Destiny Holder

Destiny Holder
H-3 Sebelum Pertempuran



Homura menyalakan pesawatnya, mengajak semua anggota yang ada disitu untuk pergi menemui Arizawa sebagai saksi. Terutama Katsura.


Karena jika Homura datang sendiri, dia pasti akan dikira main-main oleh Arizawa, karena sikapnya dari dulu memang tak pernah berubah.


Dalam sekejap, pesawat telah lepas landas, meninggalkan perkemahan dan area pembangunan markas. Mereka harus bergegas mengevakuasi warga agar lebih aman.


"Kira-kira butuh waktu berapa lama?" tanya Aizo.


"Aku kan sedang bergegas, hanya 15 menit saja kita akan sampai. Atau malah dibawah itu, lihat saja nanti" jawab Homura.


"Bagaimana dengan Hosura? dimana kita akan menguburkannya?" tambah Aizo.


Homura dan yang lainnya tersentak karena pertanyaan Aizo, mereka baru ingat bahwa Hosura perlu dikubur. Tapi, ditengah-tengah keheningan itu, Azashi membuka suara.


"Tak perlu panik, aku sudah membungkusnya dan sudah membawanya naik ke pesawat, dia ada di paling belakang."


Homura menghela nafas lega, lalu berkata, "Syukurlah kalau begitu, akan kunaikkan kecepatannya."


Tak lama kemudian, mereka semua mendarat tepat diatas istana negara. Disana terlihat Feria yang sedang memandangi langit malam, dia pun heran mengapa Homura perlu membawa pesawat untuk datang kesini.


Setelah pesawat mendarat dan pintu terbuka, Feria langsung bertanya kepada Homura, "Apa yang terjadi? mengapa semua anggota ikut kemari?"


"Akan lama jika menjelaskan disini, ayo masuk, bawa kami ke Arizawa. Masalah ini mencakup kesejahteraan warga masyarakat" balas Katsura dan dia pergi.


Feria hanya bisa menuruti perkataan Katsura, dan sampailah mereka semua di ruangan kerja Arizawa.


"Ada apa ini? kau mau memberikan kejutan, ya, Homura? tak biasanya kau membawa seluruh anggota jika ingin mengunjungi ku saja" Arizawa pede karena tak biasanya Homura melakukan ini. Dia sedikit terkesan.


"Aku kemari ingin menyampaikan kabar yang sangat serius, ini mencakup keseluruhan negara, bahkan bumi ini" kata Homura serius, tatapannya mulai tajam dan aura di sekitar ruangan mulai terasa menyengat.


"Apa itu, katakan saja. Aku mendengarkan" Arizawa meletakkan kedua tangannya diatas meja.


"Katsura, Zeldris, aku persilahkan menjelaskan dari awal."


"Aku pertama. Awalnya aku, Cezo dan Hosura sedang berpatroli, singkatnya kami berpisah dan Hosura menunjukkan sinyal bahaya melalui asap merah, saat kami sampai disana, dia sudah tergeletak di tanah dengan darah yang terus bercucuran. Ditambah dia diserang oleh pria bernama Showa, dia berasal dari semesta J-60, sudah dikonfirmasi oleh dirinya langsung. Dia kemari karena sinyal bantuan dari Nico, dan dia sedang mencari keberadaan Golden Orb."


"Dan karena aku disana sudah sangat kesal, aku terpaksa menggunakan sihirku walau aku tidak mau. Aku meng-teleportasikan Cezo dan Hosura ke perkemahan, sesaat sebelum kami berteleportasi, dia mengajak kami untuk perang" urai Zeldris singkat.


Arizawa tertawa kecil, dia lalu berkata, "Hanya dengan melukai Hosura dia mengajak kita perang sudah jelas aku tolak!"


"Belum selesai, harap kau dengarkan dulu sampai akhir" balas Homura.


"Giliranku, akan kujelaskan langsung saja tanpa basa-basi. Kami sedang bersantai di perkemahan, lalu kami kaget karena Zeldris kembali dengan keadaan yang sangat parah, dan aku menyembuhkan mereka. Ditengah-tengah itu, Showa datang dan menyerang kami. Tidak, lebih tepatnya aku, sih. Aku tanpa pikir panjang langsung menggunakan Juryoku no Ikari. Tapi, walau aku tahu aku belum serius menggunakannya, dia sudah unggul sedikit dan bahkan dia sama sekali belum serius. Dan dia masih bisa tertawa. Singkat cerita dia kabur dan mendeklarasikan perang kepada kita, dan akan dilaksanakan pada 3 hari lagi."


Arizawa memukul meja dengan keras sambil berdiri, dia sangat kaget mendengar perkataan Katsura. Dia pun berkata, "Apa kau serius? dia masih bisa tertawa saat kau memakai Juryoku no Ikari? mengerikan sekali."


"Dia dibuang dari kerajaan karena memberontak, lalu diasingkan kemari. Setelah mendengar Golden Orb bukan di tangan raja lagi, dia bergegas untuk mengambilnya secepat mungkin untuk balas dendam. Dan dia mempunyai tingkatan sihir sejati, sihirnya adalah sihir atom" selak Karma ditengah pembicaraan.


"Tunggu, kau tahu soal Showa ini?" Arizawa bertanya.


"Jelas, lah! aku adalah pembantu para anggota kerajaan. Masa informasi seperti itu tak aku ketahui" balasnya dengan sombong.


"Kami mau meminta bantuan padamu untuk mengevakuasi warga. Hanya di beberapa kota saja, sepertinya pertempuran akan pecah di sekitar kota Bekasi, Tanggerang dan kemungkinan Banten. Kami ingin kau mengevakuasi semua warga yang ada disitu ke suatu tempat sampai Showa benar-benar kalah" pinta Homura.


"Aku bisa membantu, akan aku infokan ke seluruh warga-"


"Jangan, itu akan membuat mereka panik saja. Akan kubuat penghalang agar warga dari luar area pertempuran takkan bisa masuk" sela Katsura.


"Kau benar, akan langsung ku hubungi para jenderal agar segera diurus. Kalian juga harus membantu" kata Arizawa.


"Yubino, kau ikut denganku, bantu aku memasang pilar untuk membatasi seluruh area pertempuran" pinta Katsura.


"Pilar? baiklah, tunjukkan aku jalannya" balas Yubino.


"Kalian mau berangkat sekarang? cepat sekali" ucap Aizo.


"Memasang pilar lumayan membutuhkan waktu lama, tergantung dari kami juga. Aku akan menambahkan energiku pada pilar itu agar bisa diaktifkan dari jarak jauh" jawab Katsura.


"Tunggu, Katsura, apakah tawaran perang ini tak bisa dibatalkan atau ditolak saja? ini terlalu beresiko, baik untukmu, dan untuk kita semua" batin Arizawa sangat khawatir dengan hal ini, dia belum siap untuk itu.


"Tidak bisa, dia sendiri mengancam, jika kita tidak siap dalam 3 hari, maka dia yang akan menyerang duluan. Ditambah, Hosura telah tiada, jika ingin penjelasan minta saja ke Zeldris atau Homura, aku akan sibuk selama beberapa hari kedepan, dah" jawab Katsura sambil berjalan meninggalkan ruangan.


"APA? HOSURA TELAH TIADA?" seru Arizawa, dia memukul meja, lagi.


"Maaf aku tak memberi tahu lebih awal soal ini, kami juga awalnya tersentak. Hosura terbunuh oleh Showa saat pertama kali dia diserang" ujar Zeldris.


Feria yang daritadi menunggu di luar, dia mendengarkan semua percakapan semua orang, lalu dia mengenggam tangan Katsura sebelum ia pergi dan berkata, "Jangan pergi terlalu lama, aku ingin waktu bersamamu juga, tahu."


Katsura tersenyum tulus, dia membalas, "Iya-iya, aku akan kembali secepat mungkin kok. Kamu jaga diri, ya" Katsura mengelus rambut Feria dengan lembut.


Lalu Katsura dan Yubino pun pergi ke atas untuk mengendarai pesawat Homura. Mereka akan langsung ke titik untuk menancapkan pilar.


Katsura dan Yubino sudah berada di pesawat, mereka menandai tempat yang harus dipasang pilar, ada sekitar 7 yang harus dipasang.


...****************...


Di sisi lain, Showa sedang berada di pesawat luar angkasa utamanya, beserta dengan banyaknya pesawat bawahannya. Dia sedang bersantai di dekat bulan, menunggu 3 hari kedepan.


Ada seorang bawahan yang menghampiri Showa dan berdiri di sampingnya, dan dia berkata.


"Tuan Showa, apakah anda yakin bisa menang? saat melihat kekuatan orang itu, aku sudah tak bisa membayangkan dahsyatnya pertarungan kalian. E-eh tentu bukannya aku meremehkan kekuatan tuan S-"


Showa membuka telapak tangannya dan mengarahkannya ke arah bawahannya itu, dan membuat bawahannya itu menjadi abu dengan sekali serang.


Penjaga yang ada di belakangnya berkeringat deras, mereka takut kalau mereka akan jadi korban berikutnya.


"Itulah sebabnya jika kau meremehkan kekuatanku, tahu rasa sendiri" Showa memandangi sisa-sisa abu bawahannya.


Bersambung...