
Suara benturan besi terdengar keras sampai membuat burung-burung yang hinggap di atas kepala robot menjadi kabur ketakutan, Marx memegang pipinya dengan perasaan sangat bersalah.
"Maaf, itu pasti berat untukmu, apa kau membenciku?" tanya Marx, nadanya datar dan tidak memiliki emosi didalamnya.
"Tidak ku jawab juga pasti kau sudah tahu jawabannya, maka aku takkan menjawabnya" balas Katsura, dia berbalik menuju lubang keluar.
"Apa kau akan membunuhku?"
Katsura diam sejenak, memikirkan perkataan Marx. Kemudian dia berkata, "Jika aku mau."
"Membunuhmu tidak berarti apa-apa bagiku, hanya akan melampiaskan emosi dan tidak menyelesaikan masalah. Aku benci seperti itu" tambahnya selagi Katsura berjalan perlahan mendekati ke jalan keluar.
Katsura kembali diam dan tidak mengatakan apapun saat dia terus melangkah, disaat-saat terakhir sebelum dia menginjakkan kakinya di luar robot, Marx kembali berbicara.
"Tolonglah, aku hanya perlu kau untuk mengalahkan Ferus, hanya kau yang mampu melakukannya. Dia sudah berada di luar cerita sejak awal, itulah yang ku takutkan. Kau adalah pengguna Golden Orb terkuat sepanjang masa, aku berkata jujur dengan itu."
"Jadi tolonglah, Katsura, setelah kau berhasil mengalahkannya, aku berjanji padamu akan menghapus semua penderitaan yang kau alami selama ini" Marx memohon pada Katsura yang hendak pergi, Katsura mendengarkan permintaannya.
"Terserah kau saja, namun jika takdirku sampai membuat Feria terbunuh juga, aku takkan segan-segan untuk membunuhmu, paham?" Katsura menoleh ke belakang dengan tatapan tajam, sebelum dia keluar robot, Marx memberikan senyuman tulus seakan dia mengucapkan terimakasih.
Katsura sudah merasa sedikit lebih lega memberi tahu Marx semua penderitaan yang dia alami selama ini, namun dia tetap membenci Marx setelah apa yang telah dia perbuat padanya.
Dia melompat ke langit untuk melihat seisi bumi di semesta ini sebelum dia pulang ke bumi nya, melihat pemandangan bumi yang sudah mati, tidak dihuni oleh manusia lagi.
Tumbuhan hijau dimana-mana dan hewan-hewan kecil mulai bermunculan karena aura kehidupan yang dipancarkan oleh Marx.
Setelah beberapa saat Katsura memandangi pemandangan bumi itu, sebuah cahaya dari bawah robot muncul menjulang ke langit, roh Nora keluar dari mayatnya, membawa bola energi emas di tangannya dan dia melihat ke arah Katsura.
"Terimakasih, aku bisa bertemu mereka sekarang" Nora tersenyum untuk yang terakhir kalinya dan melepas bola energi yang dia genggam ke langit, bola itu meledak dan membuat hiasan di langit, membuat mata Katsura berkaca-kaca melihatnya.
Marx berjalan perlahan ke tepi lubang dan melihat arwah Nora yang akan pergi untuk selamanya, dia merasa senang Nora telah berhasil mewujudkan impiannya dengan cara lain.
Katsura mulai terbang ke luar atmosfer dengan Golden Orb-nya, Marx melihat kepergian Katsura dengan penuh harapan.
"Hati-hati, Katsura. Escalivor mulai bergerak" kata-kata terakhir Marx sebelum akhirnya mereka berdua berpisah kembali.
Katsura pun melintasi gelapnya angkasa dengan kecepatan yang sangat cepat, memandangi sekelilingnya yang penuh dengan kekosongan.
Beberapa saat pun berlalu, akhirnya Katsura kembali ke bumi semestanya, namun dia merasa aneh kenapa banyak sekali yang berbeda di stasiun luar angkasa.
Dia merasakan bahwa Feria juga ada di dalam stasiun, dia memutuskan untuk masuk ke dalamnya.
Begitu dia masuk ke stasiun, para kru dan orang-orang yang berkunjung sangat terkejut melihat Katsura, seakan mereka melihat orang yang sudah mati hidup kembali.
"Mereka kenapa menatapku seperti itu, ya?" ucap Katsura yang kebingungan.
Setelah berjalan di lorong cukup lama, dia akhirnya bertemu Feria, wajahnya ketika bertemu Katsura dipenuhi air mata, tanpa segan-segan Feria langsung memeluk Katsura.
"Kau pergi selama 7 bulan, Katsura" Arizawa datang dengan tangan yang disilangkan, menatap Katsura dengan wajah datarnya.
"7.. bulan? tapi aku hanya pergi beberapa jam!" Katsura membela dirinya, walau baginya waktu yang dia lalui hanya beberapa jam, namun sebenarnya sudah berlalu 7 bulan semenjak Katsura pergi dari bumi.
"Yang kau rasakan hanya beberapa jam namun bagi kami semua itu sudah berlalu 7 bulan!" Suizei menimbrung di pembicaraan dengan nada tinggi.
"Kau mengalami dilatasi waktu, Katsura. Kecepatan terbang mu sangatlah cepat dan bahkan lebih cepat dari waktu itu sendiri, sehingga kau bisa merobek lintasan waktu dengan kecepatan mu sendiri, hal ini pernah terjadi saat ekspedisi kita pertama kali ke semesta J-60" Arizawa menjelaskan fenomena yang terjadi pada Katsura.
"Maaf, aku tidak tahu aku menyebabkan dilatasi waktu tanpa sadar" Katsura meminta maaf.
Arizawa menghela nafas dan akhirnya memaafkan Katsura karena telah membuat semua orang khawatir, "Tidak apa, Katsura. Kemarilah, aku punya sesuatu untuk ditunjukkan padamu, pas sekali" Arizawa mulai berjalan ke kabin utama.
"Feria.. maafkan aku, aku tidak sadar" Katsura mengelus kepala Feria yang terus memeluknya, sampai ketika Feria mengangkat kepalanya dan menatap Katsura.
"Tidak apa-apa.. aku senang kamu selamat" kata Feria dengan senyuman tulus di wajahnya, setelah itu mereka pun berjalan bersama menuju kabin utama.
Di kabin utama, Katsura sadar banyak sekali yang berubah, dari tataan barang-barang, dan sekarang sudah ada banyak tanaman kecil di pot untuk menghiasi seisi kabin.
"Apa yang kau akan tunjukkan padaku, Arizawa?" Katsura terus mengikuti Arizawa pada sebuah proyektor yang memancarkan hologram.
Proyektor tersebut memancarkan tampilan stasiun luar angkasa Mato yang sudah lebih diperbaharui, dan menunjukkan detail yang baru ditambahkan.
"Sekarang stasiun luar angkasa menerima tamu dari semesta lain, entah itu jauh ataupun dekat. Kami juga sudah mengirimkan sinyal ke seluruh semesta yang kami kira memiliki kehidupan didalamnya untuk bergabung dengan akademi sihir."
"Dan hasilnya sangat memuaskan, banyak sekali orang dari semesta lain yang berkunjung kemari, tidak hanya untuk berbisnis, namun juga untuk mempelajari hal baru yang mereka tidak tahu" Arizawa memperkecil jangkauan kamera hologram dan menunjukkan sebuah alam semesta yang berbentuk gelembung.
Katsura merespon, "Apakah itu alam semesta kita?"
"Ya, berkat teleskop penemuan Feria dan Cezo, kita bisa melihat alam semesta kita sendiri. Ini penemuan yang sangat menggetarkan seluruh dunia" jawab Arizawa.
Lalu Arizawa berpindah ke semesta sebelah dan memperbesar kamera ke dalamnya, menuju ke sebuah planet pasir.
"Disini, kami mendeteksi anomali di sebuah planet, ada gerak-gerik aneh didalamnya yang membuat kita tidak bisa mengamatinya."
"Kami sudah mengirimkan orang untuk pergi kesana namun.. mereka tak pernah kembali" Arizawa memberikan wajah kecewa dan khawatir.
"Tidak.. kembali? mereka menghilang tanpa kabar?" Katsura kembali bertanya.
"Ya itu benar, mereka awalnya sedang berkomunikasi dengan kami namun tiba-tiba menghilang tanpa sebab" ucap Yukichi.
"Dan juga, selama kau pergi, kami mengembangkan alat yang mampu mengukur sihir dan menetapkannya, saat kami mencoba mengukur kekuatan di planet itu.. disana terdapat satu orang yang kekuatan sihirnya luar biasa besar, besarnya sama sepertimu, Katsura" ungkap Arizawa dengan ekspresi serius.
Bersambung...