
Herald membuka gerbang pintu luar, dan pergi tanpa memberitahu siapapun.
Situasi diluar markas sedang hujan deras, anggota yang lain sedang bermain kartu.
Herald berjalan sampai gedung tak berpenghuni tempat ibunya dibunuh, lalu dia pun masuk dan naik keatas lalu berkata, "Keluarlah kalian cecunguk bersenjata!"
"Cecunguk katamu? hahaha lucu sekali kata kata mu kawan" Ucap seorang dibalik pilar.
"Halo, namaku Torasa, aku adalah ketua geng Keruim, jadi apa mau mu kesini?" ucapnya.
"Aku datang untuk menghabisi kalian" ucap Herald dengan serius.
"Menghabisi? hahahaha waduuh lawakan mu lucu sekali, jadi apa kau polisi yang diutus kesini? dari penampilan mu hanya seorang anak SMA biasa, pergilah ini bukan tempat untuk main-main" balasnya sambil tertawa terkekeh-kekeh
"Jadi, apa kau mengenal Rena? seorang ibu yang kalian bunuh 4 bulan yang lalu."
"Ah dia ya, tentu saja aku mengingatnya, aku tidak akan melupakan saat-saat kami menyantap nya" ucap Torasa.
"Menyantapnya? apa maksudmu" tanya Herald.
"Yah mungkin kau tahu jawabannya dengan bajunya yang robek seperti itu" jawabnya.
"Sialan kau!" Herald marah lalu dia berlari kebelakang Torasa. "Sialan kau.... Oi cepat kalahkan dia!" kata Torasa marah.
"Shap kapten" ucap bawahannya secara bersamaan. Lalu mereka menyerbu Herald dari belakang, namun dapat dihajar balik oleh Herald, Torasa mundur karena ingin mengambil senjata.
Satu persatu bawahannya dihajar Herald habis habisan, ada yang terlempar keluar gedung, dan ada yang wajahnya ditinju hingga pilarnya hancur.
"Sialan bagaimana dia bisa sekuat itu?!!" kata seorang bawahannya. Lalu dia mengambil tongkat besi dan berniat memukul kepala Herald dari belakang, namun dengan mudah dapat dihindari.
Tongkat besinya pun digenggam hingga bengkok, dan Herald menendangnya sampai ke gedung lain.
Semua bawahan Torasa dihajar habis-habisan menggunakan tongkat besi, sampai pada akhirnya Torasa kembali membawa katana yang sangat tajam dan berat.
"Sialan kau.. semua bawahan ku dihabisi, heh tapi kau tetap tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku sialan!!!" geram Torasa berlari ke arah Herald.
Lalu dia pun mengayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri, namun dapat dengan mudah dihindari oleh Herald, pada akhirnya pedang itu sampai di samping wajah Herald, namun dapat ditepis menggunakan 1 tangan.
Tangannya pun berdarah, tapi dia berlari dan memukul Torasa sampai ke lantai paling dasar. Lalu menggunakan tongkat besinya untuk merebut pedang dari genggaman Torasa.
Setelah itu pedangnya pun terlepas dan dipegang oleh Herald, dia pun menodongkan pedangnya kepada Torasa sambil berkata, "Ini semua sudah berakhir, ada 1 kata yang ingin ku ucapkan padamu."
"Tolong berhenti, jangan bunuh aku, aku bisa membayarmu, mau berapa? aku bisa membayarnya!!! atau kau mau menyicipi cewe cantik juga? aku bisa membawakannya untukmu" ucap Torasa memelas kasihan.
"Pergilah ke neraka." kata Herald dingin sembari mengayunkan pedang nya hingga kepala Torasa terpenggal.
Lalu dia pergi keluar gedung, dan membelah pilar tersebut sehingga gedung pun runtuh bersama mayat Torasa dan bawahannya didalam.
Herald pun pergi ke kuburan Ibunya dan berkata, "Aku telah membalaskan dendammu ibu, ku harap kau bahagia disana" sambil merenggut tanah.
Lalu dia pun pulang ke markas dengan badan penuh darah. Disana terlihat semua anggota Viper sedang bermain kartu remi. Gerbang pun terbuka lalu semua anggota Viper kaget dengan penampilan Herald yang penuh darah, saat ditanya dia hanya tersenyum sembari meninggalkan mereka.
"Mungkin dia sudah balas dendam" ucap Homura yang menyender di tembok. Lalu Katsura mengenggam tangannya namun keluar percikan seperti listrik berwarna hijau, lalu dia berkata, "Apa itu tadi?"
"Yah kita akan berangkat besok, persiapkan dirimu, mungkin ini adalah misi terakhir kita."
Hari pun berlalu, Arizawa datang ke ruang tamu dan berkata, "Yoo, pagi semuanya, jadi aku akan menjelaskan misi kita ini."
"Pertama misi kita adalah memata-matai semesta lain, jangan sampai ketahuan, tujuan kita adalah mengamati perkembangan teknologi di semesta lain.
"Kedua, jika kau tertangkap musuh, kami tidak akan membantu, usahakan merahasiakan asal kita darimana agar aman. Sekian dariku, oh ya ini ada jubah khusus untuk kalian, pakailah."
"Jubah ini dapat menyembunyikan hawa keberadaan, bahkan panas tubuh." jelas Arizawa.
"Ya semuanya, aku sudah memutuskan, kita akan berangkat dengan 18 kru, termasuk aku dan ketua, tapi anggota ini dibagi menjadi 4 divisi, izinkan aku untuk memberitahu biodata anggota dari setiap divisi." ucap Homura.
[Divisi 1]
Nama: Yobino Yurike.
Gender: Pria
Golongan darah: A+
Umur: 19
Warna Rambut: Oranye
Menjabat Sebagai Pemimpin Divisi 1.
Nama: Aizo Mazune
Gender: Pria
Golongan darah: B-
Umur: 17
Warna Rambut: Biru muda cerah
Nama: Zeldris Trichonta
Gender: Pria
Golongan darah: O+
Umur: 19
Warna rambut: Kuning
Nama: Tooru Kasigawa
Gender: Wanita
Golongan darah: B+
Umur: 20
Warna rambut: Hitam
[Divisi 2]
Nama: Arizawa Munako
Gender: Wanita
Golongan darah: A+
Umur: 24
Warna rambut: Hitam
Menjabat sebagai pemimpin divisi 2
Nama: Yukichi Sakatarou
Gender: Pria
Golongan darah: A-
Warna rambut: Ungu gelap
Nama: Suizei Kerlinger
Gender: Pria
Golongan darah: O
Warna rambut: Hitam
Nama: Toshi Arizawa
Gender: Pria
Golongan darah: AB
Umur: 20
Warna rambut: Hijau gelap
Nama: Cezo Sintaha
Gender: Pria
Golongan darah: A-
Warna rambut: hitam
[Divisi 3]
Nama: Korga Soranta
Gender: Pria
Golongan darah: A-
Umur: 21
Warna rambut: Biru gelap
Menjabat sebagai pemimpin divisi 3.
Nama: Katsura Laith
Gender: Pria
Golongan darah: B+
Umur: 17
Warna rambut: Hitam
Nama: Feria Karlina
Gender: Wanita
Golongan darah: B-
Warna rambut: Hitam
Nama: Azashi Borland
Gender: Pria
Golongan darah: AB
Umur: 19
Warna rambut: Merah gelap
Nama: Herald Finddor
Gender: Pria
Golongan darah: O+
Umur: 17
Warna rambut: Putih abu abu
[Divisi 4]
Nama: Homura Feridou
Gender: Pria
Golongan darah: A+
Umur: 20
Warna rambut: Putih
Menjabat sebagai pemimpin divisi 4
Nama: Raiha Korlanta
Gender: Wanita
Golongan darah: B-
Warna rambut: Merah cerah
Nama: Felix Alonso
Gender: Pria
Golongan darah: O
Umur: 19
Warna rambut: Hitam
Nama: Hosura Mamura
Gender: Pria
Golongan darah: A+
Warna rambut: Biru
"Sekian Untuk Info Pengelompokan Divisi, kita akan berangkat sebentar lagi" ucap Homura.
"Jadi aku divisi 3 ya.. baiklah" ucap Katsura dalam hati.
Lalu terlihat sebuah kendaraan berwarna putih sangat besar menyerupai Mobil serta pesawat yang digabungkan.
"Yah mungkin sudah saatnya untuk kita berangkat, ayo semuanya masuk, pastikan tidak ada yang tertinggal barangnya!" ucap Arizawa.
Lalu semua kru pun masuk, dan pesawat siap lepas landas.
『 Indonesia, 28 Agustus, Jakarta Utara, 07:53 』
Pesawat pun berangkat pergi meninggalkan bumi.
"Waahh jadi ini ya luar angkasa, indah sekali...." ucap Katsura kagum. Lalu Herald melihat kaca dengan tatapan kagum juga.
"Planet-planet, aku hanya melihatnya di film dan game saja, kukira itu hanyalah bualan orang orang" kata Herald. Lalu dia pun mulai menulis inspirasi.
"Pertama kali keluar angkasa ya? yah itu memang tujuanmu kan, selamat ya" ucap Homura sambil bertepuk tangan.
"Ya terimakasih!" ucap Katsura dan Herald, lalu mereka membuat janji lagi untuk pulang dengan selamat.
"Hei kawan-kawan pegangan yang erat, aku akan mengencangkan kecepatannya." Teriak Arizawa
Herald bertanya "Apa maksudm-" lalu pesawat pun bergerak sangat cepat, bahkan lebih cepat dari cahaya sekalipun. Herald yang tidak pegangan dengan erat dia pun terpental hingga belakang.
Lalu pesawat pun memasuki lubang cacing untuk mempercepat ke tujuan.
Setelah beberapa jam, mereka pun sampai di tata surya lain, di sini tidak ada planet Mars dan Uranus, digantikan oleh planet lain.
"Jadi ini semesta lain, tata surya nya pun berbeda ya, planetnya pun berbeda juga" ucap Toshi.
"Ini setelah ku cek, semesta ini bernama J-60. Bersiap siap lah, pesawat ini akan kumasukkan kedalam mode tidak terlihat." ucap Arizawa.
"J-60 ya.... sepertinya bagus" ucap Herald dalam hati.
"Mengapa aku merasakan tekanan energi aneh, rasanya seperti dibakar api." ucap Katsura sambil melihat jendela.
Lalu pesawat mulai memasuki atmosfer bumi, dan mendaratlah mereka disebuah hutan lebat.
"Yosh bagus sekali pendaratan disini, kita tidak akan mudah diketahui" ucap Korga sambil mengecek keadaan sekitar.
"Berhati-hatilah, ingat sampai kita menemukan kota, kita berpencar sesuai divisi, kuharap kita semua selamat" ucap Arizawa.
Mereka pun mulai berjalan dan akhirnya menemukan gedung-gedung sangat tinggi dan besar, teknologi disana sangat maju, bahkan jalanan terbuat dari listrik.
"Baiklah jalankan rencana kita, jangan lupa ada granat asap untuk kabur, tulis teknologi yang penting, jika memungkinkan cari juga sumber energi dan cara pembuatannya."
"Kita Viper, akan menjalankan misi ini dengan sepenuh hati. Viper! Bubar!" seru Arizawa serius.
Bersambung...