Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 12



{}Keesokan Harinya.


Antia terbangun dari tidurnya mendapati sapaan dari cahaya mentari pagi. Antia pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, Antia menuruni tangga dan sudah tidak mendapati keberadaan kakaknya. Dan yang dia lihat hanyalah kepala pelayan Gian yang sedang memotong rumput di halaman depan.


Mungkin kakak sudah berangkat ke kantor. Batin Antia sambil duduk di sofa.


Saat hendak menyalakan televisi handphonenya berdering menandakan ada pesan masuk.


Sista, Tia hari libur kita hanya 1 minggu. Guru bilang waktu libur kita dipercepat karena untuk persiapan menghadapi ujian.


Padahal aku ingin lebih dekat dan mengenal kak Arion, tapi sudahlah sekolah lebih penting daripada apapun Batin Antia. Segeralah Antia menjawab pesan dari Sista.


Antia, Yah padahal aku masih ingin lebih lama berlibur, Tapi tidak masalah aku bisa bertemu dengan mu.


Lama menunggu akhirnya Sista membaca pesan dari Antia dan sedang mengetik. Antia pun segera membaca balasan dari Sista.


Sista, Aku juga tidak sabar bertemu dengan mu sampai jumpa minggu depan ^_^


Antia hanya membaca pesan dari Sista tanpa menjawabnya. Dia menyenderkan tubuh pada sofa empuknya dan tersenyum. Antia ingin bertemu dengan Sista dan menceritakan segalanya tentang Arion.


Dengan senyum yang masih mengambang Antia menyalakan televisi dan menonton filem kesukaannya. Saat Antia menonton televisi tampak Raka selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecilnya. Melihat hal itu Raka duduk disamping Antia.


"Kamu masih libur?" Tanya Raka begitu duduk disamping Antia.


"Iya kak ini juga cuman 1 minggu lagi, untuk persiapan ujian." Jawab Antia masih fokus mengganti chanel televisi. Raka memperhatikan jari manis Antia yang sudah dilingkari cincin.


"An apa itu pemberian dari calonmu?" Tanya Raka dengan nada menggoda. Antia pun melihat dan benar saja ada cincin melingkar ditangannya.


Cincin ini?? Aku baru sadar jika ada cincin di jariku apa kak Arion yang memberikannya? Batin Antia dengan tersenyum. Melihat hal itu membuat Raka tertawa kecil.


"Jadi benar ya kamu jatuh hati pada Arion... Siapa sih yang nggak kegoda dengan kesempurnaan seorang Arion." Goda Raka pada adik sepupunya. Pipi Antia merona seketika.


"Apaan sih orang cuman cincin juga." Ucap Antia memalingkan wajahnya menutupi rona di wajahnya. Raka menyenderkan tubuhnya pada sofa empuk.


"Kamu perlu tau An...Cincin itu dia beli tepat saat kamu berumur 5 tahun...(Antia menatap Raka penasaran.) Sebenarnya dia ingin menyematkannya saat itu juga tapi cincinnya terlalu longgar...(Raka menatap Antia.) Dan ku rasa dia sengaja menjaga cincin ini hanya untukmu." Jelas Raka. Membuat Antia semakin terkagum pada Arion. Antia menatap cincin yang disematkan dijari manisnya.


Mendengar perjuangan kak Arion ku rasa aku harus menerima lamarannya. Jujur aku takut jika Kak Arion sudah tidak memperjuangkan aku. Batin Antia sembari terus menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Oh iya kak, kenapa kakak malah menginap disini tidak kah kakak berkencan dengan calonmu?" Tanya Antia menggoda kakak sepupunya. Raka menyilangkan kakinya dengan salah satu kaki sebagai tumpuan.


"Untuk apa berkencan jika perjodohannya sudah dibatalkan." Ucap Raka dengan nada santai.


"Dibatalkan kak?!!! Kenapa?? Apa ada sesuatu??" Tanya Antia dengan nada terkejut. Raka mematikan televisi dan menatap adik sepupunya.


"Calon ku tidak baik An... Dia hamil diluar nikah dan begitu ayah tau dia langsung membatalkannya...dan ayah berjanji akan membiarkanku mencari pasanganku sendiri." Jawab Raka tampak girang. Antia pun tersenyum takala tau kebahagiaan kakaknya.


"Begitu ya, Jadi kakak akan memutuskan mencari pendamping kakak sendiri." Goda Antia pada Raka. Membuat Raka mengacak acak rambut adik sepupunya.


"Kau ini tidak perlu repot repot memikirkan kakak sepupumu ini... kau tau kan gelar ku apa? Sudahlah aku pulang dulu jangan keluar vila jika kau tergores saja maka Kak Arion mu tidak membiarkan kami hidup. Aku pulang dulu." Pamit Raka pada Antia. Antia mengagguk dan melambaikan tangannya. Merasa bosan Antia menuju ke kamarnya.


Di Cerlan Grop


Andian selesai memimpin rapatnya pagi ini. Dengan didampingi asisten pribadinya yang tak lain Arila. Andian memasuki ruangannya dan diikuti Arila. Tiba tiba handphone nya berdering menandakan ada telefon masuk.


"Kamu bisa kembali ke ruanganmu." Ucap Andian tanpa menatap Arila. Arila hanya mengagguk dan meninggalkan Andian sendirian di ruangannya.


Arion menelfonku lebih dari 30 kali?? Apa ada hal yang penting?? Batin Andian bertanya tanya.


πŸ“ž


"Hallo Ar adapa?" Tanya Andian memulai percakapan.


"Andian apa kau di kantor sekarang??" Tanya Arion diseberang sana.


"Iya memang adapa?" Jawab Andian kemudian kembali bertanya.


"Aku ke kantormu sekarang, ada hal yang perlu ku bicarakan secara langsung." Ucap Arion.


"Baiklah aku tunggu." Jawab Andian. *Tut.* Selalu Arion yang mematikan telefonnya terlebih dahulu.


Andian meletakan handphone nya di meja dan melihat pemandangan kota dari balkon ruangannya. Andian memasukan satu tangannya kedalam saku.


"Kak Glan tidak bisakah kita ulang masa dimana kita masih bisa menjaga Antia? Dan kini Antia sudah menerima seseorang yang sangat tepat untuknya. Andai saat kejadian itu aku bisa menolongmu." Lirih Andian sembari mengingat kejadian 5 tahun yang lalu.


Lama menunggu akhirnya Arion bersama sekertarisnya Kean datang. Andian berbalik dan menatap Arion yang duduk di sofa. Sedangkan Kean tampak pamit dan menunggu diluar. Andian mendekati Arion yang duduk didepannya.


"Katakan apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Andian tanpa basa basi.


"Aku ingin kau segera menikah." Jawab Arion dengan wajah serius. Tentu membuat Andian membelakan matanya.


"Apa maksudmu??!!! Aku tau kau memang akan menjadi pendamping adikku tapi bukan berarti kau memaksaku melakukan hal konyol itu." Ucap Andian sambil berdiri dan nada sedikit tinggi.


"Dengarkan penjelasanku Andian?!!! Kau bilang akan melakukan apapun demi adikmu kan?? Aku minta kamu menikah dalam waktu cepat atau akan terjadi sesuatu pada Antia." Jelas Arion takala dengan nada tinggi. Membuat Andian menatap Arion bertanya tanya.


"Apa sangkut pautnya pernikahanku dengan adikku Antia?" Tanya Andian. Arion berdiri dan berjalan menuju ke balkon ruangan tersebut.


"Kau ingat wanita yang menyelamatkan Antia 3 tahun yang lalu?" Tanya Arion tanpa menjawab pertanyaan Andian sebelumnya.


"Semalam saat aku keluar dari markas suami dari wanita itu menemuiku mengira aku adalah kau." Lanjut Arion sembari mengingat kejadian semalam. Andian menatap Arion penuh tanya.


"Wanita yang menyelamatkan Antia sudah tiada dan jika kau ingin tau siapa suaminya dia adalah bos mafia di Asia. Dia meminta mu menikahi putri sulungnya." Jelas Arion. Arion berbalik dan menatap Andian.


"Aku menyelidikinya dan rupanya dia hanya memiliki 2 putri. Yang aku tau demi kedua putrinya di menikah lagi agar ada yang mengurusnya." Timpal Arion lagi. Andian benar benar dilema terlebih menyangkut adiknya.


"Siapa nama peria itu?" Tanya Andian menatap Arion. Arion berjalan pelan mendekati Andian.


"Reno Vanect...sehabat paman Gio sejak kecil." Jawab Arion. Andian mengepalkan tangannya.


"Untuk saat ini kamu jangan gegabah An... pikirkan adikmu... Paman Gio tidak akan membuat kesepakatan jika dia tau bahwa sehabatnya bos mafia dan akan mencelakakan Antia jika kamu tak menikahi putrinya." Ucap Arion menenangkan. Andian pun menghusap wajahnya kasar.


"Baiklah, Jika ini demi adikku akan aku lakukan." Jawab Andian berusaha tenang.


"Maafkan aku jika harus melibatkanmu... Kau tau aku hanya seorang pengusaha dan bukan seorang mafia. Aku harap kau mengerti." Ucap Arion menepuk kedua bahu Andian.


Ini langkahku menepati janjiku pada Antia, Sebenarnya jika ku mau aku bisa membunuh peria itu saat itu juga tapi hal ini bisa menjadi alasan untukmu berubah. Dan aku berharap setelah menikah nanti kamu berubah Andian. Batin Arion.


"Arion aku memiliki rencana bisa kau membantuku?" Tanya Andian tiba tiba.


"Selagi ku bisa maka akan ku bantu." Jawab Arion.


Di kediaman Raka


Raka turun dari mobilnya begitu sampai di halaman rumahnya. Tampak kedua orang tuanya tengah berbincang di teras bersama dua orang yang tidak dia kenal. Raka berjalan mendekat dan tentu membuat perhatian mereka teralih. Laura ibu dari Raka dan Randy ayah dari Raka tampak tersenyum.


"Raka sayang kemari." Ucap Laura meminta Raka mendekat. Raka dengan patuh mendekat.


"Sayang kenalin mereka berdua sehabat ibu sewaktu SMP dulu." Jelas Laura memperkenalkan kedua orang asing itu.


"Wah Randy putramu sangat tampan sama sepertimu dulu." Puji peria yang umurnya setara dengan Randy.


"Ahh kau bisa saja Cal, (Menatap Raka.) Raka kenalin ini om Calvin sehabat ayah dan ibu, sebelahnya istrinya tante Tina." Jelas Randy memperkenalkan. Raka tersenyum menyapa.


"Hallo om, tante saya Raka. Senang berkenalan dengan kalian." Sapa Raka pada kedua sehabat ayah ibunya.


"Waduh sopan banget ya kamu, cocoklah jadi suami putri kita ya nggak pa?" Ucap Tina sembari merangkul lengan suaminya. Mata Raka terbelak tak percaya. Raka pun berdiri tampak emosi.


"Maksud tante apa??" Tanya Raka menatap keempat orang itu.


"Sayang, ibu baru inget janji ibu pada tante Tina. Sebenarnya saat kami SMA kami berjanji jika anak pertama kita berbeda jenis maka akan kami jodohkan demi mempererat hubungan. Namun belum sampai itu Cyara datang dan membuat ibu hampir lupa janji ibu." Jelas Tina. Raka pun menatap kedua sehabat ayah ibunya emosi.


"Aku tidak peduli hal itu. Bukankah Papa berjanji membiarkan ku mencari pendamping ku sendiri?? Apa kalian ingin aku menjadi Andian yang meninggalkan kalian jika terus menjodoh jodohkanku begini." Ucap Raka tampak emosi. Raka pun hendak menarik tangan Calvin namun, ada tangan yang menceghatnya.


"Jika kamu tak setuju tidak masalah tapi jangan pernah berpikir menarik kedua orangtua ku kasar!" Ucap seorang gadis yang masih memegang tangan Raka. Raka menatap gadis itu tajam.


"Sayang lepaskan Raka, Raka hanya sedang emosi." Ucap Tina. Gadis itu melepas tangan Raka.


"Bunda, Papa kalian nggak apa apa kan?" Tanya gadis itu. Tina dan Calvin hanya menggelengkan kepala pelan.


Gadis itu tidak lain putri dari Tina dan Calvin. Sifany Andria Cantika. Gadis cantik dan humoris. Berumur 24 tahun dan memiliki poster tubuh yang ideal. Antika menatap Raka tajam. Begitu pun sebaliknya Raka menatap Antika penuh kekesalan dan wajah dingin.


Dasar peria es, tidak tidak dia tampak keras kepala dan nama yang pas adalah balok es. Jika aku tidak datang peria ini pasti akan menyeret papa kasar. Batin Antika sambil memandang Raka.


Gadis ini berani sekali menatapku dan memarahi ku dengan cerewetnya. Dasar cabe rawit, jika kamu tak datang pasti aku terbebas dari perjodohan konyol ini. Batin Raka sambil memandang balik Antika.


"Khuk....khuk... Berhentilah berpandangan seperti itu sayang, (Raka dan Antika sama sama mengalihkan pandangan.) Raka sayang ini dia calon istri kamu namanya Antika. Antika ini anak tante namanya Raka." Jelas Laura memperkenalkan.


"Tante benar ini putri tante, secara tante cantik dan lembut sedangkan dia cerewet dan kasar." Ucap Raka sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Hei yang kasar itu kamu, kenapa kamu mau menarik papa ha, jawab?!" Tanya Antika sembari mendekat dan emosi. Raka pun melewatinya dan memperlihatkan luka ditangan Calvin.


"Nona seemosi apapun aku tetap menghormati orang tua...tangan om Calvin keluar darah dan aku hanya ingin memberitaunya. Apa sudah jelas nona Antika?" Jawab Raka dan bertanya remeh kemudian memandang Antika. Antika yang merasa malu hanya mengalihkan pandangan saat dipandang Raka.


"Minggir kau! (Mendorong tubuh Raka.) Papa nggak apa apa kan?" Tanya Antika pada Calvin. Calvin hanya menggeleng pelan.


"Ini hanya luka kecil, Em Rand mungkin mereka perlu saling mengenal." Saran Calvin.


"Benar Cal ayo kita masuk, Raka Antika nikmati kencan kalian ya kami masuk dan jangan berisik." Ucap Randy. Saat Antika hendak menceghat Calvin dan Tina masuk Raka menggegam tangan Antika erat.


"Ish lepasin...kamu itu ya memang menyebalkan dasar Balok Es." Ucap Antika emosi sembari berusaha melepaskan genggaman tangan dari Raka.


"Apa kamu bilang?? Balok Es?? Maksudnya?" Tanya Raka tak suka dengan julukan itu.


"Iya lah manusia normal itu nggak dingin dan datar kayak kamu balok es." Jawab Antika melepaskan diri dari Raka.


"Kamu suaranya bisa nggak dikecilkan telingaku bisa bisa tuli gara gara kamu Cabe Rawit." Ucap Raka. Antika menatap Raka tajam.


"Apa?! Cabe Rawit, Eh kamu itu ya awal ketemu aja bikin orang emosi. Aku penasaran apa tante Laura ngidam makan es batu satu ton sampe lahir kamu." Ucap Antika dengan nada tinggi. Raka semakin emosi terhadap ucapan Antika.


Saat hendak mendekati Antika, kaki Antika terpeleset. *Brukkk* Antika terjatuh pada pelukan Raka. Perlahan mata Antika membuka dan melihat wajah tampan Raka. Begitu pun Raka yang menatap mata lentik Antika.


"Wah, Kak Raka apa aku mengaggu." Ucap Antia yang baru datang. Seketika Raka dan Antika menjauh.


"An...Antia dia yang tergila gila padaku sampai memelukku begitu. Ini semua salahku kenapa aku terlalu tampan dan menawan." Ucap Raka dengan narsisnya. Antika pun menatap tajam Raka.


"Hei balok es siapa yang tergila gila pada orang arogan bin menyebalkan sepertimu." Ucap Antika dengan nada emosi.


"Sudah, Sudah kalian ini jangan saling benci kadang bisa jadi cinta loh." Ucap Antia.


"Tidak Akan Pernah!!!!" Jawab mereka serentak. Antia menggelengkan kepala pelan.


"Em kamu adiknya ya?" Tanya Antika pada Antia.


"Iya kak adik sepupu tapi kak Raka nggak suka dia bilang aku adik kandungnya... (Mengulurkan tangan.) Kenalkan kak aku Antia." Ucap Antia tersenyum ramah. Antika meraih tangan Antia.


"Iya namaku Antika." Jawab Antika pada Antia. Antia menggandeng Antika.


"Ayo kak masuk, aku bawain makanan banyak niatnya buat kak Raka tapi nggak jadi buat kakak sama paman dan bibi didalam ayo kak." Ucap Antia menarik Antika.


"Hei Antia kamu melupakanku, Aku kakakmu bukan dia." Ucap Raka tak suka diabaikan. Nakun Antia dan Antika masuk kedalam tanpa memperdulikan Raka.


Belum menikah saja adikku tersayang melupakanku. Apa saat Andian menikah nanti akan dilupakan sama sepertiku? Batin Raka menatap punggung Antia dan Antika. Raka pun memutuskan untuk menyusul kedalam.


Merci pour votre soutien et votre visite Douces salutations de ma part😊😘