Destiny Holder

Destiny Holder
Masa Tenang Seusai Pertempuran



Katsura perlahan berbalik, menuju arah markas. Sembari berjalan, dia mencoba memanggil Crescent Deluz-nya lagi.


Dia memejamkan matanya, membayangkan dan memusatkan energinya lagi di tangan kanannya.


"Crescent Deluz.. Datanglah!" katanya.


Dan hasilnya, Crescent Deluz benar-benar muncul di tangan Katsura. Dia pun sangat senang dan pergi membawanya ke markas dalam keadaan terpanggil.


"Aku tak sabar menunjukkan ini ke semuanya!" ucapnya senang.


"Eh tapi tunggu sebentar.. Jika Crescent Deluz ini telah menyatu dengan energiku, maka kemungkinan besar ini sangat menguras energiku. Atau bisa dibilang aku membuang sebagian besar energiku hanya untuk memanggil Crescent Deluz. Akan bahaya jika aku sembarangan memanggil Crescent Deluz. Bisa-bisa aku kehabisan energi saat diserang musuh" Katsura berasumsi.


Lalu Katsura pun mengembalikan Crescent Deluz-nya ke dalam bentuk energi lagi, dia simpan dan akan menunjukkan ke rekan yang lain nanti saat ia sudah sampai.


Di markas, Suizei sampai terlebih dahulu daripada Katsura. Dia langsung pergi ke balkon di lantai dua karena dia melihat Raiha yang sedang memandangi langit malam.


Kedatangannya sangat membuat rekan yang lain terkejut setengah mati, bahkan Raiha mengira bahwa Suizei yang ada disana adalah musuh yang bisa menyamar.


"SIAPA KAU? MAU APA KAU KEMARI? BERANI-BERANINYA KAU MENYAMAR SEBAGAI SUIZEI!" seru Raiha untuk mengusir Suizei.


"Hei santailah Raiha, ini beneran aku, Suizei! kau kenapa sih" ucap Suizei yang kebingungan.


"Aku takkan percaya sepatah kata apapun darimu!" Raiha berbalik, lalu mengangkat jari telunjuknya yang membuat Suizei terikat oleh tali air.


"Apa yang-" Suizei berbicara, lalu mulutnya di tutupi.


"Kau takkan kemana-mana sampai yang lain menginterogasimu!" kata Raiha tegas.


"Duh kenapa sih, aku jadi sedikit menyesal pergi, deh" batin Suizei berbicara.


Raiha masuk ke tengah-tengah permainan antara anggota yang lain, yaitu Yukichi dan Homura yang sedang bermain catur.


"Skakmat" Homura menggerakan menterinya.


"Wah gila, aku kalah juga. Kau benar-benar hebat bermain catur, Homura. Bahkan kau tidak menggerakan ratumu sama sekali" puji Yukichi.


"Terimakasih pujiannya" Homura tersenyum.


*DOBRAAKK!


"Hei teman-teman! lihatlah siapa yang kutemukan disini!" seru Raiha sambil memperlihatkan seseorang yang dia ikat.


"Suizei?" kata Yukichi.


"Dia bukan Suizei! aku yakin dia adalah tentara Showa yang bisa menyamar lalu mengumpulkan seluruh informasi yang bisa dia dapatkan!"


"Tentara yang bisa menyamar? setahuku tak ada bawahan Showa yang mampu menggunakan kekuatan berubah tubuh. Mereka semua hanya pengguna sihir elemen dasar" kata Homura.


"Ya kan mereka bisa menyamar! mungkin mereka sudah terlebih dahulu menyamar makannya tak tertangkap. Dan mungkin mereka belum tahu kalau Showa sudah mati dikalahkan oleh Katsura" ujar Raiha yang sedikit kesal.


"Lagipula sepertinya Suizei yang asli sudah lupa dengan kita.. Dia pergi sangat lama sekali tapi tak pernah kembali" tambahnya, lalu air matanya pun menetes.


Suizei yang melihatnya langsung terharu, ada yang sangat merindukannya untuk kembali di rumah.


"Baiklah, pertama-tama turunkan dulu orang itu kebawah, jangan sampai lepas ikatannya" ucap Yukichi, lalu ia memanggil rekan yang lain.


Raiha membuka penutup di mulutnya, agar membiarkan Suizei berbicara. Lalu Arizawa pun datang.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanyanya.


"Kau lihat saja sendiri" ucap Yukichi.


"Suizei? kau kembali?"


"Katakan identitas aslimu, bawahan Showa!" ujar Raiha.


"Aku Suizei, beneran Suizei! asli dah!" katanya.


"Bohong" Raiha menatap Suizei sinis.


Pintu depan terbuka, Katsura masuk tanpa adanya sambutan hangat.


"Lho? apa yang kalian lakukan ramai-ramai disini?" katanya.


"Katsura? kau sudah kembali?" Homura menepuk pundak Katsura.


"Katsura! aku sangat mengkhawatirkan mu tahu" kata Arizawa.


"Ya, aku kembali teman-teman" Katsura tersenyum.


"Lah? giliran Katsura yang datang semua langsung datang menyambut nya, giliran aku, malah ditahan seperti ini" Suizei sedih.


"Diam kau bawahan Showa, kau tak patut berbicara begitu" ucap Raiha lagi.


"Loh Suizei? kenapa kau diikat begitu?" Katsura melihat Suizei yang diikat dan diinterogasi.


"Lihatlah Katsura! mereka tidak percaya bahwa kalau aku ini aku. Aku sangat sedih tahu" jawabnya.


"Loh? kau kenal dengan orang ini Katsura? apakah kau juga orang yang menyamar?" Raiha malah mempersiapkan tali nya lagi.


"Aku Katsura asli, kok. Disana juga Suizei yang asli, dia membantuku membuat senjata ini" Katsura memanggil Crescent Deluz-nya, membuat seluruh anggota terkagum.


"Wah! sangat besar dan berkilauan! energinya juga sangat terasa sampai jiwa" kata Yubino.


"Hebat juga kau Katsura, aku sedikit tenang saat ini" kata Homura.


"Jadi sekarang kau dapat menggunakan sihirmu lagi? coba buktikan!" suruh Raiha.


"Yaampun kau tidak percayaan sekali, ya. Lihat nih."


..." Kirameku Hoshi Akari! "...


Angin yang dahsyat menggelegar di dalam markas, markas serasa ingin ambruk, Katsura langsung menonaktifkan nya.


"Bagaimana?"


"Ternyata kau Katsura sungguhan, baguslah aku tenang."


"Lepaskan Suizei disitu, kasihan dia" Katsura menunjuk.


"Maaf ya. Aku tak kembali juga dulu. Aku sebenarnya ada niat untuk kembali, tapi setelah aku menemukan material terkuat untuk senjata yang akan kubuat, sekali lagi maaf ya."


Air mata Raiha mengucur, lalu dia kembali memeluk Suizei dengan erat.


"Ya ampun, harus aku datang dulu ya baru bisa damai?" ujar Katsura.


"Katsura, jadi kau sudah tahu cara mengembalikan kekuatanmu ya" kata Homura.


"Ya, aku bertem- eh tidak, aku menemukan sebuah catatan kuno yang menyuruhku membuat senjata" Katsura hampir saja menyebutkan nama Nico.


"Homura, ikut aku sebentar" Katsura naik ke balkon.


Mereka berdua sampai di balkon, lalu Katsura berbicara.


"Aku sebenarnya bertemu Nico saat perjalanan, dia sudah menjadi lebih baik sekarang. Dia membantuku mencari cara untuk mengembalikan kekuatanku, ditambah dia memberi tahu tingkatan sihir yang bekerja. Yaitu sihir standar, sihir lanjutan, dan sihir sejati."


"Sihir standar simpelnya adalah sihir yang mengendalikan elemen dasar, sihir lanjutan adalah menguasai elemen cahaya dan kegelapan, lalu sihir sejati adalah sihir yang merepresentasikan sifat dari hati, dan sihir ini hanya ada satu di seluruh dunia."


"Ditambah, dia kerap memberitahuku soal ancaman musuh selanjutnya, dan tujuan dia membantuku, yaitu dengan mengalahkan seorang pengawal raja" jelas Katsura soal Nico.


"Begitu, Nico ya.. Sudah pasti dia menginginkan imbalan."


"Iya, hanya itu saja yang ingin ku sampaikan. Jangan beritahu siapapun soal Nico ini, ya."


"Tenang saja, akan kurahasiakan."


"Oh ya satu lagi, dimana Feria?"


"Dia sedang di luar, kalau tidak salah dia sedang di hotel. Dia menginap dan ingin liburan, katanya."


"Oh ya, hati-hati jika ingin berpergian. Firasatku sangat buruk sekarang" tambahnya.


"Baiklah, terimakasih ya, Homura."


"Sama-sama" Homura pun turun ke bawah. Hari mulai malam, lalu Katsura pun beristirahat.


Hari sudah pagi, dan Katsura berniat untuk mencari Feria dan mengejutkannya.


Katsura pergi ke perkotaan, dan mencari hotel terdekat. Di atas langit, dia sudah merasakan dimana Feria berada.


"Disitu rupanya!" katanya.


Katsura tahu bahwa Feria sedang membeli sebuah minuman di kafe, Katsura menunggu momen yang pas untuk mengejutkannya. Yaitu saat di luar ruangan.


Sudah 20 menit Katsura menunggu, akhirnya Feria berada di luar ruangan juga.


"Sekarang!" katanya.


Feria yang sedang menyedot minumnya, tiba-tiba saja pandangannya menjadi gelap, seperti ada yang menutupi matanya.


"S-siapa ini!?!" Feria langsung panik, dia malah teringat ke masa lalunya.


Katsura pun melepas tangannya, dan membuat Feria kembali bisa melihat. Saat Feria menengok kebelakang, alangkah bahagianya ia bertemu Katsura lagi. Tanpa pikir panjang, ia langsung memeluknya sekuat tenaga.


"KATSURAAA!! KAMU KEMBALI JUGAA!!" serunya gembira.


"Ssstt, jangan keras-keras, kita diluar ruangan, tahu" Katsura mengelus kepala Feria.


"Maaff, aku sangat bahagia sampai lupa situasi. Jadi, kamu takkan kemana-mana lagi kan? waktunya berduaan denganku, ya! ehehe" Feria tersenyum lebar.


"Iya-iya, aku juga kangen kamu, ayo jalan" Katsura menggandeng tangan Feria, lalu mereka berdua berjalan bersama ke mall.


Waktu demi waktu berlalu, Katsura dan Feria mengalami masa-masa bahagia nya, tak terasa mereka berkencan sampai malam hari, sekitar jam 7 malam.


"Hari ini sangat seru sekali! kapan-kapan kita kesini lagi ya" ucap Feria.


"Boleh, aku juga kurang merasa puas saat kita bermain tadi. Sekarang kita kembali dulu."


"Tunggu, aku mau beli eskrim" Feria menggandeng Katsura sampai ke toko eskrim.


"Kamu mau rasa apa?"


"Aku vanilla saja."


Sebelum pulang, mereka duduk terlebih dahulu dan memakan eskrim nya dulu di dekat air mancur, sambil melihati meriahnya malam itu. Langit-langit dipenuhi bintang yang berkilauan.


"Indah sekali ya.." Feria memandangi bintang-bintang.


"Benar, sangat indah sekali."


Tak lama setelah itu, ada satu pria aneh turun perlahan dari langit didepan Katsura. Pakaiannya sangat rapih, seperti seorang bangsawan.


Tampilan pria itu memakai baju putih, lalu ditutupi oleh jubah hitam berbulu serta pin berwarna emas di bagian dada. Warna rambut nya hitam, tidak memiliki aura sama sekali, ditambah warna pupil matanya merah.


Katsura merasakan ada yang aneh dengan orang di depannya, dia merasa seperti pernah melihatnya.


Lalu dia teringat perkataan Nico.


"*Jadi seperti apa tampilan Ferus itu?"


"Dia tinggi, rambutnya hitam, memakai setelan yang sangat rapi, baju dalamnya berwarna putih, lalu dia juga memakai outer abu-abu, ditambah jubah hitam berbulunya. Dan ada pin berbentuk seperti bintang di dadanya, berwarna emas. Dan warna matanya merah pekat*."


Disisi lain, Nico terlihat sedang berlari kabur menjauh entah kemana, sambil mengatakan, "Maaf Katsura, aku tak bisa membantu untuk sekarang. Aku tak mau mati dulu."


Katsura sempat kebingungan, orang didepannya tak bisa terdeteksi oleh Katsura sama sekali. Jadi tanpa pikir panjang dia langsung menyerang nya.


..."Crescent Deluz!!"...


Katsura melompat dari bangku, lalu memanggil Crescent Deluz-nya. Dia menerjang ke arah pria itu dengan cepat, saat sudah dekat dia pun mengayunkan Crescent Deluz-nya secara diagonal, mengincar leher pria itu.


Tak lama kemudian, dia tak lagi bisa merasakan tubuh bawahnya, pandangan dia juga malah menjauh. Yang tadinya mendekat ke arah pria itu, malah menjauh kebelakang.


Setelah ia sadari lagi, kepala Katsura sudah terpisah dengan tubuhnya.


Bersambung...