
"Sampai jumpa di lain hari, Katsura Laith" Seluruh badan Marx menghilang menjadi debu emas, lalu dunia putih yang ditempati Katsura pun mulai runtuh.
Katsura kembali ke dunia nyata, dan kembali bersama Homura dan Yotsuya yang terikat.
Katsura merasa tak percaya apa yang barusan terjadi, dia meraba-raba tubuhnya. "Ini bukan mimpi, kan?" tanyanya.
Homura yang kebingungan dengan tingkah laku Katsura bertanya, "Ada apa? apakah kau baik-baik saja?"
Katsura mengelus dada, "Ya, aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu di khawatirkan" jawabnya.
"Kau terlihat lelah, kantung matamu yang menghitam semakin terlihat jelas. Kau terlihat seperti panda sekarang."
"Ahh.. Aku sudah tidak tidur berapa lama, ya? aku sangat kurang istirahat belakangan ini."
"Kau boleh kembali duluan, kau juga sudah terlalu lama memakai mode Golden Orb itu, serahkan Yotsuya padaku" Homura mendekat dan menepuk pundak Katsura yang kelelahan.
Katsura tersenyum, "Ya sudah, aku pulang duluan, pastikan bawa Yotsuya, ya" ucapnya, lalu pergi keluar.
"*Aku jadi semakin terbiasa menggunakan Golden Orb ini, walau ini meningkatkan kekuatanku sangat drastis, namun efek sampingnya pasti berat. Aku harus cepat-cepat bertemu yang lain"
"Namun, sebenarnya siapa Marx yang ku temui itu? bagaimana bisa dia tahu rahasia kekuatanku*?" gumam Katsura saat berjalan.
..."Pergilah ke 100 tahun yang lalu, dan kau akan temukan jawaban yang kau cari" ucapan Marx terulang di pikiran Katsura....
"*Apa maksudnya itu? jadi di masa lalu sudah ada pengguna Golden Orb di semesta ini? bukankah Golden Orb hanya terdapat di semesta J-10?"
"Entahlah, semua ini sangat membingungkan. Sepertinya aku harus mengikuti perkataannya."
"Setelah Marx menghilang, rasanya kekuatan ini tak mampu digunakan secara maksimal, sebelumnya aku selalu merasa bahwa ini bukan potensi maksimal ku, namun sudah tidak lagi."
"Siapakah dirimu sebenarnya, Marx*?" Katsura menatap langit, berandai-andai siapa sebenarnya yang dia temui.
Katsura saat ini menganggap Marx sebagai dewa, karena dia tahu betul tentang Golden Orb yang mana sering diributkan oleh Ferus.
Di tempat Homura dan Yotsuya, mereka tak langsung pergi, melainkan Homura mengintrogasi Yotsuya terlebih dahulu.
"Mengapa kau memutuskan untuk membantu Hiromi? peluang nya untuk menang itu kecil jika melawan kami langsung."
"Aku yang sekarang tak perlu pandangan khusus untuk seseorang yang akan ku bantu, dan juga aku mempunyai hutang budi pada Hiromi. Ini lah cara aku membalasnya."
"Hutang budi? Kau bukanlah seorang yang biasanya memerlukan pertolongan!"
"Oh ya? mungkin aku telah menghapus ingatan itu padamu. Apakah kau lupa? aku ini kriminal yang ditahan oleh pemerintah."
"Aku sangat banyak melakukan kejahatan saat itu, dan akhirnya aku di penjara dengan hukuman yang tidak jelas. Sampai pada akhirnya aku harus di vonis mati, yang mana itu berlaku padamu sebelum ini" ungkap nya.
Homura pun menerima jawaban Yotsuya, lalu dia berjalan sedikit ke arah luar ruangan.
"Mengapa? kau tidak cukup puas hanya dengan mengalahkan kami?"
"Jadi kalian sudah mengakui kekalahan, ya" Homura berbalik, dan suaranya menurun.
"Ya mau bagaimana lagi, Azashi sudah mati konyol, Hiromi telah ditumbangkan sendirian oleh Arizawa. Semua anggota Descartados dibantai habis oleh Katsura, dan aku tak punya kubu untuk dibantu. Sudah jelas ini kekalahan bagi kami."
"Yotsuya Irino, seorang 'pembantu' yang rela melakukan apapun demi pelanggannya sampai menjadi kriminal dengan pekerjaan itu" Homura mengungkap identitas Yotsuya.
"Ada apa kau sampai mengungkap identitasku didepanku? kau ingin diriku membantumu atau bagaimana?"
Sebuah syarat untuk mendapatkan pertolongan dari Yotsuya adalah dengan menyebutkan nama penuhnya, serta pekerjaannya. Dengan ini kontrak akan aktif.
"Kau adalah orang yang baik, Yotsuya. Hanya saja, kau terlalu baik pada orang sehingga orang bisa mencampakan dirimu begitu saja" ucap Homura pelan.
Yotsuya kebingungan, Homura melanjutkan pembicaraannya.
"Bergabunglah dengan kami, aku yakin kebaikanmu akan terpakai disana" ajak Homura.
Yotsuya memejamkan mata dan menarik nafas, "Maaf saja, namun kontrakku dengan Hiromi belum selesai. Aku akan mengikuti Hiromi kemanapun dia pergi dan setiap jalan yang ia pilih. Bujuk saja dia jika ingin aku ke sisimu" jawabnya.
"Apa kau sudah selesai bernegosiasi nya?" tanya Yotsuya kembali.
"Ya. Pergilah kemanapun kau mau, aku sudah tidak punya hak untuk mengatur mu lagi. Jika kau datang menyerang kami, maka aku akan mengalahkan mu lagi" jawab Homura percaya diri.
"Baiklah, selamat tinggal, mungkin kita akan berjumpa lagi."
Saat Homura hendak berlari, "Omong-omong, Versace telah datang" kata Yotsuya, yang membuat Homura membatu.
"Ada apa?"
"Oke, terimakasih" Homura menghilang dari pandangan Yotsuya.
"Semoga beruntung, kakak."
Kembali ke Arizawa dan Hiromi, percakapan mereka masih belum berakhir.
"Jadi, apa maumu sekarang?" Arizawa bertanya.
"Mauku? entahlah, aku sudah tidak punya harapan lagi. Aku kehilangan seluruh anggotaku, memoriku bersama mereka akan terulang jelas di pikiranku."
"Aku harap aku bisa menyusul mereka sekarang" Hiromi bersedih atas kepergian semua anggotanya, lalu Yukichi menanggapi.
"Jika kau sangat ingin mengulang memori itu, mengapa tidak sekalian bergabung dengan kami?"
Arizawa memukul pundak Yukichi, lalu berkata, "Bodoh, setelah semua masalah yang dia buat, aku tidak mau menerima nya begitu saja."
Hiromi tertawa kecil, "Yah.. Tawaran yang menarik sebenarnya, namun aku tidak ada niatan lagi untuk merebut Mato. Ku kubur dalam-dalam keinginan itu sekarang" jawabnya.
Arizawa menatap sedih Hiromi, "Namun sifat kepemimpinan mu itu akan sia-sia jika dibiarkan begitu saja."
"Bukannya kau tidak mau dia ada di sisi kita?" Yukichi kembali bertanya.
"Ya aku memang tidak mau, namun apakah kau berpikiran ke hal yang lain selain dia bergabung dengan kita?"
Yukichi berpikir, "Oh! kita bisa menjadikannya sebagai pengganti dirimu sebagai presiden!" ulasnya.
Hiromi terkejut sekaligus bingung, Arizawa tersenyum kecil.
"Ya, itupun jika dia mau, sih" ucapnya.
"Tunggu, ucapan itu serius?" Hiromi bertanya dengan antusias.
"Tapi, kau harus buang semua niat jahat mu itu dulu. Aku bisa memberikan jabatan itu jika kau mau, dengan kekuatan Yotsuya pasti akan mudah mencuci otak warga."
"Mencuci otak?" Yukichi bertanya.
"Ya, para warga tahu nya aku sebagai presiden, namun dengan kekuatan Yotsuya, dia bisa mengubah pandangan warga. Dari yang tadinya aku sebagai presiden, menjadi Hiromi sebagai presiden" jawab Arizawa.
"Begitu.. Baiklah terserah mu saja."
"Jadi, apa kau tertarik?" ajak Arizawa lagi.
"Sedikit, namun kau tidak ingin satu organisasi denganku, bukan? akan sulit jika seperti ini. Karena pada awalnya Viper adalah organisasi buatan pemerintah."
"Buatlah Yotsuya untuk melupakan siapa itu Mato, mudah saja, bukan?" jawabnya santai.
"Kita akan menjadi pahlawan dalam bayangan, terdengar keren" Yukichi menyela.
"Jika kau ingin jabatan itu, dengan senang hati kuberikan padamu" Arizawa menyodorkan telapak tangan pada Hiromi.
Hiromi terdiam sebentar, lalu dia pun berjabat tangan dengan Arizawa sebagai tanda persetujuan.
Bersambung...