Destiny Holder

Destiny Holder
Hari Penghakiman



Katsura mengendurkan pertahanannya, dia terserang dari belakang oleh Azashi dan Hiromi.


Katsura terikat kuat oleh tali sihir milik Homura, membuatnya tak bisa bergerak dan tak bisa menggunakan sihir.


"Kena kau sekarang" ucap Azashi.


Hiromi berjalan perlahan, mendekati Katsura yang berada di dalam kawah kecil beserta mayat Foyd yang terbelah dua.


Saat pengelihatan Hiromi sudah cukup menjangkau kematian Foyd, dia mengusap air mata yang keluar.


"Bahkan orang sepertimu juga bisa menangis, ya?" Katsura menoleh.


"Seharusnya aku yang bilang itu padamu, kau sudah mengacaukan karir dan hidup kami masih bisa berkata seperti itu?!" tegas Hiromi.


"Justru kalian yang tak punya hati! kalian tak bisa mengalahkan satu orang sehingga mengincar sesuatu yang disayanginya? sungguh cara yang menyedihkan, pecundang."


"Aku bahkan tak tahu apa salahku selama ini pada kalian" balas Katsura lagi.


"Salahmu adalah kau dilahirkan!"


"Itu bukan masuk ke dalam kategori kesalahan seseorang, bodoh."


"Kau yang tak tahu apa-apa lebih baik diam saja. Tarik dia, Azashi!"


Azashi menarik Katsura yang terikat ke sisi nya, Katsura akan dibawa ke markas mereka untuk ditangkap. Ini adalah salah satu rencana cadangan Hiromi.


Katsura tak bisa dibunuh, maka dia buat Katsura tak bisa membantu organisasinya dari dekat.


"Dengan tidak adanya Katsura di sisi mereka, mereka akan sangat lembek. Jika kita tak mampu membunuhnya, kita bisa menahannya" kata Hiromi di dekat tubuh Foyd yang sudah tidak bernyawa.


Katsura mencoba melepaskan diri dengan paksa, namun tali yang baru muncul dan semakin membanyak. Kini Katsura dibalut oleh sihir, terlihat seperti mumi.


"Kematianmu tak akan sia-sia, takkan kubiarkan hal itu terjadi. Selamat tinggal, Foyd" ucap Hiromi sambil menyentuh dahi Foyd.


"Baiklah, mari kita bawa dia ke markas" ucap Hiromi.


Di sisi lain, lebih tepatnya di kota, Cezo terlihat sedang berada di bar dan sedang meminum secangkir kopi americano.


Dia memandang keluar jendela untuk memikirkan kemana rute selanjutnya, dia sudah berkeliling namun tak menemukan apapun sebagai petunjuk.


Melihat burung yang bergerombol pergi dari suatu tempat, Cezo inisiatif menuju arah yang ditinggali para burung-burung tadi.


Cezo pergi meninggalkan bar yang baru saja dia masuki, saat dia berjalan di trotoar, dia menyenggol seorang remaja laki-laki berpakaian merah, seperti seorang mahasiswa sedang terburu-buru dengan makalah yang ia bawa.


Lelaki itu membawa tas, karena tersenggol oleh Cezo, tas miliknya jatuh beserta dengan makalah dan kertas-kertas penting di genggamannya sebelumnya.


Cezo merasa bersalah, dia pun membantu lelaki itu untuk membereskan barang-barang yang terjatuh akibat ulahnya.


"Maaf, ya, tadi aku tidak melihatmu ada di depan ku" Cezo memohon maaf.


Lelaki itu tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan lalu dia kembali berlari.


Cezo tak mempersalahkan hal tadi, dia lanjut berjalan ke arah yang ia tuju.


Di sisi lain, Homura sedang berada di tempat sidang bersama dewan hakim, dan beberapa jenderal di satu ruangan.


Homura duduk dengan tangan terikat di kursi, penjagaannya sangat ketat, bahkan ada pasukan diatas yang siap menembak jika Homura melawan.


"Terdakwa atas nama Homura Feridou, dengan tuduhan kriminal berupa penggelapan dana bantuan, pembunuhan berencana terhadap petinggi kepolisian, korupsi dan juga rencana menggulingkan ke-presidenan. Serta sebagai dalang dari terciptanya konflik terbesar dalam negara" ucap hakim atas semua tuduhan Homura.


"Yotsuya sialan, bisa-bisanya dia juga memanipulasi seluruh orang yang ada di ruangan ini, sepertinya aku akan tamat disini juga."


Homura tersentak, dia menyadari sesuatu yang dapat membuatnya bebas dari sini. Dia memejamkan matanya, lalu dia terhubung dengan orang yang ada disekitarnya.


Cezo yang sedang berjalan tiba-tiba terhenti, mendapat sinyal dari seseorang.


"HOMURA?!" teriaknya terkejut.


"Ya ini aku, aku tak bisa mengatakannya lebih jauh, cari televisi yang sedang menyala sekarang juga" ucap Homura terburu-buru, lalu dia mematikan telepatinya.


Cezo langsung mengerti maksud Homura, dia berlari begitu cepat mencari sebuah toko yang ada tv.


Dia akhirnya menemukan sebuah restoran khas jepang yang berada di pinggir jalan, begitu masuk dia langsung mendobrak pintu dan melihat tv yang menyala.


Seluruh pelanggan kebingungan dengan sikap Cezo yang tiba-tiba, namun di sisi lain...


Kamera menyoroti wajah Homura di tengah ruang sidang, lalu hakim memutuskan hukuman yang setimpal.


"Semua tuduhan yang saya sebutkan tadi adalah fakta benarnya, dengan begitu, Homura Feridou, sang profesor jenius akan di vonis hukuman mati, 19 jam dari sekarang!" ucapnya tegas.


Ucapan hakim itu tersiar langsung di tv, Cezo sangat shock dibuatnya setelah melihat siaran itu, dia pun bergegas pergi ke tempat Homura berada.


Di markas Mato, semuanya sedang khawatir dan panik tentang keberadaan Katsura saat ini, dia belum kunjung kembali juga semenjak keluar.


"Katsura terlalu lama.. ayo kita pergi jemput dia" ucap Zeldris.


"Bukannya kau sudah memberikan alat buatanmu itu, Zeldris?" ucap Aizo di atas sofa.


"Ya benar, namun dia tak kunjung datang, aku harus mengubunginya..." Zeldris mencoba mengubungi Katsura melalui telepati.


Bermenit-menit ia mencari, namun tak bisa menemukan keberadaan Katsura sama sekali.


"Apa yang kau temukan?"


"Tidak ada... Katsura menghilang, bahkan aku tak bisa menghubunginya. Dia sudah pasti di tangkap oleh Hiromi, kita harus bergegas!" ujar Zeldris ke seluruh ruangan.


Aizo berdiri dan tidak sengaja menekan tombol remot sehingga tv menyala, dan mereka semua melihat wajah yang tak asing yakni Homura akan di vonis hukuman mati 19 jam lagi.


"Duh.. Kita jadi terpecah tujuan, Homura ada di pengadilan, sedangkan Katsura pasti ada di markas Hiromi, jika kita terbagi menjadi 2 tim, sudah pasti kita akan habis di bantai Suizei" kata Zeldris.


"Kita biarkan saja Katsura, dia saat ini tak bisa mati, aku tahu hal itu. Kita langsung saja pergi ke pengadilan untuk menjemput Homura, setelahnya kita akan ke Katsura" usul Feria.


"Baiklah, kita harus berangkat dari sekarang, semuanya bersiap!"


Homura baru bisa melakukan telepati jangka pendek karena ruang sihirnya terbatas, dia akhirnya bisa menggunakan telepati karena saat di penjara bawah tanah, telepati sama sekali tak bisa diterapkan karena seluruh dinding disana tertutupi alat khusus yang mencegah komunikasi.


Homura akhirnya bisa angkat kaki dari ruang sidang, lalu dia pun berjalan menuju kamar terakhir nya sesaat sebelum dia di vonis, di giring bersama penjaga dan Vira.


Di sisi lain, di ruangan gelap, Katsura terikat seluruh badannya dan hanya menyisakan matanya saja untuk melihat.


"Selamat datang di penjara akhir, Katsura."


Bersambung...