Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 1 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


{18 Tahun Kemudian}


Pesawat xxx mendarat sempurna dilandasan. Tampaklah seorang peria memakai syal hitam dilehernya dan kacamata hitam bertengger diwajahnya. Peria berumur 24 tahun itu tampak menyeret kopernya dan beberapa beberapa barang bawaannya. Orang orang disekitar bandara tampak kagum dengan ketampanan peria tersebut.


"Sudah 18 tahun... Dan sekarang saatnya aku menjalankan misiku." Lirih peria tersebut.


"Tuan mobil menunggu anda didepan." Ucap peria sebaya dengannya. Tanpa merespon peria itu langsung berjalan melewatinya. Mereka berdua pun masuk kedalam mobil mewahnya.


Di Kediaman Anvert


Seorang gadis muda berumur 18 tahun tengah berupaya keluar dari rumahnya. Gadis itu tampak kebingungan menatap pagar rumahnya yang tinggi. Dia pun diam diam mengambil kursi taman dan hendak memanjat pagarnya.


"Arisa!!!!" Panggil Arion membuat gadis itu membeku.


"Ayah." Ucapnya.


Gadis itu tidak lain anak bungsu Antia dan Arion. Sifatnya ceria jail dan suka manja membuatnya banyak disukai orang. Colvis Arisa Putri Anvert.


"Turun, kamu mau manjat pagar lagi?? Nanti jatuh nangis." Omel Arion pada putrinya.


Arisa turun dari atas kursi dan berlari menghampiri ayahnya. Dia pun merangkul lengan ayahnya manja dan tentu membuat amarah Arion mereda.


"Ayahku yang tampan, Arisa cuman pengen keluar main bareng temen temen Arisa... Boleh ya??" Pinta Arisa manja.


"Nggak, Ayah nggak izinin... Katanya mau ikut ayah jemput kakak kamu?" Ucap Arion. Tampak Arisa memandang Arion berbinar.


"Iya, Arisa ikut... Arisa mau siap siap dulu...(Mencium pipi Arion.) Arisa sayang ayah." Ucap Arisa kemudian pergi menjauhi Arion.


"Sayang kok kamu disini??" Tanya Antia yang baru selesai menyirami bunga kesukaannya.


"Tadi Arisa mau manjat pagar lagi... Kalau jatuh gimana?? Kan bisa izin dulu." Ucap Arion.


"Tapi kan sayang, kalau keluar pasti ada cara biar nggak dijagain pengawal... Aku hanya khawatir saja ada yang mencelakakannya." Ucap Arion.


Saat Antia hendak menjawab, terdengar bunyi klakson mobil. Bertepatan dengan itu, salah satu pelayannya datang berlari kecil.


"Tuan, Nyonya... Tuan muda sudah sampai." Ucapnya.


"Katanya nanti, pasti dia mau ngejutin kita... Iya nggak mas." Ucap Antia.


"Iya sayang, 6 tahun di London... Pasti dia sudah besar sekarang." Jawab Arion. Mereka berdua pun buru buru menghampiri putra sulungnya.


Sesampainya disana, tampak pintu mobil terbuka perlahan. Satu kaki menupu pada tanah disusul satu kakinya. Dan keluarlah peria berbadan kekar juga tampan. Baru beberapa saat disusul lagi peria yang sebaya dengannya keluar dari dalam mobil tersebut. Tampak Antia tersenyum menatapnya.


"Bunda." Panggil peria itu yang tidak lain Avindra. Antia merentangkan tangannya dan dengan berlari kecil Avindra menghampirinya kemudian memeluknya.


"Kamu sudah besar ya sayang... Sekarang jauh lebih tinggi dari bunda." Ucap Antia sedikit berjinjit saat menghusap puncak kepala putranya.


"Tentu saja, sekarang aku sudah besar... Dan lebih tampan dari ayah." Ucap Avindra sembari melirik Arion.


"Kau putraku, memang seharusnya tampan." Ucap Arion dan mereka pun berpelukan. Antia menatap seseorang yang dibelakang Avindra.


"Elliot, kamu sudah besar juga ya... Kelihatan mirip Kean." Ucap Antia.


"Terima kasih tante, kalau begitu saya pamit... Ayah dan ibu pasti menungguku." Pamitnya yang tidak lain Elliot Amanra Pratama, putra tunggal Kean dan Naira. Elliot pun masuk kedalam mobilnya dan pergi.


"Sepertinya ada yang kurang, dimana adik kesayanganku??" Tanya Avindra. Baru mengatakan hal itu, tampak Arisa berlari dan memeluk kakaknya.


"Kakak." Panggilnya sebelum akhirnya memeluk tubuh kekar kakaknya.


"Hahaha... Ternyata kamu merindukanku." Ucap Avindra tertawa kecil. Dikiranya Arisa ikut tertawa, nyatanya dia menangis dipelukannya.


"Loh kenapa nangis?? Katanya seneng kalau kakakmu yang tampan ini pulang??" Ucap Avindra.


"Kakak jahat sama Arisa, kakak pergi keluar negeri lama banget sampai nggak ngasih kabar... Kakak nggak sayang lagi ya, sama Arisa." Ucap Arisa sembari menangis.


Melihat hal itu membuat Antia teringat pada dirinya dulu saat Andian pergi keluar kota hanya beberapa hari. Avindra pun tersenyum dan menghusap air mata adiknya.


"Itu karena kakak tidak ingin mengganggumu belajar... Sudah jangan nangis, cengeng sekali." Ucap Avindra sembari mencubit hidung Arisa.


"Sudah... Sudah... Ayo masuk, kakakmu pasti lelah selama perjalanan. Biarkan dia istirahat." Ucap Arion. Arisa pun mengagguk dan menggandeng tangan Avindra untuk masuk. Setelahnya disusul Antia dan Arion.