
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
Di ruang rawat Arion. *Cklek!!* Pintu terbuka dan secara bergantian Andian Raka dan Renzo masuk kedalam ruangan. Tampak Arion yang sedang duduk di bibir ranjang sembari minum segelas air putih.
"Bagaimana keadaanmu Arion??" Tanya Andian sembari duduk disampingnya.
"Seperti yang kamu lihat." Jawab Arion sembari meletakan gelasnya diatas nakas.
"Dimana sekertaris gilamu itu??" Tanya Renzo sembari celingak celinguk.
"Dia mengantar sekertaris pribadi Andian dan langsung ke perusahanku mengambil alih metting." Jawab Arion.
"Yah dia memang bisa diandalkan... Sayang nya ketampanannya itu harusnya sudah memiliki pasangan." Ucap Raka sembari duduk di sofa.
"Jangan membahas hal itu didepannya. Aku tidak bisa menceghatnya untuk marah... Dia juga manusia." Ucap Arion sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Arion bagaimana dengan Kalfa Wijaya?? Kau sudah pastikan dia benar benar dalam penjagaan ketat kan??" Tanya Andian tiba tiba.
"Dia tidak dijaga...(Andian Raka dan Renzo terkejut.) Jangan terkejut... Dia sudah mati di tangan Kean. Sehari saat aku dirawat disini." Jawab Arion membuat Andian Raka dan Renzo bernapas lega.
"Baguslah... Meskipun dia sedikit gila tapi dia lumayan kejam." Ucap Renzo.
"Arion, beberapa minggu lagi adikku selesai ujian tinggal menunggu hari dimana dia lulus atau tidaknya dari sekolah itu, kau yakin akan menikahinya???" Tanya Andian dengan tampang serius.
"Tentu saja, akan aku buat pesta pernikahan semegah dan paling bersejarah." Jawab Arion dengan sungguh sungguh.
"Tentu saja, kau sangat mencintainya Dan tidak heran kau berkata begitu." Ucap Raka.
"Dan Andian kenapa kamu begitu manja didepan istrimu." Ucap Arion menggoda.
"Apa maksudmu??" Tanya Andian dengan wajah datar.
"Maksudku saat makan siang kamu—" Jawab Arion terjeda saat Andian membungkam mulutnya.
"Hey, hey Andian lepaskan Arion jika dia mati Antia akan jadi janda muda." Ucap Raka.
"Jika kamu ingin menikahi adikku lebih baik kamu diam." Lirih Andian pada Arion dan hanya diangguki oleh Arion.
"Aku akan diam tapi, baru kamu dan Raka yang menikah bisakah meminta keponakan darimu." Ucap Arion menggoda Raka dan Andian.
"Berhenti lah membahas yang tidak penting. Aku bingung mendengarkannya." Ucap Renzo.
"Makannya jangan jomblo!!" Ucap Raka Arion dan bahkan Andian serentak.
"Dasar adik adik tidak berbakti!!!" Kesal Renzo dan ditertawakan oleh Arion dan Raka.
Mereka pun berbincang bincang meskipun membahas yang tidak penting sekalipun. Sampai yak terasa siang berganti malam. *Tring!!* handphone milik Raka berbunyi menandakan ada telefon atau pesan masuk. Dan benar saja ada pesan dari Antika.
Istriku tercinta, Raka kamu dimana?? Kita pulang sekarang sudah malam.
Begitu isi pesannya. Raka pun tersenyum dan membalas pesan dari istrinya itu.
Raka Putra, Baiklah jika terlalu malam nanti bagianku tidak diambil. Tunggu aku didepan ruangan saja. Aku sudah tidak sabar untuk membuatmu begadang semalaman.
Raka pun tersenyum melihat balasan dari nya langsung dibaca namun tidak dibalas. Raka pun memasukan handphone nya ke dalam saku dan berdiri dari duduknya.
"Em...Andian istrimu dan istriku sudah menunggu diluar... Arion kami pulang dulu besok jika ada waktu kami akan menjengukmu." Ucap Raka.
"Baiklah...kalian hati hati dijalan." Jawab Arion.
"Tentu, kami pamit." Ucap Andian dan kemudian pergi setelah direspon anggukan oleh Arion.
"Kak Ren tidak ikut pulang??" Tanya Arion.
"Tidak, aku menginap disini. Lagi pula jika aku pulang mommy akan membuatku tidak bisa tidur dengan membahas nikah, nikah dan nikah." Jawab Renzo.
Arion mengagguk mengerti dan membiarkan Renzo tidur di sofa. Sedangkan Arion sendiri masih menunggu Kean.
Di luar ruang rawat Aline. Tampak Andian dan Raka mendekati mereka. Andian dan Arila terkejut begitu Raka mendekati Antika dan langsung menggendongnya.
"Raka turunkan aku!!!" Ucap Antika sembari memukuli dada bidang Raka.
"Kenapa sayang?? Tidak perlu malu mereka juga sudah menikah." Jawab Raka dengan entengnya.
Para perawat yang melihat adegan romantis itu pun memandang dengan tersenyum dan kagum. Raka sebenarnya sengaja memancing Andian agar tidak dingin pada Arila. Raka pun membawa istrinya kedalam mobilnya. Sedangkan Andian dan Arila masih mematung di tempat.
"Kenapa diam?? Ayo pulang." Ucap Andian membuat lamunan Arila pudar.
"Sayang ya, suaminya tampan tapi nggak ada romantis romantisnya." Ucap perawat A.
"Iya nggak kaya pasangan tadi romantis banget...nah ini bukan kaya suami istri tapi kayak musuh sama musuh." Sahut perawat B.
"Dari paras si mereka cocok tapi kayaknya yang cowok nganggurin si cewek... Kasihan hahaha." Ucap perawat C sembari tertawa.
"Sttt... Diam suaminya itu memiliki ikatan persahabatan ketat dengan presdir Arion. Jangan sampai dia mendengar." Ucap perawat D.
Arila hanya mengepal tangannya erat. Ingin sekali rasanya berteriak sekencang mungkin mendengar hujatan para perawat itu.
Suami istri?? Pasangan romantis?? Sangat jauh dengan yang kualami saat ini. Jalan kan romantis tidak membenci ku saja sudah menjadi celah untukku mempertahankan rumah tangga ku setidaknya sampai pernikahan Antia. Batin Arila sembari tersenyum pahit.
Sesampainya di parkiran Andian memandang Arila yang terlihat memikirkan sesuatu bahkan sampai masuk kedalam mobil. Andian menghela napas dan mendekat pada Arila guna memasangkan sabuk pengaman. Membuat wajah Andian dan Arila hanya tersisa seinchi.
Karena pikiran Arila masih kosong, tanpa sengaja Arila menoleh dan *Cup.* Bibir Andian dan Arila menyatu. Mata Andian dan Arila sama sama terbuka lebar namun mereka saling pandang satu sama lain. *Deg, deg, deg.* Detak jantung keduanya berpacu sangat cepat.
Mereka masih dalam posisi sampai beberapa saat kemudian Arila mendorong dada Andian dan dengan segera Andian menjauh. Dengan wajah merona Arila menggunakan sabuk pengamannya dan memandang Andian yang tampak biasa biasa saja.
Padahal sebenarnya Andian juga sama meronanya. Tidak ada percakapan apa pun Andian langsung melajukan mobilnya menjauhi area rumah sakit. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun.
Sesampainya di Vila. Andian dan Arila pun keluar dari dalam mobil dan memasuki Vila. Tampak suasana Vila sepi dan hanya ada Gian yang sedang membersihkan dapur. Arila langsung lebih dulu menuju ke kamarnya. Sedangkan Andian berhenti sejanak dan mengambil air mineral dari dalam kulkas.
"Gian dimana Antia??" Tanya Andian sesaat setelah meminumnya.
"Anda sudah pulang, Nona muda sudah lama tidur tuan." Jawab Gian.
"Begitu... Kamu juga istirahat Gian." Ucap Andian sambil menaiki tangga.
"Tentu tuan." Jawab Gian.
Andian pun menaiki tangga dan menuju ke kamarnya. Andian pun menutup pintu dan menguncinya. Andian langsung melepaskan jasnya memamerkan perut sixpacknya dan menggunakan celana pendek.
Andian pun menuju ke kamar mandi setelah menyambar handuk dan jubah tidur nya. Baru menutup pintu kamar mandi Andian terkejut melihat Arila yang hanya berbalut handuk.
"Aaaaa!!! Emph!!!!" Teriak Arila namun tercekat begitu Andian menutup mulutnya dengan tangannya.
"Diam...diam...kenapa kamu selalu berteriak saat seperti ini??" Ucap Andian perlahan melepaskan tangannya.
"Karena kau mengagetkanku. Minggir aku akan keluar." Ucap Arila dan keluar dari dalam kamar mandi.
Andian menggeleng kepala pelan dan membersihkan dirinya. Sedangkan dengan Arila sudah rapi menggunakan piyama tidurnya. Arila menutup jendela balkon dan kordennya. Tiba tiba *Klak!!* ruangan menjadi gelap gulita. Membuat Arila yang memiliki phobia ruang sempit dan gelap pun meringkuk.
"Aaaa!!! Aku takut!!! Mama!!! Hiks..hiks...hiks." Teriak Arila sembari menangis.
Andian yang baru keluar dari kamar mandi dengan jubah tidurnya pun panik begitu mendengar tangisan Arila.
"Arila dimana kamu?? (Andian mendekati Arila.) Kamu kenapa?? Kamu phobia gelap??" Tanya Andian dengan wajah cemas.
"Hiks...hiks...aku takut...aku takut gelap." Jawab Arila sembari memeluk tubuh Andian.
Andian pun membalas pelukan nya dan menghusap punggung Arila guna menenangkan.
"Kamu takut gelap kan?? Maka tidurlah di bahuku. Aku selalu ada disampingmu." Ucap Andian lembut.
"Aku...mm...mm." Ucap Arila terjeda saat dirinya merasa sesak napas.
Sial, Klaustrofobia... Apa yang harus aku lakukan?? Batin Andian memandang Arila.
"Tidak ada cara lain, hanya ini satu satunya jalan keluarnya." Lirih Andian.
Andian menangkup wajah Arila dengan kedua tangannya. Perlahan Andian mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Arila memberikannya napas buatan. Beberapa saat kemudian Arila kembali bernapas normal.
Andian pun menjauhkan wajahnya dan menggendong Arila. Cukup sulit karena kondisi ruangan sangat gelap. Sampai di bibir ranjang Andian pun menidurkan Arila perlahan dan menyelimutinya.
Saat Andian hendak pergi untuk tidur ke sofa, Arila menggegam tangan Andian. Arila sedikit sadar namun dia memandang Andian adalah ibunya.
"Mama....mama....jangan tinggalkan aku." Lirih Arila sembari menangis.
Andian pun menghapus air matanya dan berbaring disebelah Arila. Andian terkejut begitu Arila langsung memeluknya. Andian menghusap puncak kepala Arila sampai akhirnya Arila tertidur pulas.
"Tenanglah... Aku tidak akan meninggalkan mu." Ucap Andian lembut.
Kenapa aku merasa kasihan padanya?? Bukankah aku sangat membencinya?? Tapi, begitu dia menangis kenapa aku merasa sesak... Seperti saat Antia menangisi sesuatu... Dan kenapa tiba tiba listrik mati?? Besok aku harus menanyakan hal ini pada Gian. Batin Andian.
Karena merasa nyaman saat memeluk Arila Andian pun memejamkan matanya sampai akhirnya menuju ke alam mimpi.