Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 6 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Keesokan Harinya


Sarapan pagi terasa lengkap dengan kehadiran Avindra. Arisa sudah lengkap dengan seragam sekolahnya, berbeda dengan Avindra yang masih menggunakan kaos oblong dan celana selutut.


"Kakak, kau tidak ikut ayah ke kantor??" Tanya Arisa sembari mengunyah makanannya dan menatap Avindra.


"Tidak, aku masih ingin istirahat." Jawab Avindra singkat.


"Tidak, harusnya ayah yang istirahat bukan kakak." Ucap Arisa sembari kesal.


"Anak ayah memang sangat menyayangi Ayah." Ucap Arion sembari menghusap puncak kepala Arisa.


"Tentu saja ayah, Arisa sayang ayah dan bunda." Ucap Arisa membuat Avindra tersedak.


“Uhuk, uhuk.”


"Arisa, apa kau tidak menyayangi kakak??" Tanya Avindra tak senang.


"Nggak.... Blee." Ucap Arisa sembari menjulurkan lidahnya.


Hal itu membuat Avindra cemberut. Saat itu tampak Kean dan Elliot datang.


"Tuan, bisa berangkat sekarang??" Tanya Kean sopan. Tampak Arion merapikan jasnya dan dibantu Antia mengaitkan dasi dilehernya.


"Sayang aku berangkat dulu... (Mencium kening Antia.) Baik baiklah dirumah." Ucap Arion.


"Kau juga hati hati dijalan." Ucap Antia.


"Dan Arisa, jangan nakal disekolah... Belajar yang benar." Ucap Arion sembari menatap putri bungsunya. Arisa berjinjit dan mencium pipi kanan ayahnya.


"Baik Ayah, Vian ayo berangkat... Dah ayah... Dah bunda." Ucap Arisa sembari meraih tasnya dan mencium pipi kanan Antia.


"Arisa kau... Tidak berpamitan padaku??" Ucap Avindra.


Aku kakakmu atau bukan Arisa?? Batin Avindra dengan wajah sedih.


"Avindra kau tidak apa apa??" Tanya Elliot.


"Tidak apa, ayo ke ruang baca ku sekarang." Jawab Avindra. Elliot mengangguk kepala dan mengikuti Avindra dari belakang.


"Avindra, bunda akan pergi belanja bersama Jeni... Jangan pergi sampai bunda kembali." Ucap Antia sembari merapikan dirinya.


"Kan ada pel—"


"Jangan bantah bunda." Ucap Antia membuat Avindra mengangguk pasrah.


"Baiklah, hati hati bunda." Ucap Avindra sembari memandang Antia pergi.


Setelahnya, Avindra dan Elliot pun menuju ke ruang baca Avindra. Sesampainya disana, tampak Avindra membuka leptopnya sedangkan Elliot tampak memperhatikannya dengan duduk disampingnya.


"Aku sudah mengambil beberapa data siswa baru tahun ini... Kau, kak Rean, dan kak Renaf sudah termasuk didalamnya, sesuai rencana." Jelas Avindra. Elliot pun mengangguk mengerti.


"Avindra sebentar." Ucap Elliot sembari menujuk salah satu data siswa.


"Menarik... Aku suka hal misterius dan mengerikan." Ucap Avindra tersenyum miring.


"Dan Ell, kau sudah menangkap orang yang hampir menabrak Arisa kemarin?? Dan penyelamatnya??" Tanya Avindra.


"Untuk si penabrak... Dia kecelakan dikarenakan rem mobilnya tidak berfungsi, sedangkan untuk si penyelamatnya... Aku membawa rekaman cctv saat Arisa diselamatkan." Ucap Elliot. Mereka berdua pun menontonnya sampai akhir.


"Itu terlalu singkat, dan wajahnya tidak terlalu jelas." Ucap Avindra.


"Kau kurang mengamati... Lihat, dia menggunakan sebuah souvenir ditangannya." Ucap Elliot.


"Iya aku melihatnya, tapi apa kau melihat seperti apa bentuk souvenir nya??" Ucap Avindra sembari menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Siapa pun dia, aku berhutang satu nyawa padanya... Dan Ell, kau ada cara untuk membujuk bunda?" Ucap Avindra.


"Aku rasa, hanya paman Arion yang bisa membantumu." Ucap Elliot.


"Huft... (Menghela napas panjang.) Aku juga tau hal itu, tapi kau mengertikan sifat ibuku... Sama seperti Arisa, tidak bisa dibantah." Ucap Avindra. Tampak Elliot mengangguk mengerti.


"Kau sudah hubungi Leon??" Tanya Avindra.


"Sudah, dia juga sudah membuat identitas samaran untuk kita." Jawab Elliot.


"Bagus, waktu kita hanya sampai 6 bulan... Jika dalam 6 bulan kita tidak bisa menggusur kampus itu dengan bukti bukti yang ada, secara resmi kampus itu akan menggantikan Harvard University... Sangat tidak pantas." Ucap Avindra.


"Enggak boleh titik... Mas kok malah dukung mereka berdua, mereka itu seharusnya bantu bantu kamu." Ucap Arila tak setuju.


"Sayang, apa salahnya... Lagian aku masih bisa kok ngurusin perusahaan kan ada Arion. Boleh yah??" Bujuk Andian sembari memeluknya dari belakang.


"Enggak titik... (Melepaskan pelukannya.) Aku nggak akan izinin, kampus itu bukan tempat main main mas... Gimana kalo Rean dan Renaf dibully disana dengan samaran mereka. Keputusan aku udah bulat mas." Ucap Arila kemudian pergi.


"Sayang... Sayang." Panggil Andian. Namun, Arila terus melenggang pergi. Saat itu tampak Renafo dan Reanzo datang.


"Ayah tidak berhasil??" Tanya Renafo.


"Huft... Tidak, ibu kalian memang benar... Kampus itu bukan tempat main main... Kalian sudah memikirkannya dengan sangat matang?" Tanya Andian.


"Sudah ayah, keputusan kami sudah bulat... Kampus itu tidak layak untuk tetap berdiri." Jawab Reanzo.


"Ayah dukung keputusan kalian, ayah akan mencoba bujuk ibu kalian lagi." Ucap Andian sembari hendak pergi.


"Ayah... Jika ibu tidak menyetujuinya, katakan padanya aku akan menerima perjodohannya." Ucap Reanzo.


"Kakak." Ucap Renafo tak percaya.


"Akan ayah coba." Jawab Andian kemudian pergi.


Jadilah Readers Yang Bijak👌🏻


Menulis novel, tidak semudah yang kalian duga. Perlu waktu untuk menyusun kalimat kalimat agar terlihat rapi menarik dan mudah dipahami oleh pembaca. Jadi, berikan para author author support dengan memberikan like atau komentarnya... Hanya perlu tekan jempol dan saran itu sudah menjadi penyemangat bagi kami para author... Ingat jadilah Readers yang bijak😉😘


Maaf kalau perkataan author menyinggung, Author sayang kalian💞😘