
"Semuanya... Pengguna sihir sejati?" tanya Arizawa kepada Katsura.
"Iya. Dari hawa mereka saja sudah terasa sangat berbeda, ini mirip seperti hawa Showa namun jauh lebih lemah" jawabnya.
"Cih.. Yang benar saja.. Sial!" Arizawa geram.
"Jadi lawanku adalah kau, ya.. Bukan lawan yang mudah" kata Homura sambil mempersiagakan diri.
"Sejak kapan aku menjadi lawan yang mudah? dari dulu aku selalu menang melawan musuhku. Tak peduli seberapa kuat musuhku. Bahkan aku bisa saja lebih kuat dari tuan Showa jika aku mau" ucap Mora dengan nada santai, namun menyengat.
Homura menyadari potensi yang dimiliki Mora sebagai petarung, memang dari awal kemunculannya dia mengeluarkan aura yang paling mengancam dari semuanya.
"Waduh waduh, sepertinya aku juga harus serius padamu, ya" Homura berbicara dengan nada serius dengan tatapan yang seperti ingin membunuh.
Mora mengangkat tangannya, dengan cepat Homura bergerak menjauh dari tempat sebelumnya. Dia sekarang berada di jarak 100 meter dari Mora.
Sadar bahwa sihir yang digunakan Mora bisa saja sebuah sihir non-fisik, dia bergerak menjauh untuk tidak terkena efek sihir tersebut sambil menganalisis gerakan Mora.
"Dari tadi dia tidak bergerak sama sekali, apa yang dikeluarkan oleh tangannya?" kata Homura dalam hati.
..." Wind Apocalypse! "...
Homura mengeluarkan angin yang besar dari tubuhnya, angin yang dikeluarkan sangat dahsyat, bahkan pepohonan yang jauhnya 300 meter berterbangan karena angin itu, gedung-gedung juga retak. Tapi, Mora masih bertahan pada posisinya seakan tidak ada apa-apa.
"Dia bisa bertahan selama itu? dasar monster!" Homura geram.
..." Obliterate "...
Semua angin yang dikeluarkan seketika hilang. Homura tak terkejut, tapi setelah dia rasakan lagi, dia sangat terkejut.
"Ini bukan angin yang menghilang ataupun lenyap, angin ini benar-benar mati seperti makhluk hidup yang mati!" raut wajah Homura tampak ketakutan.
"Kau terkejut? itu baru separuh kekuatanku, kau akan merasakan lagi semuanya" Mora mengeluarkan sabit nya.
"Sebuah sabit? dia seperti seorang shinigami saja!" kata Homura.
..." Death Dealling "...
Mora mengayunkan sabitnya secara horizontal, mengeluarkan gelombang tebasan berwarna hitam pekat mengarah ke Homura.
Homura melapisi tangannya dengan sihirnya, dia menahan serangan Mora dengan kedua tangannya hingga serangan itu benar-benar lenyap.
"Oh? kau ternyata bisa menetralkan sihir, sihir yang cukup bagus" kata Mora dengan nada datar.
"Asal kau tahu saja, satu tebasan dari sabit ini bisa membunuh orang dengan seketika" tambahnya.
"Tanpa kau beri tahu juga aku sudah tahu" balas Homura dengan sedikit rasa kesal.
Berpindah ke sisi lain, Arizawa sedang berlari menghindari bola-bola listrik dari Sairo.
"Mau sampai kapan kau berlari terus menerus? ayo lawan aku!" katanya dengan girang.
"Dasar aneh" balas Arizawa.
..." Firewall Spear! "...
Arizawa membalas bola-bola listrik yang berdatangan dengan satu hempasan tombaknya yang menerobos semua bola-bola listrik itu. Serta meninggalkan dinding api di jalur yang dilintasi tombaknya.
"Konsep sihir yang menarik.. tapi" disaat Sairo sedang berbicara, Arizawa sudah berada di samping Sairo sambil menodongkan energy sword ke leher Sairo. Tapi, anehnya sergapan itu dengan mudah ditangkap oleh Sairo.
"Itu terlalu buru-buru, memang bagus memanfaatkan kelengahan musuh, tapi aku bukanlah tipe orang yang mudah lengah, tahu" tambah Sairo.
"Dia bahkan tak terluka setelah menggenggam energy sword secara langsung?! monster!" batin Arizawa kesal.
"Jangan ketakutan seperti itu, dong. Sebaiknya kau memikirkan bagaimana aku tahu gerakanmu walau dirimu dihalangi oleh tembok api yang membara" kata Sairo.
"Kau pasti melacak energiku, kan? sudah sangat terteba-"
"Salah besar."
Arizawa terkejut, tebakannya salah. Padahal menurutnya itu adalah cara paling umum untuk mengetahui keberadaan seseorang tanpa melihatnya secara langsung.
"Lihat di belakangmu" suruh Sairo kepada Arizawa.
Arizawa menoleh kebelakang, dia melihat ada serpihan kaca yang terus berubah bentuk yang tak beraturan sedang melayang di atas tanah, jarak antara kaca dengan tanah itu sangat dekat, hanya 1 meter.
Arizawa melihat keatas, banyak sekali kaca-kaca yang persis seperti yang dibelakangnya melayang di langit dan di tanah.
..." Sihir Kaca : Kaca Pengintai "...
Sairo baru selesai merapal mantra. Sementara Arizawa masih menganalisis ada berapa kaca yang ada di area pertarungannya. Dia berencana untuk menghancurkan semua kacanya dengan sekali serang.
"Jadi sihir sejatimu adalah sihir kaca, ya? sihir yang tak terlalu merepotkan, baguslah" ujar Arizawa sambil menunduk.
"Heh, kau terlalu meremehkanku" Sairo meningkatkan aura nya sehingga Arizawa ketakutan dan hampir tidak bisa bergerak.
"Aku punya rencana!" mata Arizawa berkedip, dia mempunyai ide untuk menghadapi Sairo.
Disisi lain, Yubino sedang menebas seperempat gedung hingga terbelah. Dia sedang mencari Guyu yang sedang bersembunyi di suatu tempat.
"Keluarlah pengecut! kau hanya bersembunyi dan melancarkan misil dari jarak jauh, kan?!!" Yubino kesal, dia sudah berkali-kali mencari kemanapun tapi tidak ketemu juga.
"Hm, pengecut katanya, baiklah akan ku serang balik sekarang juga" Guyu membuat bazoka dari baja cair, dia mengarahkannya ke arah gedung belakang Yubino.
*BLAAST!!
Dengan mendengar suara bising itu, Yubino tak perlu melihatnya untuk menghindar, dengan santai ia memiringkan badannya.
"Tembakan mu saja tak ada yang kena, bagaimana bisa dia dikatakan sebagai pengawal elite?" oceh Yubino.
"Dengan serangan membabi buta seperti itu, kau takkan pern-"
Yubino terkejut, serangan barusan memang bukan diarahkan kearahnya, melainkan mengincar titik buta Yubino untuk membuat sebuah sangkar raksasa.
..." Sihir Baja : Tempat Eksekusi "...
Guyu memadatkan baja cairnya menjadi sebuah baja biasa, dia mengurung Yubino dalam sangkar raksasa bersama dirinya, sangkar ini memberinya keuntungan berupa penambahan kecepatan.
"Sangkar seperti ini takkan cukup untuk menghalangiku untuk mengalahkanmu!" Yubino kesal, dia mengubah pedang apinya menjadi tongkat api yang bisa menjalar kemanapun sesuai keinginannya.
Yubino memanjangkan tongkatnya hingga menyentuh kedua sisi sangkar, dan dia memutar tongkatnya secara membabi buta agar baja itu meleleh.
"Tak berguna, tahu" sesaat setelah Sairo mengatakan itu, Yubino tertusuk di bagian telapak tangan oleh baja dari sangkar itu, dan baja itu terus menembus tangan Yubino sampai pada akhirnya Yubino memotong baja itu dengan penuh usaha.
"Oh? dalam juga lukanya" ucap Guyu.
"Hahh... Hah.... Sial kau!"
"Apa kau berpikir semua ini sudah selesai? hah... aku takkan menyerah sialan!" Yubino malah semakin bersemangat.
"Bodoh."
Yubino tertusuk lagi oleh tombak baja yang keluar dari dalam sangkar, tombak itu dibuat dari sisi-sisi sangkar.
Yubino melihat celah saat sisi sangkar itu membentuk tombak, ada celah yang bisa digunakan untuk kabur sebelum sisi itu beregenerasi kembali.
..." Maximum Heat! "...
Yubino melapisi dirinya dengan api yang membara, panasnya sekitar 5000° C.
"Bagus, sekarang aku bisa lebih merasa bersenang-senang" ucap Guyu dengan santai.
Sementara itu, ditempat Zeldris disembuhkan, Furuha datang dengan santai untuk mengambil Zeldris.
Disaat Furuha mengerahkan tangannya untuk mengambil tubuh Zeldris, tangannya terkena serangan.
..." Lightning Blast! "...
Aizo muncul secara tak terduga, dia mengkhawatirkan keselamatan Zeldris setelah tahu dia terluka parah. Dia tak memedulikan perintah Katsura, dia terjun ke medan pertempuran.
"Jangan sentuh dia!" seru Aizo.
"Jadi ada pengganggu, ya? kalau begitu cepatlah menyingkir, aku sebenarnya tak ingin ikut bertempur" ujar Furuha.
"Aku takkan menyingkir! takkan kuserahkan Zeldris padamu!"
"Kau tak memberikanku pilihan, maka aku akan mengambilnya setelah mayatmu terkapar disini" Furuha mengangkat tangannya dan memanggil sebuah pedang.
Bersambung...