Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 52



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


"Baiklah sayang, aku cari mangganya tapi jangan nangis lagi ya." Ucap Raka sembari menghusap puncak kepala Antika.


"Beneran?? Janji???" Ucap Antika sembari menujukan jari kelingkingnya.


"Janji... Tapi kamu jangan nangis lagi ya." Jawab Raka.


"Iya aku nggak nangis lagi." Ucap Antika.


"Baiklah... Ma pa... Raka ke Vila Andian dulu ya, disana kan ada pohon mangga mungkin sudah berbuah." Jawab Raka sembari beranjak pergi.


"Iya sayang... Mama dan papa bakalan jagain Antika disini, kamu hati hati ya." Ucap Laura dan diangguki oleh Raka.


Raka pun mencium kening Antika dan perlahan meninggalkan mereka. Sesaat setelah Raka pergi Randy juga pergi membiarkan Laura dan Antika berdua.


"Antika sayang, kamu disini sama mama ya sambil nunggu si Raka... Kamu kenapa tiba tiba minta itu??" Tanya Laura hati hati.


"Antika juga nggak tau ma... Tapi Antika pengen." Jawab Antika.


Belum Laura merespon jawaban Antika. Antika lebih dulu berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Hal itu tentu membuat Laura cemas. Laura pun memijat tengkuk Antika.


"Sayang kamu kelelahan lagi ya??" Tanya Laura begitu Antika selesai memuntahkan isi perutnya.


"Iya ma, Raka jahat nggak mau ngelepasin Antika sampe jam 4 pagi." Jawab Antika.


Mendengar jawaban frontal Antika tentu membuat Laura terkejut. Laura memapah Antika untuk duduk bersenderan diranjang. Laura menyelipkan rambut Antika ke telinga.


Kenapa kamu seperti orang hamil?? Apa perlu panggil Mira ya?? Batin Laura sembari menghusap puncak kepala Antika.


Di Vila Andian


Selesai makan siang Andian dan yang lainnya tengah duduk diteras sembari bincang bincang. Hanya Andian Arion dan Antia yang berbincang. Sedangkan Arila, hanya diam dan mendengarkan.


Pikiran Arila masih fokus dengan ucapan Andian dan itu mengapa membuat Arila memilih diam. Saat sibuk berbincang tampak mobil merah mengkilat milik Raka memasuki halaman. Raka keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri Andian.


"Tumben kemari sendirian, mana your wife??" Ucap Arion sedikit menggoda.


"Dia nangis minta mangga, dan anehnya aku yang harus metikin langsung." Jawab Raka sedikit kesal.


"Kakak ipar nangis??? Jangan jangan kakak ipar lagi ngidam kak." Ucap Antia menebak.


"Yah aku tidak mau berpikir seperti itu, nanti hasilnya mengecewakan. Andian ada tangga nggak??" Jawab Raka.


"Ada, Gian... Ambilkan tangga di halaman belakang." Ucap Andian.


Beberapa saat kemudian Gian membawa tangga dan meletakannya di pohon mangga. Tanpa pikir panjang Raka langsung menaiki tangga tersebut dan mengambil beberapa mangga.


Apa Antika benar benar hamil ya?? Heran juga soalnya beberapa terakhir Antika juga emosional banget. Batin Arila.


"Kakak aku juga mau... Kak Arion petikin ya." Ucap Antia sembari merangkul lengan Arion guna menarik perhatian Andian dan Arila.


"Nanti ya sayang kalo Raka sudah selesai." Jawab Arion sembari mencium puncak kepala Antia.


Raka pun mengambil sekitar 4 buah mangga bahkan dengan tangkainya. Setelah Raka selesai memetik buah mangga Arion dengan cekatan ikut memetikan untuk Antia.


"Sudahlah Andian terima kasih mangganya aku pulang dulu, oh iya Arila kamu nggak minta sekalian." Ucap Raka sedikit menggoda.


"Tidak, aku tidak suka mangga. Aku permisi." Jawab Arila kemudian meninggalkan mereka.


"Yah Andian kamu itu yang peka dong kaya Arion. Ya enggak Arion??" Ucap Raka melirik ke arah Arion yang sedang menyuapi Antia buah mangga.


"Bener banget Rak... Masalah peka mah aku ahlinya." Jawab Arion.


"Kalian diam atau aku bantu agar kalian diam." Ucap Andian dingin dengan tatapan mematikan.


"Sudah kak, kak Raka aku ikut melihat keadaan kakak ipar." Ucap Antia.


"Boleh... Ayo Andian apa kamu mau ikut atau...(Andian menatap Raka dingin.) Baiklah baiklah." Ucap Raka.


"Kak aku ikut kak Raka ya." Pamit Antia.


"Iya hati hati, Arion jaga adikku." Ucap Andian.


"Sudah kewajiban ku... Kami pamit." Pamit Arion dan di jawab anggukan oleh Andian.


Mobil hitam milik Arion dan mobil merah milik Raka menjauhi Vila. Sebenarnya Andian berniat mengajak Arila untuk ikut namun dia ingat jika nanti sore dia harus pergi dengannya. Andian pun masuk kedalam Vila dan menemui Arila guna membicarakan soal keberangkatannya ke Vila yang bibinya berikan.


Sedangkan dengan Kean.


Kean masih mencari keberadaan Amar Surya yang baru saja melarikan diri. Kean ingin memberitaukan hal ini pada Arion, namun mengingat Arion baru keluar dari rumah sakit membuat Kean tidak berani.


"Apa kalian menemukan petunjuk??" Tanya Kean.


"Tidak tuan... Tapi kami menemukan ini di ruang tahanannya." Jawab anak buah nya sembari menyondorkan secarik kertas.


Kean pun menerima secarik kertas itu dan langsung membaca nya. Hal itu membuat Kean kembali mengingat kecelakaan yang menimpa Glan 5 tahun lalu.


"Kalian terus cari sampai menemukannya dia tahanan yang sangat berbahaya. Aku harus menemui tuan Arion maka akan lebih baik kalian menemukannya sebelum aku menemui tuan Arion." Titah Kean.


Sepertinya kecelakaan itu ditunjukan untuk tuan Andian, bukan tuan Arion. Tapi Kalfa Wijaya mengatakan jika penyabotasean mobil diarahkan untuk tuan Arion. Lantas, kenapa Amar Surya meninggalkan pesan ini?? Batin Kean sebelum akhirnya menyalakan mobilnya.


Di Vila Raka


Mobil milik Raka dan Arion terparkir sempurna di halaman Vila Raka. Dengan bergegas Raka dan diikuti Arion juga Antia memasuki Vila. Sebelum itu, Raka memberikan mangga yang baru dia petik pada Jin.


Raka pun memasuki kamarnya dan melihat Antika tengah duduk di bibir ranjang bersama dengan Laura. Mata Antika berbinar menatap kedatangan Raka. Dengan bersemangat Antika pun menghampiri Raka.


"Mana mangganya??" Tanya Antika.


"Sayang kenapa wajah kamu pucat?? Apa kamu belum makan?? Mangganya sedang dikupas oleh Jin nanti dia akan kemari." Jawab Raka.


"Yey... Terima kasih sayang ku." Ucap Antika sembari memeluk Raka.


"Eh... Antia Arion kapan kalian datang??" Tanya Laura sembari bangkit dari duduknya.


"Kami baru saja datang Bu... Karena tadi kak Raka bilang kakak menangis jadi aku ingin melihat keadaan kakak." Jawab Antia mewakili.


"Begitu ya, Andian nggak ikut??" Tanya Laura.


"Nggak lagi sibuk sama istrinya bi." Jawab Arion.


"Hahaha... Andian ini.. Ya sudah bibi ke kamar dulu ya... Raka nanti dokter Mira datang buat periksa istri kamu." Ucap Laura sebelum pergi.


"Iya ma." Jawab Raka.


Laura pun pergi dan menutup pintu kamarnya. Antia dan Arion memilih untuk duduk di sofa sembari menonton televisi. Sedangkan Raka dan Antika duduk bersenderan diatas ranjang.


Beberapa saat kemudian Jin datang dengan sepiring mangga yang sudah dipotong potong. Tampak wajah bahagia Antika terpancang. Antika langsung meraih piringnya dan memakan mangganya dengan bersemangat. Raka menyelipkan rambut Antika ke telinga.


"Kau mau?? Aku tidak akan memberikannya." Ucap Antika dengan wajah imutnya. Tentu hal itu membuat Raka gemas dan mencium pipinya sekilas.


"Tidak, Aku tidak mau kamu makanlah." Ucap Raka.


Beberapa saat kemudian, mangga milik Antika habis tanpa sisa. Raka pun meletakan piringnya diatas nakas. Tampak Antia dan Arion mendekat. Antia duduk disamping Antika. Sedangkan Arion dan Raka memilih untuk berdiri bersampingan.


*Tok,Tok, tok* Terdengar suara ketukan pintu. Raka membuka pintu kamarnya dan tampak dokter Mira didepannya. Raka pun mempersilahkan dokter Mira untuk masuk. Dokter Mira mendekat pada Antika dan memeriksanya.


"Dok, apa istriku kelelahan lagi??" Tanya Raka sedikit cemas karena dokter Mira tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Antia menggegam tangan Antika. Sedangkan Arion dengan wajah santai menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Dokter Mira pun berdiri dan menatap Raka serius membuat Raka cemas.


"Dok, kenapa?? Apa istriku baik baik saja??" Tanya Raka dengan wajah cemas.


Wajah serius dokter Mira berubah menjadi tersenyum membuat Raka dan lainnya menatap bingung.


"Raka kamu ini penakut sekali, bagaimana kamu bisa melindungi anak kamu saat ini??" Ucap dokter Mira membuat Raka memandang tak percaya.


"Mak...maksud dokter??" Tanya Raka memastikan.


"Istrimu tidak kelelahan, tapi dia sedang mengandung dan usianya baru 3 minggu." Jawab dokter Mira membuat Raka Antia dan Arion tersenyum bahagia.


Raka pun berhamburan memeluk Antika. Raka mencium kening dan pipi Antika berkali kali dengan wajah bahagia nya.


"Sayang aku hamil??" Ucap Antika.


"Iya sayang, (Menghusap perut rata Antika.) Kamu sedang hamil." Jawab Raka.


"Selamat Raka bentar lagi bakalan jadi bapak." Goda Arion.


"Kau ini... Aku harus panggil mama sama papa." Ucap Raka menyikut pinggang Arion kemudian pergi.


"Kakak ipar selamat ya... Bentar lagi mau jadi ibu." Ucap Antia sembari menggegam tangan Antika.


"Iya, terima kasih adikku tersayang." Ucap Antika memeluk Antia sekilas.


Saat itu tampak Randy dan Laura dengan wajah bahagia menghampiri Antika. Laura memeluk Antika dan mencium keningnya.


"Sayang mama bahagia banget, bentar lagi mama jadi nenek... Terima kasih ya sayang." Ucap Laura.


"Iya nak, papa juga bahagia banget... Jin beritau Calvin dan Tina kabar bahagia ini." Titah Randy.


"Baik tuan besar." Jawab Jin kemudian pergi.


Antia pun bangkit dari duduknya dan berdiri disamping Arion. Antia melihat Raka Randy dan Laura yang tampak bahagia. Arion memandang Antia dan mendekatkan wajahnya pada daun telinga Antia.


"Sayang kapan kita nyusul??" Goda Arion membuat Antia merona dan mencubit lengan Arion.


"Kapan kapan." Jawab Antia.


"Yah kok gitu sih, gak mau cepet cepet nyusul Raka??" Goda Arion lagi.


"Kak Arion!! Diam atau aku pulang sendiri." Ucap Antia.


"Baiklah... Baiklah... Jangan marah ya sayang." Ucap Arion sembari memeluk Antia.


Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Raka dan Antika. Terlebih Raka sudah lama mengharapkan kehadiran seorang anak untuk pelengkap keluarga.


Tidak ada kata *Terpaksa* dalam benakku.


Tapi, entah mengapa aku merasa tidak bisa menerima mu untuk saat ini. Dan tidak tau di waktu yang akan datang.~Cavan Andian Anza