
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
"Loh Sis, itukan pak Lukas?? Ngapain ke kampus kita??? Jangan jangan tau ada kamu disini." Goda Antia.
"Apaan sih... Palingan kakak tua narsis itu ada kepentingan." Jawab Sista kemudian pergi.
"Lah kok ngambek... Sis... Sista." Panggil Antia kemudian mengejar Sista.
Di Kantor
Lukas memasuki ruang kantor dan melihat Dicko Fermansyah tengah duduk. Lukas pun menatap Dicko dengan malas.
"Mulai besok kampus ini dikendalikan olehmu." Ucap Dicko tanpa basa basi.
"Haha... Lucu sekali, begitu mendapat ancaman kau mengundangku untuk menjadi tameng mu??! Ayah macam apa kau ini." Sindir Lukas.
Tampak Dicko terdiam sejenak. Lukas adalah anak pertama dari istri pertamanya sedangkan Fandi anak dari selingkuhannya yang saat ini sudah menjadi istrinya.
"Ayah mohon Lukas... Bantu ayah kali ini saja." Ucap Dicko memohon. Tampak Lukas tersenyum miring.
"Aku akan membantumu tapi dengan satu syarat, kirim kembali Fandi ke Berlin." Ucap Lukas. *Brak!!!* Dicko menggebrak meja cukup keras.
"Kenapa?? Tidak bisa kan?? Maka dari itu aku tidak bisa membantumu." Ucap Lukas dengan nada santai.
"Baiklah... Ayah akan mengirim kembali Fandi ke Berlin tapi jika kau bisa mengendalikan kampus ini dengan baik." Ucap Dicko.
"Baiklah... Aku setuju... Aku pergi, masih ada pekerjaan yang harus ku urus." Ucap Lukas kemudian pergi.
Segitukah kau mengistimewakan anak harammu daripada anak dari istri yang selalu mencintaimu... Aku sangat membencimu. Batin Lukas menatap Dicko sekilas.
Lukas pun masuk kedalam mobilnya dan melajukannya menjauhi area kampus. Lukas memberhentikan mobilnya saat didepan minimarket. Lukas tersenyum saat melihat Antika. Melihat perut besar Antika membuatnya sadar jika Antika bukanlah miliknya.
Ini semua salahku... Seharusnya aku tidak mendengarkan ucapan Rifia. Batin Lukas penuh penyesalan.
Lukas pun keluar dari mobilnya dan menghampiri Antika. Tampak Antika sibuk memilih beberapa cemilan. Sadar ada Lukas, Antika tersenyum ke arahnya.
"Hallo Lukas." Sapa Antika. Tampak Lukas tersenyum dan kini berada disamping Antika.
"Hai Tik... Kau mau membeli sesuatu??" Tanya Lukas.
"Iya beberapa cemilan, dan kau sendiri??" Jawab Antika.
"Terima kasih... Dan aku berdoa semoga kau cepat mendapat pasangan." Ucap Antika membuat keduanya tertawa.
"Sayang apa lagi yang— kamu." Ucap Raka sembari menujuk Lukas.
"Eh jangan salah paham... Aku hanya kebetulan bertemu saja." Ucap Lukas.
"Sayang Lukas benar, kami kebetulan bertemu saja." Ucap Antika. Raka menatap Lukas dengan wajah tak suka.
"Sudah kan, kalau begitu ayo kita pulang." Ucap Raka menarik tangan istrinya.
"Lukas kami pergi dulu sampai bertemu lagi." Ucap Antika.
Lukas pun menanggapinya dengan senyuman. Padahal tadinya Lukas ingin bersahabat dengan Raka, nyatanya Raka masih tidak suka padanya.
Didalam mobil
Raka memasang wajah cemberutnya yang dimana menujukan jika dia sedang kesal. Sadar suaminya kesal, Antika pun menggenggam tangan Raka namun Raka menapisnya.
"Jin jalankan mobilnya." Ucap Raka.
"Sayang, kamu cemburu ya??" Ucap Antika dengan nada sedikit menggoda.
"Nggak, buat apa cemburu." Ucap Raka sembari memalingkan wajahnya.
Saat Antika hendak merangkul lengan Raka, Raka kembali menapisnya hingga membuat Antika sedikit tergeser dari tempatnya.
"Aw..." Ucap Antika sembari memegangi perutnya. Melihat hal itu membuat Raka menatap istrinya cemas.
"Sayang kamu baik baik saja?? Maafkan aku." Ucap Raka sembari menatap Antika.
Tampak Antika tersenyum dan mencium bibir suaminya. Antika mengalungkan kedua tangannya pada leher kekar suaminya. Tentu membuat Raka dengan senang hati membalas ciumannya.
"Sudah tidak marah lagi kan??" Ucap Antika sembari membelai wajah tampan suaminya.
"Tidak... Tapi kamu jangan bertemu dengannya lagi. Aku tidak suka... Aku sangat cemburu, kau tau itu kan?? Jika kau tidak ada, aku pasti akan memukulinya habis habis." Ucap Raka.
"Iya sayang... Itu hanya kebetulan, jangan marah ya." Ucap Antika dengan wajah imutnya. Membuat Raka gemas dan mencubit pipinya.
"Kamu menjadi gendut sekarang, jadi imut." Ucap Raka. Sadar yang dia katakan Raka membeku dan menatap wajah istrinya. Dan seperti dugaannya wajah Antika memerah menahan tangisan.
"Kamu bilang aku gendut?? Aku gendut?? Kamu jahat... Hiks hiks..." Ucap Antika sembari menangis. Membuat Raka memijit kepalanya pelan.
Dikit dikit nangis... Aku cuman bilang fakta langsung nangis. Batin Raka.