
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Keesokan harinya
Pagi pagi buta tepatnya pukul 4 waktu setempat. Tampak jendela ruang rawat tempat Arisa dirawat terbuka. Terbuka sangat pelan bahkan tidak menimbulkan suara. Tampak sesosok pria menghampiri Arisa yang masih tertidur pulas.
Pria itu menoleh melihat sekeliling yang tidak ada siapa pun kecuali dirinya dan Arisa. Tentu saja, Avindra berjaga diluar bersama dengan Reanzo. Sedangkan Antia dan Arion masih tidur di ruang khusus yang langsung terhubung dengan ruangan Arisa. Jadi, tidak heran jika Arisa hanya sendiri di ruangan.
Astaga, wanita yang sangat cantik... Alan benar benar bukan seorang pria. Bagaimana bisa gadis secantik ini dia abaikan?? Batin Machel yang tidak lain pria yang menyusup.
Dia sangat penasaran dengan sesosok wanita yang berhubungan dengan Alan. Karena memang sahabatnya itu sangat enggan untuk berhubungan dengan seorang wanita.
"Gadis kecil, pria yang membuatmu begini bernama Alan... Ingatlah." Lirih Machel. Saat tangan Machel hendak terangkat untuk menghusap kening Arisa. Arisa membuka matanya perlahan dan melihat wajah Machel.
"Hallo." Sapa Machel. Seketika mata Arisa terbuka lebar.
"Kakak!!!! Siapa kamu???!!!!" Teriak Arisa membuat Machel tersentak dan segera kabur dari jendela.
"Arisa ada apa???" Tanya Avindra begitu masuk. Avindra mengepalkan tangannya saat melihat jendela terbuka lebar.
"Kamu tidak apa apa kan Arisa?? Dia tidak—" Tanya Avindra cemas.
"Aku tidak apa apa kak... Tapi aku terkejut tadi, dia siapa??" Jawab Arisa kemudian menatap ke arah jendela dimana Machel masuk. Reanzo melihat keluar dan tidak menemukan jejak.
"Arisa ada apa nak???" Tanya Antia langsung mendekat ke arah putrinya.
"Tadi ada yang menyusup bund, untungnya Arisa teriak jika tidak... Entah apa yang akan terjadi." Jawab Avindra. Dan itu membuat Antia menatap putrinya penuh kecemasan.
"Uncle, sepertinya tidak aman jika Arisa di rumah sakit... Mungkin lebih baik, Arisa dirawat di rumah saja." Usul Renafo.
"Kau benar Renaf." Ucap Arion.
"Bund, apa ada yang mencelakakan aku?? Apa ada yang membenciku??" Tanya Arisa sembari menggegam tangan Antia. Antia menghusap puncak kepala Arisa.
"Tidak ada sayang... Lebih baik kamu dirawat di rumah saja ya... Supaya lebih aman, ya." Jawab Antia yang tak ingin putrinya khawatir.
Tampak Arisa menganggukan kepalanya mengerti.
"Kakak, apa ada yang aneh??" Tanya Avindra mendekat ke arah Reanzo.
"Jendela ini dalam keadaan yang sangat baik... Seharusnya saat jendela ini dibuka menimbulkan suara... Meskipun itu gerakan yang sangat pelan." Jawab Reanzo.
"Sepertinya dia terlatih menyusup tanpa meninggalkan jejak... Teknik seperti ini sangatlah langka." Ucap Avindra.
"Apa ada kemungkinan jika pria tadi, kakak penyelamat yang Arisa bicarakan??" Ucap Renafo. Tampak Avindra dan Reanzo terdiam. Hingga Reanzo menatap ke arah cctv yang terpasang disudut ruangan.
"Kita cek cctvnya." Ucap Reanzo kemudian pergi. Saat Avindra akan menyusul, Arisa menceghat.
"Ada apa??" Tanya Avindra. Tampak Arisa mengulurkan kedua tangannya.
"Gendong aku sampai ke mobil kak." Jawab Arisa. Avindra tersenyum dan menggendong Arisa ala bridal style. Arion dan Antia pun tersenyum melihat kedekatan kedua anaknya.
Saat itu tampak Arion mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
📞
“Hallo Vian.” Ucap Arion memulai.
“Iya tuan.” Jawab Vian diseberang sana.
“Bagaimana, soal surat pendaftarannya??” Tanya Arion seketika membuat Antia menoleh.
“Sudah selesai tuan... Seragam tuan muda sudah datang dan juga vila yang akan dihuni tuan muda sudah dibersihkan.” Jawab Vian diseberang sana.
“Baguslah kalau begitu... Dan iya bersihkan juga kamar Arisa... Hari ini Arisa pindah dirawat di Vila.” Ucap Arion.
“Baik tuan.” Jawab Vian.
Tut.
Arion memutuskan sambungan telefonnya. Saat dia menatap sang istri, tampak Antia melamun seolah mencemaskan sesuatu. Arion pun menepuk bahu istrinya pelan.
"Sayang??" Ucap Arion.
"Kalau terjadi sesuatu pada Avindra, aku menyalahkanmu." Ucap Antia membuat Arion menghela napas panjang.
"Iya, aku mengerti... Ayo kita pulang, dan persiapkan kelengkapan Arisa." Ucap Arion dan diangguki oleh Antia.
"Jadi, bagaimana??" Tanya Reanzo.
"Orang ini tidak terlihat begitu jelas tuan... Mengingat dia membelakangi cctv dan kondisi ruangan cukup gelap." Jelas sang pengawas cctv rumah sakit. Reanzo melihat kearah tangan Machel yang hendak menyentuh kening Arisa.
Dia tidak memakai souvenir, itu artinya dia orang lain... Bukan pria yang menyelamatkan Arisa. Batin Reanzo. Saat itulah ponselnya berdering. Rupanya pesan masuk dari Leon.
💬
💬
Me: Aku mengerti
"Renaf kita pulang sekarang." Ucap Reanzo.
"Tidak melihat Arisa kak... Ayolah." Ucap Renafo.
"Nanti sore kita pindah ke Vila, dan besok kita mulai masuk kuliah." Jawab Reanzo membuat Renaf menganggukan kepalanya mengerti.
Disisi Lain
Machel tampak dipukuli tanpa ampun oleh Alan. Bukan hanya itu, Machel dikelilingi oleh anak buah Alan. Machel terlalu penasaran dengan Arisa sehingga dia melupakan misinya.
Bugh!!! Bugh!!! Bugh!!!
Setelah memukuli rekan terdekatnya itu, Alan menarik kerah baju Machel.
"Apa kau tau akibat jika anak buah Anvert menangkapmu?!! (Meniju pipi kanan Machel sampai bibirnya berdarah.) Lihat sekeliling mu!" Ucap Alan dingin dan tegas. Tampak Machel menatap sekitar.
Bugh!!!!
Alan menendang bagian dada Machel membuat Machel tersungkur.
"Cukup tuan." Ucap salah satu anak buahnya.
Bugh!!!!
Alan menendang bagian punggung Machel. Tentu membuat lainnya bergidik ngeri. Setelahnya Alan menatap anak buahnya yang berbicara tadi.
"Kenapa??" Tanya Alan dingin.
"Maaf tuan, tuan Machel hanya telat 1 menit... Lagipula kita baru memulai rapat misinya." Jawabnya dengan kaki bergetar.
Bugh!!!
Alan menendang kaki anak buahnya itu membuat dia tersungkur.
"1 menit apa itu bukan waktu??! Benar benar b*doh... Kalian semua bubar, lakukan tugas kalian masing masing!" Titah Alan kemudian pergi.
"Baik." Jawab mereka serentak. Tampak beberapa orang mengangkat tubuh Machel yang babak belur.
"Aw... Aw, sakit." Rintih Machel saat diobati oleh salah satu rekan wanitanya. Panggil saja Serly.
Bugh!!
Serly justru memukul punggung Machel.
"Tau sakit kenapa harus menyusup?!! Sudah tau sifat Alan bagaimana masih saja begitu." Ucap Serly sembari mengobati bibir Machel.
"Lebih halus sedikit kenapa??" Protes Machel saat Serly membarut lukanya kasar.
"Makanya jangan sok berani, kau masih jauh dibawah Alan." Ucap Serly kemudian membereskan peralatan P3K dan pergi.
Ada sekitar 70 anak buah yang Alan bawa dan sekitar 20 orang adalah wanita yang bertugas mengobati lainnya saat terluka. Serly Elizabeth yang mengepalai para wanita dan juga sahabat masa kecil Alan dan Machel. Tidak heran dia yang mengepalai para anggota wanita.
"Sakit???" Tanya Alan kemudian duduk dihadapan Machel.
"Humph! Setelah diobati baru tanya sakit... Ya sakit lah, tulangku serasa hancur." Jawab Machel.
"Harusnya itu sebagai pelajaran... Besok kita memulai misi dan kau masih meluangkan waktu membuat masalah." Ucap Alan membuat Machel terdiam. Memang ini salahnya karena menyusup tanpa seizinnya. Beruntung tidak ketahuan, jika ketahuan akan menjadi sangat menyusahkan bagi Alan.
"Tapi gadis itu sangat cantik Alan... Kau akan terpesona saat..... (Alan pergi.) Hey, Alan!!! Dasar benteng antartika!!" Kesal Machel. Dan tentu tidak direspon oleh Alan. Saat akan masuk ke ruang baca, tampak Serly memanggil.
"Alan." Panggil Serly membuat Alan berbalik.
Serly pun berjalan mendekat.
"Kau sudah bulat dengan keputusanmu??" Tanya Serly khawatir.
"Kau kira aku berbohong??? Urusi saja suamimu dia masih kesakitan." Jawab Alan kemudian masuk.
"Apa??!!" Teriak Serly dengan rona di wajahnya.
(Visual Ruang Baca Alan.)
Alan tampak mengambil sebuah buku di rak. Setelahnya Alan tampak duduk di kursi berputarnya. Dia membuka bukunya dan sebuah sketsa dilembar kertas yang lebarnya setengah dari meja itu. Wajah tampannya tengah fokus pada sketsa yang digambarnya. Dia mengambil penggaris dan menujuk beberapa bagian. Mungkin untuk mengecek kesalahan pada bagian sketsanya.
Sangat mudah. Batin Alan kemudian menekan monitor yang ada disampingnya.
"Suruh bagian modifikasi senjata membawa rancanganku." Titah Alan kemudian mematikan monitornya.
(Visual Alandra Zaials)
Kelihatan nggak tuh si Alan😆 Ciee penasaran, makanya pantengin terus ya supaya tau seperti apa si benteng Antartika itu😃🤭 Dan Author nggak nyangka udah ke 100 Episode Matchmaking By My Brother, author bakalan sering update nih😘😍 Buat para readers yang setia menunggu update dari author mksh banyak ya love buat kalian💞❤😘 Oke sampai ketemu di episode selanjutnya💞😍