Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 79



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Di sebuah danau


Lukas tampak menatap keindahan danau yang sering dia kunjungi apabila merasa bahagia ataupun sedih. Dan saat ini Lukas merasakan keduanya. Bahagia Antika mendapatkan kebahagiannya, sedih karena dia pernah menyianyiakan Antika hanya mengikuti kemauan Rifia mantan tunangannya, yang Dicko jodohkan untuknya dulu saat masih berpacaran dengan Antika.


Ini memang salahku, dan memang menjadi balasanku... Aku pikir Raka akan terus membencinya, tapi tak kusangka dia justru sangat mencintainya sekarang... Cinta memang akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Batin Lukas sembari menatap langit sore yang cerah.


"Lalu bagaimana??! Sekarang sudah sore, aku harus pulang." Ucap seorang gadis membuat Lukas menengok.


"Siapa yang marah marah, mengganggu saja." Lirih Lukas kemudian mendekat ke sumber suara.


Rupanya gadis itu tidak lain Sista yang tampak cemas. Dia berkali kali melihat ke arah jam tangannya sembari menunggu supir taxi sedang memeriksa ban mobilnya yang kempes.


Gadis cerewet?? Batin Lukas.


"Ini pak, saya jalan saja... Keluarga saya ada acara nanti bisa telat." Ucap Sista sembari memberikan uang.


Sista pun berlari kecil meninggalkan sang supir taxi itu sendirian. Baru beberapa langkah tiba tiba dia menabrak seseorang yang tidak lain Lukas.


"Aduh... Siapa sih?? Kalau jalan liat liat dong." Kesal Sista.


"Kamu yang jalan liat liat... Sama yang lebih tua nggak ada sopan sopannya." Ucap Lukas. Sista pun mendongak menatap Lukas.


"Ya ampun mimpi apa semalam... Pertama telat ke kampus... Ban bocor dan sekarang ketemu orang narsis tingkat angkut sepertimu... Minggir aku mau pulang." Kesal Sista hendak pergi.


Namun Lukas menceghat dengan menghadangnya menggunakan tubuhnya.


"Berani pulang sendiri... Kamu ini gadis loh, nggak baik jalan sendirian." Ucap Lukas.


"Apa pedulimu??" Ucap Sista sembari memicingkan matanya. Tampak Lukas memijat pelipisnya pelan.


"Bisa tidak kau bicara lembut... Tidak kasar seperti ini??" Tanya Lukas.


"Bisa jika pada orang yang tidak ku benci... Awas." Jawab Sista kemudian meninggalkan Lukas. Lukas menatap punggung Sista yang perlahan menjauh. Lukas tersenyum melihat wajah kesal Sista.


"Benar benar gadis menarik." Lirih Lukas.


Sedangkan dengan Sista, buru buru dia masuk ke rumahnya. Sebenarnya Sista ingin meminta bantuan pada Lukas namun, mengingat kenarsisan Lukas membuat Sista enggan meminta bantuan padanya.


"Aku pulang." Ucap Sista sembari masuk kedalam rumah.


"Sista sayang kok kamu baru pulang nak, darimana aja??" Tanya Tarti tampak cemas dan mengecek Sista.


"Maaf bu tadi ban taxinya bocor jadi aku telat pulang." Jawab Sista.


"Oh gitu... Ibu kira kenapa, kamu mandi makan habis itu kita siap siap berangkat jenguk Andian." Ucap Tarti sembari menghusap puncak kepala Sista penuh kasih sayang.


"Iya bu... Sista keatas dulu ya." Ucap Sista. Tarti pun mengagguk kepala pelan. Baru Sista pergi, tampak Reno mendekat pada Tarti.


"Sista sudah pulang??" Tanya Reno.


"Sudah mas... Baru saja, katanya ban taxinya bocor jadi pulang telat." jawab Tarti.


"Kasihan Sista, besok aku carikan dia supir antar jemput saja." Ucap Reno.


"Iya mas... Kasihan Sista, udah sering loh ini." Jawab Tarti.


Beberapa saat menunggu, Sista turun dengan pakaian rapinya. Mereka pun bergegas menuju ke Vila Andian.


Di Vila Andian


Semuanya tampak berkumpul dan bercerita ria mengingat Andian sudah sembuh total. Ada yang merengek untuk pulang tidak lain Arion dan ada yang membujuk istrinya untuk tidak marah tidak lain Raka.


"Apaan sih... Kalo mau pulang, pulang aja sendiri." Kesal Antia.


Dia tau alasan kenapa Arion merengek untuk pulang. Arion pasti akan mengajak Antia untuk lembur dan Antia tidak suka itu mengingat dia sering telat karena ulah suaminya.


"Lihatlah menantumu kak, merengek seperti bayi." Ucap Randy membuat Gio Lyin dan lainnya tertawa kecil.


"Biarkan dia merengek begitu... Sudah besar juga." Ucap Gio.


"Ayah kau ini." Ucap Arion sembari menyenderkan tubuhnya dengan wajah kesal. Melihat hal itu membuat lainnya tertawa kecil.


"Kapan ayah dan ibuku datang??" Bisik Arila pada Andian.


"Kak kenapa dia tidak menendang?? Apa karena tidak suka padaku??" Protes Antia yang ingin merasakan kembali tendangan kecil dari janin Antika.


"Antia tidak setiap kali bayi menendang, itu hanya beberapa kali menujukan bahwa dia sudah tumbuh." Ucap Arila.


"Apa itu artinya keponakan ku sedang tidur?? Ya ampun maafkan bibimu ini sayang." Ucap Antia dengan polosnya. Saat itu tampak Renzo mendekatkan dirinya pada istrinya.


"Kamu ingin cepat menyusul kan?? Kalau begitu kita harus lebih rajin lagi... Mungkin 4 kali sehari... Pagi siang sore dan malam." Ucap Renzo berbisik membuat Lyara merona dan mencubit lengan suaminya.


"Diam... Aku tidak mau." Jawab Lyara dengan wajah ronanya.


"Wah sedang berkumpul nih." Ucap Reno yang baru datang. Arila pun bangkit dari duduknya dan memeluk mereka secara bergantian.


"Hahaha... Kau datang juga Ren... Kamu lama menunggumu... Silahkan duduk." Ucap Gio.


Reno dan Tarti pun duduk sedangkan Sista duduk disamping Antia. Hal itu membuat Arion kesal karena Antia mengusirnya dari tempat duduknya.


"Wah Sista kamu udah besar ya... Terakhir ketemu saat kamu masih SMP kan??" Ucap Antika.


"Iya kak Sifa... Soalnya aku sibuk belajar jadi nggak sempet ketemu kakak deh.. Hehehe..." Ucap Sista.


"Kak Sifa??" Tanya Antia dengan kening berkerut.


"Iya An... Nama depan kakak kan Sifany... Jadi dulu sering manggil kakak Sifa." Ucap Antika.


"Oh... Tapi aku tidak biasa... Aku akan tetap memanggil kak Antika." Ucap Antia membuat Antika dan Sista tersenyum. Melihat Arion duduk sendiri membuat Kean jail.


"Perlu saya carikan pendamping anda lagi tuan??" Ucap Kean.


"Diam kau... Kau tau apa soal gadis, berpacaran saja tidak pernah dasar jomblo karatan." Kesal Arion.


"Tapi lihat nona muda tuan... Dia mengabaikan anda... Bukankah ini peristiwa langka, haruskah aku abadikan di museum." Ucap Kean. Mendengar ucapan Kean membuat Arion membeku menatap Antia yang asik berbicara.


"Kean bisakah kau diam... Lebih baik kau ambil beberapa laporan sekertaris Naira, mulai besok aku akan kembali ke perusahaan." Ucap Arion.


"Apa karena anda diabaikan nona muda jadi kembali bekerja tuan." Ucap Kean membuat Arion kesal dan mendorongnya pergi.


"Cepat sana... Awas saja jika kau tidak kembali aku nikahkan kau dengannya." Ancam Arion dan tidak dipedulikan oleh Kean.


Pada akhirnya Arion memojok sendiri sedangkan lainnya bercerita. Sedangkan Kean bergegas ke rumah Naira untuk mengambil beberapa laporan. Sebenarnya Kean selalu meminta pada Arion agar dokumen lainnya disimpan olehnya. Namun, Arion selalu menolak karena dia ingin Kean sering sering mengunjungi Naira.


Sesampainya didepan kontrakan Naira, Kean mengerutkan keningnya saat ada mobil terparkir didepannya. Kean pun keluar dari dalam mobilnya dan melihat pintu kontrakan terbuka.


Sepertinya ada yang tidak beres. Batin Kean.


Dia pun bergegas masuk. Saat Kean hendak memanggil Naira dia mendengar teriakan Naira diiringi isakan tangisannya. Buru buru Kean menghampiri ke sumber suara. Dan benar saja, Kean melihat pakaian Naira sudah dirobek oleh Fandi yang akan memaksa Naira. Baru Fandi akan mencium leher Naira Kean menarik bahu Fandi dan memukulinya habis habisan. Kean menarik kerah kemeja Fandi.


"Jadi kau lagi?!!! Sudah aku peringatkan agar tidak menyentuh sesuatu yang bukan milikmu." Ucap Kean dingin dengan wajah mematikan.


"Kau lagi!!! Dasar pengganggu... Sedikit lagi aku akan mendapatkannya, dan kau menggangguku... Aku akan membalasmu suatu hari nanti... Gray!!!" Panggil Fandi pada salah satu pengawalnya. Kean melepaskan cengkramannya.


"Berani kau menampakan wajah mu dihadapanku... Akan aku pajang mayatmu dibalok kayu." Ancam Kean. Tampak Gray memapah Fandi untuk pergi.


[Sebelum Kean Datang]


Saat itu Fandi merasa kesal dengan perintah ayahnya untuk kembali ke Berlin bersama dengan ibunya. Dia pun membawa mobilnya berkeliling sampai akhirnya didepan kontrakan Naira, dia melihat Naira sedang menyirami bunga. Tampak Fandi menatap Naira penuh n*fsu. Buru buru dia keluar dari mobilnya dan memeluk Naira dari belakang. Hal itu tentu membuat Naira terkejut.


"Kau sangat menggoda sayang... Ayo kita bersenang senang." Ucap Fandi. Naira pun berusaha memberontak.


"Minggir lepaskan aku.... Tolong!! Tolong!!!" Teriak Naira sembari menangis. Namun Fandi tidak pedulikan, dia memanggul tubuh mungil Naira layaknya karung beras.


*Bruk!!* Fandi membaringkan tubuh Naira diatas ranjang dan menindihinya. Naira berusaha menolak saat Fandi akan mencium bibirnya. Kaki Naira menendang bagian priv*si Fandi membuat Fandi sedikit merintih. Dan saat Naira hendak kabur, Fandi justru merobek sebagian pakaian Naira. Dan saat akan mencium kembali, Kean datang dan memukulinya habis habisan seperti saat dipesta.


[Setelah Kean datang.]


Kean menatap Naira yang memeluk dirinya sendiri dengan wajah sembab dan tangannya terluka ringan akibat cengkraman Fandi. Melihat wajah Naira membuat Kean mendidih. Ingin rasanya dia membunuh Fandi saat itu juga.


"Kau tidak apa apa??" Tanya Kean.


"Jangan sentuh aku... Hiks... Hiks... Aku masih ingin hidup... Jangan sentuh aku." Ucap Naira sembari menangis. Entah ada dari dorongan mana, Kean memeluk tubuh Naira meskipun Naira memukuli dada bidangnya.


"Lepaskan aku... Hiks... Hiks... Kenapa semua orang jahat padaku?? Apa salahku??" Ucap Naira masih menangis dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Kean.


"Kau tidak salah... Dia yang salah yang akan mengotorimu... Tenangkan dirimu." Ucap Kean menenangkan Naira.


Sepertinya disini sudah tidak aman untuknya. Batin Kean.


Dia pun mengeluarkan ponselnya dengan salah satu tangannya. Tampak dia menelfon seseorang.