Destiny Holder

Destiny Holder
Zeldris Trichonta



Katsura tergeletak di tanah sementara Versace melancarkan serangan kepada Katsura. Katsuta tidak bisa bergerak, namun sesaat kemudian ada kilatan petir yang menyelamatkannya.


Sosok tak asing muncul di depan Katsura, menyelamatkannya. Mata Katsura terbuka lebar-lebar, "Zeldris..?" tanyanya.


Zeldris tak menjawab, dia hanya menggenggam lubang hitam buatan Versace dan menghancurkannya dengan hanya mengepalkan tangannya.


"Oh ya? kau yang waktu itu.. bukan?" Versace mencoba mengingat Zeldris di terakhir mereka bertarung.


"Kali ini takkan sama seperti sebelumnya sialan!" teriaknya lantang, lalu seseorang berjalan di belakang Versace. Mata Zeldris terbuka sangat lebar melihat sosok orang itu yang bersekongkol dengan musuhnya.


Keringat mulai menetes dari kepalanya menuju dahinya, dan jatuh ke permukaan tanah. Tangannya bergetar sangat hebat, dia tak bisa memalingkan pandangannya dari orang itu yang tak lain adalah Homura.


"Mengapa.. kau melakukan ini.. Homura..?" tanyanya pelan, diiringi dengan tetesan air mata.


"Mengapa.. MENGAPA?!!" nadanya semakin meninggi dan semakin tinggi, kerap bertanya kepada Homura.


Homura memejamkan matanya, dan dia tak menjawab apapun. Versace tertawa kecil dibalik semua itu.


"Hahaha! ah maaf, aku kelepasan" katanya terkekeh.


Zeldris kesal, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Mengapa.. kau melakukan semua ini.. mengapa.. kau tega meninggalkan kami semua.. demi orang itu?!" tanyanya dengan lantang.


"Aku tidak mengikuti dia, aku hanya mengikuti rencananya saja" Homura menjawab dengan nada yang cuek.


"Kau pikir aku terima dengan alasan seperti itu?!" teriaknya lagi, air matanya semakin mengucur deras.


Katsura tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya mendengarkan omongan Zeldris dan Homura, dia menyimak.


"Kemana.. semua janjimu yang pernah kau bilang kala itu..?"


"Kau telah menyelamatkanku dari dunia yang kejam ini, sekarang aku akan membalas budi dengan menyelamatkan mu juga!" Zeldris tampak sangat bersemangat, lalu Homura pun bergerak ke depannya persis.


Tubuh Zeldris bergetar, lalu kilas balik masa lalunya dimulai.


Dulu, sekitar belasan tahun yang lalu, ada sebuah keluarga yang hidupnya berkecukupan dan hidup dengan damai, sampai-sampai pada suatu saat, mereka mengalami krisis ekonomi.


Zeldris yang kala itu masih labil dan baru berumur 7 tahun tidak bisa membantu apa-apa. Dia mempunyai satu adik laki-laki dan satu kakak perempuan. Dia sangat suka bermain dengan adiknya karena memang umur mereka tidak berbeda jauh.


Lama kelamaan krisis ekonomi yang dialami Zeldris semakin parah dan kian memburuk, keluarganya bahkan tidak bisa membeli makanan untuk beberapa hari.


Hal ini terjadi karena ada penurunan saham di tempat kerja ayah Zeldris sehingga membuat gajinya menurun dan terus menurun.


Namun walau begitu, Zeldris tidak putus asa untuk tetap hidup. Di umur yang baru 8 tahun dia berusaha mencari uangnya sendiri, dia biasanya menunjukkan bakatnya dalam berlari cepat kepada orang-orang agar dikagumi dan tidak jarang juga ada yang memberinya uang.


Zeldris kecil memiliki kemampuan lari yang tidak dimiliki orang lain, itu sebabnya dia selalu menjadi sorotan di setiap ajang olahraga.


Satu tahun kemudian, berita buruk menimpa keluarga Zeldris, bahwa ayahnya telah dipecat dari pekerjaan tetapnya, dan kini mereka tak ada pasokan uang lagi. Ayahnya tampak sangat stres karena setiap hari harus rela menahan lapar demi menafkahi anaknya.


Kuliah kakak Zeldris juga terpaksa harus berhenti, begitu pula dengan sekolah Zeldris itu sendiri. Karena mereka kini tak punya uang, mereka tidak pergi ke sekolah.


Walau begitu Zeldris tetap senang menjalani hidupnya yang bisa dibilang semakin memburuk. Ayahnya dibuat semakin stres setelah mengetahui bahwa anak pertamanya telah meninggalkan keluarganya.


"Aku pergi dari keluarga ini!" ucap sang kakak dengan nada tinggi, lalu dia berkemas untuk pergi ke luar.


"Kakak mau kemana?" tanya Zeldris kecil yang sedang memegang bola.


"Kakak akan pergi dari sini, teman kakak adalah orang yang kaya dan sangat baik, kakak akan tinggal bersamanya mulai sekarang" jawabnya tanpa berbalik.


"Bolehkah kami semua ikut?" tanyanya lagi.


"Kalian selalu saja mempermalukan ku, gaya kalian, sifat kalian pada orang itu sudah ketinggalan jaman! aku malu memiliki keluarga seperti kalian" kata-kata terakhir sang kakak sebelum pergi meninggalkan rumah.


Zeldris kecil menangis di depan pintu, bekas tamparan kakaknya membekas di pipinya. Sampai pada akhirnya mereka terus berjuang bertahan hidup tanpa seorang kakak.


Sudah 2 tahun berlalu, namun ayah Zeldris kerap ditolak di seluruh perusahaan dan itu menimbulkan rasa stres yang sangat mendalam.


Zeldris kecil mulai sering mengeluh bahwa ia lapar dan sering sakit-sakitan, terutama ibunya. Sementara ayahnya tak mampu membelikan makanan apalagi obat.


Di kemudian hari, sang ayah mendapatkan rezeki, dia membawa pulang uang yang cukup banyak. Uang ini dia terima dari seseorang yang cukup baik.


Namun ini tidak cukup baik, ayahnya dituduh telah melakukan pencurian oleh seseorang yang telah memberinya uang. Setelah jujur pada pihak berwajib pun tidak berguna. Alhasil ayahnya pun dihukum penjara beberapa tahun.


Ibunya yang tak tahan lagi dengan sikap kepolisian yang hanya memandang kasta dan harta. Dia pun memutuskan untuk menghukum si penipu itu sendiri.


Rupanya sang penipu itu ialah mantan bos di perusahaan ayahnya Zeldris. Alasan dia digusur adalah karena posisinya digeser oleh ayah Zeldris. Sejak saat itu dia menyimpan dendam. Penyebab ayah Zeldris bisa dipecat adalah karena ulahnya.


Mengetahui kebenaran pahit itu ibunya semakin geram dan kesal, begitu dia bertemu dengan penipu itu dia langsung menikamnya berkali-kali hingga membunuh orang itu.


Zeldris dan adiknya melihat langsung kejadian mengerikan itu dengan matanya sendiri, setelah sang ibu sadar bahwa dia telah membunuh seseorang, dia dilanda stres berat dan dia menikam dirinya sendiri di dada, membunuh dirinya sendiri karena tak pantas menjadi seorang manusia.


Kejadian mengerikan itu disaksikan langsung oleh Zeldris tepat didepan matanya, sang ibu menikam dirinya sendiri. Zeldris menangis tanpa henti, dan adiknya menjerit-jerit di hadapan publik.


Namun masyarakat menyebut Zeldris orang aneh dan dikira orang gila dengan memakai pakaian lusuh seperti itu. Dia kemudian pergi ke kediaman neneknya bersama adiknya. Namun suatu saat di tengah jalan saat dia sedang sendiri, dia dipergoki oleh preman jalanan.


"Berikan kami kalung itu!" preman itu menunjuk ke kalung yang ada di leher Zeldris.


Zeldris tentu enggan memberikannya karena itu adalah pemberian ibunya sesaat sebelum dia bunuh diri.


Preman tersebut pun mengambil paksa kalung itu dengan kekerasan, namun kemudian datang seorang menyelamatkan Zeldris dan adiknya.


"S-siapa kamu?" tanyanya pelan, matanya bersinar-sinar.


"Namaku Homura Feridou, aku sudah memerhatikanmu sejak lama. Kau sudah berjuang dengan keras, kemarilah" Homura membuka lengannya, dan menawarkan pelukan pada Zeldris kecil yang malang.


Tanpa keraguan dia pun langsung memeluk Homura dengan erat dan diiringi tangisan. "Akhirnya ada orang baik.. yang berpihak kepadaku.." katanya terisak.


"Tidak apa, aku disini, kau bisa tinggal bersama kami. Kami mempunyai rekan yang hebat! kau bisa aku latih juga!" Homura memberikan tawaran.


Zeldris pun mengiyakan, lalu membuat janji kelingking dengannya. "Tapi kau harus berjanji, kau jangan pernah menjadi orang jahat!" pinta Zeldris kecil.


Homura tersenyum dan mengusap rambutnya, lalu mereka pun pergi bersama.


Kembali ke masa kini, Zeldris sedang mengucurkan air mata deras didepan Homura, lalu Homura mendekat kepadanya.


Sangat mengejutkan, Homura memberikan pelukan kepada Zeldris sambil berkata, "Maafkan aku"


Tangisan Zeldris tak terbendung lagi, dia menangis dan memeluk Homura dengan erat.


"Maaf.. Maaf.. Maafkan aku" kata Homura lagi.


"Apa maksudmu?" Zeldris bertanya dengan tangisan.


"Maafkan aku.."


Tak disangka, Homura mengeluarkan sebuah energi tajam berbentuk pedang menusuk dada Zeldris.


Bersambung...