Destiny Holder

Destiny Holder
Katsura Kembali!



Setelah mendengar pernyataan Feria, Katsura tersenyum kecil dan memegangi dagu Feria. Dia pun berkata, "Aku sudah menunggu jawaban itu."


Feria yang mukanya tersipu malu, mengangkat tangan Katsura dan membalasnya dengan senyuman tulusnya. Perasaannya yang selama ini membelenggu dirinya telah bergejolak keluar.


Mereka berdua kembali menatap langit yang dihiasi oleh ratusan kembang api, sangat meriah suasana saat itu. Katsura merangkul pundak Feria selagi mereka menikmati indahnya malam itu.


Mereka berdua menikmati festival itu dengan penuh senyuman, sampai pada esok harinya mereka bangun pagi-pagi sekali, untuk kembali pulang ke Indonesia.


Katsura langsung menelpon Homura, mengabarkan bahwa dirinya akan segera pulang.


"Baiklah, akan kusampaikan itu pada semua anggota, semoga penerbangan mu selamat selalu, ya" kata Homura menutup percakapan.


"Sudah kamu kabarkan?" tanya Feria dari dalam kamar mandi.


"Sudah, sekarang aku mau menghubungi Suza dulu, aku banyak berterimakasih padanya."


Suza masih berbaring tidur di kasurnya, dengan berat hati ia mengangkat telepon Katsura di pagi-pagi buta itu.


"Ada apa, sih? menelpon pagi-pagi begini" keluhnya.


"Ah, maaf, Suza. Aku akan pulang saat ini, katanya jika aku ingin pulang, maka kabari kau dulu."


Suza baru ingat, dia mengatakan itu pada Katsura, dia membalas, "Ya kalau mau pulang jangan pagi-pagi amat, lah!"


"Hehe, maaf, kami pergi pagi-pagi buta begini agar sampai disana saat pagi juga. Banyak hal yang akan kulakukan disana."


"Baiklah, aku akan segera kesana, jangan pergi dulu."


Katsura dan Feria sudah siap untuk pergi, mereka menunggu di pekarangan yang luas untuk lepas landas, dan menunggu Suza datang.


Sudah pukul 6 pagi, Suza akhirnya datang dengan terburu-buru, dengan pakaian yang agak lusuh.


"Wah kau buru-buru sekali, ya" kata Katsura.


"Kau yang menyuruhku cepat, sial" balasnya.


"Tapi apa kau keberatan kesini?" Feria sedikit khawatir dengannya yang tidak rapi begitu.


"Tidak apa, lagipula aku ada urusan jam 7 nanti, kebetulan di sekitar sini tempatnya."


"Bisa kah kau membantu kami memonitori pesawat? aku tak pernah memonitori pesawat sebelumnya" kata Katsura kebingungan didalam pesawat.


"Lah? bagaimana caranya kau bisa kesini kalau begitu?" Suza agak sedikit heran dengan Katsura.


"Sebelumnya pesawat ini sudah di siapkan khusus untuk kami pergi ke sini, setelah sampai disini, settingan-nya sudah kembali ke titik awal" jelas Katsura.


"Hmm, sebentar, akan kucoba-coba dulu" Suza masuk dan duduk di kursi pilot, mencoba merancang sistem pesawat.


Sudah 20 menit berlalu, akhirnya Suza berhasil menyiapkan pesawat nya, hanya tinggal berangkat saja.


"Wah, kau memang hebat, Suza!" puji Feria.


"Terimakasih."


"Oh ya, aku lupa membayar atas jasamu semua, ini, ambillah kartu ini" Katsura menyerahkan kartu kredit dari Homura.


"Tunggu, aku tak bisa menerima ini, ambil saja lagi" Suza menolak, tapi Katsura kembali menolak.


"Tidak apa, bantuanmu sangat-sangat berarti bagiku, kau memang layak mendapatkan itu, terimakasih atas semua bantuanmu ya, tanpamu aku mungkin sudah dikendalikan oleh Ikari."


Suza terdiam, dan berkata, "Haha, baiklah kalau begitu, terimakasih juga telah memberikanku pekerjaan, semoga kalian selamat selalu, ya!"


"Tentu!" seru Katsura dan Feria bersamaan.


Pesawat mulai lepas landas, pintu perlahan ditutup, disaat ingin terbang dengan kecepatan penuh, Suza berteriak, "Jangan kalah dari menteri itu, Katsura!"


Katsura terpaku atas perkataan Suza, dia semakin bersemangat untuk mengalahkan Johan. Dia dan Feria melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan, dan mereka terbang dengan cepat.


Waktu berlalu, Katsura diberitahu oleh Homura dirinya harus mendarat di sekitaran pantai, jaraknya sekitar 70km dari markas Viper. Katsura awalnya sedikit kebingungan, tapi akhirnya ketemu juga.


Pesawat perlahan mendarat, pintu terbuka, Katsura dan Feria keluar disambut meriah oleh para anggota.


"Selamat datang kembali, Katsura" kata Homura dan Arizawa di depan mereka.


"Penampilanmu tak banyak berubah, ya" Cezo berbicara di belakang.


"Aku hanya pergi selama beberapa hari, mana mungkin aku mengalami perubahan yang signifikan" balas Katsura.


"Bagaimana kabar anggota Viper yang lainnya? mengapa hanya sedikit yang muncul?" tanya Feria kebingungan.


Arizawa menunduk, tatapannya murung dan dengan berat hati dia berkata, "Viper.. telah tiada."


Feria dan Katsura terkejut, Arizawa melanjutkan pembicarannya.


"Viper sudah dicap sebagai pengkhianat negara, jika kita terus memakai nama itu maka kita akan menjadi buronan negara" jelas Arizawa.


"Jadi kita membutuhkan nama baru?" tanya Raiha.


"Entahlah aku jug-"


"Bagaimana dengan Mato?" Katsura bersuara.


"Mato? memang apa artinya itu? apakah ada singkatannya?"


"Tentu, aku merasa bahwa kita semua akan mendapatkan sihir pada akhirnya, seperti Yubino dengan sihir api, Feria dengan sihir api, Arizawa dengan sihir angin, dan Homura dengan sihir penetralan. Aku merasa diantara kita akan ada yang mendapatkan sihir lagi."


"Lalu?"


"Akan ku namakan, Magic Assault Terms Organization, atau disingkat sebagai Mato" usul Katsura.


"Mato ya.. kupikir bukan nama yang buruk juga, baiklah mulai sekarang nama organisasi kita adalah Mato!" seru Arizawa.


"Bagus juga namanya, kau pintar mencari nama ya, Katsura" Homura menepuk pundak Katsura.


"Hehe, mungkin tidak sehebat itu sih" balasnya.


Tak lama, semua anggota berkumpul, Arizawa memberitahukan perubahan nama organisasi nya. Semua anggota sangat antusias dan berbahagia karena bisa beraktivitas diluar sana kembali.


"Tunggu, jangan berbahagia dulu, dalang dari semua ini belum kalah, Johan harus dihentikan sekarang juga" kata Homura.


"Dia lah yang memerintah 1 negara ini, apakah kau yakin kita langsung mengkudeta pemerintah seperti itu?" Zeldris berpendapat di atas kotak.


"Itu hanya satu-satunya cara, tapi, kita tidak akan bergerak sembarangan, kita akan membagi menjadi beberapa kelompok dan mengalahkan para petinggi disana, aku sudah membuat ramuan penghilang ingatan, kubuat mereka tidak ingat tentang perjanjian dengan Johan."


"Dan disaat itu juga, Katsura yang telah berlatih keras akan melawan Johan langsung" urai Homura.


"Tunggu, kau sudah berhasil menguasai kekuatan buas mu itu?" tanya Cezo keheranan.


"Tentu, mau lihat?"


..."Juryoku No Ikari!"...


Katsura tiba-tiba mengaktifkan modenya di tengah perkumpulan, membuat seluruh anggota terkejut, kecuali Feria, karena dia memang sudah melihatnya.


"Kau benar... dia sudah menguasainya dengan baik" puji Cezo kagum.


"Anginnya, kencang sekali" Arizawa kesulitan menahan arus angin yang dikeluarkan Katsura, seakan ingin terbang, Katsura pun menonaktifkan modenya.


"Baiklah sudah jelas, ya? kita akan menyerbu mereka malam ini juga! semoga saja berhasil sesuai rencana. Dan juga, jangan gunakan nama Mato terlebih dahulu, kita gunakan Viper sementara" kata Arizawa.


"Pertama, Katsura akan masuk terlebih dahulu, setelah ada info Johan sudah dikalahkan, maka kita baru bergerak. Aku yakin Johan tak mampu menahan kekuatan besar Katsura, mengingat pertempurannya dengan Nico yang menggetarkan benua" jelas Homura.


"Apakah aku bisa? pasti bisa! akan kukalahkan si bajingan itu!" gumam Katsura didalam hati.


"Akan kubuat dia menyadari siapa bos yang sebenarnya!"


Bersambung...