokter bilang... Jangan sering ngemil." Ucap Raka.


"Iya sayang tau tau." Jawab Antika.


Setelah selesai pemeriksaan, Antika dan Raka pun menuju ke ruang inap Andian. Di ruang inap Andian. Tampak Arila memandang wajah tampan suaminya yang masih memejamkan matanya dan tak kunjung terbuka. Arila pun menggegam tangan Andian yang terjarum infus.


"Kamu masih belum bangun?? Apa kau ingin mendengar kabar gembira dari ku?? (Meletakan tangan Andian diperutnya.) Kau tau ada dua orang yang menunggu mu... Aku mengandung kedua anak kita, apa kau bahagia??? Cepatlah bangun... Aku ingin memplorotimu sampai kau bangkrut dengan alasan anak ini... Bangun apa kau tidak ingin melihat wajah menggemaskan anak kita nantinya??" Ucap Arila sembari meneteskan air matanya. Namun dengan segera dia menghapusnya mengingat kondisinya saat ini.