
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
3 Minggu Kemudian
Antia membuka matanya begitu mendapat sapaan dari sinar mentari pagi. Dengan bersemangat Antia pun bangun dan menuju ke kamar mandi guna membersihkan dirinya.
Setelah rapi dengan pakaiannya, Antia pun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju ke meja makan. Tampak Andian dan juga Arila tengah menikmati sarapannya.
"Kakak hari ini kak Arion sudah boleh pulang ayo kita jemput dia." Ucap Antia sembari menarik lengan Andian.
"Iya, ya sebentar lagi kamu sarapan dulu. Memang kamu tidak sekolah??" Tanya Andian.
"Kakak, aku kan baru selesai ujian ya libur akhir semester lah. Tapi setelah sarapan kakak jemput kak Arion ya." Jawab Antia sembari menarik kursinya dan duduk.
"Iya, makan dulu sarapan mu." Ucap Andian dan dengan segera Antia memakan sarapannya.
Beberapa saat kemudian, Antia telah menghabiskan sarapannya. Begitu pun Andian dan Arila. Baru mereka berdiri dari duduknya terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Eh kalian mau kemana??" Tanya Arion yang didampingi sekertarisnya Kean.
"Kak Arion...(Mendekati Arion.) Kakak sudah bisa jalan?? Apa sudah tidak ada lagi yang sakit??" Tanya Antia sembari melihat tubuh Arion.
Arion tersenyum dan menarik Antia ke dalam pelukannya. Membuat Antia mengerutkan keningnya bingung.
"Fisikku sudah sembuh, tapi hatiku tidak... Apa kamu tau betapa rindunya aku padamu selama satu bulan ini??" Ucap Arion.
"Maaf, bukankah aku sudah bilang ada ujian yang perlu aku kerjakan. Jadi, tidak sempat menjenguk kakak." Jawab Antia.
"Aku mengerti sayang." Ucap Arion sembari mencium puncak kepala Antia.
"Ehem... Ehem... (Antia menjauhi Arion.) Sekarang kak Arion mu itu sudah kembali jadi bisa izinkan aku untuk berangkat sekarang adikku??" Ucap Andian sambil berjalan keluar Vila.
"Iya kakakku tersayang... Selamat bekerja cari uang yang banyak untuk kakak ipar." Teriak Antia dan tidak direspon Andian yang langsung masuk kedalam mobilnya.
"Antia aku ke kamar dulu ya." Pamit Arila sembari tersenyum.
"Iya kakak ipar." Jawab Antia sembari tersenyum pula.
Arila pun menuju ke kamarnya, sedangkan Antia dan Arion duduk berdua di ruang keluarga. Sedangkan Kean, dia memilih untuk mengambil alih perusahaan Arion daripada harus menjadi obat nyamuk.
"Kakak ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Antia sembari menyenderkan kepalanya pada bahu kekar Arion.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sayang??" Tanya Arion sembari mencium puncak kepala Antia.
"Kak, apa setelah menikah nanti aku bisa melanjutkan kuliahku??" Tanya Antia hati hati.
"Tentu saja bisa... Apa itu artinya kamu setuju untuk menikah denganku secepatnya??" Ucap Arion menggoda Antia.
"Bukankah aku sudah lama menyetujuinya. Dan kak Arion bilang akan menikahi ku setelah lulus nanti itu sebabnya aku setuju." Ucap Antia.
"Iya, ya aku akan menepati janji ku... Jadi, kamu ingin resepsi pernikahan seperti apa??" Tanya Arion.
"Benarkah ada resepsi?? (Arion mengagguk.) Aku ingin resepsinya banyak dihiasi bunga mawar putih yang indah." Jawab Antia dengan wajah bahagia.
"Baiklah apapun untuk calon istriku." Ucap Arion sembari menghusap puncak kepala Antia.
Arion dan Antia sama sama tertawa menikmati perbincangan mereka. Tanpa mereka sadari, Arila mendengarkan pembicaraan mereka mengenai pernikahan nya. Rasanya ada duri duri yang mengenai hati dan perasaannya. Arila pun masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Sebentar lagi Antia dan Arion akan menikah, lalu bagaimana dengan hubunganku dan Andian... Apa aku akan benar benar bercerai dengannya disaat aku sudah mulai mencintainya?? Apa yang kamu pikirkan Arila, meskipun selama ini peria itu baik padamu tapi dia hanya berakting didepan adiknya saja. Dan jika hanya berdua denganku dia pasti akan menyiksaku sama saat baru menikah. Apa seperti ini rasanya mencintai orang yang membenciku?? Aku sangat menyedihkan. Batin Arila sembari menangis dan terduduk dilantai.
Di Vila Raka
Raka sudah siap untuk berangkat ke kantor. Saat ini dia tengah menunggu Antika yang membawakan tas kantor dan dasinya. Beberapa saat menunggu akhirnya Antika datang.
Antika pun memberikan tas kantornya pada Raka dan hendak memasangkan dasi padanya. Karena Raka lebih tinggi dari Antika, membuatnya sedikit kesusahan.
"Menunduklah." Ucap Antika. Dan dengan tersenyum Raka pun menunduk.
"Makannya jangan terlalu pendek." Ledek Raka saat Antika memasangkan dasi.
Raka pun terkekeh gemas dan langsung mencium bibir Antika sekilas membuat Antika melotot.
"Iya, ya istriku tersayang. Aku berangkat dulu ya." Pamit Raka sembari mencium kening Antika.
"Iya hati hati." Ucap Antika sembari tersenyum.
Raka pun masuk kedalam mobilnya. Dan perlahan mobil itu menjauhi kawasan Vila. Antika pun masuk kedalam Vila dan ikut bergabung dengan Randy juga Laura yang sedang berbincang bincang di ruang keluarga.
"Antika sayang Raka sudah berangkat??" Tanya Laura sesaat Antika duduk di sofa.
"Sudah ma, baru saja." Jawab Antika.
"Kamu yakin nak mau pindah minggu depan??" Tanya Randy.
"Ya sebenernya Antika masih pengen tinggal disini... Tapi, Raka nya pengen pindah jadi Antika ngikut aja." Jawab Antika.
"Kamu memang patuh sama suami... Mama khawatirnya kalo pindah nanti kamu sering sakit karena Raka ngajak kamu begadang terus." Ucap Laura dengan nada menggoda.
"Mama apaan sih." Ucap Antika sembari memalingkan wajahnya merona.
"Ya udah ma...pa, Antika ke kamar dulu ya." Ucap Antika sembari berdiri.
Dan direspon anggukan oleh keduanya. Antika pun menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar Antika mengemasi pakaian yang berserakan dilantai dan mengganti sprai ranjang nya.
Sebenarnya ada Jin atau Rita yang bisa mengemasi kamarnya. Namun, karena setiap pagi kondisi kamarnya selalu berantakan membuat Antika malu dan memilih mengemasi kamarnya sendiri.
Beberapa saat kemudian kamar Antika kembali rapi dan bersih seperti semula. Antika pun duduk di kursi santainya dekat balkon. Dia menikmati pemandangan dari sana sembari menghilangkan rasa penatnya.
"Akhirnya selesai juga, untung aku yang bersihin kalo Rita atau Jin bisa malu aku." Lirih Antika.
Merasa rasa penatnya mulai menghilang, Antika pun bangkit dari duduknya. Namun tiba tiba dia merasa pusing membuatnya kembali duduk dan memijit pelipisnya.
"Kenapa aku merasa sangat pusi-" Ucapan Antika terjeda saat rasa mualnya melanda.
*Huwek...huwek...huwek.* Antika memuntahkan isi perutnya. Dan merasa sedikit lega. Namun, belum bernapas lega Antika kembali memuntahkan isi perutnya.
"Pasti aku kelelahan lagi... Lebih baik aku istirahat saja." Lirih Antika.
Antika pun menuju ke ranjang Dan merebahkan tubuhnya diatas nya. Antika pun berusaha memejamkan matanya agar rasa pening dan mualnya mereda.
Di Cerlan Grop
Andian yang baru sampai pun keluar dari dalam mobilnya dan langsung masuk kedalam perusahannya. Banyak para karyawan yang menyapa namun seperti biasa Andian merespon mereka dengan anggukan kepala. Andian pun naik lift pribadi menuju ke ruangan tempat dia bekerja.
*Ting!!* Pintu lift terbuka bersamaan dengan Andian yang keluar dari lift dan langsung menuju ke ruangannya. Andian pun membuka pintu ruangannya dan tiba tiba.
"Keponakan ku tertampan kamu baru sampai rupanya." Ucap Renia yang sedari tadi menunggunya.
"Bibi...bibi kapan kemari??" Tanya Andian dengan wajah sedikit terkejut.
"Em...beberapa menit yang lalu... Kemari ada yang ingin bibi tanyakan padamu." Jawab Renia.
Pasti soal wanita yang diperjuangkan kak Ren. Batin Andian menebak.
"Katakan pada bibi, siapa yang Renzo kejar kejar itu??" Tanya Renia dengan wajah memelas.
Benar kan. Batin Andian.
"Baiklah bibi akan aku beritau.... Wanita yang kakak Renzo kejar nona muda dari keluarga Wismajaya. Realine Putri Wismajaya, bibi mengerti sekarang." Jawab Andian.
"Bibi mengerti, baguslah bibi harap kakak sepupumu itu berhasil memenangkan taruhan yang bibi berikan... Jika tidak dia harus menikahi wanita pilihan bibi." Ucap Renia dan hanya direspon anggukan oleh Andian.
"Baiklah bibi pulang sekarang selamat bekerja... Oh iya bibi lupa ini hadiah dari paman dan bibi untuk kamu dan istrimu. Tidak adil jika bibi memberikan hadiah hanya pada keponakan bibi yang satu padahal yang menikah kedua keponakan bibi." Ucap Renia panjang sembari menyondorkan sebuah kotak untuk Andian.
"Apa isi didalam nya bi, jangan bilang cincin pasangan seperti Raka." Ucap Andian.
"Tentu saja bukan hadiah nya berbeda bukalah." Ucap Renia sembari tersenyum.
Andian yang sedikit penasaran pun perlahan membuka kotak tersebut. Mata Andian terbelak begitu melihat isi dalam kotak tersebut.