Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 10 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Avindra pun menyusul ibunya ke kamar Arisa. Tampak Antia sedang menata beberapa novel di meja belajar Arisa. Avindra mengintipnya dari sela pintu yang sedikit terbuka. Dia pun mengetuk pintunya.


"Apa aku boleh masuk bund??" Tanya Avindra.


"Masuklah." Jawab Antia tanpa memandang Avindra. Avindra pun masuk dan duduk dibibir ranjang.


"Bunda ada masalah dengan Ayah??" Tanya Avindra.


"Bunda tidak mengizinkanmu menyamar di kampus itu." Jawab Antia. Dan tentu Avindra tau apa penyebab pertengkaran kedua orang tuanya.


"Jadi karena itu... Jika bunda tidak mengizinkannya, tidak apa apa... Tapi aku minta bunda jangan bertengkar lagi... Pikirkan Arisa bund, jika dia tau pasti akan sangat sedih." Ucap Avindra.


"Bunda tidak bertengkar... Hanya kesal dengan ayahmu... Itu saja." Jawab Antia.


"Nyonya... Nyonya besar datang." Ucap Hilly dibalik pintu.


Kenapa ibu harus datang sekarang. Batin Antia.


"Oma." Ucap Avindra kemudian meninggalkan Antia sendiri di kamar. Antia pun menghela napas panjang dan keluar dari dalam kamar.


Sesampinya di ruang keluarga. Antia melihat Gio dan Lyin tengah duduk bersama Avindra. Lyin dan Gio tersenyum bahagia melihat Avindra yang sudah tumbuh dewasa. Terakhir kali mereka melihat, Avindra masih remaja berumur 15 tahun. Setelah kembali dari London, Avindra terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. Ya, meskipun kebiasaan bermain wanita masih ada dalam dirinya.


"Papa... Mama... (Mencium punggung tangan Gio dan Lyin secara bergantian.) Kenapa tidak mengabari akan kesini?" Tanya Antia sembari duduk di sofa.


"Mama sengaja nggak kasih tau karena buat kejutan cucu nakal ini... Ibu sangat senang dia kembali setelah bertahun tahun di London tanpa memberi kabar." Ucap Lyin sembari memukul lengan cucunya.


"Oma sakit... Oma sudah tua kenapa bisa memukul ku sekeras itu." Ucap Avindra.


"Haha... Merayu oma kamu yah." Ucap Lyin sembari tertawa kecil. Sedangkan Antia hanya tersenyum agar tidak membuat Lyin curiga.


"Opa sering mendengar kamu ke Club... Benar itu Avin??" Tanya Gio.


"Itu tidak benar Opa... Sungguh." Jawab Avindra.


"Dia berbohong ayah... Kemarin dia membuat Arisa menangis karena ingin ikut ke Club." Ucap Antia. Hal itu membuat Gio dan Lyin tertawa kecil.


"Jika terus begini... Bagaimana jika nanti kamu menikah Avindra?" Ucap Lyin.


"Ya tinggal ke penghulu terus sah deh." Jawab Avindra santai.


"Cucu oma ini." Ucap Lyin sembari menjewer kecil Avindra.


"Aduh... Aduh sakit oma." Ucap Avindra sembari memegangi telinganya.


"Sudah jangan merayu... Lebih baik kamu mandi sana." Ucap Lyin. Avindra mengangguk dan memberikan ciuman pada pipi kriput Lyin. Dia pun pergi ke kamarnya.


"Antia... Apa ada masalah??" Tanya Lyin. Meskipun Antia terus tersenyum, tapi sebagai seorang ibu Lyin merasa ada yang ganjal pada putrinya.


"Nggak kok bu... Masalah sedikit." Ucap Antia. Lyin bangkit dari duduknya dan menghampiri Antia.


"Ceritakan hal itu pada ibu." Ucap Lyin. Antia pun menceritakan semuanya. Sedangkan Gio hanya bisa diam membiarkan istri dan putrinya berbincang.


"Ibu tau kan kampus itu... Itu sebabnya aku gak izinin." Ucap Antia.


"Sayang... (Menggenggam kedua tangan Antia.) Suamimu ada benarnya... Avindra sudah dewasa biarkan dia mengambil jalannya sendiri... Terlepas dari itu, seharusnya kamu jangan membentak suamimu... Alhasil dia ikut terbawa emosi dan membentakmu juga kan? Pikirkanlah dengan kepala dingin." Ucap Lyin menasehati.


"Yang ibumu katakan benar Antia... Menurut papa juga begitu, nanti bicarakan dengan sebaik baiknya... Jangan bertengkar seperti ini... Kasihan Avin dan Arisa mereka pasti akan terbebani melihat kalian seperti saat ini." Timpal Gio. Tampak Antia terdiam, mencerna semua nasihat kedua orang tuanya.


"Akan aku coba... Mama dan papa menginap disini kan??" Tanya Antia.


"Tentu saja... Kami masih merindukan Arisa, bukan begitu suamiku?" Jawab Lyin sembari menatap Gio. Tampak Gio menganggukan kepalanya.


"Baiklah... Hilly... (Hilly mendekat.) siapkan kamar untuk papa dan mama." Ucap Antia.


"Baik nyonya." Jawab Hilly kemudian pergi.


"Eh iya bu... Aku baru membuat puding, ingin mencobanya??" Tanya Antia.


"Tentu saja." Ucap Lyin mengikuti Antia ke arah dapur. Sedangkan Gio menikmati secangkir kopinya.