Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 21 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


👩‍💻I Love You Readers❤❤❤❤❤


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Akhir Pekan


Serly tampak menunggu Even didepan gerbang kampus. Seperti yang Even minta, dia mengajak Serly berkencan. Lama menunggu akhirnya Even datang dengan mobil bewarna biru tua.


"Sorry, lama ya nunggunya??" Tanya Even begitu menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Enggak, aku baru aja nunggu." Jawab Serly. Tampak Even menatap Serly dari ujung kaki hingga kepala. Serly mengurai rambutnya membuat dia terlihat sangat cantik dimata Even.


"Lo cantik banget Sese..." Lirih Even.


"Bisa kita berangkat sekarang??" Tanya Serly. Even pun menganggukan kepalanya pelan dan membukakan pintu mobilnya untuk Serly. Kini keduanya pun pergi ke suatu tempat.


Tanpa mereka sadari, seorang pria mengepalkan tangannya erat melihat hal itu. Mereka berdua menikmati kencan mereka, mulai dari ke taman hiburan, bioskop, sampai ke kebun binatang.


"Kita akan pergi kemana lagi??" Tanya Serly sembari menatap Even yang fokus menyetir.


"Makan malam dulu, gua tau lo belum makan kan??" Jawab Even kembali bertanya. Serly hanya meresponnya dengan anggukan kepala. Dia menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya yang menujukan pukul 8 malam waktu setempat.


Sesampainya disebuah restoran. Even dan Serly pun turun dari dalam mobil. Restoran yang mewah dan elegant membuat Serly sedikit terkejut. Disana Even dilayani dengan sangat baik oleh para pelayan. Mereka berdua berbincang sembari menunggu pesanan datang.


"Lo deket sama Machel dan manusia es itu??" Tanya Even.


"Iya, mereka berdua teman lama ku dan sudah seperti saudaraku." Jawab Serly. Even menganggukan kepalanya sebagai respon.


"Even... Boleh aku menanyakan sesuatu??" Tanya Serly.


"Apa pun buat lo Sese." Jawab Even dengan wajah genit membuat Serly kesal sendiri.


"Kenapa aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam perpustakaan?? Padahal aku hanya ingin meminjam buku." Ucap Serly pura pura memasang wajah sedih.


"Siapa yang ceghat lo?? Bakalan gua omelin dia." Jawab Even dengan wajah kesal.


"Tidak perlu, aku hanya ingin meminjam buku... Kau tidak perlu memarahi mereka, membuang buang waktu." Ucap Serly.


"Baiklah, gua telefon mereka dulu biar pas lo masuk diperbolehin... Tapi ada satu syarat." Ucap Even dengan senyuman penuh arti.


"Baiklah." Jawab Serly. Even pun menelfon seseorang.


Semoga mereka selesai begitu Even kembali. Batin Serly.


"Mereka udah gua kasih tau, jadi lo santai aja." Ucap Even dan direspon anggukan oleh Serly. Bertepatan dengan itu, pesanan mereka datang. Keduanya pun sama sama menikmati pesanan mereka. Selesai makan siang, Serly mendapatkan pesan dari Alan.


(Alandra)💬


Alandra: Tetap ceghat dia sampai 30 menit lagi.


Me: Baiklah


"Dapet chat dari siapa??" Tanya Even.


"Biasa gonar, dia sedikit sewot." Jawab Serly dan memasukan ponselnya kedalam tas tangannya.


"Gonar?? Siapa gonar??" Tanya Even.


"Machel." Jawab Serly.


"Oh dia, udah malem yuk pulang." Ajak Even.


"Tunggu... (Merangkul lengan Even.) Bagaimana kalau kita makan es krim?? Kau suka??" Tanya Serly. Even tersenyum menatap tangan Serly yang merangkul lengannya.


Cup.


Even mencium kening Serly membuat Serly terkejut.


"Tentu saja suka... Ayo." Ajak Even. Keduanya pun menghampiri penjual es krim di seberang.


"Kau ingin rasa apa??" Tanya Serly.


"Vanila banana." Jawab Even.


"Ini untukmu." Ucap Serly sembari memberikan satu es krim pada Even. Even menerimanya setelah dia membayarnya pada si penjual. Kini mereka berdua duduk disebuah kursi tepatnya dibawah pohon.


"Lo suka rasa ini juga??" Tanya Even.


"Iya... Bagaimana enak bukan??" Jawab Serly dan kembali bertanya. Even hanya meresponnya dengan senyuman. Dia menatap wajah cantik Serly saat memakan es krimnya.


Ternyata gini rasanya kencan sama cewek yang gua suka. Batin Even.


Dilain Sisi


Alan tengah menyalin data dari laptop Even mengenai sketsa dan keamanan dalam perpustakaan. Dibantu oleh Leon yang berusaha mempercepat penyalinan data.


"Kurang berapa waktu lagi??" Tanya Avindra.


"Sekitar 2 menit." Jawab Leon tanpa mengalihkan pandangannya.


"Cctv akan kembali menyala dalam waktu 3 menit... Percepat sedikit." Ucap Elliot.


"Sebentar lagi." Jawab Leon.


Ku harap tidak ada yang datang. Batin Avindra.


"Apa Even belum kembali??" Tanya Claude di luar ruangan.


"Belum... Katanya sih ntar, dia kan lagi kencan sama si Sese." Jawab Geandra.


"Oke, gua cek ruangannya bentar." Ucap Claude.


"Claude akan datang, percepat sedikit." Ucap Elliot.


"Kurang 2% lagi... Sebentar." Jawab Leon.


"Kita pergi sekarang." Ucap Alan.


"Tapi—"


"Ikuti perkataanku!" Tegas Alan.


Cklekk!!


Gua kira ada orang, ternyata sepi... Gua cek cctv ajalah. Batin Claude. Dia pun duduk di kursi berputar milik Even dan mengecek cctv ruangan.


"Kayaknya oke, oke aja." Lirih Claude. Saat mengecek data di laptop Even dia membelakan matanya saat melihat sebuah tulisan di layar laptop Even. Tulisan itu dari spidol bewarna merah dan hitam.


"A.rc?? Bukankah.... Gua harus cek datanya... Gawat!" Ucap Claude. Saat itu bertepatan dengan Geandra yang datang.


"Kenapa lo panik gitu??" Tanya Geandra.


"Liat sendiri." Jawab Claude. Tampak Geandra menatap laptopnya.


"Itu data keamanan perpustakaan... Ada apa emangnya??" Tanya Geandra.


"Ada yang menyalin data.. A.rc, pernah mendengar mafia berbahaya dari Italia??"


"Pernah, lalu??" Tanya Geandra masih bingung.


"Alvarezi Rachman adalah singkatan dari A.rc... Tidak lain putra dari Emilio Rachman... Dan musuh terbesar ayahku... Tidak banyak yang tau mengenai A.rc tapi... Mungkinkah salah satu siswa disini.... Adalah A.rc?!!" Jawab Claude dengan wajah terkejut.


Tit! Tit! Tit!


Suara timer berbunyi. Bukan timer alarm, melainkan timer bom. Sontak Claude mengambil usbnya dan menutup laptop Even.


"Gean, buka jendelanya cepat!!!" Titah Claude. Geandra pun membuka jendelanya, dan dengan cepat Claude melempar laptop tersebut. Namun nasib apes yang mereka alami. Laptop tersebut meledak diudara dimana membuat sebagian ruang pribadi Even hancur.


Duarrrrrrrr!!!!!!


Claude dan Geandra sama sama terpental. Diambang kesadarannya, Claude mengepalkan tangannya erat.


"Alvarezi Rachman!!!" Lirihnya. Dia pun tak sadarkan diri setelah mengucapkan hal tersebut.


"Wow Alan, kau seperti seorang mafia tahun 90an." Puji Avindra sembari menepuk tangannya. Avindra berbalik menatap Alan yang membersihkan tangannya dengan sapu tangan.


"Kenapa tidak kau perbesar saja ledakannya, Alan?? Bukankah itu akan lebih mudah menggusur kampus ini??" Tanya Leon sembari menatap Alan.


"Tujuan ku hanya memperingatinya... Menggusurnya sekarang hanya akan membawa bencana." Jawab Alan. Dia pun menaiki motornya dan pergi lebih dulu. Disusul oleh Avindra Elliot dan Leon.


"Pembalasanku baru dimulai... Tuan muda Jovirzo!" Lirih Alan sembari mengendarai motornya.



(Visual Alandra Zaials.)