
Setelah Sora pergi cukup jauh, Katsura kembali ke wujud aslinya dan menemui Feria di balik bongkahan batu.
"Kamu baik-baik saja?" Katsura mengulurkan tangannya.
Feria mengangguk lalu menggenggam tangan Katsura, "Ya aku baik-baik saja" katanya dengan senyum manis.
"Kamu terikat sebuah janji dengannya, ya?"
"Ya, aku tak menyangka akan langsung bertemu pengguna Golden Orb di masa ini secepat ini" Katsura mengeluarkan Embodiment Crystal yang retak dari dalam jubah nya.
"Apa kamu yakin dia bisa membantu memperbaiki itu?" Feria bertanya dengan raut wajah yang ragu-ragu, dia khawatir Sora mungkin akan membebaskan Ferus.
"Ya, aku juga kurang yakin, namun kata seseorang dari alam bawah sadar Golden Orb-ku, dia lah yang harus ku cari, aku yakin dia mengatakan hal yang benar."
"Baiklah.. aku akan menurutimu saja, semoga itu benar.."
Mereka mulai berjalan, raut wajah Katsura menunjukkan kebingungan dan ketidakpastian, seperti ada yang mengganggu di benaknya.
Feria menoleh dan menatap mata Katsura, "Kamu kenapa? ada masalah yang mengganggumu?" dia bertanya pelan.
"Entahlah, kamu lihat sekelompok orang dengan mobil ambulan tadi, kan?"
"Ya aku lihat, memangnya kenapa?"
"Aku merasakan sesuatu yang amat... familier denganku.. entahlah mungkin itu hanya firasat atau semacamnya, tapi hal itu selalu masuk di benakku, aku memikirkannya terus sekarang" jawab Katsura setelah menghela nafas, dia merasakan ada sesuatu yang membuatnya mengingat masa lalu.
"Dan setiap aku melihat ke arah langit yang berwarna merah ini... entah mengapa aku teringat mimpi di masa laluku" Katsura menatap langit dengan mata yang penuh pertanyaan.
"Mimpi? mimpi apa?"
Katsura berhenti berjalan, dia akan menceritakan mimpi di masa lalunya ke Feria sama seperti Herald.
"Duduklah dulu, kamu bisa menceritakan pelan-pelan" Feria memahami perasaan Katsura dan menyuruhnya untuk tenang.
Katsura dan Feria duduk bersebelahan, Katsura sekali lagi menghela nafas panjang, lalu dia pun mulai bercerita.
"Dulu, sebelum aku direkrut ke Viper, aku bersama sahabatku yang telah tiada, Herald, aku bermimpi aneh saat menginap dirumahnya."
"Mimpi itu sangat aneh, saat itu aku masih bayi, kekacauan dimana-mana, langit yang merah darah dan banyak suara ledakan. Kamu tahu itu dimana?"
"Ya, itu disini. Aku tahu persis kondisinya saat itu."
Feria sangat terkejut mendengar cerita mimpi Katsura, dia bertanya-tanya dalam hatinya bagaimana bisa itu terjadi.
"Jadi, kamu sudah berumur ratusan tahun?" Feria menarik kesimpulan dari cerita Katsura. Walaupun dia tidak yakin itu benar atau tidak.
"Itu yang aku pertanyakan, dari kecil aku tak memiliki sosok ayah dalam hidupku, aku hidup berdua bersama ibuku."
"Namun dalam mimpi itu, sesaat sebelum aku memejamkan mata, seorang pria berkata selayaknya perkataan ayah kepada seorang anaknya, dan dia menyebutku sebagai satu-satunya harapan."
Kata-kata "Satu-satunya harapan" membuat Feria semakin yakin bahwa Katsura sudah hidup di masa ini.
"Kalau begitu kita harus menemukan kebenarannya, ini pasti sangat mengganggu pikiranmu jadi ayo kita cari tahu bersama-sama!" Feria menyemangati Katsura dengan bersedia membantunya, dia sangat senang bisa membantu lelaki yang sangat ia cintai.
Perkataan penyemangat dari Feria membuat Katsura tersenyum, lalu dia pun menemukan kembali motivasi dan semangatnya.
"Kamu benar, ayo kita cari tahu kebenaran ini bersama-sama!" Katsura secara tiba-tiba menggenggam kedua tangan Feria erat-erat, hal ini membuat wajah Feria tersipu malu.
"Apa kamu ingat kemana mobil itu pergi?" Katsura bertanya.
Tangisan bahagia menetes dari mata Feria, "Tentu aku ingat, mereka pergi ke arah utara!" jawabnya lantang.
"Ayo kita pergi sekarang" Katsura memimpin jalan, dia berlari sembari memegang tangan Feria dibelakang, mengikutinya.
Di sisi lain, di dalam ambulan, Sina masih dalam keadaan pingsan dan sekarat, namun hasratnya untuk terus hidup masih ada, dia bernafas sangat berat.
Kecepatan mobil semakin cepat, dan lama kelamaan kesadaran Sina memulih kembali, ia membuka matanya perlahan.
Yoru sangat senang dan menangis bahagia, ia pun memeluk Sina sangat erat lalu berkata semuanya baik-baik saja.
"Aku... sudah tidak kuat lagi... ini harus keluar sekarang..." Sina terengah-engah, nafasnya sangat sesak.
"Aku tahu, aku tahu, keadaan memang sangat sulit sekarang.."
Setelah beberapa menit, mobil akhirnya berhenti di sebuah kuil kecil yang terlantarkan, mereka berniat untuk mengeluarkan bayinya secara paksa karena jika ditahan lebih lama lagi, Sina akan tewas.
Dua bidan dan Yoru ikut membantu proses kelahiran, walaupun Yoru tak siap kehilangan Sina, namun dia harus tetap tegar agar anaknya bisa lahir.
Jika anaknya berhasil dilahirkan, sudah dipastikan Sina juga akan tewas akibat rasa sakit dan trauma yang dia dapati selama ini.
Bidan itu memulai proses pengoperasian, namun secara tiba-tiba seseorang dari kejauhan berjalan menuju mobil.
Supir pun maju agar orang itu tidak mengganggu proses pengoperasian, namun dia salah lawan. Yang datang kesana adalah salah satu pengawal Sora, sang pemilik sihir waktu yang legendaris, yakni Din.
Din memiliki fisik seorang pria berumur 25 tahun dengan rambut berwarna hijau gelap, matanya sipit dan wajahnya sangat mengintimidasi.
Supir itu tak mampu melawan, alhasil dia tewas akibat dirinya dikirim ke garis waktu lain.
"Kalian pikir kalian cukup hebat untuk bisa kabur?" Din berjalan sambil tertawa, dia berada di pintu kuil.
Yoru tak sempat menoleh, Din terlebih dahulu menusuk dada Sina dengan energinya, Sina kehilangan banyak darah dan tenaga, para bidan dibuat panik, alhasil Din membunuh mereka semua kecuali Yoru dan Sina, walau mereka terluka sangat parah namun mereka masih bertahan hidup.
"Pada akhirnya tidak akan ada lagi yang lahir!" Din membuat bola energi berwarna hijau terang yang dikelilingi oleh satu cincin kecil dengan tulisan kuno di atasnya. Bentuknya menyerupai planet saturnus.
..." Time Void "...
Din mengangkat tangannya, saat dia ingin melemparkan serangannya pada Yoru dan Sina yang setengah hidup, Katsura datang menggenggam pergelangan tangan Din.
Tentu Din sangat amat terkejut ada seseorang dibelakangnya, Katsura membanting Din ke tanah dan menggunakan Embodiment Crystal yang retak untuk menyerap sihir waktunya pada bagian luar Embodiment Crystal.
Din tidak bisa mengelak, sihirnya terambil begitu pula dengan nyawanya.
Embodiment Crystal kini dikelilingi oleh energi berwarna hijau, Yoru melihat ke arah Katsura dengan tatapan yang seakan-akan berterimakasih, lalu Katsura pun melepaskan sihir waktu Din ke arah Yoru, kini Yoru memiliki sihir waktu.
"Gunakan itu untuk mempercepat prosesnya" kata Katsura kepada Yoru.
Yoru dengan tubuh penuh luka tidak ragu-ragu, tanpa pengetahuan soal sihir pun dia berhasil mempercepat kelahiran anaknya, Sina telah tewas saat Katsura memberikan sihir waktu pada Yoru.
Kini anaknya berada pada pelukannya, dia memeluknya erat-erat sebelum akhirnya dia juga akan berpisah dengan anak satu-satunya.
Yoru berlari membawa anaknya keluar, namun sebelum itu dia bertanya pada Katsura siapa namanya.
"Siapa namamu..?"
"Laith."
"Laith, ya. Nama yang bagus, terimakasih sudah membantuku, anak ini akan menjadi satu-satunya harapan di masa depan nanti" Yoru mengusap wajah anaknya.
"Izinkan aku memakai namamu untuk nama anakku, akan kuberikan nama.. ya benar.. namamu adalah Katsura Laith" Yoru mencium dahi anaknya, lalu dia pergi sejauh mungkin.
Mata Katsura terbuka lebar-lebar, tak disangka yang barusan ia temui adalah ayah kandungnya.
"Apa...?" tanyanya yang tidak percaya.
Setelah pergi cukup jauh, Yoru menaruh anaknya di tanah dan mempersiapkan ritual, dia menyegel Katsura kecil ke 100 tahun mendatang di bawah tanah, dan dia pun memberikan sihir waktunya pada Katsura kecil.
Dengan mulut yang penuh darah, Yoru memaksakan dirinya untuk berbicara, "Katsura... kau harus hidup, gunakanlah kemampuan ini untuk menjaga dirimu... Aku sangat sedih karena tidak bisa melihatmu tumbuh dewasa, selamat tinggal, anakku satu-satunya.."
Bersambung...