
..." Jikan Keshin! "...
Nama untuk perubahan baru Katsura, perubahan ini sangat mencolok di mata Zero karena warna yang sangat cerah ditambah Shin milik Katsura juga menyebar dimana-mana.
"Ayo selesaikan ini sekarang juga" Katsura mengangkat Crescent Deluz-nya yang sudah berevolusi ke atas pundaknya, tatapan matanya menatap tajam ke arah Zero.
Zirah Zero sudah mulai rusak akibat serangan-serangan Katsura, namun dia bisa memperbaiki zirahnya dengan sangat mudah.
Saat sudah selesai diperbaiki, aura serta Shin milik Zero semakin menumpuk di dalam planet. "Kau pikir bisa semudah itu mengalahkanku? hahaha! menarik!" Zero tertawa dan tersenyum licik.
Katsura dengan cepat turun ke bawah dan sekarang posisinya menunduk, sejajar dengan perut Zero. Crescent Deluz-nya sudah di posisikan akan menebas kaki Zero.
Kecepatan Zero sudah sedikit di atas Katsura, jadi dia memposisikan pedangnya ke bawah menutupi kakinya agar tidak bisa ditebas.
Zero membalikkan keadaan, pasir yang dia pijak bersama Katsura tiba-tiba runtuh dan dia mengeluarkan banyak sekali Pulla Scura dari bawah pasir.
Butir-butir pasir perlahan jatuh ke lubang tanpa ujung, Katsura memanfaatkan seluruh debu yang jatuh itu dengan sihir gravitasinya dan menjadikannya tumpuan untuk melompat keatas.
Saat melompat keatas, Katsura dihalangi oleh banyak sekali Pulla Scura milik Zero, namun dia menghilangkan setiap serangan Zero dengan mengembalikannya ke titik nol.
"Jika aku tidak bisa menghancurkannya, akan ku buat serangan itu tidak pernah terjadi" prinsip Katsura dalam pertarungannya saat ini.
..." Multi-Circular Burst!...
Bola energi abu-abu yang bentuknya tidak tetap bermunculan sangat banyak di sekitar Katsura, setiap Katsura melompat dari satu pijakan ke pijakan lain, bola itu satu persatu menyerang Zero.
"Akan kutunjukkan apa arti dari tingkatan sihir padamu" Zero mengarahkan pedangnya ke bawah.
..." Pulla Scura "...
Satu Pulla Scura kembali dikeluarkan, begitu serangan Zero menyentuh Circular Burst milik Katsura, serangan Katsura langsung bisa lenyap tanpa ada kesulitan.
"Sialan!" Katsura kesal, dia pun mengerahkan sihir gravitasinya dan membalikkan serangan Zero kepadanya.
Katsura hampir kehilangan kendali lagi, dengan kondisinya saat ini, kekuatannya terus menerus melonjak keluar dari dalam tubuh.
Katsura berada di atas Zero, saat dia mengayunkan sabitnya ke bawah, Zero menangkis nya. Namun Katsura tidak berhenti, dia terus menerus menebas Zero tanpa henti.
"Hahaha! sekarang kau menggunakan tiga mode sekaligus, ya? menarik, sangat menarik!" Zero tertawa lepas dengan wajah bahagianya yang haus akan pertarungan.
Mereka berdua saling beradu serangan satu sama lain dengan kecepatan yang luar biasa, masing-masing dari mereka mulai terkena serangan satu sama lain.
Baju zirah Zero mulai terkikis akibat serangan tajam Katsura, sedangkan sayap Katsura mulai berlubang akibat tusukan pedang Zero.
Keduanya terus beradu senjata dan beradu serangan satu sama lain, sudah bermenit-menit mereka terus seperti itu sampai akhirnya Katsura merasa lelah terlebih dahulu.
Nafas Katsura mulai menjadi berat akibat tekanan yang dia hadapi sendirian, dia merasakan luapan kekuatan yang tadi melonjak keluar sekarang sudah tidak keluar lagi.
"Hah.. sialan.." kata Katsura dalam hati, sambil dia terus menghadapi serangan Zero yang semakin lama semakin tajam dan kuat.
Setelah beberapa detik, Zero melihat Katsura semakin lemah, dia melihat titik celah dan berhasil menebas dagu Katsura dengan pedangnya.
Katsura terjatuh dan kehilangan kendali tubuhnya karena terlalu lemas dan lemah. Dia juga merasakan kekuatannya kembali tersedot ke dalam tubuhnya.
Katsura menghantam tanah dengan kuat dengan posisi terbaring, sementara Zero turun dengan menghentakkan kakinya ke tanah. Posisi Zero dengan Katsura cukup jauh.
"Menyedihkan, walau kau sudah mengerahkan semuanya namun tidak bisa melampauiku, sangat mengecewakan" Zero merentangkan kedua tangannya dan mengangkatnya perlahan keatas.
Lima Pulla Scura kecil muncul di belakang punggung Zero dan membentuk lintasan segi lima di belakang Zero.
"Sekarang aku lah yang akan mengakhirimu" Zero mulai mengumpulkan energi di atas kepalanya, dia mencoba menciptakan serangan yang amat besar.
...****************...
Di semesta J-60, kembali memperlihatkan Felix yang sedang bernegosiasi dengan warga setempat, dia ingin sesuatu.
"Baik, baik tuan! apa yang ingin anda ketahui?" pria yang sehabis bertengkar itu pun bersujud pada Felix karena sudah bersedia memberikan uang secara gratis.
"Tidak usah panggil aku tuan, namaku Felix, Felix Alonso" Felix menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Apa kau tahu, soal kerajaan asli disini?" tatapan dan suara Felix semakin tajam, begitu pula hujan yang semakin deras.
Pria itu tersentak saat mendengar permintaan Felix, dengan pengalaman dan pengetahuan yang terbatas, dia pun mencoba menjawab.
"Kerajaan yang asli aku tidak tahu tempatnya.. yang kutahu kerajaan itu tersembunyi" jawab pria itu dengan lantang.
"Hanya itu?" ucap Felix, mencoba mengkonfirmasi lagi.
"Ya, hanya itu yang kutahu, maaf jika jawaban ini kurang memuaskan bagimu" pria itu menunduk, mencoba menghormati Felix.
"Tidak, tidak apa, terimakasih. Itu sangat membantu" Felix berjalan dan menepuk pundak pria itu dengan lembut.
"Oh, jadi kau ingin mencari tahu soal kerajaan asli, ya?" seseorang berbicara di balik gudang pertanian yang gelap dan lembap, orang itu berjalan keluar dan memperlihatkan wajahnya.
"Hm?" Felix berbalik ke arah suara.
"Perkenalkan, aku adalah Zin'o Persa, aku adalah salah satu anggota kerajaan 'asli' yang kalian sebut dari tadi" Persa menunduk saat memperkenalkan diri.
"Zin'o.. kau pangeran kerajaan?" tanya Felix, dia sepertinya tahu soal silsilah keluarga kerajaan.
Tampang Persa sangat elegan, wajahnya yang tampan dengan warna mata biru cerah seperti berlian, ditambah rambutnya yang berwarna emas menunjukkan bahwa ia asli dari kerajaan.
"Tepat sekali, aku adalah pangeran yang terbuang.. aku baru dibuang kesini sekitar satu minggu yang lalu. Jika kau ingin tahu ceritanya, itu panjang sekali dan aku tidak suka mengungkapkan masalahku" ucap Persa dengan tawa kecil.
"Jadi, kau pasti tahu dimana letak kerajaan asli itu, kan?" Felix kembali bertanya dengan tatapan serius di wajahnya.
"Ya, tentu aku tahu. Nama kerajaan itu adalah Regnum Assilum. Sebenarnya itu lebih mirip ke sebuah kota daripada kerajaan, karena banyak sekali gedung diluar kastil. Letaknya.." Persa mendekat ke arah Felix, kini jaraknya sangat dekat dengannya.
Persa menyentuh dahi Felix dengan jari telunjuknya, memberi tahu lokasi asli dari Regnum Assilum. Karena lokasi itu tak bisa dikatakan secara langsung, harus melalui sihir seorang anggota kerajaan.
Felix mendapat informasi yang sangat penting masuk ke otaknya langsung, setelah itu ia pun kembali ke dunia nyata.
"Jadi disitu, ya" katanya.
"Ya, semoga beruntung dan.."
"Balaskan dendamku" bisik Persa kepada Felix sebelum dia berjalan menjauh, pergi ke sisi pria tadi.
"Baiklah, terimakasih, pangeran sah Regnum Assilum. Aku akan berusaha" Felix tersenyum tulus, lalu sebuah tanduk berwarna hitam muncul di dahinya.
"Tanduk?" Persa sedikit kebingungan, namun saat dia ingin bertanya, Felix sudah pergi dengan memasuki bayangan di bawahnya.
...****************...
"Hah.. apa.. itu.." Katsura bangun dari posisi awalnya dengan lemas, dia melihat ke depan dan melihat Zero dengan serangan super besarnya di depan mata.
"Sialan.. aku sudah akan habis energi namun dia masih mempunyai sebanyak itu.." Katsura berdiri perlahan, sekujur tubuhnya serasa sakit.
"Halo, Katsura? bagaimana keadaan disana?" suara Arizawa muncul dari lencana yang ada di pundak Katsura.
"Buruk sekali.. akan ku kabari lagi nanti" Katsura mencabut lencana nya dan melemparnya ke tanah, lalu dia mengangkat Crescent Deluz-nya tinggi keatas kepalanya.
Seluruh energi Katsura berpusat pada ujung sabitnya, percikan Shin keluar dari ujung ke ujung sabit.
"Sebaiknya aku mengerahkan semuanya disini juga.." kata Katsura sekali lagi dengan senyum di wajahnya.
"Jadi kau sudah membuat serangan sia-sia? bagus, akan kuakhiri ini dengan cepat!"
..." Distruttore Cielo! "...
Pulla Scura dalam bentuk yang sangat besar dan sangat padat dilemparkan ke arah Katsura, serangan itu sangatlah kuat dan mungkin jika meledak akan membuat semesta yang mereka tinggali akan meledak.
Katsura mengayunkan sabitnya ke bawah dengan perlahan namun kuat, percikan energi muncul saat sabitnya bergerak kebawah.
..." Final Impetum "...
Gelombang tebasan berbentuk bulan sabit dan berwarna hijau cerah diiringi dengan aura Golden Orb tercipta. Gelombang itu sangat besar, bahkan lebih besar daripada serangan Zero.
Gelombang tebasan itu melancar sangat cepat dan saat menyentuh serangan Zero, dia tidak menduga bahwa serangannya bisa ditembus dan bahkan dibelah oleh serangan Katsura.
"Apa..?" kata-kata terakhir Zero sebelum akhirnya dia sadar, tubuhnya telah terbelah menjadi dua oleh serangan Katsura.
Bersambung...