
"Aku layak? entahlah, aku tak merasa sama sekali bahwa aku ini layak. Mungkin aku hanya beruntung saja mendapatkan kekuatan yang tak pernah ku inginkan" bantah Katsura.
"Lagipula aku harusnya kalah di situ, namun dia lebih memilih mengalah dariku. Entah mengapa" tambahnya.
"Ketetapan hatimu itu sangat layak untuk dipertahankan. Sikap pantang menyerah dan optimisme milikmu juga tak kalah penting sebagai aspek yang diperhatikan Dorman saat memilih mu" jawab Karma.
"Aku tak tahu apa yang membuatnya mencari penerus di semesta lain, namun peraturan alam telah menetapkan bahwa seorang pengguna Golden Orb hanya bisa mentransferkan kekuatannya kepada orang yang berada 1 semesta dengannya."
"Ini tidak sama dengan kasus mu, bukan? dia telah melanggar peraturan dan biasanya yang melanggar peraturan alam akan mati. Namun dia tidak.. untuk saat ini mungkin?" tambah Karma dengan penuh misterius.
"Apa maksudmu?" tanya Homura tegas.
"Oh tidak, lupakan saja" balas karma sambil tertawa paksa.
"Kau ini.. masih menyembunyikan sesuatu dari kita ya?" kata Arizawa dibalik puing bangunan.
"Tidak.. Hanya saja.. Kalian belum waktunya untuk mengetahui ini" Karma menoleh kebelakang dan kemudian menghilang menjadi angin berwarna hitam.
"Dia ini.. Biarkan saja lah. Kalau kita perlu dia juga pasti dia akan kembali dengan sendirinya" ucap Homura kecewa.
"Oh ya, omong-omong soal Embodiment Crystal, itu kau menamainya begitu karena alasan apa?" tanya Homura kepada Feria yang sedang duduk di tanah bersama Katsura.
Awalnya Feria tak sadar bahwa dia dipanggil, namun Katsura menyentuh pipi nya dan dia akhirnya baru mendengar pertanyaan Homura.
"Eh maaf, bisa ulangi lagi?"
"Kau menamakan kristal itu ' Embodiment Crystal ' karena apa?" Homura mengulangi pertanyaannya.
"Hmm pertanyaan yang cukup sulit dijawab, jujur aku menamai itu bukan tanpa alasan, salah satunya adalah nama itu langsung muncul di benakku saat benda itu tercipta. Dan aku reflek langsung menamai kristal itu ' Embodiment Crystal ' " jawab Feria.
"Dan juga, kristal ini menjawab harapan ku. Sesuai namanya, Embodiment berarti perwujudan. Kristal ini adalah perwujudan dari tekad ku ingin membantu kalian semua" tambahnya lagi disertai senyum lebar.
"Baiklah, nama itu juga cukup bagus untuk hal yang langsung terpikirkan di otak. Kerja bagus sekali lagi, aku tak bisa berhenti bangga padamu, Feria" Homura mendekat dan menepuk pundak Feria.
"Hey apakah kita tidak kehilangan seseorang?" celetuk Zeldris disaat keheningan tiba. Semua orang pun sadar bahwa Yubino masih terperangkap di penyegel 6 dimensi.
"Kau benar juga, kita melupakan dia. Ayo ke tempat dia sebelumnya di lempar!" ujar Arizawa.
"Tunggu, bukankah dia sudah mati disana? mustahil manusia bisa hidup di dimensi ke enam" sela Cezo yang baru datang.
"Mungkin benar dan mungkin salah, kau bisa lihat sendiri Ferus masih sehat walafiat setelah masuk kesana. Pokoknya kita harus cepat, ayo!" suruh Homura ke semua orang.
"Ya itu Ferus, dia sudah teramat kuat-"
"Sudah ayo ikuti aku saja dulu. Suizei, dimana letak persis saat dia dilempar kesana? saat alat itu mengurung sesuatu maka alat itu akan transparan mutlak."
"Seingatku arah jam 11 dari sini, didekat sebuah bekas ledakan dahsyat. Kau bisa menemukan sisa akar-akar berwarna hitam juga disana" jawab Suizei.
"Oh tempat itu? baiklah kita kesana sekarang juga!" semua anggota bergerak walau sedang luka, menjalani perintah Homura untuk menyelamatkan Yubino yang terkurung.
Sesampainya mereka di sana, Homura langsung menyuruh 2 orang untuk menancapkan sebuah kaca berbentuk prisma yang sangat panjang ke tanah dengan posisi segitiga, dan titik dimana Yubino disegel adalah pusatnya.
Suizei dan Zeldris siap dengan kata-kata Homura, mereka pun berlari ke posisi masing-masing dengan terburu-buru.
Semua kaca sudah diletakkan, dan kemudian sebuah portal yang tertutup muncul. Portal itu ternyata adalah kaca yang retak. Yang menandakan bahwa portal itu belum terbuka.
"Sampai kapan kita akan menahan ini?" tanya Zeldris yang mulai keberatan menahan kaca prisma itu agar tetap berdiri.
"B-benar! ini terlalu berat!" Suizei juga mengatakan hal yang sama.
"Tahanlah! ini membutuhkan waktu cukup lama untuk membuka gerbangnya!" seru Homura.
"Berapa lama?!" Zeldris merasa tak kuat lagi.
"10 menit!" jawab Homura yang sangat mengejutkan bagi Zeldris dan Suizei.
Katsura yang tadinya dirangkul memaksakan bangun, dan dirinya berjalan sempoyongan ke arah portal kaca.
Feria melarangnya dan berkata, "Jangan kesana! kamu belum pulih!" sambil menggenggam tangan Katsura.
"Lepaskan aku, sebentar saja" pinta Katsura tulus meluluhkan niat Feria. Dan akhirnya Feria membiarkan Katsura maju lagi.
"Katsura!? kau mundur saja! biar kami yang tangani!" Suizei menolak kedatangan Katsura.
"Katsura! kau kembali saja!!" Homura juga mengatakan hal yang sama.
Katsura tak peduli dengan semua omongan temannya, saat dia tepat di depan portal, dengan tangannya sendiri dia menggenggam bagian portal yang terbuka dan membukanya secara paksa dengan tangannya.
Dia kemudian memejamkan matanya, dan setelah itu matanya bersinar.
..." Golden Orb! "...
Aura Golden Orb berhembus sangat dahsyat disana, dan Katsura perlahan berhasil membuka paksa portal itu dengan tangannya.
Dengan tekad yang sangat kuat, akhirnya pintu portal itu terbuka sekitar 60% walau Katsura berada dalam perubahan terbarunya, namun kondisi dia saat ini sangat tidak fit. Itu penyebab portal nya lama terbuka.
Semua orang disitu berteriak, dan akhirnya portal itu terbuka seluruhnya, menunjukkan isinya yang berwarna merah muda keseluruhan.
Katsura melihat Yubino yang melayang-layang di dalam sana, dengan cepat pun Katsura menggunakan penghenti waktu nya agar tak terefek dengan dunia 6 dimensi.
Katsura terbang dan membawa Yubino kembali ke dunia awal. Kemudian Homura menutup kembali portal 6 dimensi itu dan menjadikannya kembali seperti awal.
Saat Katsura menurunkan Yubino, dia merasakan sakit luar biasa datang padanya. Dia harus kehilangan kesadarannya untuk sementara waktu.
"Katsura!!" Feria berlari ke arahnya yang sudah pingsan.
"Dia memaksakan dirinya, lagi dan lagi" ucap Arizawa.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Aizo yang harusnya mengkhawatirkan dirinya sendiri.
"Bagaimana dengan Yubino? dia baik-baik saja, kan?" tambahnya.
"Ya dia harusnya baik-baik saja. Dilihat dari tubuhnya, dia berhasil menahan tekanan sebesar dan sedahsyat itu disana sendirian. Walau dia tak sadarkan diri, yang penting dia tidak mati" kata Homura.
"Namun dari kondisi tubuhnya ini sudah sangat parah, jika saja kita tak dibantu Katsura, Yubino pasti sudah mati lenyap" tambahnya.
"Mau kuberi tahu soal kekuatan Ferus lagi? tadi aku kelupaan sesuatu" Karma muncul lagi dari kegelapan malam.
Semua orang menatap Karma seakan tatapan itu mengatakan, "Ayo katakan" Karma pun langsung membeberkan.
"Ferus bukannya tidak terluka di dalam dunia 6 dimensi itu. Melainkan dia tidak terefek sama sekali. Dia memiliki resistensi yang sangat kuat sekali. Tidak tepat jika aku bilang resistensi yang kuat, dia melebihi itu."
"Dunia portabel yang kau ciptakan itu gerbang untuk masuk kedalam dunia 6 dimensi. Tentu aturan dan hukum yang berlaku didalamnya berbeda. Namun sekuat-kuatnya seseorang tidak mungkin dirinya tidak terluka sedikitpun setelah masuk kesana."
"Satu-satunya jawaban yang masuk akal adalah, Ferus memiliki 'aturan dan hukum' tersendiri pada dirinya. Membuatnya tak tunduk pada aturan manapun. Misalnya waktu. Saat dia melawan Katsura dengan kekuatan penghenti waktu, Ferus mampu melawannya dengan mudah bahkan saat Katsura menggunakan atau tidak menggunakan penghenti waktu nya sama saja baginya."
"Terlihat bahwa dia juga mampu bergerak melintadi waktu, yang mana waktu di seluruh dunia ini berbeda dengan milik Ferus. Ferus memiliki aturan kausalitas yang berbeda dengan kita semua."
"Tidak.. Mungkin saja Ferus tidak diatur lagi oleh hukum kausalitas."
"Mau dia diberi serangan yang mampu mengubah masa depan atau masa lalu, itu tak akan mempan padanya. Kekuatan yang ia miliki sangat luar biasa."
Sementara itu, Azashi yang terlantarkan di medan pertempuran bangun dan meratapi seluruh medan pertempuran.
"Hmph, memang tak bisa diandalkan" dia berdiri.
"Mato.. Aku tak bisa memercayai kalian lagi" katanya dengan tatapan sinis dan putus asa, lalu dia berjalan dengan santai menjauh dari markas.
Bersambung...