
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
Sedangkan dengan Renzo.
Dengan wajah kesal Renzo mengemudikan mobilnya. Di satu sisi Renzo masih memikirkan taruhan yang ibunya berikan dan disisi lain Renzo memang masih belum ingin menikah mengingat pembangunan Vila impiannya masih belum selesai.
"Mommy apa apaan sih, diakan tau kalo aku belum mau nikah sampai Vila impianku benar benar selesai. Perkiraan masih sekitar 6 bulan lagi. Dan taruhannya 3 bulan lagi... Sebenernya apa sih yang mommy rencanain. Daddy juga saking cintanya ke mommy sampe nggak mau mbela anak nya sendiri... Aku makin curiga sebenernya aku ini anak mereka apa bukan sih??" Lirih Renzo sembari menyetir.
Tiba tiba saja Renzo terjebak macet. Ini hal yang paling Renzo tidak suka. Renzo menurunkan kaca mobilnya dan melihat seorang peria paruh baya lewat.
"Pak...pak...(Peria itu mendekat dan Renzo membuka kacamata hitamnya.) Apa anda tau yang terjadi didepan??" Tanya Renzo sopan.
"Oh... Didepan ada kecelakaan tuan...korban sedang menunggu ambulanc datang." Jawab peria paruh baya itu.
"Oh gitu ya... Terima kasih banyak pak." Ucap Renzo.
"Sama sama tuan... Saya permisi." Jawab peria paruh baya itu.
Peria paruh baya itu pun pergi. Entah mengapa Renzo merasa khawatir. Karena penasaran Renzo akhirnya keluar dari mobil sportnya. Dia pun menggunakan masker dan berjalan mendekati tempat kejadian.
Sesampainya disana. Renzo melihat semua orang bergerombol mengelilingi tempat kejadian. Renzo yang semakin penasaran pun menyela diantara kerumunan itu. Setelah bebas dari kerumunan, Renzo pun mendekati tempat korban kecelakaan.
Mata Renzo terbelak begitu melihat Aline yang merintih dengan luka di tangan dan kakinya yang bisa dibilang parah. Tanpa pikiran panjang lagi Renzo melepas kardigannya dan membalutkannya pada tubuh Aline.
Aline pun terkejut begitu tau jika Renzo yang membalutkan kardigan padanya. Tidak peduli tubuh Aline yang penuh darah, Renzo menggendong Aline perlahan.
"Kau...apa yang...aww!!" Ucap Aline merintih.
"Diamlah... Lukamu berat aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Maka bekerja sama lah." Jawab Renzo fokus dengan jalan.
"Aku benci padamu kenapa kau menolongku??"
"Sebenci apapun kau padaku, kau tetap manusia yang membutuhkan bantuan... Dan aku lah yang kamu butuhkan sekarang." Jawab Renzo membuat Aline tertenggun.
Renzo pun perlahan mendudukan Aline dibangku belakang. Setelah itu Renzo pun melajukan mobilnya menjauhi tempat kejadian dan menuju ke rumah sakit.
Tidak ada percakapan apapun. Aline fokus menutupi tubuhnya karena lukanya terus mengeluarkan darah. Sedangkan Renzo dengan sedikit cemas dengan kondisi Aline.
Beberapa saat kemudian Renzo pun sampai dirumah sakit. Segeralah Renzo membawa Aline ke ruang ICU. Renzo pun keluar dan menunggu diruang tunggu.
"Kita bertemu lagi tuan." Ucap Kean tiba tiba membuat Renzo terkejut.
"Kau lagi... Apa kau tidak ada kerjaan lain jomblo karatan." Ucap Renzo kesal.
"Anda juga jomblo tuan." Ucap Kean santai.
Senjata makan tuan. Batin Kean puas.
"Dasar sekertaris gila... Aku sumpahin kamu jadi lebih gila saat bertemu seorang gadis yang membuatmu tergila gila padanya." Ucap Renzo.
"Terima kasih dan hal itu tidak akan pernah terjadi." Jawab Kean kemudian pergi.
"Dasar sekertaris gila!!!" Ucap Renzo sedikit berteriak.
"Sepertinya akan sangat lama dokter menangani... Lebih baik aku jenguk Arion saja." Lirih Renzo kemudian pergi.
Sesampainya di ruang VIP tempat Arion menginap. Tampak didepan pintu dijaga oleh lima orang bertubuh kekar. Saat Renzo akan masuk salah satu dari mereka menceghat.
"Maaf tuan anda ada hubungan apa dengan tuan Arion?"
"Aku saudara nya. Biarkan aku masuk." Ucap Renzo menerobos begitu saja.
Saat Renzo masuk matanya terbelak melihat Arion berdiri dan memandang jendela. Segeralah Renzo mendekati Arion dengan wajah penuh kecemasan.
"Arion!!! Ya ampun kamu ini terbuat dari apa??!! Jika Antia melihatmu begitu dia akan memarahiku 7 tahun 7 bulan 7 hari." Ucap Renzo sembari memaksa Arion agar kembali duduk di ranjang.
"Kak Ren kapan kemari?"
"Baru saja, Arion dokter bilang kau jangan banyak bergerak atau lukamu akan kembali terbuka. Kau ini bagaimana??" Ucap Renzo sembari memandang Arion memastikan dia baik baik saja.
"Aku baik baik saja. Ini sudah malam untuk apa kamu kemari?? Dan...(Memandang baju Renzo.) Pakaianmu penuh darah, apa terjadi sesuatu??" Tanya Arion.
"Em...ada seorang wanita yang menarik perhatian ku... Dia kecelakaan dan aku membawa nya kemari." Jawab Renzo.
"Cepat sekali, bukankah baru tadi pagi diberi taruhan oleh paman dan bibi." Ucap Arion.
"Kau tau??"
"Tentu saja, paman dan bibi kemari kemudian memberitau ku hal itu. Sudah lah aku mau istirahat kau boleh pergi." Ucap Arion.
"Humph... Bisa bisanya kau mengusirku... Tapi baiklah kau cepat lah sembuh. Aku pergi dulu." Pamit Renzo dan diangguki oleh Arion.
Renzo pun melangkahkan kaki meninggalkan Arion sendiri. Arion menghela napas panjang dan memejamkan matanya. Perlahan Arion pun terbawa ke alam mimpi.
Keesokan Harinya
Aline membuka matanya perlahan dan melihat kakinya sudah diperban. Aline pun memegang tangan kirinya yang juga diperban. Perlahan Aline pun mengingat kejadian sampai akhirnya di rumah sakit.
"Ayah." Ucap Aline.
"Rea sayang kamu kenapa sampai begini?? Sudah ayah katakan untuk tidak mengendarai motor. Untung tangan dan kakimu akan baik baik saja setelah beberapa bulan." Ucap Ayah Aline cemas.
"Maaf ayah, Rea nggak bakal ulangin lagi." Jawab Aline.
"Janji??"
"Janji Ayah ku tersayang." Ucap Aline sembari tersenyum.
"Ya sudah kamu sarapan dulu... Tadi Arila sama Antika akan jenguk kamu nanti siang." Ucap Ayah Aline.
"Kenapa ayah beritau mereka??" Tanya Aline. Ayah Aline tak menjawab dan menyuapi Aline.
"Mereka terus menelfon ayah nak... Mereka mencemaskanmu jadi ayah memberitau mereka." Jawab Ayah Aline.
Aline hanya mengagguk dan juga tertenggun dengan kepedulian kedua sahabat nya. Meskipun, dia terlalu dingin saat bersama. Namun sebenarnya Aline sangat menyayangi mereka.
"Oh iya, tadi dokter bilang seorang peria muda membawamu kemari dan membayar semuanya sampai kamu benar benar sembuh. Siapa peria muda baik itu??" Tanya Ayah Aline.
"Aku tidak tau." Jawab Aline singkat.
"Ya sudah tidak apa apa. Sekarang ayo kamu sarapan dulu." Ucap Ayah Aline.
Aline pun menerima setiap suapan dari ayahnya. Ayah Aline bernama Rifal Wismajaya. Sedangkan nama panjang Aline adalah Realine Putri Wismajaya. Seusai sarapan Aline pun meminum obat dan kemudian beristirahat.
Di Vila Andian
Antia sudah bersiap siap untuk bersekolah. Hari ini adalah hari pertama ujian dimulai. Setelah bersiap siap segeralah Antia menuju ke ruang makan untuk sarapan. Tampak Andian dan Arila sudah menunggu.
"Pagi kak...kakak ipar." Sapa Antia sembari menarik kursi kemudian duduk.
"Pagi." Jawab mereka serentak.
"Aku dengar kamu ujian sekarang??" Tanya Andian.
"Iya kak sampai beberapa pekan... Setelah itu libur akhir semester." Jawab Antia.
"Kerjakan dengan teliti jangan asal. Dan semoga nilaimu bagus." Ucap Andian.
"Oke kak." Jawab Antia bersemangat.
Setelah percakapan pendek itu mereka pun melanjutkan sarapan mereka. Sejujurnya Antia bersemangat karena pagi pagi buta Arion menelfon Antia dan memberinya semangat juga godaan. Membuat Antia tersenyum cerah pagi ini. Beberapa saat kemudian mereka pun selesai sarapan dan bersiap.
"Kakak ipar aku berangkat ya...(Mencium pipi kanan Arila.) Doakan aku dan Sista agar mendapat nilai yang bagus." Ucap Antia.
"Tentu...doa kakak akan selalu untuk adik adiknya... Hati hati dijalan." Jawab Arila sembari tersenyum.
"Aku berangkat, jaga dirimu baik baik." Ucap Andian dan hanya diangguki oleh Arila.
Andian dan Antia pun masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil itu pun menjauhi area Vila. Arila pun masuk kedalam Vila dan menuju ke kamarnya.
Sampai kapan renofasinya selesai?? Aku tidak mau harus bertengkar sebelum tidur dan membuat ku mimpi buruk. Batin Arila.
Di perjalanan. Antia tampak menghafal materi materi yang dia pelajari semalaman. Membuat Andian bangga dengan usaha adik kesayangannya.
"Kak...(Andian menatap sekilas.) Ada yang ingin aku katakan." Ucap Antia.
"Katakan."
"Em... Apa kakak akan menceraikan kakak ipar??" Tanya Antia hati hati.
"Kenapa kamu tiba tiba bertanya begitu??"
Jangan bilang jika Arila memberitau soal perceraiannya pada Antia. Batin Andian.
"Karena aku sudah nyaman dengan kakak ipar... Dia sangat baik sama seperti kak Kania." Jawab Antia mengingat kekasih Glan.
"Jika kami bercerai kenapa??" Tanya Andian.
"Aku dan kak Arion sepakat akan mengakhiri hubungan kami." Jawab Antia sembari menunduk.
"Apa maksudmu??"
"Iya, aku tau kakak membenci kakak ipar... Terlihat jelas saat kakak memperlakukan kakak ipar... Jadi sehari setelah kakak menikah aku dan kak Arion membuat kesepakatan... Sebenarnya kak Arion tidak setuju namun aku sedikit memaksanya. Jika hubungan kakak hancur kenapa hubungan ku tidak??" Jelas Antia.
"Sudah sampai, aku berangkat dulu kak." Pamit Antia langsung turun dari mobil.
"Iya, belajarlah yang rajin rajin." Jawab Andian.
Perlahan Antia pun meninggalkan Andian yang terdiam didalam mobil. Andian memukul stir mobil karena kesal.
"Ah!!! Apa yang harus ku lakukan... Antia tidak main main jika dia mengatakan iya pasti akan terjadi. Dan jika hubungan Antia benar benar hancur kak Glan pasti akan sangat kecewa padaku. Apa aku harus menerima dia??" Ucap Andian.
Andian pun dengan pikiran tidak fresh melajukan mobilnya menjauhi area sekolah. Membuat Antia berbalik menatap mobil kakaknya yang perlahan menjauh.
Maaf kak aku berbohong, ini demi kebaikan mu... Aku tidak mau kakak seperti ini terus. Dan harapan ku hanya kakak ipar yang bisa merubahmu kak... Aku sayang kakak dan ingin kakak berubah. Batin Antia.