
Nora terjatuh dari atas kepala robotnya, seiring dengan badan robotnya yang runtuh dan tunduk ke tanah.
Saat robot itu jatuh, Katsura merasakan gempa luar biasa di sekitarnya, dia berpikir akan terjadi tsunami jika gempa seperti ini terus menerus terjadi.
Setelah gempa yang hebat berlangsung cukup lama, kini badan robot itu kembali terkubur di tanah, menyisakan kedua tangan yang terlantar di atas tanah dan kepala yang menenggak ke atas.
Katsura melihat keatas, ke arah "mata" robot itu dan memutuskan untuk pergi kesana. Sesampainya disana, ia bisa masuk ke dalam dan melihat banyak sekali kabel-kabel dan alat aneh yang belum pernah ia lihat.
Alat pertama yang dia tahu adalah tabung yang berisi energi emas, dia yakin itu adalah sumber energi dari robot ini. Dan yang kedua adalah bola energi hang mengurung Marx, kini sudah pecah.
Marx akhirnya terbebas dari belenggu yang selama ini dia tanggung, kekuatannya sudah perlahan kembali dari tabung emas tadi.
Dia berdiri dengan lututnya di hadapan Katsura dengan lemas, sambil bernafas berat dia berusaha mengatakan sesuatu.
"Terima.. kasih.. Katsura.." ucapnya lirih, seperti orang akan mati.
"Ya sama-sama, namun aku kemari kesini juga untuk menanyakan banyak pertanyaan, seharusnya kau tahu itu, kan?" Katsura menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku tahu itu" suara Marx sudah kembali normal dan dia pun sudah bisa berdiri, Katsura terkejut saat mendengar suara Marx yang asli karena sangat berbeda dari yang biasanya dia dengar.
Suara Marx sangat tenang dan menenangkan, suara yang murni dan suci dari hati, terdengar lembut dan anggun di telinga.
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?" tambahnya lagi, sebelum dia melihat ke mata Katsura yang sudah berevolusi.
"Mata itu... kau sudah menjadi lebih kuat, ya" Marx tersenyum.
"Mata itu hanya bisa didapatkan oleh pengguna Golden Orb yang hatinya murni dan suci, serta bebas dari semua energi negatif, mata itu merepresentasikan kemurnian, kekuatan dan kejujuran, kau sudah sampai sejauh ini, aku bangga padamu" Marx berjalan maju dan menepuk pundak Katsura.
Saat Marx berkedip, mata nya juga berubah menjadi seperti Katsura dan itu membuat Katsura semakin bingung dengan apa yang terjadi.
"Apa.. maksudmu?" Katsura bertanya dalam kebingungan.
"Pertama-tama aku akan jelaskan soal Nora dulu, kau pasti bingung mengapa dia memiliki sihir dan ambisi yang begitu kuat, bukan? aku akan menjelaskannya secara rinci jadi dengarkan."
"Nora berambisi untuk menghidupkan kembali keluarganya yang telah lama hilang, dibunuh oleh Sora sekitar 100 tahun yang lalu. Dia menjadi satu-satunya manusia yang hidup di bumi ini, dengan modal harapan dan ketekunan dia mampu menciptakan kembali teknologi yang telah runtuh."
"Aku datang ke bumi ini untuk bermeditasi, namun disaat itu aku bertemu dengannya yang terlihat putus asa, namun matanya berkata lain. Matanya dipenuhi oleh rasa kasih sayang dan harapan, aku pun ingin membantunya."
"Namun sepertinya dia melihatku sebagai ancaman dan aku jatuh ke perangkapnya, dia pasti melihat sosokku seperti Sora yang dia lihat di masa lalu, alasan aku tidak bisa menghubungimu secara langsung adalah karena aku sudah dikurung oleh Nora, kekuatanku diserap perlahan olehnya."
"Namun dengan kekuatan yang besar, dia jadi tidak tahu diri akan pengalamannya, dia bertarung seperti orang bodoh yang hanya memprioritaskan harapannya tanpa peduli siapa lawannya. Dan akhirnya dia mati mengenaskan" Marx menjelaskan semuanya soal Nora, namun sepertinya itu bukan yang Katsura mau.
"Aku mengerti, namun pertanyaan terbesarku adalah, siapa sebenarnya dirimu ini? mengapa kau tahu betul soal Golden Orb dan bagaimana bisa kau memiliki mata yang sama denganku?" nada pembicaraan Katsura menjadi semakin intens dan serius.
"Aku? aku adalah Golden Orb itu sendiri" ungkap Marx yang membuat Katsura melongo.
"Jadi Golden Orb ada dua?"
"Tidak, hanya satu, yaitu dirimu. Aku hanya sebatas kesadaran yang diciptakan Golden Orb untuk menampung setengah kekuatan nya. Akan kuceritakan sejarah awal Golden Orb padamu dan siapa aku ini."
Golden Orb yang sudah meledak dan menciptakan dunia berubah menjadi kepingan batu meteor besar dan melaju kencang ke suatu bumi.
Meteor itu terjatuh di bumi semesta J-60, pada saat itu adalah zamannya para dewa berkuasa, yakni 12 Dewa Olympus yang dipimpin oleh Zeus.
Zeus membongkar bongkahan meteor yang menabrak buminya dan mendapatkan kekuatan besar, dia lah pengguna pertama Golden Orb.
Golden Orb pada awalnya memiliki kesadarannya tersendiri yang mampu memberi arahan pada penggunanya, namun semua itu berubah.
Beberapa tahun kemudian, Zeus memiliki anak haram dengan para dewa, pengguna Golden Orb mampu membaca masa depan dan mengakses "The Book" yang sudah mencatat seluruh cerita dunia sampai kiamat.
Di dalam "The Book" Zeus seharusnya memiliki anak laki-laki bernama Hercules, namun saat anaknya lahir, dia langsung bisa berbicara dan menamai dirinya sendiri Ferus.
Katsura bergetar setelah mendengar nama Ferus yang ternyata sudah hidup selama itu, "F-Ferus..?" tanyanya takut.
"Ya, benar."
"Dari situ Golden Orb mulai khawatir karena seharusnya naskah cerita yang ada di dalam The Book sudah sempurna dan tidak akan ada yang bisa merubah alur cerita di The Book, namun anak bernama Ferus ini sudah melancang dari cerita sejak awal lahir."
"Golden Orb memutuskan untuk membagi kekuatannya menjadi dua, yang satu tetap bersama Zeus, namun hanya kekuatan utamanya saja. Dan yang setengah lagi menjadi diriku, Marx. Aku berkelana ke semesta lain untuk berlindung jika suatu saat Ferus berhasil menguasai Golden Orb."
"Setelah aku terpisah, aku tidak bisa lagi mengingat dan mengakses ke Golden Orb yang ada pada Zeus" jelas Marx rinci soal sejarah Golden Orb.
"Maaf Katsura, kau sudah menjalani semua ini, namun aku membutuhkanmu untuk melawan Ferus, dia adalah ancaman bagi seisi dunia."
"Maaf? kau bilang maaf setelah apa yang terjadi padaku?" air mata mulai mengucur dari mata Katsura dan dia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Dari semua orang di dunia mengapa kau memilihku sebagai pengguna Golden Orb?! mengapa hanya aku yang terpilih!?" nada Katsura semakin tinggi, dia dipenugi amarah.
"Kau membutuhkan ku untuk mengalahkan Ferus? omong kosong! Golden Orb hanya seorang pengecut yang tidak mampu menangani masalahnya sendiri!"
"Apa kau tahu apa saja yang telah kau renggut dari hidupku semenjak kau menetapkan Golden Orb padaku? semuanya! kau mengambil hidupku, temanku, rekanku, keluargaku dan bahkan waktuku juga!"
"Aku lebih rela mati ketika aku lahir ketimbang aku harus menjalani hidup seperti ini, bajingan!" Katsura berjalan maju dan mengangkat baju bagian atas Marx.
"Hidup tidak bisa mati.. dengan penderitaan yang berujung selamanya.. abadi namun kehilangan segalanya, apa kau pikir aku rela melakukan semua itu?! aku hanya ingin hidup normal layaknya orang biasa!"
"Peduli amat soal sihir dan menjadi pahlawan, yang aku inginkan adalah hidup tentram sebagai manusia biasa bukannya menanggung tanggung jawab dari orang aneh yang tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri!" Katsura mulai berteriak dan menangis.
"Apa kau tahu penderitaanku selama ini? aku harap aku tidak pernah dilahirkan sejak awal!" Katsura mencengkeram lebih keras.
"Katsura..." ucap Marx sebelum dia dilempar ke dinding oleh Katsura.
"Apa kau tahu berapa percobaan bunuh diri yang telah aku lakukan selama 2 tahun terakhir? apa kau tahu berapa banyak penderitaanku menahan rasa sakit demi menunggu kematian yang tak kunjung datang? aku tanya sekali lagi, APA KAU TAHU RASANYA?" Katsura berteriak semakin keras dan membuat Marx menyadari perbuatannya selama ini.
"Aku hanya ingin mati saat ini.." tangisan Katsura semakin deras dan dia semakin emosional.
Bersambung...