
Ledakan supernova yang sangat besar nan dahsyat terjadi, membuat seluruh isi Galaksi Bimasakti bergetar.
Showa hanya berdiam melihat ledakan itu terjadi, dia tak terkena maupun terpengaruh akan efek ledakan supernova yang terjadi. Hal itu dikarenakan auranya yang melindungi dirinya dari berbagai macam hal yang berbahaya, baik itu berwujud fisik ataupun non-fisik.
Dengan tatapan puasnya, dia tertawa lepas disaat itu juga. Dia lega bahwa Katsura mati ditangannya, jadi bawahannya tak perlu repot-repot untuk mengalahkan Katsura terlebih dahulu.
Ledakan supernova itu terdeteksi oleh sistem buatan Homura di markas pengintaian, Azashi segera mengeceknya.
Keringat Azashi bercucuran di keyboard komputernya, membuat para anggota yang lain semakin khawatir dengan kejadian di luar angkasa.
"Apa yang terjadi, Azashi?" tanya Yukichi dengan raut wajah yang mengerut.
"Bintang Alpha Centauri meledak. Tapi berita buruknya.. Katsura ada di dekat area supernova itu terjadi, bisa dibilang, dia hampir menyentuh permukaan Alpha Centauri sebelum meledak" ungkap Azashi yang membuat seluruh anggota tersentak. Terutama Feria yang menguping di dekat pintu.
Feria berlari ke luar markas dan duduk terpuruk di depan markas sambil mengucurkan air mata.
"Aku tak percaya ini, tak percaya dan tidak mau percaya..." batin Feria.
"Kau sudah berjanji, Katsura... Kenapa kau tinggalkan aku begini? aku sudah tak tahan lagi... KEMBALILAH, KATSURAAAA!" ringisnya.
"Ini... Ini tak mungkin terjadi, kan?" kata Yukichi yang tak percaya.
"Alat ini mendeteksi adanya energi ledakan supernova di luar sana, satu-satunya ledakan bintang yang akan sampai terdeteksi oleh satelit yang dibuat Homura adalah Alpha Centauri saja. Dikejutkan bahwa energi Katsura juga terbawa dalam energi ledakan supernova itu. Ini dapat disimpulkan bahwa Katsura telah lenyap, dan energinya meluap keluar sehingga melebur dengan energi supernova" urai Azashi.
"Aku tak bisa menerima hal ini... Aku akan keluar sebentar" ujar Raiha.
Di lain tempat, Arizawa terlihat sudah menumbangkan Sairo hingga terpuruk di tanah, walau dampak bagi dirinya juga sangat besar. Kepalanya bocor, dan kedua tangannya patah. Ditambah dadanya tertusuk kaca.
Stamina Arizawa saat ini sudah terkuras habis, dia juga terjatuh di tanah dan pingsan. Di sisi lain, Homura sedang menghindari lemparan bebatuan besar dari Mora.
"Aghh...!" Homura batuk berdarah, disaat itu dia juga dilemparkan bebatuan, tapi dia berhasil lompat duluan.
"Sial! racun ini sangat menjengkelkan!" Homura geram.
"Aku sudah menyiapkan 4 segel di beberapa tempat disekitaran Mora, satu lagi hingga sihir itu akan berfungsi!" gumam Homura didalam hati.
"Tapi racun ini sangat mengganggu, pergerakanku semakin lamban, serta membuat isi pikiranku semakin kacau balau, racun ini dapat membuat aku memikirkan hal yang acak selain pertarungan ini agar aku dapat gagal fokus!" tambahnya.
Di saat Homura mengatakan itu, bangunan yang ia pijaki untuk berlari roboh, hal itu membuat Homura sedikit panik, tapi dia tetap berlari sambil mencari celah untuk keluar dari gedung.
"Kena kau" kata Mora sambil mengeluarkan tali emas dan mengikat tubuh Homura yang sedang melompat keluar dari dalam gedung.
"Sial!" Homura terjatuh paksa ke tanah, menghantam tanah membuat racun dalam tubuhnya semakin menyebar, hal itu memicu kerusakan pada organ dalamnya sehingga Homura memuntahkan darah dengan jumlah yang banyak.
"Kau takkan pernah bisa menang dariku" Mora mendekat ke Homura, tapi disaat itu Homura malah menyengir misterius.
"Apa yang kau rencanakan?" Mora menyadari niat Homura diam-diam.
"Segel kelima, aktifkan!" seru Homura diiringi dengan lingkaran sihir hijau yang menjangkau sampai 10 km.
..." Impartion Zone "...
Semua yang ada di area sihir Homura akan memaksa sesuatu menjadi netral dan murni, bagaikan voting ke satu calon, lalu pilihannya menjadi netral. Hal ini yang diterapkan pada area sihir Homura, semua yang saling bertentangan akan menjadi netral, baik itu makhluk hidup ataupun konsep sekalipun.
"Hahaha, sekarang racunmu takkan berguna lagi untukku" tubuh Homura yang tadinya berwarna ungu, menjadi pulih seperti semula.
"Itu mustahil! kau bisa menetralisir racunku? racun ini tak pernah bisa diobati, bahkan disembuhkan. Tapi kenapa kau bisa melakukannya brengsek!?" seru Mora.
"Mengapa? sihirku ini memaksa semuanya menjadi murni, baik untuk yang berwujud, maupun tak berwujud" balas Homura.
"Sekarang kita akan bertarung dalam zona ini mati-matian, tentu saja, kita tak bisa menggunakan sihir, karena jika begitu, sihirnya akan menghilang. Secara ini adalah teritori yang berisikan sihirku, aku hanya menambahkan beberapa jurus yang lain" tambahnya.
"Keparat kau!" Mora mengeluarkan shotgun-nya dan menembakkan ke arah Homura, tapi itu tak berguna karena peluru itu langsung berhenti seketika.
"Bagaimana mungkin?" raut wajah Mora tak percaya.
"Bajin-" Mora ditinju tepat di wajahnya.
"Sepertinya kau harus kuajarkan sedikit sopan santun saat berbicara" kata Homura.
Di luar angkasa, tepatnya di tempat Showa, dia merasa heran bahwa pusat energi bekas ledakan supernova sudah menghilang cukup banyak, seharusnya itu akan meninggalkan bekas setidaknya beberapa tahun cahaya kedepan. Tapi, disitulah ia dikejutkan.
*SWOOOSSHH!
Hembusan angin bertiup kencang, di pusat ledakan terjadi, ada cahaya biru muda dan pink muda bersatu dan menjulang tinggi keatas, serta tekanannya yang membuat energi supernova menjadi mengalir lebih cepat.
"Itu.. MUSTAHIL!"
"Katsura... Laith!" seru Showa lantang.
..." Kirameku Hoshi Akari "...
Tubuh Katsura kembali pulih seperti semula, rambutnya terangkat keatas serta tatapan matanya penuh percaya diri, ditambah auranya yang jauh jauh lebih kuat dari sebelumnya. Sekarang auranya berwarna perpaduan dari biru muda cerah dengan ungu cerah. Aliran energinya sangat tenang tapi sangat mematikan.
"Bagaimana.. Kau masih bisa selamat?!?!" tanya Showa dengan lantang.
"Aku juga tidak tahu, awalnya aku kira aku sudah mati dan berada di surga. Tapi suara itu memanggilku" Katsura membuka matanya, warna matanya berubah menjadi merah cerah.
..." Kembalilah, bangkitlah.. KATSURA!!" ...
..." Kau sudah berjanji "...
..." Menangkanlah, Katsura "...
......" Kembali dengan selamat, ya? "......
"Suara itu terus mengganggu ku saat itu, dan itu memicu energiku untuk menyerap ledakan supernova tersebut dan menjadikannya milikku. Sekarang inilah jadinya, perubahan dadakan dariku yang sama sekali tak ku rencanakan" ujar Katsura.
"Mau berapapun kali kau berubah, takkan merubah kemungkinan bahwa aku masih diatas dirim-" Katsura secara cepat sudah berada di samping Showa, tanpa ada masalah, dia berhasil menusuk Showa tepat di bahunya.
Serangan itu menembus pertahanan Showa yang menolak semua yang berbahaya, membuat Showa terkejut dan tak bisa berpikir jernih.
..." Solar Beam " ...
Katsura yang masih di samping Showa melancarkan gelombang energi yang kecil, namun dampaknya sangat dahsyat. Membuat Showa terdorong sangat jauh, walau Showa akhirnya dapat memindahkan arahnya, tapi dia harus kehilangan sebagian tubuhnya.
"Sial kau!"
..." Particle Storm! "...
Showa melancarkan bola energi yang sangat kecil sekali hampir menyerupai sebuah atom dalam jumlah yang sangat banyak. Serangan ini juga dapat melenyapkan sesuatu hanya dengan bersentuhan.
Lagi dan lagi, serangan itu tak berdampak pada Katsura, malah serangan itu memilih menghindar daripada harus mendekati Katsura.
"Apa-apaan it-" Showa lengah, Katsura memukulnya di perut, dan itu menimbulkan gelombang kejut yang sangat besar, sampai-sampai gelombangnya sampai membuat Galaksi Bimasakti bergetar, dan gelombang itu juga menghancurkan banyak bintang dan tata surya lain yang jaraknya tak jauh dari situ.
Showa yang lain muncul dari belakang Katsura, dia ingin menusuk Katsura dengan pedang spesialnya, tapi tak dapat menembus aura Katsura yang teramat tebal.
"Kau yang asli, 'kan?" Katsura dengan cepat meninju dada Showa hingga menembus ke belakang.
"Selamat tinggal, Showa. Pertarungan ini membuat diriku sadar bahwa aku tak boleh terlalu sombong, semoga kau tenang di alam sana" kata Katsura.
"OMONG KOSONG DENGAN SEMUA INI!" Showa yang lain muncul lagi dari bawah Katsura, kali ini dia berhasil menyentuh Katsura, tepatnya di perut. Dengan satu tangannya, dia memasukkan energinya yang membuat Katsura lumpuh seketika, tubuh Katsura saat ini menjalar sebuah garis putih.
Seluruh kekuatannya hampir tak bisa digunakan, sebelum akhirnya kekuatan itu tak bisa digunakan sepenuhnya, Katsura menciptakan sabit yang besar dari cahaya dan menebas Showa menjadi dua bagian.
"Setidaknya, aku meringankan sedikit bebanku. Semoga beruntung, kawan-kawan" kata-kata terakhir Showa yang didengarkan oleh Katsura.
Bersambung...