
...Ada dua pilihan untuk menghilangkan luka, bertahan atau lupakan....
...🥀MBMB🥀...
...Ting! Tong!...
"Aku bilang sudah kenyang!!" Ucap Arisa sedikit berteriak.
...Ting! Tong!...
"Duh siapa sih?!!!" Kesal Arisa kemudian menghusap air matanya dan berjalan menuju ke pintu kamarnya.
...Cklekkk!...
"Siapa si—"
...Brakhh!...
"Tidak mau makan dan ingin mati?? Kau pikir siapa ha?!!" Ucap Alan dengan mata tajamnya menatap Arisa. Arisa takut karena baru kali ini melihat Alan semarah itu.
"Turun dan makan!" Titah Alan.
"Gak mau!" Jawab Arisa hendak pergi namun...
"Aaaaaa!!! Turunin!! Arisa gak mau makan!!!" Ucap Arisa saat Alan memanggulnya layaknya karung beras.
"Turunin gak!!! Kak Alan ih!!! Turunin!!!" Ucap Arisa membuat para pelayan melihatnya bingung.
"Ambil brogol dikamarku." Titah Alan.
Gak... Aku gak mungkin di brogol kan?? Hiks... Tolong. Batin Arisa. Dan sesuai dugaannya, Alan membrogol Arisa kemudian mengambil makanan kedalam piring.
"Buka mulutmu!" Ucap Alan. Tak ingin Alan marah, Arisa membuka mulutnya dan Alan pun menyuapi sesuap nasi padanya.
"Udah kenyang!" Ucap Arisa hendak berlari namun Alan menarik tangannya yang mana membuat Arisa terduduk dipangkuan Alan.
"Buka mulutmu! Jangan membantah sebelum makanan ini habis!" Ucap Alan kemudian menyuapi Arisa lagi.
Para pelayan yang melihat itu menatapnya tak percaya. Arisa wanita pertama yang sangat dekat dengan Alan dan tentu para pelayan itu sedikit kaget dengan apa yang mereka lihat. Dan lebih kaget lagi saat Alan mengelap bibir Arisa dengan tissue.
Hingga saat itu Rian datang bersama Avindra dan tentu melihat kejadian itu. Awalnya Avindra emosi saat melihat brogol ditangan Arisa, namun melihat Alan yang menyuapinya membuat Avindra tau alasan kenapa Alan membrogol adiknya.
Arisa selalu begitu... Jika marah pasti pasti tidak akan mau makan. Batin Avindra sembari tersenyum.
Sadar Rian, Arisa bahagia dengan kakak... Harusnya kau juga bahagia tanpa Arisa. Batin Rian sembari mengalihkan pandangannya.
"Kakak... Kak Rian... Awas Arisa udah kenyang—"
"Kalian berdua pergi dari sini... Buka mulutmu!" Titah Alan seolah tidak memperdulikan kehadiran Rian dan Avindra. Arisa menatap Avindra dan tampak Avindra menganggukan kepalanya. Setelah menyuapi Arisa, Alan pun melepaskan brogol ditangan Arisa dan membiarkan Arisa pergi.
"Kenapa kalian kemari??" Tanya Alan.
"Ayolah kak, besok malam ikut kami ke acara valentine di mall... Mau ya, bersama Arisa." Ucap Rian, Alan hanya diam seolah enggan menjawab.
"Jika tidak mau, tidak masalah... Istri kak Leon baru saja melahirkan, ingin ikut menjenguk??" Tanya Rian lagi. Avindra diam, toh dia sendiri yang bilang tidak akan berbicara pada Alan sebelum Alan menerima sang adik.
"Ajak kakak ipar sekalian." Jawab Rian. Alan hanya menganggukan kepalanya kemudian pergi.
...🥀🥀...
Sesampainya di rumah sakit, mereka pun menjenguk Leon dan istrinya yang terlihat menggendong bayi mungil. Dan jenis kelaminnya perempuan. Arisa duduk disamping kanan ranjang Miera yang tengah mengayun ayun putrinya. Sedangkan disamping kiri ada Lista yang tengah memainkan jari mungil keponakannya.
"Selamat kak, sudah diberi nama??" Tanya Arisa.
"Sudah." Jawab Miera.
"Wah, siapa kak namanya?" Tanya Arisa antusias.
"Christina Arissa." Jawab Miera sembari tersenyum membuat Arisa membeku.
"Nama yang bagus kak Miera." Puji Rian.
"Suamiku yang memberikan nama." Jawab Miera tak lepas dari senyumannya. Avindra pun mendekat dan memberikan cubitan kecil pada pipi bayi mungil itu. Membuat bayi itu menggeliat.
"Beri nama bayi mungil ini Cinta... Dan Leon, jika kau menyakiti perasaan istrimu tatap wajah putrimu kemudian panggil namanya... Keluarga kalian akan utuh, Leon Cinta Meira... Bukankah nama Cinta setidaknya pemersatu kalian berdua??" Ucap Avindra.
Yang mana membuat Miera menundukan pandangannya. Dia sebenarnya menolak nama Arissa karena itu menyakitkan untuknya. Membuatnya sadar jika sang suami sampai kapan pun hanya mencintai Arisa. Namun, Miera tak ingin Leon semakin jauh darinya.
Bisa bisanya Alan tidak memiliki rasa cemburu sedikit pun pada Arisa. Batin Avindra mengepalkan tangannya erat.
"Setuju! Bagaimana menurutmu kak??" Tanya Lista.
"Nama yang bagus, Cinta Christina Putri." Jawab Leon.
Ada yang gak beres, aku harus bicara dengan Lista. Batin Arisa.
"Kak, aku keluar bersama Lista sebentar... Ayo Lis." Ucap Arisa kemudian menggandeng sahabatnya pergi bersamanya.
"Ayah!!!" Panggil Ardika dan berhamburan memeluk sang ayah.
"Loh mas, kamu disini?? Bukannya kamu bilang ingin menjenguk Arisa?" Tanya Alita.
"Sudah tadi." Jawab Avindra singkat.
"Selamat atas kelahiran anakmu Miera... Wah, dia cantik sepertimu." Puji Alita.
"Terima Kasih." Ucap Miera.
"Ku pikir akan lahir besok, itu sebabnya kami terkejut... Dan iya, putrimu lahir bersamaan dengan putra Serly dan Machel." Ucap Mefy yang tengah menggendong Zyan.
"Serly sudah melahirkan??" Tanya Alan.
"Iya... Di rumah sakit ini, ada di ruang VIP 004." Jawab Mefy kemudian Alan pun bergegas pergi.
"Lihatlah, dia melupakan adikku." Ucap Avindra dengan wajah dinginnya.
"Semua es akan mencair dengan sendirinya Avindra... Tinggal menunggu waktu saja." Ucap Reanzo.
...🥀🥀🥀...