
"Homura.. Homura ada dua!!" seru Feria terengah-engah di ruangan Katsura.
Katsura yang mendengar perkataan itu lantas bingung apa maksudnya.
"Apa maksudmu?"
"Ceritanya, aku sedang berjalan ke lab untuk mengecek penelitian Homura sudah sampai mana, setelah mengecek dan aku berpamitan pergi, tepat di depan pintu lab ada Homura yang lain sedang membawa box kayu berisi peralatan-peralatan sains."
"Dari situ aku terdiam, dan saat aku menoleh ke belakang, Homura yang satu masih terus meneliti, sementara Homura yang ada di depan ku terdiam saja. Aku pun pergi dari situ dan berlari ke sini" jelas Feria tentang situasi yang dia hadapi.
"Hmm begitu ternyata, jadi, dimana kedua Homura itu sekarang?" Katsura memahami situasi.
"Saat aku berlari kesini, Homura dua yang aku lihat langsung kabur, namun aku ikat kedua lengan dan kakinya menggunakan sihirku sehingga dia terjatuh. Sementara Homura yang satu lagi masih sibuk meneliti dan tidak mendengar kejadian yang ada diluar" jelasnya lagi.
"Kalau begitu kita masih punya waktu, ayo kita kesana" Katsura beranjak bangun dari ranjangnya, dengan penuh rasa sakit di seluruh tubuhnya.
"Pelan-pelan saja jalannya, dia takkan kabur kok, seharusnya."
"Yah masalahnya, diantara Homura itu ada yang palsu dan asli, yang asli pasti bisa menggunakan sihirnya dan bebas kembali. Sedangkan yang palsu tidak."
"Lalu, apa masalahnya?"
"Kita tidak tahu mana yang asli, bukan?"
"Aku yakin, Homura yang sedang ada di lab adalah yang asli!" tegasnya.
"Kita lihat sesampainya disana."
Saat mereka berdua sampai disana, alangkah terkejutnya mereka bahwa Homura telah tidak ada disana. Baik yang di lab, ataupun yang terikat di lantai.
"Disini, kan, tempatnya?" tanya Katsura.
"Kok tidak ada orang sama sekali?"
Feria melongo melihat lantai, lalu dia berkata, "Aku bersumpah, tadi dia terikat di lantai!"
"Iya iya, aku percaya kata-kata mu, kok."
"Mau dicari terlebih dahulu?" ajak Katsura.
"***-"
"Heii!! Katsura dan Feria!! cepat kemari!" seruan dari suara yang mirip dengan Aizo terdengar dari jauh, lalu mereka pun mengikuti arah suara itu.
Cukup jauh mereka berjalan, ternyata suara Aizo berasal dari gudang di belakang markas. Aizo menggunakan sihir nya untuk memantulkan suara nya.
Seluruh anggota terlihat dari kaca, semuanya berkumpul di dalam gudang, Katsura dan Feria sempat heran mengapa semuanya berkumpul di satu gudang.
"Hei, apa maksud kalian berkumpul disini? apakah mengadakan pesta atau bagaimana?" ucap Katsura sesaat sebelum membuka pintu gudang.
Setelah dibuka, Katsura dibuat terkejut karena kedua Homura telah di tangkap dan di ikat di kursi.
"Loh? kok bisa ada disini?" ucap Feria.
"Terkejut? sama aku juga" kata Cezo.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Katsura bertanya.
"Oke, awalnya, Aku dan Suizei baru saja kembali dari luar dan ingin pergi ke lab untuk mengambil sesuatu. Namun, Homura terlihat terburu-buru sekali sampai menabrak ku. Aku tidak memedulikan nya sampai pada di lab, aku melihat Homura yang lain."
"Ada barang-barang yang berserakan juga di lantai, jadi kupikir itu adalah ulah Homura palsu yang tadi menabrakku. Untung saja Suizei belum ikut masuk bersamaku, jadi aku langsung menghubungi Suizei yang masih di pintu luar untuk berjaga dan menangkap Homura palsu itu."
"Tanpa pikir panjang pun, aku yang ada di lab langsung memborgol kedua tangan Homura."
"Eh? untuk apa aku di borgol?" katanya.
"Sudah ikut saja dulu, kau akan paham situasi nya nanti" balasku.
"Setelah itu aku mengikat kedua Homura di kursi, dan membiarkan mereka saling tatap menatap. Dan benar saja, satu orang adalah palsu. Mereka saling menentang siapa yang asli dan yang palsu."
"Aku yang asli! kau hanyalah sampah penipu!" kata Homura di kursi sebelah kiri.
"Enak saja menuduh begitu! aku yang asli! lagipula kenapa kau mengerjakan penelitian yang sama begitu lama?" balas Homura di kursi sebelah kanan.
"Dan mereka terus bercekcok sampai pada akhirnya aku menutup mulut mereka dengan sihir ku dan juga memanggil seluruh rekan" urai Cezo rinci.
"Aku.. Aku tidak tahu.. Mungkin yang lepas dari sihirku adalah yang asli?" Feria bimbang.
"Namun, aku berasumsi bahwa salah satu dari kita ada yang menyamar menjadi Homura dan mengerjai kita" Cezo berasumsi.
"Apa yang membuat kau berpikiran seperti itu?" tanya Aizo.
"Homura yang berada di kursi sebelah kanan sebelumnya bilang bahwa Homura yang di sebelah kiri itu melakukan penelitian terlalu lama di lab, padahal biasanya Homura selalu cepat ketika meneliti."
"Itu menunjukkan bahwa Homura di kursi kanan sudah berada disini lebih dulu daripada Homura di kursi kiri" jelas Cezo.
"Jadi, maksudmu keduanya adalah palsu, begitu?"
"Bisa jadi iya, bisa juga tidak. Terlalu banyak yang tidak kita ketahui" balasnya.
"Bisa saja itu adalah bawahan Showa yang menyamar, ingat perkataan Raiha?" Zeldris berbicara.
"Benar juga, Cezo, bisakah kau mengecek jumlah bawahan Showa yang tersisa?" pinta Katsura.
"Sebelumnya sudah aku lakukan riset, semuanya hadir dan tidak ada yang bolos. Total ada 224 orang dan semuanya ada" jawab Cezo yang sudah lebih dulu melakukan riset.
"Atau bisa saja itu salah satu dari kita, contoh nya mungkin Arizawa, atau Yukichi. Siapa yang tau, kan?" ucap Aizo.
"Atau Azashi, setelah melawan Ferus, dia tidak muncul belakangan ini" Katsura menambahkan tersangka.
"Omong-omong soal Arizawa dan Yukichi, mereka kemana, ya? kok mereka belum kembali juga dari pembangunan markas?" pikiran Yubino tiba-tiba terlintas pertanyaan.
"Ya mereka mungkin sibuk? banyak pekerjaan yang belum selesai juga kan disana" jawab Cezo.
Disaat yang lain sedang membahas perginya Arizawa dan Yukichi, Katsura maju ke depan kedua Homura.
"Katsura? apa yang kau lakukan?" tanya Feria.
Katsura mengarahkan masing-masing telapak tangannya ke kedua Homura, dan memaksa mereka berdua menggunakan sihir.
"Cezo, kau bilang kau menutup mulut mereka dengan sihir, kan?" tanya Katsura.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak."
Dari telapak tangan Katsura, muncul sebuah serbuk glitter berwarna putih ke abu-abuan tercipta dan jatuh ke kedua Homura.
Kemudian Homura yang berada di sebelah kanan melepaskan sihir Cezo karena sihir penetralannya.
"Ini yang asli" kata Katsura sambil menunjuk Homura di sebelah kanan.
"Apa yang kau lakukan?" Cezo bertanya.
"Aku menggunakan serbuk penemuan orang lain, lebih tepatnya, kenalan ku dulu. Ini bisa memaksa seseorang mengeluarkan sihirnya secara otomatis. Dan terbukti bahwa Homura yang asli menetralkan penutup mulut yang terbuat dari sihirmu, Cezo" jawab Katsura.
"Jadi begitu, masuk akal juga, sih. Memaksa seseorang mengeluarkan sihirnya sehingga kita tahu mana yang asli dan yang bukan."
"Benar, dan juga ini memaksa keluarnya sihir sejati, yang mana hanya satu jenis sihir yang dapat digunakan setiap orangnya. Ini sudah jelas bahwa Homura di sebelah kiri palsu. Kita bisa membuangnya."
"Kau sudah tahu akibatnya, kan?" kata Suizei kepada Homura palsu.
"Tidak boleh ada yang meniru kami selain diri kami sendiri" ucap Suizei tajam, lalu dia menekan tombol dan menteleportasikan Homura palsu ke sebuah jurang yang sangat tinggi.
Katsura melepas ikatan yang mengikat Homura, lalu Homura pun berkata, "Akhirnya bisa bebas dari ikatan ini juga, untung saja kalian percaya pada kata-kataku."
"Selamat datang kembali, Homura" kata Katsura dengan senyuman.
Namun, di suatu tempat yang amat gelap, terlihat sebuah pria didalam penjara bawah tanah yang dingin sedang terikat oleh borgol besi, dan kakinya juga di rantai sedang duduk diatas kursi.
Pria itu memakai kain putih seluruhnya, pandangannya ke tanah.
Seseorang membuka penjara itu, lalu dia berkata, "Wah wah, tak kusangka kau termakan jebakan kami, ya."
Suara itu tak lain adalah Hiromi. Kemudian dia menjambak rambut pria itu hingga terlihat wajahnya.
"Sang profesor jenius, Homura Feridou."
Bersambung...