Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 2



{}Keesokan Harinya


Andian sudah siap berangkat ke kantor. Namun, dia merasa ada yang mengganjal. Tidak biasanya adiknya belum keluar pada jam seperti ini. Raka yang menginap baru kembali dari joggingnya.


"Rak apa Antia jogging denganmu?" Tanya Andian.


"Tidak ku pikir dia tidak jogging." Jawab Raka.


Dengan khawatir Andian melempar tas kerjanya dan menuju ke kamar Antia dan Raka menyusul.


 


"Antia...Antia." Ucap Andian cemas.


"Gian ambilkan kunci cadangan." Titah Raka pada kepala pelayan Gian.


Tak berapa lama kemudian Gian membawa kunci cadangan. *Cklek* Pintu terbuka segera Andian dan Raka menghampiri Antia. Andian duduk disamping Antia dan melihat wajah pucat Antia membuat Andian cemas.


"Aku panggil Chris kemari." Ucap Raka sambil mengeluarkan hp disakunya.


Chris adalah dokter pribadi Andian sekaligus sehabatnya. Andian memegang kening Antia dan terasa panas. Wajah Andian seketika cemas.


"Antia...Antia...kau demam." Cemas Andian. Antia membuka matanya perlahan dan meneteskan air matanya membuat Andian dan Raka semakin cemas.


"Hiks...hiks...Antia rindu kak Glan." Ucap Antia. Andian menghusap kening adiknya. Bagaimana pun orang yang sudah pergi selamanya tidak akan kembali.


"Kau ingin bertemu kakak? (Antia Mengagguk) Nanti kita kunjungi makamnya... Raka suruh Veng yang urus semuanya aku ambil cuti sekarang." Titah Andian.


Lama menunggu Chris datang dan memeriksa Antia.


"Ku kira kau yang sakit." Ucap Chris sambil menata perlengkapannya.


"Bagaimana? Apa dia sakit parah?" Cemas Andian.


"Tenanglah...dia hanya demam setelah makan berikan obat ini...aku pergi dulu jika butuh sesuatu panggil saja aku." Pamit Chris.


"Iya terima kasih Chris." Jawab Andian.


Chris mengagguk dan pergi. Andian membantu Antia duduk bersenderan. Andian menyuapi Antia bubur buatan Gian dan Raka.


"Aku bukan Gio yang mementingkan pekerjaan...Lagipun jika aku tidak bekerja selama 1 tahun perusahaan tidak akan bangkrut." Jawab Andian kemudian fokus menyuapi Antia.


Antia sangat bahagia disaat dia sakit tanpa sosok ayah dan ibu kedua kakaknya mengurusnya dengan baik. Raka datang membawa susu air putih dan obat dalam baki dengan memakai celemek.


"Adik sepupuku yang cantik saatnya minum obat." Ucap Raka. Antia tertawa kecil melihat corak celemek Raka adalah hello kity.


"Kakak kau lucu sekali." Ucap Antia. Merasa sadar dengan dirinya Raka dengan malu keluar. Andian hanya menggelengkan kepala melihat sikap konyol saudara sepupunya.


"Ini minumlah...dan cepat sembuh kau sudah diliburkan dari sekolah." Ujar Andian. Setelah meminum obat Antia menatap Andian.


"Kak apa kau... Apa kau sudah menjodohkanku?" Tanya Antia sambil menunduk takut Andian marah.


"Kau mengetahuinya? Iya ku rasa ini waktu yang tepat tapi untuk memberi tau siapa aku dan kak Glan dulu berjanji tidak akan memberitaunya karena dia sendiri akan menemuimu cepat atau lambat. Dan ketahuilah ini demi kebaikanmu." Jawab Andian.


"Tapi aku masih ingin sekolah kak." Lirih Antia. Andian mengelus kening adiknya dan mencium puncak kepalanya penuh kasih sayang.


"Tenanglah...kau masih bisa menggapai impianmu...Istirahatlah soal ini jangan dibahas lagi." Ucap Andian dengan nada sedikit datar. 


Antia pun memejamkan matanya dan terlelap. Baru Andian keluar dia dikejutkan oleh notifikasi hpnya. Mata Andian terbelak tak percaya. Colvis Anvert Grop Perusahaan Terbesar Di Dunia.


"Dia? berhasil di waktu yang kurang dari itu." Lirih Andian. Kemudian hpnya berbunyi. Dia pun menuju ke balkon dan mengangkat telefon.


📞


"Hallo lama tidak memberi kabar." Ucap Andian.


"Aku merindukan adik kecilmu bagaimana kabarnya?" Jawab diseberang sana.


"Dia sangat baik dan sekarang sedang belajar." Jawab Andian.  ( "Jika aku beritau anak ini pasti akan langsung kemari dan sangat merepotkan" Batin Andian.)


"Baguslah, besok aku akan kembali ke Indonesia." Ucap diseberang sana.


"Aku tau kapan kau akan menemui adikku?" Tanya Andian.


"Aku akan memberinya kejutan. Aku tutup telfonnya." Jawab dia kemudian mengakhiri telefon. 


Andian hanya menggenggam erat tangannya. "Dia memang peria yang tepat." Ucap Andian. Andian memasukan hpnya kedalam saku dan pergi menuju ke kamarnya.