
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
Sedangkan dengan Kean.
Kean tengah sibuk menyelidiki kecelakaan yang menimpa Glan 5 tahun lalu. Cukup sulit, tapi bukan Kean namanya jika tidak bisa menyelesaikan tugas tuannya. Saat ini Kean sedang melihat rekaman CCTV 5 tahun lalu.
"Ini tuan yang anda minta." Ucap anak buah Kean.
"Putar rekamannya." Titah Kean.
Anak buah Kean pun mengagguk dan memutar rekaman CCTV. Perlahan Kean mengamati setiap detik kejadian. Hingga sesaat sebelum sebuah truk menabrak mobil milik Glan.
"Tunggu...pause saat kejadian itu...perbesar gambarnya." Titah Kean.
Mata tajam Kean pun mengamati saat seseorang dengan nekat lompat dari truk.
"Kalian cari orang ini...(Menujuk ke arah layar.) Dan jika menemukan kabari aku." Titah Kean.
"Baik Tuan." Jawab anak buah Kean serentak.
Segeralah Kean mengambil kunci mobil beserta rekaman CCTV nya. Kean pun keluar dari markas dan mengeluarkan handphone nya.
Telfon atau chat?? Jika telfon kemungkinan besar tuan muda sedang bermesraan dengan nona muda. Batin Kean ragu ragu.
Namun pada akhirnya Kean tetap menelfon tuan mudanya. Karena hal ini dianggap penting baginya.
📞
"Hallo tuan muda." Ucap Kean memulai.
"Ada apa??!! Dasar jomblo karatan kau menelfon ku disaat yang tidak tepat. Jika hanya informasi tidak berguna aku akan memotong gajimu. Cepat katakan." Jawab diseberang sana.
Sejak kapan tuan muda menjadi cerewet begini?? Gendang telingaku seperti ingin pecah gara gara teriakan tuan. Batin Kean.
"Maaf mengganggu tuan... Saya sudah menemukan rekaman CCTV nya." Ucap Kean.
"Baguslah... Tunggu aku di Vila aku akan segera kembali." Sahut diseberang sana.
"Baik Tuan." Ucap Kean seketika telefonnya terputus.
Kean menggeleng kepala pelan melihat perubahan sifat tuannya. Kean pun memasukan handphone nya kedalam saku celananya. Segeralah Kean memasuki mobilnya dan menuju ke Vila tuannya.
Di Kediaman Vanect
Arila baru saja membersihkan diri setelah menjemput adiknya pulang. Dia pun duduk dibibir ranjang sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Melelahkan sekali, besok aku harus kembali bekerja. Dan lusanya... Kenapa dia ingin cepat cepat menikahiku apa dia akan menyiksaku?? Batin Arila bertanya tanya.
Setelah rapi berpakaian Arila pun keluar kamarnya menuruni tangga menuju ke ruang keluarga. Saat itulah Arila melihat Reno Tarti dan Sista sedang berbincang bincang. Arila pun duduk disamping Sista.
"Bagaimana keadaanmu?? Apa kau sudah baikan?" Tanya Reno.
"Sudah ayah besok aku akan kembali bekerja."
"Oh iya sayang tinggal 4 hari lagi kamu nikah, ibu minta kamu harus berusaha agar suamimu menerimamu. Ibu tau dia memang peria yang sangat dingin dan cuek... Tapi kau bisa lihat cara dia menyayangi adiknya karena sangat dekat dengannya... Sama halnya dengan kamu Arila... Jadi berusaha lah membuat dia menganggapmu. Ibu bisa lihat kelak kamu dan dia akan hidup bahagia." Nasihat Tarti pada Arila.
"Baik bu Arila akan berusaha." Jawab Arila.
Tarti pun mengagguk sembari tersenyum.
"Em...ibu ayah aku pamit keluar dulu ya... Aku ingin bertemu sahabatku." Pamit Arila.
"Iya sayang hati hati ya." Jawab Tarti mewakili. Arila mengagguk dan segeralah keluar.
Antia dan Arion sama sama mematung di tempat. Antia memandang pecahan vas yang dibuat Andian. Karena baru kali ini melihat sikap kasar kakaknya.
"Ayo ikut aku... Andian perlu waktu sendiri." Ajak Arion.
"Tidak...kakak ke Vila saja aku ingin berbicara dengan kakakku." Tolak Antia.
"Tapi dia sedang marah sayang." Ucap Arion.
"Kak Arion...(Memegang kedua tangan Arion.) Percaya lah dia kakakku... Kakak pergi lah ke Vila mungkin ada hal yang penting." Ucap Antia membujuk Arion. Arion menghela napas panjang dan mencium kening nya.
"Baiklah jaga dirimu baik baik... Aku pergi telfon aku jika terjadi sesuatu." Ucap Arion. Antia pun mengagguk sembari tersenyum.
Setelah Arion pergi, Antia segera menuju ke kamar kakaknya. Perlahan Antia membuka pintu dan melihat Andian dengan wajah seperti biasanya tidak saat tadi dia baru kembali.
Antia mendekat dan melihat Andian memandang foto keluarga besarnya. Bahkan ada Raka dan Renzo dalam foto itu. Antia pun duduk disamping kakaknya.
"Kakak kenapa?? Kenapa tadi kakak terlihat marah?? Kakak bahkan mengacuhkanku." Ucap Antia.
"Tidak ada... Apa kau rindu saat saat ini Antia?" Tanya Andian sembari memperlihatkan foto yang ada ditangannya.
"Tentu saja... Tapi kenapa kakak menanyakan hal itu?" Jawab Antia dan kembali bertanya.
"Kita kembali ke rumah." Ucap Andian.
"Tidak... Jika kita kembali ke rumah kakak akan bertengkar dengan papa." Jawab Antia.
"Tidak Antia kakak berjanji tidak akan bertengkar... Nasihat Arion memang ada benarnya." Ucap Andian.
"Kak Arion?? Memang apa yang dia katakan padamu kak??" Tanya Antia.
[Sebenarnya saat di kantor]
Andian dan Renzo pun menatap Arion yang masih di ambang pintu. Arion masuk dan menutup pintunya. Perlahan Arion mendekati Andian dan Renzo.
"Siapa pelakunya Arion??" Tanya Andian.
"Aku hanya mencurigai seseorang... Dan Aku belum bisa mengatakan siapa orang itu tanpa bukti." Jawab Arion.
"Apa maksudmu?? Bukankah kau bilang tau?? Atau Reno Vanect pelakunya?!! Atau bahkan Gio sendiri??!!" Ucap Andian emosi. Tentu membuat Renzo terkejut.
"Andian!! (Bentak Arion.) Sudah aku katakan perlu bukti untuk membuktikan jika orang yang aku curigai itu benar pelakunya... Dan bukan aku membela Reno Vanect... Dia tidak ada hubungannya dengan ini hubungan dia hanya dengan pernikahanmu dan putri nya... Dan satu lagi sebenci apa pun kau pada paman harus nya kau memanggilnya dengan sebutan ayah... Beruntung kau masih ada ayah ibu adik dan kerabatmu sedangkan aku?? Aku sendirian Andian... Hanya kau adikmu dan Kean yang aku miliki... Meskipun aku juga membenci ayah ku tapi aku tetap memanggilnya ayah... Ini kali pertama dan terakhir kalinya aku membentakmu Andian. Kak Glan akan sangat kecewa melihat sikapmu ini." Ucap Arion dengan emosi membuat Andian terdiam.
"Yang di katakan Arion ada benarnya... Andian... Aku juga kakakmu jujur aku kecewa melihat sikapmu... Kau mungkin mengaggap Cinta hanya sebuah perasaan dimana membuat yang kuat menjadi lemah... Tapi kau salah Andian... Aku yakin kelak kau akan berubah sama halnya dengan Raka... Sekarang berusahalah kembali membuat hubunganmu dengan paman membaik... Dan cobalah terima calon istrimu sama seperti Raka yang berusaha menerima Antika." Timpal Renzo.
"Aku datang kemari hanya ingin memberitau mu jika harapan Antia dan kebahagiaan Antia bukan karena aku... Tapi dia ingin keluarga nya kembali bersatu." Ucap Arion kemudian meninggalkan Renzo dan Andian.
Renzo hanya menggeleng kepala pelan dan ikut pergi meninggalkan Andian sendiri.
[Setelah dari Kantor.]
"Jadi itu yang terjadi...(Antia menangis.) Aku bahagia jika kakak kembali ke rumah dan tidak akan bertengkar dengan papa." Ucap Antia. Andian menghapus air mata adiknya.
"Maafkan aku... Aku berjanji akan berusaha memulai hidup ku yang baru. Dan aku tidak akan bertengkar dengan papa." Ucap Andian.
Sembari meneteskan air mata Antia tersenyum karena ini pertama kalinya Andian memanggil Gio dengan sebutan Papa.
"Baiklah kak ayo kita ke rumah." Ajak Antia. Andian pun mengagguk setuju.
Sedangkan di luar takala bahagianya Gian yang sudah menghabiskan hidup nya sebagai kepala pelayan di keluarga Andian pun ikut menangis melihat tuan mudanya berubah.
Tuan muda akhirnya anda mau kembali pulang... Tuan besar dan nyonya pasti sangat bahagia. Terima kasih Tuhan telah mengirimkan malaikat tak bersayap seperti Tuan Arion. Batin Gian kemudian pergi.