Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 77



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Siapa lagi jika bukan Kean yang datang begitu mendengar rintihan Naira dari luar. *Bugh!! Bugh!! Bugh!!* Kean memukuli Fandi sampai tersungkur ke lantai. Setelah itu, Kean menarik Naira kedekatnya. Reflek Naira yang ketakutan memeluk tubuh Kean dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Kean. Tentu tanpa penolakan Kean.


"Aku peringatkan jangan berani beraninya kau menyentuh barang yang bukan milikmu." Ucap Kean dingin namun mengancam.


"Dia milikku, akan aku pastikan dia menjadi milikku seutuhnya." Lirih Fandi sembari menyeka sudut bibirnya yang berdarah.


Kean tidak memperdulikan ucapan Fandi. Dia pun melepaskan jasnya dan membalutkannya pada tubuh Naira. Kean menggendong Naira ala bridal style. Melihat Kean keluar dengan Naira membuat tuan Hordwad mendekat.


"Tuan Kean, apa ada yang terjadi??" Tanya tuan Hordwad hati hati.


"Saya harapkan agar anda mengundang tamu yang tepat." Jawab Kean dingin kemudian meninggalkan tuan Hordwad yang membeku ditempat.


Kean menurunkan Naira dan mendudukannya didalam mobil bahkan memasangkan sabuk pengamannya. Naira masih belum berkutip.


Mungkin dia masih trauma. Batin Kean.


Setelah itu, Kean pun menyalakan mobilnya kemudian melajukannya meninggalkan area kediaman Hordwad. Sesampainya di depan kontrakan Naira. Naira melepaskan jas kemudian memberikannya pada pemiliknya. Tampak Naira memancarkan senyuman palsunya.


"Terima kasih tuan... Maaf karena merepotkanmu." Ucap Naira sembari menyondorkan jasnya.


Kean pun menerimanya dan menatap punggung Naira yang perlahan menjauh dari pandangannya. Kean menatap jas yang kini berada di tangannya. Baru sebentar digunakan Naira, wangi vanilla khas Naira melekat di jasnya. Membuat Kean menciumnya sesaat.


Sangat harum. Batin Kean.


Kean meletakan jasnya dibangku sampingnya kemudian menjalankan mobilnya menjauhi kontrakan kecil Naira. Tanpa Kean sadari, Naira sedari tadi mengintipnya melalui jendela sampai mobil yang Kean kendarai benar benar pergi.


Naira langsung duduk dibibir ranjang dengan wajah ketakutan. Jika Kean tidak datang tepat waktu, mungkin Naira sudah dilec*hkan oleh Fandi. Tanpa Naira sadari, air matanya menetes.


Ibu Naira takut... Bagaimana jika dia tau keberadaanku?? Batin Naira.


Naira menghusap air matanya kemudian menuju ke kamar mandi guna membersihkan dirinya. Beberapa saat kemudian, Naira keluar dengan piyama tidurnya. Karena merasa lelah akhirnya Naira langsung tertidur begitu merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Keesokan Harinya


Hari ini Andian sudah sembuh total, yang artinya dia sudah bisa kembali pulang. Wajah bahagia terpancar dari Arila takala dia melihat jarum infus ditangan Andian dilepas. Begitu juga Antia yang lebih memilih mengentar kakaknya pulang daripada kuliahnya. Tampak Arila memapah Andian takut jika Andian masih belum stabil untuk berjalan.


"Antia kamu berangkat kuliah saja... Ada Arila yang membantu ku... Kamu kemari juga tidak memberitau Arion kan??? Dia pasti mengkhawatirkanmu." Ucap Andian.


"Tidak... Aku mau antar kakak pulang." Ucap Antia. Membuat Andian tersenyum dan mencubit hidungnya.


"Kakak sudah tidak apa apa... Pergilah kuliah, ilmu kamu saat ini lebih penting, mengerti??" Ucap Andian membuat Antia terdiam sejenak.


"Baiklah... Kakak dan kakak ipar hati hati ya... Aku janji sepulang kuliah aku ke Vila kakak boleh kan??" Ucap Antia.


"Ini baru adikku... Tentu saja boleh, sudah sana berangkat." Ucap Andian.


Antia memeluk Andian dan tampak Andian mencium puncak kepala adik kesayangannya. Sedangkan Arila merasa senang melihat kedekatan hubungan kakak beradik itu.


Antia pun meninggalkan Andian dan Arila. Andian menatap Antia yang masuk kedalam mobil Kean. Perlahan mobil yang Antia naiki menjauh. Andian dan Arila pun masuk kedalam mobil yang disupiri Gian. Sepanjang perjalanan Andian menggegam erat tangan istrinya.


"Lepaskan tangan ku... Kau tidak lihat sampai berkeringat seperti ini??" Keluh Arila.


"Aku tidak peduli." Jawab Andian membuat Arila mengecurutkan bibirnya.


"Oh iya lusa hari anniversary Raka dan Antika yang ke 1 tahun... Apa kamu mau hadir?? Antika bilang hanya sebatas keluarga saja yang hadir disana." Ucap Arila.


"Dan 5 bulan lagi hari Anniversary kita kan??" Ucap Andian.


"Ku pikir kau lupa." Ucap Arila sembari tertawa kecil.


"Bagaimana bisa aku melupakan hari yang paling membahagiakan untuk kita." Ucap Andian sembari mencium punggung tangan Arila.


"Emm... Sejak kapan kamu mencintaiku??" Tanya Arila.


"Aku tidak mencintaimu.... (Arila cemberut.) Tapi aku mencintai istriku... Ibu dari anak anakku." Jawab Andian membuat pipi Arila bersemu merah.


"Kau ini... Ayo jawab pertanyaanku tadi, kapan kamu mencintaiku??" Tanya Arila.


"Sejak awal bertemu." Jawab Andian sembari fokus menciumi punggung tangan Arila.


"Ap... Apa maksudmu, sejak kapan itu??" Tanya Arila sembari menarik tangannya. Membuat Andian menatap Arila dalam.


"Sejak SMA, saat kau menolong kakek tua padahal kau saat itu terlambat... Tapi kau menerima hukuman dari guru." Jawab Andian. Tampak Arila terkejut tidak percaya.


"Itu artinya sudah... 6 tahun yang lalu??" Tanya Arila dan Andian meresponnya dengan anggukan kepala.


"Iya... Sebulan kemudian kakakku meninggal dan membuatku membenci wanita karena saat itu kekasih kakakku selamat sedangkan kakakku meninggal ditempat." Jawab Andian.


"Jadi itu sebabnya, tidak heran kamu seperti tameng es saat itu." Ucap Arila.


"Tameng es?? Kau menggoda ku ya, baru keluar rumah sakit kau berani menggoda ku??" Tanya Andian sembari menggigit kecil daun telinga Arila.


"Tidak...tidak aku tidak berani lagi." Jawab Arila.


Mereka saling menatap dan mereka tertawa kecil dengan sikap mereka. Melihat hal itu, membuat Gian ikut bahagia. Dia sempat berpikir jika Andian akan terus bersikap dingin, namun nyatanya cinta yang dianggap menjijikan bagi Andian justru yang merubahnya.


Di Kampus


Antia keluar dari dalam mobilnya dan langsung menuju ke kelasnya. Didepan kelas dia melihat Sista yang sepertinya sudah lama menunggu.


"Tia kamu udah antar kakak ipar?? Cepat sekali." Ucap Sista.


"Nggak, kakak menolak ku dia bilang aku harus berangkat kuliah." Ucap Antia dengan wajah cemberut.


"Tidak mengapa... Ada kakakku yang menjaganya... Oh iya, masalahmu dengan suamimu sudah kelar kan??" Tanya Sista.


"Sudah, jadi kamu jangan menggoda ku lagi." Ucap Antia.


Membuat Sista tertawa kecil dengan ucapan Antia. Saat itu mata Antia tidak sengaja menatap ke arah seseorang. Seketika mata Antia terbelak.