
Situasi semakin tegang, Aizo berhadapan dengan musuh yang sangat mengerikan. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan, tapi dia memaksakan dirinya untuk melawan Furuha.
Sebuah pedang dengan gagang yang berwarna ungu kehitaman sudah digenggam oleh Furuha, berserta dengan bilahnya yang sangat tajam.
..." Thunder Manifestation! "...
..." Create, Longsword! "...
Aizo menciptakan pedang yang terbuat dari petir ungu, yang mana petir ini jauh lebih kuat daripada petir berwarna kuning atau putih.
"Apa tanganmu tak kesakitan memegang petir secara langsung? aku sih tak mau, ya" ujar Furuha.
"Kukira kau tak suka berbasa-basi, ternyata kau bisa mengobrol juga, ya" balas Aizo dengan sedikit senyuman.
"Obrolan ini untuk sedikit mencairkan suasana, karena sebentar lagi tubuhmu akan tergeletak disini dengan darah yang bercucuran deras" tambah Furuha dengan nada yang datar, tapi dia tersenyum.
"Bisa-bisanya kau mengatakan hal sekejam itu dengan tersenyum, monster" Aizo semakin berkeringat.
..." Ichi "...
Furuha maju kedepan Aizo dan mengayunkan pedangnya secara vertikal. Lalu diikuti dengan gerakan berikutnya.
..." Ni "...
Aizo sempat mundur saat melihat Furuha maju, dan disaat setelah Furuha mengerahkan "Ni" dia mengayunkan pedangnya lagi, tapi secara horizontal.
Tebasan itu memotong angin dan memutarbalikan arus angin yang mana membuat Aizo sedikit kesulitan untuk menangkisnya.
Aizo mengangkat pedangnya, dia mengumpulkan energi untuk dilepaskan.
"Rasakan ini!"
......" Wrath of The Weather! "......
Aizo mengayunkan pedangnya dengan cepat, diiringi petir ungu dari langit menyambar Furuha beserta tanah disekitarnya.
Aizo merasa itu mungkin bisa memberikan sedikit luka untuk Furuha, tapi dia salah.
..." San "...
Petir itu sama sekali tak mengenai Furuha, petirnya berubah arah ketika menyentuh pedang Furuha.
"Mus..tahil!" mata Aizo berkaca-kaca, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
..." Yon "...
Furuha memutarkan bilah pedangnya, membuat petir yang ditahan pedangnya lepas dari genggamannya.
Petir itu pun menyambar apapun yang ada di tanah, dia sudah lepas dari kendali Aizo. Tanah yang disambar petir tersebut sampai hancur dan gedung-gedung pencakar langit runtuh.
Aizo dalam posisi berlindung, dia menghindari puing-puing yang jatuh kepadanya.
..." Go "...
Semua petir yang berkeliaran tadi diserap kembali oleh pedang Furuha, membuat pedangnya menjadi sedikit berwarna ungu.
"Takkan kubiarkan kau menyerang lagi!"
..." Fire Root! "...
Akar api muncul dari tanah mengikat kedua tangan Furuha agar tak bisa menyerang lagi. Tapi, diluar dugaan, akar api itu terserap juga oleh pedangnya.
Disaat Aizo ingin maju, dia malah kembali ragu-ragu dan memilih menunggu.
..." Roku "...
Furuha menancapkan pedangnya ke tanah, itu memicu retakkan yang besar, retakan itu mengalir bagaikan air menuju Aizo, beserta dengan sihir yang barusan ia serap.
Saat serangan itu menyatu dan meledak, Aizo sudah berada di titik buta Furuha, yaitu tepat di belakang punggungnya.
Furuha menunjukkan ekspresi terkejut, dan dengan sigap dia menahan serangan yang akan datang.
..." Nana "...
Sadar pedangnya takkan mungkin menang jika beradu dengan pedang Aizo, dia mengeraskan pedangnya dan mendorongnya dengan cepat agar tak menimbulkan kerusakan yang serius pada pedangnya.
..." Hachi "...
Furuha menunduk jongkok dan menusukkan pedangnya secara diagonal, membuat gelombang kejut yang dapat memotong apapun yang ada di hadapannya. Pohon di belakang Aizo saja terbelah setelah terkena serangan ini. Bahkan pipi Aizo ikut tergores.
"Jadi kunci serangan dia ada di pedangnya, ya.. Kalau begitu akan kuincar pedangnya dulu!" batin Aizo di dalam hati, dia menemukan rencana.
..." Kyu "...
Furuha memutarkan pedangnya, dan menusuk dengan cepat sambil mengeluarkan gelombang kejut yang sama. Tusukan ini sangat banyak, sampai-sampai Aizo tak bisa menghindari semua gelombang kejut tusukan Furuha.
Tubuh Aizo berlumuran darah, dia tersayat oleh serangan Furuha.
"Jangan anggap ini belum selesai, tahapan teknik berpedangku ada 11, 2 terakhir adalah senjata terkuatku" kata Furuha sambil melihat pedangnya.
Sementara itu, Yubino sedang memutar-mutar rantainya, dia memukul semua tombak yang akan mendekatinya dengan rantai itu.
"Kau takkan bisa menang jika hanya begitu saja!" ucap Guyu yang terjun dari atas mengincar kepala Yubino dengan bor. Tapi Yubino bisa menahannya.
Pukulan itu tak terlalu membuat luka pada tubuh Guyu, tapi api dari pukulan tersebut mampu menembus tubuhnya tanpa melubanginya.
Guyu menggenggam tangan Yubino yang berada di perutnya, lalu berkata, "Bagus.. Bagus... Tingkatkan lagi kekuatanmu!"
"Orang aneh!" kata Yubino didalam hati.
Tak disangka, Guyu meninju Yubino tepat di dahi, setelah pukulan itu mengenai dahi nya, baja cair menusuk otaknya sampai ke belakang.
Di sisi lain, terlihat Arizawa sedang bersembunyi dibalik rumah sambil menganalisis kekuatan musuh. Kaca itu semakin bertambah banyak dan mempersempit ruang gerak Arizawa.
"Hehh.. Dimana kamu? oh disitu rupanya!" Sairo baru saja menemukan Arizawa menggunakan kaca pengintainya yang bisa berpindah-pindah tempat.
"Cih!" Arizawa melompat keluar dari jendela, tapi dirinya dihalangi oleh Sairo dan ditendang sampai ke gubuk petani.
"Aduh-duh-duh..." Arizawa kesakitan, lalu dia pun bangun dan duduk, dia mencoba merapal sihir.
..." Lightning Bolt! "...
Arizawa menembakkan bola listrik ke salah satu kaca, hal itu mengejutkan Arizawa, kaca pengintai Sairo retak dan mulai panas.
"Oh! jadi kaca tersebut harus ku aliri dengan listrik, dan agar hancur ditambah dengan api, yosh! aku sudah mendapat ide!" katanya.
..." Point Strike! "...
Arizawa menandai setiap kaca yang ia lihat dengan sihir airnya, penanda itu membuatnya tahu dimana lokasi kaca tersebut walau dari jarak jauh.
Menyadari bahwa seluruh kaca pengintainya telah ditandai oleh Arizawa, Sairo pun mengoceh, "Hahaha, untuk apa kau menandai mereka? agar tahu posisi mereka? itu tak akan merubah nasib mu. Aku tetap bisa melihatmu dari sudut manapun."
"Berbicaralah sesukamu" balas Arizawa dingin.
Sairo sedikit geram dengan balasan Arizawa, dia pun membuat meteor yang terbuat dari kaca.
"HAHAHAHA, KALAU BEGITU BAGAIMANA DENGAN INI?!"
..." Fall Of The Moon Blade "...
Arizawa tersentak setelah melihat meteor yang sangat besar bersiap menghantam area nya. Tapi dia tak memedulikannya dan merapal mantra.
"Mau kemanapun kau pergi, aku tetap bisa melihatmu" mata kiri Sairo menjadi merah, dia sedang mengamati gerakan Arizawa.
......" Bumi dan Air, Merpati terbang dari sarangnya menuju rumah sakit, bunga melati layu di taman, panas matahari menggambarkan sebuah lukisan di tanah, lahar api dan badai yang tak kunjung berhenti. "......
"Mantra yang lamban!" Sairo menembakkan laser dari kaca yang sedang mengamati Arizawa, dia bisa mentransferkan sihir lewat kaca yang ia buat.
Arizawa melihat ke atas dan selesai merapal mantra.
..." Sihir Gabungan Api dan Listrik : Rantai Kehancuran Yang Tak Akan Selesai! "...
Semua penanda di kaca pengintai menyala, sihir Arizawa saling berhubungan dari satu penanda ke penanda lain, membuat seluruh kaca yang ia tandai hancur berkeping-keping.
Tentu, Arizawa juga terkena laser yang ditembakkan oleh Sairo. Tapi, sihir Arizawa yang tadi tetap menyala setelah kaca pengintai Sairo hancur, yang mana jika meteor tersebut melintasi area sihir Arizawa, maka meteor itu akan hancur seketika.
"B-bagaimana mungkin?" Sairo tak percaya dan hanya bisa terdiam setelah melihat semua kacanya hancur lebur.
"Rasakan itu" kata Arizawa sambil memegangi perutnya.
Di sisi lain, terlihat Homura sedang tergeletak di tanah. Dia terkena racun dari Mora.
"Bagaimana, apakah enak menghirup racunku?" Mora berdiri di atas puing tebing.
"U-ghoogh" Homura batuk darah, dia tak bisa menetralisir racun dalam di tubuhnya.
"K-kurang ajar..!" kata Homura sambil melihat ke arah Mora, tangannya berusaha meraih Mora, lalu dia terkapar.
"Ada-ada saj-" Mora reflek menghindar saat mengatakan itu. Homura memaksakan dirinya untuk melewati bayangan dan menebas leher Mora. Alhasil perjuangan itu hanya menggores lehernya sedikit.
..." Fire Punch "...
Mora sudah muak, dia memukul Homura menggunakan sihir apinya hingga Homura terpental sangat jauh.
Pertarungan Aizo melawan Furuha masih berlanjut, Aizo sempoyongan menghindari serangan-serangan Furuha.
"Mau sampai kapan kau menghindar?" Furuha bertanya sambil terus menerus mengeluarkan gelombang kejut tusukan.
..." Ju "...
Furuha menancapkan pedangnya ke tanah lagi, secara mengejutkan pedangnya menjadi banyak dan muncul tepat dibawah pijakan Aizo dan menikamnya.
Setelah menikam Aizo, pedang itu menyusut dan kembali pada pedang aslinya yang ada di tangan Furuha.
Aizo terbaring tak berdaya, lalu dia bersikeras tetap bangkit dan berkata, "A-aku m-masih bi-isa ber-t-arung."
..." Jū ichi "...
Furuha membalikkan pedangnya ke sisi tumpulnya, dan dia menebas vertikal seperti biasa, tapi kali ini gelombang kejut yang dihasilkan sangat kuat dan jauh, gelombang kejut ini sangat sangat cepat. Aizo tak mampu bereaksi dan membuat lengan kanannya terpotong.
Gelombang kejut itu sampai ke ujung Lugar Cerrado, walau serangan itu berhenti disitu karena tertahan Lugar Cerrado, efeknya sampai keluar dari dinding Lugar Cerrado dan merusak beberapa fasilitas warga.
"Aku.. kalah?" Aizo tumbang.
Bersambung...