Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 12 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Di Rumah Sakit


Tampak Lista duduk sembari menutup mukanya dan menangis. Dia takut sahabatnya kenapa kenapa karena baru kali ini melihat Arisa terluka dan mengeluarkan banyak darah. Saat itulah Leon, kakak Lista datang dan menghampirinya.


"Lista." Panggil Leon. Lista bangkit dari duduknya dan memeluk sang kakak.


"Kakak... Aku takut Arisa kenapa kenapa... Dia... Dia mengeluarkan banyak darah." Ucap Lista sembari menangis. Leon pun menghusap puncak kepalanya.


"Dia akan baik baik saja." Ucap Leon menenangkan.


"Leon!" Panggil Avindra begitu datang.


"Adikku, bagaimana keadaannya?? Dan apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Avindra sembari memegang kedua bahu Leon.


"Arisa sedang dalam tanganan dokter... Dia akan baik baik saja." Ucap Leon menenangkan. Seorang Avindra akan tenang jika terjadi sesuatu pada adiknya??? Tidak. Avindra semakin cemas melihat darah di seragam Lista.


"Tidak, Bagaimana aku bisa tenang jik—" Ucap Avindra terjeda saat dokter keluar dari ruangan.


"Dokter bagaimana keadaan adikku... Dia baik baik saja kan??" Tanya Avindra.


"Benturannya cukup kuat, hal itu mengakibatkan cedera yang cukup serius."


Grepp


Avindra menarik kerah baju dokter tersebut.


"Jelaskan secara detail! Jangan membuat ku emosi." Ucap Avindra dingin. Tampak Leon memegang bahu Avindra.


"Avindra jangan memperburuk keadaan... Pikirkan tante Antia." Ucap Leon. Seketika Avindra melepaskan dokter itu dan mendekat ke arah Antia yang duduk tak berhenti menangis. Saat itulah Leon mendekat.


"Jelaskan detailnya." Ucap Leon.


"Nona itu mengalami patah tulang ringan... Dia harus dirawat selama 3 hari dan kemungkinan belum bisa berjalan sampai 1 bulan atau bahkan lebih." Jelas dokter. Tampak Leon menganggukan kepalanya mengerti.


"Dan soal biayanya sudah lunas tuan." Timpal dokter.


"Apa?? Siapa yang melunasinya??" Tanya Leon.


"Saya tidak tau tuan... Tanyakan pada bagian administrasi, kalian bisa menemuinya setelah pasien dipindahkan di ruang rawat saya pergi dulu." Jawab dokter kemudian pergi.


Apa mungkin Rian?? Tapi bocah itu tidak akan mungkin. Batin Leon.


Setelah Arisa dipindahkan di ruang rawat inap, Avindra dan lainnya langsung bergegas masuk. Tampak Arisa masih memejamkan matanya. Mungkin itu efek dari obat bius yang masih belum hilang.



(Visual kamar inap Arisa)


"Arisa kenapa kamu sangat nakal." Ucap Avindra dengan meneteskan air matanya.


"Kakak cengeng." Ucap Arisa tiba tiba.


"Kakak kau cengeng." Ucap Arisa. Avindra memeluk Arisa membuat Antia tersenyum meskipun matanya mengeluarkan air mata karena sangat mengkhawatirkan putri tercintanya.


"Kakak sudah bilang... (Mencubit hidung Arisa.) Jangan lari sembarangan jadi seperti ini kan." Ucap Avindra tampak emosi.


"Aduh sakit kakak... Maaf..." Ucap Arisa sembari menunduk. Antia mencium kening putrinya berkali kali.


"Jangan nakal lagi." Ucap Antia mencubit pipi Arisa.


"Arisa... Kau membuat ku cemas, lain kali jangan lari sembarangan." Ucap Lista sembari memeluk Arisa. Saat itulah Leon mendekat ke arah Avindra.


"Avindra kita bicara di luar." Ucap Leon. Tampak Avindra menganggukan kepalanya dan pergi keluar.


"Ada apa??" Tanya Avindra.


"Apa kau yang membayar biaya rumah sakit ini??" Ucap Leon bertanya.


"Hey ayolah... Aku baru datang." Jawab Avindra.


"Biaya rumah sakit Arisa sudah terlunasi semua... Aku sempat melacak nomor yang mengirim pesan dan uangnya... Tapi dia memalsukan nomornya dan tidak bisa di lacak." Jelas Leon.


"Apa mungkin Rian??" Tebak Avindra.


"Hey ayolah... Rian bahkan tidak tau jika Arisa terluka, bagaimana dia yang membayarnya aneh." Jawab Leon dengan nada tak suka.


"Kenapa nada bicaramu begitu?? Takut tersaingi??" Ucap Avindra menggoda.


"Kau—" Ucap Leon terpotong.


"Avindra!" Panggil Arion yang buru buru datang.


"Ayah." Ucap Avindra.


"Dimana Arisa??" Tanya Arion tampak cemas.


"Di dalam ayah." Jawab Avindra, Arion pun masuk kedalam ruangan. Beberapa saat setelah Arion masuk tampak Lista keluar.


"Lista apa yang sebenarnya terjadi??" Tanya Avindra.


"Jadi seperti ini kak... Tadi kami•••" Jawab Lista menjelaskan apa yang terjadi.


"Arisa ini." Ucap Avindra sembari memijit keningnya.


"Avin, apa ada kemungkinan dia yang membayar biaya rumah sakit Arisa??" Ucap Leon.


"Kau benar... Itu bisa saja, ku harap kau bisa menyelidikinya." Jawab Avindra.


"Akan aku lakukan." Ucap Leon.


"Tapi kak, kakak penyelamat itu sangat tampan bahkan kak Avindra tidak sebanding dengannya." Ucap Lista membuat Avindra menatapnya tajam.


"Leon untung dia adikmu jika tidak... Jangan salahkan aku menyakitimu." Ucap Avindra.


"Kakak tolong aku." Ucap Lista bersembunyi dibelakang Leon.


"Sudahlah... Avindra aku harus pulang... Titip Salam untuk Arisa, besok aku kesini lagi." Ucap Leon.


"Baiklah hati hati... Dan terima kasih atas perhatianmu." Jawab Avindra. Leon menganggukan kepalanya.


"Kak kami pulang dulu assalamualaikum." Pamit Lista.


"Walaikumsalam." Jawab Avindra sembari menatap Lista dan Leon yang mulai menjauh. Dia pun masuk kedalam ruangan dan menutup pintunya.