Destiny Holder

Destiny Holder
Zero, Escalivor No 2.



Katsura sampai di luar planet Drax, menyaksikan planet yang dipenuhi dengan pasir, dan juga planet itu memiliki tiga bulan yang mengorbit planet itu.


Katsura mengaktifkan Golden Orb-nya, dan benar saja, dia merasakan ada energi yang aneh di sekitarnya, energi itu berusaha untuk menjauhkan Katsura dari mendekat ke planet Drax.


"Energi ini mengatakan untuk menjauh.. aku tak peduli" ucapnya, lalu Katsura menerobos masuk ke planet.


Setelah beberapa saat kapal Katsura menembus atmosfer, dari atas dia tidak menemukan apapun selain pasir dan satu bangunan yang sangat amat besar, bangunan itu lebih terlihat seperti kastil daripada gedung.


"Kastil? apa-apaan itu?" tanya nya pada diri sendiri selagi kapalnya masih diatas langit.


Kastil itu sangat besar, jauh lebih besar daripada akademi sihir yang dimiliki Katsura di bumi nya. Kastil itu terbuat dari besi hitam, dan di sampingnya terdapat tiang yang menjulang sangat tinggi. Di tengah-tengah bagian depan kastil terdapat sebuah titik merah bercahaya.


Kapal Katsura akhirnya mendarat dengan sempurna di atas padang pasir, dia pun melihat kastil itu dari dekat dengan matanya sendiri.


"Bahkan jika dilihat dari sini itu semakin besar.." Katsura menaruh satu telapak tangannya di atas matanya, membantunya agar tidak tersinari matahari agar dia bisa melihat dengan jelas.


"Bentuk kastil yang menyeramkan, aku harus memberi tahu Arizawa" Katsura membuka alat komunikasi di dalam kapalnya, dan memanggil Arizawa.


"Bagaimana caranya aku mengaktifkan ini?" Setelah membuka alat komunikasi, Katsura malah kebingungan apa yang harus dia lakukan. Alat itu dipenuhi dengan tombol-tombol aneh.


Setelah bermenit-menit Katsura terus mencoba semua tombol itu, akhirnya panggilan berhasil terkirim. Katsura menunggu dengan sabar untuk panggilannya, dan tak lama kemudian Arizawa menerima panggilan itu. Alat itu memancarkan hologram yang melihatkan Arizawa di markas, seperti video call.


"Ah kau sudah sampai disana? lebih cepat dari dugaanku" ucap Arizawa sambil menyeruput segelas teh panas.


"Jadi, apa yang kau temukan disana? jika kau punya pertanyaan, Karma kebetulan sedang berada disini!" Arizawa menarik Karma di luar kamera yang sedang memakan es krim.


"Ya, baiklah.." wajah Katsura terlihat seperti menahan tawa karena melihat Karma yang mudahnya diseret oleh Arizawa.


"Aku hanya menemukan kastil besar disini, aku tak tahu apa isinya namun aku akan masuk ke dalam sekarang" Katsura mulai menjelaskan apa yang terjadi.


"Kastil?" Karma mendengar perkataan Katsura dan langsung mengeluarkan ekspresi seriusnya, seketika ia juga menaruh es krim yang sedang ia makan.


"Bagaimana bentuknya?" tambahnya.


"Kastil itu terbuat dari besi berwarna hitam, dengan dua tiang menjulang tinggi ke atas ditambah di tengah-tengah bagian depan kastil itu terdapat seperti 'mata' berwarna merah" Katsura mendeskripsikan kastil yang ia lihat.


"Besi hitam.. mata yang menyala.." Karma mulai berpikir keras.


"Aku tak tahu soal kastilnya, namun, apa yang kau rasakan dengan Shin itu?" Karma bertanya.


"Shin itu terasa seperti ingin meremukkan kapalku dengan sangat keras, dan aku tahu Shin itu berusaha untuk mengusirku ke tempat lain" jawabnya.


"Remuk.."


Wajah Karma nampak terkejut setelah ia memikirkan sesuatu, matanya terbuka lebar secara tiba-tiba.


"Ada apa?" Arizawa menunduk dan melihat wajah Karma yang kaget.


"Katsura! berhati-hatilah! itu adalah salah satu anggota Escalivor!" ungkap Karma jelas dengan nada yang cukup tinggi mengingatkan Katsura bahwa musuh yang akan dia hadapi sangatlah berbahaya.


"Escalivor..? aku rasa aku pernah dengar namanya.."


"Dia adalah Z-" panggilan tiba-tiba terputus, hologram yang memancarkan kamera di stasiun mati dengan sendirinya.


"Halo? Arizawa?" Katsura memegang alat komunikasi nya, berusaha menghidupkannya kembali namun dia gagal.


"Aneh.. mengapa bisa terputus, ya?" Arizawa berdiri sambil memegang alat komunikasi nya, dan melihat ke sekeliling alat itu.


"Siapa itu, Karma?" Arizawa menoleh dan bertanya, melihat Karma yang sangat frustasi membuatnya sedikit khawatir.


"Zero... anggota nomor dua Escalivor.. dia mengetahui Katsura ada di sana" jawab Karma dengan suara rendah, dia menekan suaranya menjadi lebih berat.


"Ini buruk.. Escalivor mulai bergerak, kita harus bersiap-siap untuk perang!" Karma berdiri tegak, setelah Arizawa mendengar untuk bersiap dengan perang, hatinya mulai terasa gugup.


"Jika itu memang diperlukan, maka kita harus melakukannya" wajah Arizawa kembali serius, dia mengepal tangannya kuat-kuat.


Kembali ke Katsura, saat dia sedang kebingungan, tiba-tiba dia merasa ada panggilan untuk masuk ke dalam kastil. Dia menatap kastil itu dengan penuh keraguan, dan akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam.


Di dalam kastil, Katsura berjalan pelan sambil mengidentifikasi sekitarnya, sepanjang dia berjalan dia hanya melewati lorong yang gelap. Namun pada akhirnya, Katsura keluar dari lorong itu dan menemukan ruang yang cukup besar dan ada seseorang yang berdiri searah dengan Katsura di atas plafon.


Katsura menenggak keatas, mengarah ke seseorang yang ada diatas sana, orang itu tampak sangat mencurigakan baginya.


"Jadi kau yang menguasai kastil ini?" tanya Katsura dengan penuh kewaspadaan, dia menggerakkan tubuhnya sedikit ke belakang.


Penampilan dari orang itu adalah pria tinggi memakai setelan hijau ke biru-biruan, terdapat bulu putih yang menutupi bagian kanan bahunya, dia memakai bandana putih dengan motif khusus di lehernya.


Dia juga memakai setengah jubah transparan dari pinggangnya sampai ke kakinya. Dan dia memakai aksesoris seperti lonceng di dadanya, rambutnya berwarna putih panjang.


Begitu dia berbalik ke arah Katsura, menampakkan wajah tampan dan elegannya kepada Katsura, bulu mata yang lentik dan mata yang berwarna biru cerah.


Dan ada tanda yang terukir di pipi kanannya, yaitu nomor "2" dalam bentuk angka romawi.


Begitu Katsura melihat wajahnya, dia langsung menyiapkan kuda-kuda dan memancarkan aura Golden Orb-nya, hanya dengan melihat wajahnya sudah membuatnya sedikit takut.


"Siapa aku?" ucapnya dengan nada yang datar dan tenang, lalu matanya menyorot ke arah Katsura.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu" secara tiba-tiba pria itu berada di samping Katsura dengan posisi menunduk, menandakan bahwa dia baru saja melompat.


Mata Katsura terbuka lebar, dia terkejut dengan kecepatan orang itu. "Apa?! itu bukan teleportasi, murni kecepatannya sendiri!" gumamnya dalam hati.


Katsura dengan gegabah memanggil Crescent Deluz di tangan kanannya lalu mengayunkannya ke arah orang itu.


Tentu saja ayunan sabit Katsura tidak mengenai orang itu, orang itu berpindah ke sisi lain di ruangan.


"Hey kau tak boleh mengayunkan senjata pada orang yang baru kau temui, sikapmu buruk, ya" ucap pria itu, dia membelakangi Katsura lagi.


"Namaku Zero, senang bertemu denganmu, The Only Light" Zero menyengir misterius, dan seketika itu juga Katsura sadar bahwa bagian bahu kiri sampai lehernya mulai terpisah dari badannya.


...****************...


Di sebuah tempat penampungan di semesta J-60, ada sebuah permasalahan kecil tentang perebutan sumber makanan di sana. Ditambah dengan cuaca yang sedang hujan, membuat semuanya semakin dramatis.


Di balik gerobak, seseorang dengan jubah bertudung membuka tudungnya, menampakkan kepalanya kepada publik.


Salah satu anggota Viper yang ikut ekspedisi pertama ke semesta lain, Felix Alonso.


Masih hidup.


Bersambung...