
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Cklekkk!
Antia membuka pintu kamarnya perlahan. Tampak Arion duduk dibibir ranjang dan senang dengan kehadirannya. Antia menutup kembali pintunya kemudian mendekat ke arah Arion. Dia duduk disamping suaminya.
"Ada apa??" Tanya Antia sembari menatap suaminya.
"Sayang apa kamu izinkan jika Avindra kuliah lagi di kampus Arumettra Bangsa??" Jawab Arion kembali bertanya.
"Emm... Boleh saja, mungkin Avindra ingin S1 atau—"
"Tapi dengan identitas samaran." Ucap Arion memotong. Tampak Antia menatap Arion terkejut.
"Samaran?? Maksud kamu Avindra menyamar?? Nggak aku nggak izinin." Ucap Antia sembari bangkit dari duduknya.
"Sayang ayolah... Avindra sudah dewasa, dia—"
"Nggak ya nggak mas... Kenapa sih kamu maksa?" Ucap Antia dengan nada kesal.
"Bukan begitu sayang... Avindra—"
"Iya dia sudah dewasa mas... Tapi yang ada di kampus itu bukan orang sembarangan... Saat menjadi Avindra saja mungkin dalam bahaya apalagi menyamar.... Nggak aku nggak izinin." Ucap Antia.
"Sayang." Ucap Arion membujuk.
"Nggak." Jawab Antia ketus.
"Sayang." Bujuk Arion lagi.
"Nggak ya nggak mas!!" Jawab Antia dengan nada tinggi.
"Kamu teriak ke suamimu sendiri!!!" Ucap Arion dengan nada lebih tinggi.
Bentakan Arion membuat Antia terdiam. Pertama kali sejak pernikahannya Arion membentaknya. Membuat Antia heran apakah sepenting itu penyamaran Avindra daripada keselamatannya?
Sadar dengan apa yang diucapakan membuat Arion menghela napas panjang. Karena memang baru kali ini Antia berani bicara dengan nada tinggi. Tentu membuat Arion terhanyut dalam emosinya.
"Sayang aku tadi— (Antia pergi dengan cepat.) Sayang.... Sayang." Panggil Arion dan mengejar Antia.
Cklekk!! Bamm!!
Antia masuk kedalam kamar Arisa dan mengunci pintunya dari dalam. Beruntung Arisa masih terlelap dan tidak terganggu dengan suara pintu tertutup tadi. Perlahan Antia mendekati putrinya yang tertidur pulas. Dia menghusap kening Arisa dan menciumnya.
"Kakak penyelamat." Lirih Arisa mengigau.
Kakak penyelamat?? Apa pria yang menolong Arisa saat itu?? Batin Antia. Tampak Arisa memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Antia. Antia tersenyum dan menghusap pipi putrinya.
"Bunda berdoa semoga kamu bertemu dengan kakak penyelamat mu itu, bunda akan tidur bersama mu beberapa waktu." Bisik Antia. Dia pun menarik selimut dan ikut terlelap.
Sedangkan dengan Arion terdiam di depan pintu kamar Arisa. Arion tau jika kamar Arisa tidak memiliki kunci cadangan, jika pun ada hanya Arisa yang memilikinya. Arion menghela napas panjang.
Huft, Avindra jika bukan karena kamu... Ayah pasti tidak akan membentak bundamu... Hanya sebuah kampus itu... Kenapa sejak dulu kamu selalu begitu Avindra. Batin Arion. Tidak ingin menggangu, Arion memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Malam yang sangat berat bagi Arion.
Tengah malamnya, Avindra baru pulang dari BAR. Dalam pikirannya, Antia akan menghadangnya dan memberikan jeweran ditelinganya. Namun tidak, hanya ada beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruangan dan hendak mematikan lampu utama. Avindra melepaskan sarung tangannya sembari mendekat ke arah Vian.
"Vian apa terjadi sesuatu??" Tanya Avindra.
"Tidak tuan... Sepertinya nyonya dan tuan besar sudah tidur." Jawab Vian. Karena memang dia tidak tau jika Antia dan Arion tengah bertengkar.
"Pantas saja... Lalu Arisa??" Tanya Avindra lagi.
"Nona muda juga sudah tidur sejak ditinggal anda tuan... Dia sepertinya marah pada anda." Ucap Vian.
"Tentu tuan." Jawab Vian kemudian kembali ke kamarnya setelah mematikan lampu utama.
Keesokan Harinya
Pukul 5 pagi, Rian dan kedua orang tuanya sampai di Indonesia. Rian menghela napas panjang sembari memejamkan matanya. Dia sudah sangat tidak sabar bertemu dengan Arisa. Iya, hanya itu yang ada dipikiran Rian saat ini.
"Mi, kita langsung lihat Arisa yah." Ucap Rian.
"Sabar sayang... Toh, nanti malam kan Arisa datang ke rumah buat dinner." Jawab Niranda membuat Rian cemberut.
"Lagian kamu aneh... Kenapa cuman Arisa doang yang ditanyain?? Kenapa nggak Avindra, Rean, dan Renaf??" Ucap Zain menatap putranya.
"Oh ayolah papi... Mereka ini sudah dewasa pasti kabarnya baik baik saja." Jawab Rian seenaknya.
"Jadi, dalam kata lain Arisa belum dewasa gitu??" Ucap Zain membuat Rian kesal.
"Haha... Papi hanya bercanda, jangan kesal gitu nanti tambah tua... Arisa berpaling ke Leon." Goda Zain.
"Papi!" Ucap Rian dan hanya direspon tawa kecil dari Zain.
Saat hendak masuk kedalam mobil, Zain terhenti melihat sebuah mobil hitam melintas dengan si pengemudi menatap Zain sekilas pula. Entah mengapa, Zain merasa sangat tidak asing saat melihatnya. Melihat hal itu, membuat Niranda menepuk bahu suaminya.
"Mas ayo masuk... Kok melamun sih??" Ucap Niranda.
"Eh iya sayang." Jawab Zain kemudian masuk kedalam mobilnya. Perlahan mobil itu pun membawa mereka ke tempat tujuan.
Anazo sudah meninggal... Kenapa aku masih memikirkannya?? Jika aku memberitaukan Niranda dan membuatnya mengingat Anazo... Dia pasti akan sangat sedih. Batin Zain.
Di Vila Arion
Arisa membuka matanya dan terkejut melihat ibunya yang dia peluk. Pantas saja Arisa sangat nyaman dalam tidurnya, rupanya dia memeluk tubuh ibunya begitu erat. Saat itu, tampak Antia membuka matanya. Dia tersenyum menatap Arisa.
"Good morning sayang." Sapa Antia sembari mengelus puncak kepala Arisa.
"Morning bund, bunda kenapa tidur disini??" Tanya Arisa sembari menatap Antia yang sedang mengikat rambutnya.
"Gak kenapa kenapa kok sayang... Udah sekarang kamu mandi dan bersiap buat berangkat sekolah." Jawab Antia.
"Oke bund." Ucap Arisa sembari mengacungkan jempolnya.
Cklekk!
Antia membuka pintu dan keluar memanggil pelayan untuk mengambil pakaiannya yang berada di kamarnya. Antia benar benar masih marah dengan Arion. Dia tidak akan kembali ke kamarnya sampai Arion mengikuti kemauannya. Beberapa saat kemudian pelayan yang Antia minta pun membawa beberapa stel baju.
"Ini nyonya." Ucapnya.
"Terima kasih Hilly." Jawab Antia kemudian membiarkan pelayannya pergi.
Setelah mereka bersiap siap, tampak Arisa dengan wajah cerianya menghampiri Avindra dan Arion yang sudah ada di meja makan. Berbeda dengan Antia yang memberikan aura dingin.
"Pagi ayah tampan... Pagi kakak jelek." Sapa Arisa sembari duduk disamping Avindra.
"Pagi sayang." Jawab Arion sembari tersenyum agar tidak membuat kedua anaknya curiga.
"Arisa apa kamu tidak lihat betapa tampan dan mempesonanya kakakmu ini... Kenapa kamu memanggil kakak jelek??" Ucap Avindra tidak terima.
"Karena kakak tidak setampan ayah... Dan semempesona kakak penyelamat. Lagi pula aku masih kesal sama kakak." Ucap Arisa mengejek. Saat itulah Antia menuangkan nasi ke piring Arisa.
"Arisa sarapan dulu... Baru bercanda." Ucap Antia berusaha selembut mungkin.
"Bunda kenapa??" Tanya Avindra sembari menatap Antia.
"Memang bunda terlihat sakit??" Tanya Antia sembari mengambil lauk pauknya.
"Tapi bunda—"
"Avindra jangan banyak tanya... Sarapanlah dulu." Kali ini Arion yang menyahut.
Tidak biasanya bunda dan ayah begini... Ini pasti diantara mereka ada suatu hal yang terjadi. Batin Avindra menyadari antara Antia dan Arion terjadi masalah.
Keyakinan Avindra semakin bertambah saat Arion berangkat hendak berpamitan pada Antia, Antia justru pergi ke kamar Arisa. Tampak Arion menatap punggung istrinya yang perlahan menjauh.