
...Jika saja memiliki dua hati, mungkin hati yang sudah retak akan ku buang dan ku ganti dengan yang satunya lagi. ~Colvis Arisa Putri Anvert. ...
...🥀MBMB🥀...
Siang harinya, Rian Niranda dan Zain pamit untuk pulang. Dan itu membuat Arisa bernapas lega karena tak harus lagi berdrama di depan sang mertua. Dia pun langsung ke kamarnya yang jelas terpisah dengan kamar Alan.
Lista lagi apa yah?? Duh, b*go banget sih Arisa... Kenapa kebawa emosi sampe dibanting segala? Batin Arisa mengumpat dalam hati. Arisa menghela napas panjang dan menatap langit langit kamar barunya.
Pengantin pengganti?? Huh! Batin Arisa tersenyum nanar. Saat itu, Alan datang tanpa mengucapkan apapun dan memberikan beberapa lembar kertas.
"Tanda tangani ini." Ucap Alan dingin seperti biasa. Dan Arisa membacanya sekilas. Ternyata perjanjian jika sudah sampai 6 bulan maka pernikahan itu berakhir.
"Kenapa gak lebih cepet aja?? (Mengganti angka 6 dengan angka 1.) Aku, Colvis Arisa Putri Anvert merasa tidak keberatan dengan perjanjian ini... Pernikahan ini akan berakhir setelah 1 bulan!" Ucap Arisa kemudian menandatanganinya.
"Baguslah jika kau sadar diri." Jawab Alan kemudian pergi begitu saja. Meskipun secara lisan Arisa ingin berpisah dengan Alan secepatnya tapi hatinya masih terikat dengan Alan. Yang mana membuatnya meneteskan air matanya.
Apa yang kau harapkan Arisa?? Kenapa aku masih berharap padanya?? Setelah satu bulan, pergilah dan lupakan dia... Masih banyak pria di luaran sana yang mungkin bisa membahagiakanmu. Batin Arisa. Dia pun menghusap air matanya dan membersihkan diri di kamar mandi.
Dia bersiap untuk pergi membeli handphone agar bisa berkomunikasi dengan keluarganya. Setelah bersiap, Arisa keluar dari kamarnya dan pergi tanpa memberitau Alan. Padahal, Alan tengah duduk di ruang keluarga. Begitu keluar, Arisa melihat dua orang pria yang sepertinya supir pribadi.
Naik bus ajalah, toh mereka pasti cuman nurutin ucapannya kak Alan. Batin Arisa. Dia pun keluar dari gerbang.
"Nona muda mau kemana??" Tanya satpam yang menjaga gerbang.
"Keluar sebentar, Makasih pak udah bukain." Jawab Arisa kemudian pergi. Dan Arisa harus berjalan beberapa meter agar sampai ke halte bus. Dan sepanjang perjalanan, Arisa melamun.
Aku selalu di sayang oleh bunda dan ayah... Dilindungi oleh kakak kakakku... Dimanja oleh aunty dan uncle... Tapi sekarang?? Aku dibiarkan begitu saja oleh pria yang aku cintai dan yang sekarang berstatus suamiku... Bukan hanya dibiarkan, melainkan tidak dianggap sebagai istri tapi dianggap sebagai pengantin pengganti. Batin Arisa tersenyum nanar.
Dia menahan air matanya tak ingin para penumpang bus melihatnya. Sesampainya di sebuah mal, Arisa melihat seorang yang selama ini menghindarinya. Siapa lagi jika bukan Leon. Arisa berjalan mendekat sedangkan Leon terdiam. Dia sudah tertangkap basah menghindari Arisa.
"Hai Arisa." Sapa Leon bersikap biasa saja.
"Kakak menghindari ku?? P*ngecut!" Ucap Arisa. Leon hanya tersenyum dan menatap wajah cantik Arisa.
"Aku memang p*ngecut Arisa... Itu sebabnya aku menghindarimu, dan iya... Selamat atas pernikahanmu dengan Alan... Kalian memang ditakdirkan bersama, dan sampai kapan pun begitu... Aku selalu bahagia jika kau bahagia." Jawab Leon.
Aku menderita kak, apa kakak juga menderita. Batin Arisa.
"Terima kasih, kakak disini sendiri??" Tanya Arisa.
"Iya, istri ku ada di rumah sakit karena kemungkinan besok atau lusa melahirkan... Aku pergi dulu Arisa, istri ku menunggu ku." Jawab Leon. Arisa pun menganggukan kepalanya pelan dan membiarkan Leon pergi.
Di mall, Arisa membeli handphone asal dan tidak memperdulikan harga. Arisa sedikit iri saat di dalam mall, banyak para pasangan entah itu pasturi maupun pacaran memamerkan kemesraannya. Yang mana membuat mood Arisa benar benar tambah down.
Andai sifat kak Leon ada di kak Alan... Pasti akan berusaha menerimaku walau hatinya untuk orang lain... Astghafirullah Arisa, berhenti berharap... Setelah 1 bulan semua berakhir. Batin Arisa.
"Arisa!"
"Kak Reanzo." Ucap Arisa. Tampak Reanzo mendekat sembari menggendong Zyan.
"Kau kesini sendirian?? Tanpa Alan?? Alan membiarkanmu begitu saja??" Tanya Reanzo tampak emosi.
"Tidak berbohong??" Ucap Reanzo memastikan.
"Tidak kak... Kakak tumben kesini??" Tanya Arisa.
"Ayah memintaku mengecek beberapa mall karena besok hari valentine, ingin kue macaron coklat??" Ucap Reanzo.
"Hahaha! Kak kau ini... Harusnya kak Amyla yang kau tanyakan hal itu, bukan aku." Ucap Arisa sembari tertawa kecil. Yang mana membuat Reanzo menggelengkan kepalanya pelan dan menghusap puncak kepala Arisa.
"Kakak iparmu itu hanya suka buku, dia bahkan mencintai buku bukan aku." Ucap Reanzo.
"Akan aku adukan pada Mama." Ucap Zyan membuat Reanzo membeku. Dia lupa jika membawa anaknya yang super jujur.
"Oh iya Zyan kau ingin apa?? Arisa kakak pergi dulu, kabari kakak jika akan pulang pasti kakak antar." Ucap Reanzo. Arisa hanya meresponnya dengan anggukan.
"Besok valentine, pantas saja kemarin kakak mencari restoran romantis... Ternyata untuk itu... Mungkin besok aku tidak akan keluar kamar." Lirih Arisa. Begitu selesai membeli handphone, cemilan dan kue macaron kesukaannya Arisa langsung pulang.
Begitu sampai, Arisa melihat mobil Alan tidak ada. Mungkin dia sudah pergi, toh pergi atau tidak sama saja tidak menganggapnya ada kan?? Arisa membawa belanjannya langsung ke kamar dan mengunci diri. Dia berniat tidak keluar sampai lusa. Beruntung di dalam kamar terdapat lemari es yang canggih dan Arisa bisa menyimpan makanannya disana.
"Chat Lista aja kali ya, siapa tau dia tidak sibuk." Lirih Arisa. Dia pun menelefon sahabatnya namun tidak bisa dihubungi.
Ya Allah, kenapa dengan anak ini?? Tidak mungkin kan dia sibuk karena besok valentine?? Batin Arisa. Kesal dia pun merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Tau akhirnya begini, seharusnya aku tolak semalam... Tapi, aku tidak mau mengecewakan kakakku... Sudahlah, lebih baik aku tidur." Lirih Arisa kemudian memejamkan matanya. Dan baru memejamkan matanya sebuah bel pintu kamarnya berbunyi.
"Duhh! Siapa?!!"
"Maaf nona, saatnya makan siang... Tuan muda sudah menunggu anda."
"Aku sudah kenyang! Jangan ganggu aku, aku mau tidur." Jawab Arisa.
"Tapi nona jika anda sakit—"
"Jika aku mati pun tidak akan ada yang peduli, pergi dan jangan ganggu tidurku!" Ucap Arisa dengan nada lebih tinggi dan menarik selimutnya. Pelayan didepan pintu pun pergi dan menemui Alan yang duduk di ruang makan.
"Nona tidak mau keluar tuan, dia bilang sudah kenyang dan ingin tidur... Saat saya mengingatkannya akan sakit, nona bilang••" Pelayan itu menceritakan semuanya secara detail. Yang mana membuat Alan menghela napas panjang dan bangkit dari duduknya.
"Buang semua makanannya! Jika ingin kau makan maka ajak pelayan lain dan harus habis." Ucap Alan kemudian pergi ke kamarnya.
"Tapi tuan anda belum—"
"Cukup patuhi perintahku!" Ucap Alan penuh penekanan.
"Baik tuan." Jawabnya tak ingin berdebat. Bisa bisa dia dipecat oleh Alan. Begitu melewati kamar Arisa, Alan mendengar isakan tangis Arisa. Karena memang kamar Arisa tidak kedap suara jadi bisa didengar dari luar.
"Dasar cengeng!"
...🥀🥀🥀...
NEXT PART\=>