
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
"Bagaimana rasanya sayang?" Tanya Arion begitu melihat Antia yang diam.
"Wah...ini sangat enak kak....kenapa kakak tidak menjadi koki saja?" Puji Antia sembari memakan sarapannya.
Arion tersenyum melihat tingkah menggemaskan Antia. Sedangkan Andian hanya menggelengkan kepala pelan. Arion melepas celemek nya dan duduk disamping Antia.
"Jika aku menjadi koki tugasku hanya memasak dan jika aku menjadi suami mu maka tugasku menjaga dan membahagiakan mu. Jadi mana yang kau pilih."
"Tentu saja suami ku." Ucap Antia tanpa sadar.
Beberapa detik kemudian wajah Antia merah merona karena malu apa yang baru saja dia ucapkan. Arion pun tertawa kecil dan lagi lagi Andian hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa kau sangat menggemaskan?" Ucap Arion sembari mendekatkan wajahnya dan mencium pipi kanan Antia.
"Ehem...Ehem Arion kau bisa bermesraan setelah sarapan nanti...kasihan sekertaris mu berdiri sedari tadi tanpa kau izinkan duduk justru melihat tuannya bermesraan." Ucap Andian santai membuat wajah Antia bertambah merah.
"Kean apa yang aku lakukan membuatmu tidak nyaman?"
"Tidak tuan saya baik baik saja." Jawab Kean singkat.
"Andian kau bisa melihatnya kan? Sekertaris ku ini jenis manusia spesies langka lalu kenapa kau terganggu dengan kemesraan ku dan Antia...Apa kau mulai—"
"Aku rasa kau bukan Arion yang ku kenal... Kenapa kau menjadi cerewet begini?? Sudahlah Antia lanjutkan sarapanmu." Ucap Andian dan Antia hanya mengangguk patuh.
Arion menghela napas panjang. Arion pun bergabung sarapan dengan Andian dan Antia. Selesai sarapan Arion hendak merayu gadis kecilnya lagi. Namun, *Tring!!!* suara handphone nya berbunyi.
"Aku angkat telefon dulu." Pamit Arion dan diangguki oleh Andian juga Antia.
📞
"Hallo tuan Arion." Ucap diseberang sana.
"Katakan? Ada apa kau menelfon ku?"
"Tuan aku sudah memberitahu padanya sesuai rencana kita." Sahut dari seberang sana.
"Bagus...dia pasti akan teralihkan."
"Iya tuan, Lalu apa yang perlu ku lakukan?"
Sahut dari seberang sana.
"Lakukan apa yang perlu kau lakukan."
"Baik tuan." Ucap diseberang sana. *Tut.* Arion mengakhiri telefon nya.
Menggunakan cara kuno untuk mendapatkan apa yang diinginkan?? Sangat naif. Nikmatilah hadiah terakhirmu didunia ini dariku. Batin Arion sembari tersenyum remeh.
Arion pun memberikan handphone nya pada Kean dan mendekati Antia juga Andian yang sedang bersantai menonton televisi. Antia memandang Arion sampai Arion mendekat.
"Aku pamit dulu jangan lupa nanti malam datang ke Vilaku. (Mendekati Antia dan mencium keningnya.) Jaga dirimu baik baik."
"Iy...iya kakak juga."
Arion tersenyum kemudian mengaggukan kepala. Dia pun melangkah pergi perlahan meninggalkan Antia dan Andian. Antia memandang Arion sampai Arion benar benar pergi. Melihat hal itu membuat Andian menghela napas.
Ku rasa Antia benar benar mencintai Arion. Dan aku sebagai kakaknya seharusnya berkorban sedikit demi kebahagiaannya. Huft... Aku rasa harus menerima perjodohan konyol ini. Batin Andian sambil beranjak pergi.
Sejak perjodohan itu kakak lebih banyak diam dan wajahnya juga sedikit mencemaskan sesuatu. Apa ada yang kakak sembunyikan ya??? Batin Antia memandang Andian yang pergi meninggalkannya.
Antia pun melanjutkan menonton film kesukaannya. Beberapa saat kemudian Andian tampak menuruni tangga dengan pakaian rapi.
"Aku berangkat ke kantor, jika butuh sesuatu bilang pada Gian dan jaga dirimu baik baik."
"Baik kak...Kakak juga jaga dirimu baik baik."
Andian mengaggukan kepala dan perlahan pergi meninggalkan Antia. Antia pun mematikan televisi dan menuju ke kamarnya. Dia akan mengecek persiapan sekolah karena lusa dia mulai bersekolah.
Enggak kerasa udah 2 minggu libur sekolah. Lusa aku akan kembali bersekolah dan aku harus fokus untuk menghadapi ujian. Batin Antia.
Antia menuju ke meja belajarnya. Dia mengecek segala persiapan untuk sekolahnya. Hingga dia menghela napas panjang begitu tau ada yang kurang.
"Kenapa aku sampai lupa membeli buku?(Menepuk keningnya sendiri.) Aha...aku akan ke mall sekalian ke butik kota membeli pakaian yang akan aku kenakan nanti malam. Tapi Gian pasti tidak akan mengizinkan, hemm...(Berpose berpikir.) Nah...kenapa aku tidak ajak Gian sekalian... Wah Antia kau memang sangat pandai." Lirih Antia kemudian dengan tersenyum bahagia keluar dari kamarnya.
Di Vila Antika
Antika sudah bersiap siap untuk pindah ke Vila Raka. Antika berkali kali mengecek barang barang yang akan dia bawa. Saat itu Raka keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap dan rapi.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Raka begitu keluar dari kamar mandi.
Antika hanya mengaggukan kepala dengan pandangan masih menunduk. Raka duduk dibibir ranjang sambil memandang Antika yang masih sibuk menata kopernya.
Antika berhenti dan berbalik mengira Raka sudah menjauh. Namun, Raka masih di tempat dengan tangan yang sudah menurunkan kopernya. Antika terbelak begitu Raka mencium bibirnya sekilas. Wajah Antika merona, tanpa pikir panjang Antika mengambil kopernya dan kembali bersiap siap.
"Apa istriku merona??(Antika memilih fokus pada kegiatannya agar menutupi wajah ronanya.) Kenapa kau diam saja? Bahkan tidak berterima kasih padaku yang sudah membantu mu mengambilkan koper tadi." Ucap Raka yang sebenarnya tidak suka didiami oleh Antika.
"Terima kasih." Ucap Antika lirih.
"Apa?? Aku tidak mendengarnya suaramu sangat pelan."
"Terima Kasih." Ucap Antika sedikit menaikan nada bicaranya. Membuat Raka tersenyum puas.
"Bisa kita pergi sekarang?" Ucap Antika.
"Em...baiklah biar kepala pelayan Jin yang membawa kopernya kau ikut denganku." Ucap Raka sambil menarik tangan Antika.
Di ruang keluarga tampak Tina dan Calvin tersenyum bahagia melihat Raka menggandeng tangan Antika. Mereka akhirnya bisa tenang begitu melihat wajah Raka yang tak sedingin semalam.
"Bunda, Antika pergi dulu ya. Bunda baik baik saja disini ya." Pamit Antika sambil memeluk Tina.
"Iya sayang...Raka Bunda titip Antika ya." Ucap Tina sambil memandang Raka.
"Baik bund...Bunda dan papa tenang saja Antika akan aman denganku." Jawab Raka sembari tersenyum.
"Papa percayakan padamu...kalian hati hati dijalan ya." Ucap Calvin.
"Iya kami pamit dulu." Pamit Antika dan Raka.
Antika pun memasuki mobil Raka dan memandang Tina juga Calvin yang melambai tangan dengan tersenyum bahagia. Perlahan mobil mewah Raka keluar dari Vila Antika.
Bunda papa... Antika seneng liat kalian bahagia meskipun aku harus bersiap mendapatkan apapun perilaku Raka padaku. Batin Antika menyimpan kesedihannya.
Diperjalanan Raka memandang Antika yang sedari tadi tak bergeming memandang pemandangan luar dari jendela mobil. Raka mendekati Antika dan saat Antika berbalik jarak antara mereka sangatlah dekat.
Mereka saling pandang satu sama lain. Saat Raka mendekat dan hendak mencium bibir Antika. Raka menghentikan niatnya begitu melihat Antika memalingkan wajahnya dengan memejamkan mata dan tubuh bergetar. Raka pun kembali duduk ditempatnya dan menghusap wajahnya kasar.
"Maafkan aku...apa kau masih takut padaku? Soal kejadian semalam aku minta maaf. Aku minta kamu jangan takut padaku."
Antika hanya mengaggukan kepala meski sejujurnya dia masih sedikit trauma atas yang dilakukan oleh Raka. Antika sebenarnya waspada karena sifat Raka berubah tiba tiba membuatnya takut jika menaruh hati padanya.
Sesampainya di Vila milik Raka. Tampak Laura dan Randy menyambut Antika juga Raka dengan senyuman mengambang dibibirnya. Laura memeluk Antika dengan tersenyum bahagia.
"Selamat datang Antika sayang...sementara waktu kamu tinggal bersama mama dan papa...Setelah cucu mama hadir baru pindah ke Vila Raka...itu yang Raka katakan semalam sama mama." Ucap Laura membuat Antika tersenyum canggung.
"Ayo masuk, Antika sama Raka pasti lelah ma biarkan mereka istirahat." Sela Randy.
Laura pun mengangguk dan mempersilahkan Raka juga Antika masuk kedalam untuk beristirahat.
Di Mall
Antia tersenyum puas karena Gian akhirnya mau mengajaknya. Sebenarnya Gian menolak namun Antia mengancamnya tidak mau makan atau pun keluar kamar membuat Gian menyetujuinya.
"Nona apa anda sudah menemukan yang perlu dibeli?"
"Em...iya ayo kita ke butik sekarang."
Saat Antia hendak pergi tanpa sengaja dia menabrak seseorang membuatnya hendak terjatuh. Namun dengan cekatan orang itu menariknya kedalam pelukannya. Antia membuka matanya perlahan dan menatap orang yang menangkap tubuhnya.
"Kalfa." Ucap Antia masih dalam posisi.
Iya, orang itu tidak lain adalah Kalfa. Kalfa langsung ke Mall begitu mata matanya memberitahu Antia pergi ke Mall hanya dengan Gian. Kalfa masih memandang dalam mata lentik Antia.
Antia kau sangat dijaga oleh banyak orang layaknya kristal langka yang begitu berharga dan kau hanya milikku Antia... Hanya milikku. Batin Kalfa.
Kenapa tatapan Kalfa sama seperti waktu itu?? Tidak Antia kau hanya mencintai Kak Arion seorang. Batin Antia.
"Ehem...ehem...maaf nona kita harus ke butik sekarang." Ucap Gian tak suka. Antia pun segera menjauh dari Kalfa.
"Iya, Kalfa aku pergi dulu ya." Pamit Antia namun Kalfa menggegam tangan Antia.
"Kau mau kemana?" Tanya Kalfa.
"Aku harus ke butik ada beberapa pakaian yang perlu ku beli." Jawab Antia.
"Apa aku boleh ikut? Sekali ini saja Antia aku ingin mentraktir mu makan siang." Ucap Kalfa memohon. Membuat Antia merasakan hal yang sudah lama dia pendam.
"Em...Ba...baiklah."
"Tapi nona—"
"Gian tidak apa apa...Kalfa orang yang baik ayo kita ke butik sekarang."
Gian tak bisa berkata lagi. Namun, dia tidak suka pada Kalfa lantaran Gian tipe peria yang langsung tau sifat seseorang hanya dari melihatnya. Gian terpaksa mengemudikan mobil Kalfa sedangkan Kalfa dan Antia duduk di bangku belakang.