
"E-EH TUNGGU DULU, BISAKAH KAU MEMBAWAKU DENGAN LEBIH BAIK? BOKONGKU SAKIT" ujar Karma kesakitan.
"Kau tidak usah protes, sebentar lagi juga sampai kok" balas Arizawa.
"AAAAAGHH SAKIITTT!!!" teriak Karma.
"Berisik sekali dia, kuangkat saja deh" kata Homura mengangkat kaki Karma.
"AHH TERIMAKASIH, AKHIRNYA ADA YANG PENGERTIAN, TERIMAKASIH YA TUHANN" ujar Karma bahagia.
"Jika kau mengatakan satu kata lagi akan ku turunkan" ucap Homura.
Karma langsung menutupi mulutnya dengan tangannya.
*Uhuk (Suara orang batuk)
Yubino membuka matanya di tengah perjalanan menuju ke ruang interogasi, lalu dia berkata
"A-aku dimana ini?"
"Aku ada didalam gelembung? aw aw sakit sekali"
"Eh kau sudah sadar? jangan banyak bergerak, nanti lukamu semakin parah" ucap Katsura.
Ternyata Katsura membawa gelembung air yang mengurung Yubino sepanjang perjalanan.
"Kau menyembuhkan ku ya? terimakasih ya, maaf jika aku tidak berguna saat pertarungan tadi"
"Tidak usah dipikirkan, yang lebih penting itu kau selamat, berkat kau juga aku jadi bisa menganalisa pergerakan musuh"
"Tunggu, jika aku ada disini berarti musuhnya kalah?"
"Mungkin, namun dia pasti akan kesini lagi, mengingat aku hanya memberikan luka tusuk saja. Dan lagi dia berkata kalau semuanya belum berakhir, kita masih dalam rencana dia"
"Begitu ya.. dia kuat dan cepat sekali, aku tak bisa mengikuti pergerakannya"
"Ya, orang itu bernama Nico. Kurasa, ah tidak, Pasti dia belum mengeluarkan kekuatan penuhnya, mengingat dia sangat mudah mengeluarkan sihir tanpa mantra"
"Begitu ya, baiklah aku akan tidur lagi saja"
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di ruang interogasi.
Arizawa mengikat kaki dan tangan Karma agar tidak bisa kabur, sementara Homura menyiapkan ruangannya.
Ruangan itu terdapat banyak mesin mesin, salah satunya adalah peredam suara otomatis dan penonaktifan pelacakan, dengan ini ruangan ini tidak akan bisa dilacak, ditambah Homura memasang kain bahan Innoservato yang membuat ruangan ini tak terlihat.
Semua anggota Viper masuk ke dalam ruangan dan berdiri di sisi ruangan, yang bertugas untuk menginterogasi adalah Arizawa dan Homura.
Semua anggota Viper yang tidak bertugas diwajibkan menutup mulut oleh Arizawa.
"Baiklah.. kita mulai dari awal. Kau berasal dari mana?" ucap Arizawa.
"Kau pikir aku akan memberi tahu mu?"
"Sudahlah jawab saja, kami takan menyakitimu" ucap Homura.
"Kalau begitu aku semakin yakin untuk menutup mulutku."
"Tidak, yang dikatakan Homura itu bohong, aku akan menyakitimu sampai kau mau memberi tahu. Homura, biar aku saja yang urus" ujar Arizawa sambil memegang pisau kecil.
"Baiklah.." balas Homura lesu.
Arizawa menodongkan pisaunya pada dagu Karma sambil mengatakan
"Darimana asalmu, ayo beritahu, jika tidak pisau ini akan menembus ke mulutmu lho"
"Tidak akan... TIDAK AKAN!!"
Setelah terus terusan enggan membuka mulut, akhirnya pisau itu kemudian menyayat dagu Karma hingga pada akhirnya dia membuka mulut.
"SAKIT! BAIKLAH BAIKLAH AKAN KUJELASKAN!"
"Tapi kalian berjanji untuk membiarkanku tinggal disini ya? jika aku kembali tuan Nico pasti akan membunuhku, dan juga jangan beri tahu informasi ini pada dia"
"Ya ya sudahlah, cepat katakan asalmu!"
"Oke, aku berasal dari semesta J-60"
"(Tunggu, itu adalah semesta yang kita kunjungi kemarin)" ucap Katsura dalam hati.
Arizawa menunjukan muka kaget dan berkata
"Woi kau serius kan? jelaskan semua ini dengan detail!"
"Sabar dulu, baiklah mulai dari mana ya enaknya?"
"Waktu kedatangan kalian pertama kali di gedung, aku dan tuan Nico hanya melihat dari kejauhan sambil menyuruh membawa bantuan, tuan Nico tidak ingin ikut campur secara langsung, makannya dia memanggil dr Otto untuk menjalankan rencana nya."
"Tuan Nico ini dia berencana untuk menarik perhatian raja, Dorman, di kerajaan agar dia dapat dipilih olehnya sebagai penerus Golden Orb."
"Rencana dia adalah membawa semua penyusup ke dalam bangunan itu dan mengeksekusi nya secara langsung, agar dapat mendapat lirikan dari sang raja dari kepintarannya"
"Namun situasi tak terduga datang, pengguna sihir waktu merusak rencana tuan Nico yang membuat Dr Otto mati, dan membawa penyusup kabur"
"Lalu mengapa dia menyuruh Dr Otto untuk menjadi pionnya? mengapa dia tidak terjun lamgsung ke medan pertempuran?" desak Arizawa.
"Di semesta kami, seseorang yang telah berkaitan dengan kerajaan dilarang ikut campur secara langsung dengan urusan APAPUN diluar kerajaan, seperti kota kota, makannya tuan Nico tidak ikut campur dengan terjun langsung."
"Kota kota telah dipimpin oleh pejabat kota, makannya bagian dari kerajaan tidak boleh ikut campur, namun jika masalah di kota tersebut bisa mencapai ke kerajaan, seluruh bagian kerajaan boleh langsung terjun ke masalah"
"Melihat adanya sihir waktu yang berkhianat, tuan Nico langsung terjun pertama untuk menyelidiki kasus nya. Pengawal tertinggi yaitu Ferus kalah cepat untuk menyelidiki kasus ini"
"Akhirnya tuan Nico yang sedang buru buru pun meminjam pesawat dan melacak koordinat berkas barang kalian, dia hanya membawaku sebagai kru"
"Tuan Nico tidak memberi tahu raja soal penyelidikan ini, dia langsung saja pergi kesini, alasannya adalah supaya saat dia pulang nanti, dia bisa memamerkan kepala si pengguna sihir waktu kepada raja."
"Dia tidak memberi tahu koordinat semesta ini pada yang lain, karena ini sangat rahasia. Dan hanya dia yang tahu soal semesta ini"
"Akan bahaya bagi kalian jika tuan Nico bukanlah orang yang egois, dia pasti mengubungi kerajaan soal ini dan bisa langsung membumi hanguskan kalian"
"Aku dan tuan Nico melewati batasan Multiverse dan mulai mencari koordinat semesta kalian" jelas Karma.
"Tunggu, keberadaan Multiverse nyata?" tanya Arizawa.
"Ya, itu benar adanya, Multiverse adalah kumpulan dari belasan alam semesta yang dikurung dalam 1 lingkup area" balas Karma.
"Tak kusangka.. kukira Multiverse hanyalah teori semata, jadi itu benar adanya ya" ucap Arizawa.
"Sebentar, maaf jika aku menyelak, jika kau pergi keluar Multiverse dengan pesawat kerajaan bukankah kerajaan akan mengetahui pesawat tersebut pergi kemana? dan juga untuk orang sekelas Raja masa tidak bisa menyadari energi orang seperti Nico di luar angkasa?" tanya Katsura menyelak pembicaraan.
"Kendaraan ini sudah di modifikasi penuh oleh tuan Nico, dia sudah menghilangkan jejak yang dibuat pesawat dan juga dia memasang benda terlarang, Korjyu. Benda itu dapat menghilangkan tingkat sihir sesuatu sampai benar benar tidak ada, dia memasang itu pada pesawatnya agar pesawat dia tidak akan bisa dirasakan oleh kerajaan" jawab Karma.
"Ooh begitu, baiklah terimakasih (tadi dia bilang Dorman adalah raja disana, dan Nico ini berencana untuk membuat raja takjub dengan membawa kepalaku, namun Dorman telah sampai disini jauh sebelum Nico bertemu dengan ku. Mungkin ini tidak akan kuberi tahu, akan gawat sepertinya)" ucao Katsura dalam hati.
"Oh ya dan satu hal lagi, rencana tuan Nico saat disini adalah menganalisa siapa saja yang ikut andil dalam setiap masalah yang dia buat, contohnya adalah kebakatan hutan itu, itu tuan Nico yang membakarnya"
"Melihat kalian yang pertama ikut andil soal ini, dia mulai melacak keberadaan kalian dan sampailah dia pada markas ini, dia membunuh pelayan yang ada di gerbang, setelah itu dia melihat pertarungan sihir dari jauh" jelas Karma.
"(Pertarungan sihir? saat Katsura melawan Yubino ya?)" ucap Homura dalam hati.
"Yah itu deh, semua sudah kujelaskan ya, jadi apakah aku sudah boleh pergi?" ucap Karma.
"Tunggu dulu, bisakah kau beri tahu kami soal rencana Nico berikutnya?" balas Arizawa.
"Aku tidak tahu, mungkin dia akan menyerang kesini lagi dalam beberapa hari, dia tidak akan menyerah sampai dia mendapatkan kepala pengguna sihir waktu" jawab Karma.
"Baiklah kau sudah boleh pergi, ini kunci kamarmu nomor 4C" ucap Arizawa sambil melepaskan tali dan melemparkan kunci.
"T-TERIMAKASIH!!!!!!" ujar Karma bahagia.
Seluruh anggota Viper keluar dari ruangan dan kembali ke kamar masing masing.
"Akhirnya selesai juga ya.." keluh Feria.
"Semuanya jadi masuk akal, mungkin aku harus latihan lagi" ucap Katsura.
"Jangan sekarang, kamu harus tidur dulu, istirahat itu penting" ucap Feria.
"Hei Feria, kau mau kemana? kamarmu kan ke sebelah sana" ucap Raiha sambil menunjukan jari ke arah selatan.
"A-aku ingin ke dapur sebentar kok ehehe" ulas Feria.
"Baiklah, aku duluan ya" ucap Raiha meninggalkan Feria.
"Memangnya kamu mau apa ke dapur?" tanya Katsura.
"Tidak.. sebenarnya aku ingin menginap di kamarmu, karena kejadian tadi aku jadi takut kalau ada yang tiba tiba menyusup" ucap Feria sambil memegangi pundak Katsura.
"Kan Nico sedang terluka, mana mungkin dia bisa langsung menyerang lagi"
"Tapi tetap saja, aku takut, apakah tidak boleh?"
"(Duh imutnya dia kalau sedang begini) ya boleh kok, ayo kita pergi" ucap Katsura.
...*****2 Hari Kemudian Pada Malam Hari*****...
Jam menunjukan pukul 9 Malam.
Feria sedang menyantai diatas atap, memandangi perkotaan sambil meminum jus anggur.
Katsura menaiki tangga keatas dan melihat Feria lagi di dekat pembatas sedang bersantai.
"Hei, sedang apa kau disini" ucap Katsura menepuk pundak Feria.
"Eh Katsura? aku sedang santai saja, kau tidak tidur?" balas Feria.
"Aku belum mengantuk kok"
"Baiklah kalau begitu"
"Hei Feria, bulannya indah ya?"
"Eh? iya bulannya indah sekali"
"(T-TUNGGU SEBENTAR, AKU LIHAT INI DI INSTAGRAM YANG BERARTI DIA MENGATAKAN CINTA PADAKU? WOI WOI WOI TENANG TENANG)" ujar Feria dalam hati.
"Kau seperti kedinginan, ini pakailah jaketku" ucap Katsura selagi memasangkan jaketnya pada Feria.
"Eh.. tidak usah repot repot, makasih ya"
"Feria, lihat kesini sebentar."
Feria membalikan badannya, Katsura dan Feria saling tatap tatapan.
"Ada apa ya?" tanya Feria.
"Aku.. Menyukaimu."
"Eh?" ucap Feria lalu mukanya memerah.
*Prok prok prok prok (Suara bertepuk tangan dari arah belakang)
Ternyata Nico muncul secara tiba tiba dari belakang Katsura.
"Yahh itu memang romantis, tapi tidak lagi."
"Bisakah kita mulai ronde 2.. Katsura?" ucap Nico sambil mengeluarkan pedang dari punggungnya.
Bersambung...