
"Aku serahkan sisanya padamu, Yosua" ucap Felix sesaat sebelum dia meninggalkan ruangan tersebut dengan sihirnya.
Para penjaga secara terburu-buru berlari ke tempat Felix kabur, mereka berniat untuk memeriksa jalan yang dilalui Felix, namun lubang bayangannya sudah ditutup oleh Felix.
Salah satu penjaga yang berada tepat di tempat Felix kabur pun berdiri dan berkata, "Yang mulia, kita kehilangan si penyusup" sambil memegang alat yang ada di telinganya.
"Kerja bagus, kalian mundurlah. Membuat si penyusup sampai kabur saja sudah menguntungkan kita, aku berterimakasih padamu" balas sang raja melalui alat tersebut, suaranya yang lemah lembut berasa seperti dihembuskan angin sepoi-sepoi di pagi hari.
"Oh ya, satu lagi, lebih baik kalian menjaga di sekitar pintu masuk karena sebentar lagi aku yakin ada seseorang yang akan menerobos masuk" tambah sang raja.
"Siap, yang mulia, akan segera kami laksanakan perintah anda" penjaga menjawab dengan tegas.
Penjaga yang sedang berkomunikasi dengan sang raja pun mengangguk lalu dengan sopan meminta izin untuk mematikan panggilan, setelah itu dia memerintah semua penjaga yang ada di dalam ruangan untuk segera meninggalkan ruang tersebut.
Diatas kerajaan, Felix muncul dari lubang bayangan miliknya, melihat ke sekeliling kota tersembunyi di balik kubah yang tidak terlihat.
"Escalivor sudah bergerak.. aku harus bergegas kembali ke tempat asalku sekarang juga" ucap Felix.
Felix menatap ke bawah, melihat banyak sekali penjaga yang berjaga di pintu masuk, dia pun sekali lagi mengaktifkan portal miliknya untuk berteleportasi ke tempat lain.
"Aku mengandalkanmu, Yosua."
...****************...
Kembali ke situasi Katsura, disana dia masih terus menelpon Arizawa dan Yukichi di markas, sambil memberi tahu apa yang dia alami saat melawan Zero.
Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, Arizawa pun mulai menanyakan kapan Katsura akan kembali ke markas.
"Katsura, apa kau akan terus berada disana sepanjang waktu?" tanya Arizawa yang sedikit menyindir Katsura yang sedari tadi berbaring di tanah saja.
"Ya aku akan kembali nanti, aku belum menjelajahi kastil Zero. Aku yakin disana banyak petunjuk tentang dirinya" Katsura mulai bangun dan berdiri dengan alat komunikasi di tangan kanannya.
"Eh? kau akan pergi sekarang?" tanya Arizawa yang melihat Katsura seketika bangun.
"Mau bagaimana lagi, kan? aku tidak ingin di sindir olehmu terus juga, sih" balas Katsura dengan nada bercanda.
Arizawa tertawa, lalu dia pun berkata, "Baiklah, namun jangan matikan telepon ini, aku juga ingin melihat isi kastil Zero itu."
Yukichi ikut merespon, "Kau hari ini sangat antusias, ya" ucapnya kepada Arizawa.
"Aku hanya penasaran saja, tidak lebih, kok" balas Arizawa dengan santai, walau pandangannya terus ke arah layar hologram.
Katsura mulai berlari masuk ke dalam kastil, di lorong awal masuk tidak banyak hal menarik, hanya ada banyak tiang hitam yang menjulang tinggi keatas sebagai pondasi, dan Katsura sampai di tempat pertama kali dia bertemu Zero.
"Bekas ini.. apakah ini tempat kau bertemu dengan Zero?" Arizawa memerhatikan kerusakan di sekitar ruangan dan menyimpulkan.
"Ya benar, aku hanya maju sampai sini sebelum akhirnya aku dihalau oleh Zero, aku tidak tahu apa yang ada didepanku setelah ini, bantu aku" suara Katsura mulai menjadi serius dan tatapannya juga menjadi siaga.
Arizawa mengiyakan, lalu Katsura pun maju terus melalui pintu kecil yang ada didepannya, lorong disekitarnya semakin sempit dan terus menyempit sampai akhirnya dia sampai ke ruangan yang cukup luas.
Ruangan itu di penuhi dengan tabung-tabung penuh eksperimen dan barang aneh, Arizawa mengomentari ruangan itu seperti ruangan yang ada di semesta J-60.
"Tidak tahu.. aku tidak merasakan adanya energi orang lain disini, namun aku merasakan sedikit anomali dibawah sini" jawab Katsura seiring dia terus berjalan maju.
"Anomali? anomali seperti apa?"
"Seperti-" saat Katsura ingin menjawab, dia melewati satu tabung yang berisikan orang di dalamnya, dia langsung sadar dan menengok ke arah tabung itu.
"Manusia..? jadi di planet ini juga ada penghuni nya, ya.." ucap Katsura yang masih terkejut. Dia berpikir untuk mengeluarkan orang yang ada di dalam, namun dia masih memikirkannya.
"T..olong.. j-jangan.. k.. kemar..i.." ucap orang di dalam tabung itu dengan penuh kesakitan, wajahnya sangat ketakutan, tubuhnya sangat bergemetar. Lalu uap panas pun muncul di dalam tabung itu.
Uap panas itu menyentuh tubuh orang didalamnya, dan tubuh orang itu mulai mencair layaknya es menjadi air. Katsura reflek menjauh dari tabung dan melihat dari jauh.
Setelah cukup lama Katsura menjauh, orang yang ada di dalam tabung pun meledak menjadi cairan aneh yang berwarna perak.
"Kejam" respon yang sama keluar dari mulut Katsura dan Arizawa, kedua wajah mereka menunjukkan ekspresi jijik dan panik.
"Aku akan terus maju" Katsura menghiraukan kejadian yang baru saja terjadi, dia pun terus maju ke depan tanpa melihat kebelakang.
Katsura terus maju dan maju, lalu dia pun sampai melihat seseorang di dalam tabung lagi. Dengan sikap siaganya, dia langsung memanggil Crescent Deluz untuk berjaga-jaga.
Setelah dilihat lebih dekat lagi, orang yang ada di dalam tabung adalah seorang wanita yang tangannya sudah bermutasi menjadi besar dan aneh, begitu pula setengah bagian dari kepalanya dan kakinya yang sudah bermutasi penuh menjadi seperti monster.
Katsura reflek mengangkat Crescent Deluz-nya, lalu wanita itu berbicara.
"T..t... tolo.. ng.. b.. unuh.. a.. aku.." ucapnya secara terbata-bata, efek mutasi sudah sampai di lehernya.
Katsura sangat kebingungan dengan apa yang terjadi, dia bimbang dan tidak bisa mengambil keputusan, raut wajahnya seakan berkata, "Yang benar saja?"
"C... c..epat.. b..un..uh.. a.. ak..u se.. belum.. aa-" Katsura tak tahan melihat wanita itu tersiksa, dia dengan cepat menebas diagonal tabung itu bersamaan dengan wanita didalamnya.
"Maaf" Katsura merasa sangat bersalah, kemudian dia berpaling dan terus maju ke depan.
"Sungguh, aku tak tahan dengan apa yang terjadi disana, Katsura.." Arizawa mengeluh sambil mengusap dahinya.
"Aku tak tahu apa yang terjadi... aku sudah muak dengan semua ini" nada suara Katsura berubah menjadi penuh penyesalan, dia hanya menatap ke bawah bukannya ke depan.
"Pertama tubuhnya dihancurkan secara paksa, kedua tubuhnya bermutasi.. aku ingin pulang saja.." tambahnya.
"Tahan dulu, Katsura, seharusnya didepan adalah ruangan terakhir yang bisa kau jelajahi" ujar Yukichi secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" Arizawa menengok ke arah Yukichi dengan tatapan penasaran.
"Yah, sebenarnya tempat itu bukan kastil, itu lebih seperti pabrik mesin uap, tidak ada ruangan lain selama kau berjalan, hanya ada lorong lurus dan ruangan di jalan yang sama, jika itu kastil, pasti desain didalamnya akan lebih berwarna dan ruangannya akan jauh lebih luas" ulas Yukichi tentang pemahamannya.
"Aku mengerti" Katsura merespon, lalu dia pun berhenti di depan pintu terakhir. Begitu dia mengintip ke dalam, ada satu orang dengan pakaian serba hitam sedang mengotak atik sebuah mesin.
Lalu orang itu pun menengok ke arah Katsura dengan tatapan curiga.
Bersambung...