Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 72



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Sesampainya di kediaman Yuni. Renzo turun dari dalam mobilnya dan menyembunyikan kekhawatirannya. Dia tidak ingin membuat Yuni dan Alfa bersedih karena masalahnya. Renzo pun menekan bel rumah dan tak berapa lama Yuni menghampiri.


"Nak Renzo tumben malem malem kemari... (Renzo mencium punggung tangan Yuni.) Oh iya dimana istri kamu???" Ucap Yuni.


"Loh Lyara nggak disini ma??" Tanya Renzo.


"Enggak memang Lyara pamitannya mau ke sini ya??"


"Iya ma... Tadi pas Renzo jenguk Andian Lyara telefon mau kesini, kalo nggak disini kira kira kemana ya ma??" Ucap Renzo berbohong.


"Sayang coba kamu cari diapartemen papa yang ada diperbatasan kota... Lyara biasa kesana kalo kesepian atau lagi sedih." Jawab Yuni.


"Oh terima kasih ma... Renzo lanjut cari Lyara ya... Maaf ganggu mama." Ucap Renzo kemudian bergegas pergi.


"Iya hati hati dijalan." Ucap Yuni. Setelah Renzo benar benar pergi Yuni pun menutup kembali pintu rumahnya.


Saat diperjalanan Renzo justru terjebak macet dan terlebih dia lupa untuk membawa handphonenya. Karena kesal Renzo memukul stir mobilnya.


"Ah!!!! Kenapa harus macet segala sih!!!" Kesal Renzo.


Di Vila Arion


Antia duduk bersandaran di ranjangnya sembari memangku leptopnya. Antia tampak fokus untuk mengerjakan skripsinya. Begitu pula Arion yang sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya.


Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya, Arion langsung menuju ke kamar mandi guna membersihkan diri. Arion terkekeh saat dia melihat Antia yang tidak berkutip sedikit pun dengan yang dia lakukannya.


Beberapa saat Arion dikamar mandi tampak Antia meregangkan otot ototnya.


"Akhirnya selesai juga... Loh kak Arion mana?? Mungkin dia sedang mandi, aku lelah sekali... Lebih baik aku tidur." Ucap Antia.


Antia menutup leptopnya dan meletakannya diatas nakas. Setelah itu Antia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai sebatas leher.


Saat Arion keluar dari kamar mandi, dia melihat istri kecilnya sudah tidur. Padahal Arion berniat untuk membuat Antia begadang semalaman.


Setelah memakai jubah tidurnya, Arion ikut merebahkan diri disamping istrinya. Dia pun memeluk tubuh Antia dari belakang. Saat memeluk Antia, Arion tidak bisa menahanya. Dia pun berbisik ditelinga Antia.


"Sayang bangun.... Sayang." Bisik Arion. Antia yang belum terlalu lelap pun terbangun.


"Apaan sih." Lirih Antia sembari menggeser tubuhnya.


"Aku ingin begadang denganmu sekarang." Ucap Arion.


"Besok aja ya sayang... Aku capek mau istirahat." Ucap Antia.


Namun, tidak dihiraukan oleh Arion. Arion menciumi leher jenjang Antia dan meninggalkan jejak disana. Membuat Antia menggeliat.


"Sayang ayo..." Ucap Arion.


Antia menatap Arion dan saat akan bicara Arion lebih dulu membungkamnya dengan ciuman. Tidak bisa menolak karena Arion sudah tertutup oleh n*fsu pun menerima semua yang Arion lakukan.


Padahal sejujurnya Antia sangat lelah namun dia juga tidak bisa menolak keinginan suaminya karena hal itu akan membuatnya berdosa. Kini mereka pun menghabiskan malam bersama tanpa memperdulikan keadaan malam yang semakin dingin.


Tengah malam di rumah sakit.


Andian kembali menggerakan jarinya. Namun, karena Arila begitu terlelap disampingnya membuatnya tidak sadar. Perlahan Andian membuka matanya yang terasa sedikit berat. Andian menatap langit langit ruangan.


Aku masih hidup?? Apa ini benar benar dunia nyata?? Batin Andian.


Setelah itu, Andian menatap kesamping kanannya. Andian menyinggung senyuman dibibirnya takala melihat Arila yang terlelap disampingnya. Meskipun hanya menyandarkan kepalanya dibibir ranjang.


Andian ingin sekali bangun, namun rasanya sangat kaku. Andian hanya bisa menggerakan tangannya, itu pun dengan sangat pelan. Perlahan Andian membelai wajah cantik istrinya. Merasa terusik membuat Arila terbangun.


"Emh..." Lenguh Arila begitu membuka matanya.


Arila langsung bangun dari posisinya dan menatap Andian yang tersenyum padanya. Arila pun menekan tombol dan beberapa saat kemudian dokter datang.


"Akhirnya anda sadar tuan... Tapi kondisi anda masih lemah jadi selama beberapa hari anda masih harus dirawat disini."


"Aku mengerti." Jawab Andian lirih.


Dokter tampak menelfon seseorang. Saat itu,


mata Arila berkaca kaca sembari memandang peria yang sangat dia cintainya itu sudah tersadar.


"Kemarilah." Ucap Andian.


Arila langsung memeluk tubuh kekar suaminya itu. Dia menangis dipelukannya. Andian pun menghusap puncak kepala istrinya guna menenangkan.


"Hiks...hiks... Kau jahat, kenapa kau baru bangun??? Apa kau tidak merindukanku??" Ucap Arila.


"Sangat... Berhenti lah menangis... Kau terlihat jelek saat menangis." Ucap Andian.


Arila pun melepaskan pelukannya dan menghusap air matanya.


"Kau tidur selama 2 bulan 9 hari." Ucap Arila.


Jadi aku benar benar koma selama itu?? Batin Andian.


"Sudah jangan dibahas lagi sekarang aku sudah sadar... Tidakah kau menceritakan apa yang terjadi selama aku koma??" Ucap Andian.


"Setiap hari aku bercerita padamu, tapi kau mengabaikan aku... Kau tau Antia sudah menikah sebulan yang lalu." Ucap Arila.


"Baguslah... Jadi Arion tidak ada batasan lagi dan sepenuhnya menjaga Antia." Jawab Andian.


"Dan dia juga menangis setiap harinya saat melihatmu... Bahkan waktu itu dia sampai pinsan karena tidak makan seharian... Tapi setelah menikah dengan Arion... Dia berusaha untuk tersenyum dan terus mendampingiku disini." Ucap Arila.


"Antia memang adik kesayangan ku... Saat aku terluka sedikit saja dia menangis... Tidak heran dia sampai seperti itu saat aku koma. Saat lahir aku berjanji akan membahagiakan nya." Jawab Andian.


Mendengar kata “Lahir” membuat Arila tersenyum mengingat dirinya sedang mengandung saat ink. Melihat wajah Arila yang tampak bahagia pun membuat Andian menatap Arila bingung.


"Ada apa?? Kau terlihat bahagia??" Tanya Andian.


"Aku ada kejutan untukmu... Kau pasti akan sangat menyukainya." Jawab Arila.


"Kejutan apa??" Tanya Andian. Arila bangkit dari duduknya. Dia pun meraih tangan kanan Andian dan meletakannya diperut ratanya.


"Kau merasakan sesuatu??" Tanya Arila. Andian yang bingung pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah...(Menuntun tangan Andian untuk menghusap perut ratanya.) Ada dua orang yang menantimu disini." Ucap Arila. Tentu membuat Andian menatapnya dengan wajah penuh kegembiraan.


"Maksudmu... Kau sedang hamil?? (Arila mengaggukan kepala.) Dan ada dua." Ucap Andian.


Andian kembali memeluk istrinya dan menghusap perut Arila. Dia tidak menyangka jika dia sadar akan diberikan kejutan seindah ini menurutnya. Saat itu tampak Arion dan Antia datang. Antia langsung berhamburan memeluk Andian.


"Kakak....hiks hiks... Aku sangat bahagia kau sudah sadar." Ucap Antia sembari menangis. Andian menghusap puncak kepala adik kesayangannya itu.


"Jangan menangis... Atau Arion akan memarahiku karena membuat mu menangis." Ucap Andian dan menghusap air mata adiknya.


"Tidak guna aku marah... Dia tetap menangisimu." Ucap Arion.


"Selamat atas pernikahan kalian... Jaga adikku baik baik." Ucap Andian.


"Dan selamat sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Aku juga sedang berusaha menyusulmu." Ucap Arion sembari melirik Antia.


"Berhentilah menggoda adikku... Tapi bagaimana kau tau aku sudah sadar??" Tanya Andian.


"Dari dokter... Dia aku perintahkan memberitau keadaanmu jika memburuk atau sudah sadar. Lebih baik kau beristirahat Andian keadaanmu masih lemah... Kau juga kakak ipar... Pentingkan anak kalian juga." Jawab Arion.


"Tapi aku..."


"Yang Arion katakan ada benarnya... Kau beristirahatlah." Ucap Andian dan tampak Arila tengah berpikir.


"Ayo kakak ipar kita bisa beristirahat di ruang sebelah... Aku akan menemanimu." Ucap Antia. Arila memandang Andian dan tampak Andian mengaggukan kepala.


"Baiklah aku pergi dulu." Ucap Arila.


Antia dan Arila pun pergi meninggalkan Arion dan Andian. Setelah kepergian mereka, Arion pun menatap Andian kesal. Melihat wajah kesal Arion membuat Andian bertanya tanya.


"Kenapa kau kesal??" Tanya Andian.


"Apa kau bisa sadar nanti setelah aku menghabiskan waktu ku dengan Antia... Baru sebentar dan dokter menelfon... Mengganggu kesenangan ku saja... Saat malam pertama juga Kean menggangguku... Jika terus begini kapan aku menyusulmu." Kesal Arion.


"Jadi kau sudah memiliki adikku sepenuhnya?? Rasanya 19 tahun menjaga Antia sangat singkat... Tapi aku senang karena yang mendapatkan Antia seutuhnya adalah kau." Ucap Andian.


"Tentu saja... Tapi maafkan aku karena saat diawal membuat Antia menangis kesakitan." Canda Arion.


"Sialan kau." Ucap Andian.


Karena kondisi Andian masih sedikit lemah dan perlu banyak istirahat dia tidak bisa berbicara banyak dengan Arion.